IMG-LOGO
Trending Now:
Cerpen

Pertemuan Tak Terduga

Ahad 12 Mei 2019 23:30 WIB
Bagikan:
Pertemuan Tak Terduga
Oleh Abdullah Alawi

Kita –lebih tepatnya aku dan kamu- sudah lama tidak bertemu. Aku tidak tahu bagaimana kabarmu sekarang. Kamu pun mungkin tidak tahu keadaanku. Aku berharap apa yang kaugumuli sekarang baik adanya. Tapi aku pernah punya keyakinan bahwa aku akan bertemu lagi denganmu dalam keadaan dan suasana berbeda. Dengan kedudukan dan status yang berbeda. Dengan kesan dan perasaan yang tak bisa kuduga. Seperti pertama kali kita bertemu tanpa diduga-duga. Seperti hidup itu sendiri yang sulit diduga. Seperti kata orang, segala sesuatu pasti akan ada perubahan. 

Sengaja atau tidak sengaja perubahan itu. Kamu pun mungkin seperti itu. Tapi dalam perubahan itu masih ada sebagian yang memungkinkan aku mengenalimu. Dan mungkin kamu pun seperti terhadapku.

Aku menyukai pertemuan tak terduga. Dalam pertemuan semacam itu, kita –lebih tepatnya aku dan kamu- dalam keadaan yang tak dibikin-bikin, dipoles atau dibuat seolah-olah. Kata-kata yang meluncur, intonasi, mimik muka di luar yang direncanakan. Semuanya tercipta dengan tiba-tiba. Yang ada, adalah aku yang seadanya. Kamu yang seadanya. Kita yang tidak mempersiapkan diri untuk berbuat  seolah-olah. Kita dalam keadaan waktu itu. 

Itulah mungkin kenapa aku malas bertemu denganmu jika direncanakan dan tentunya dengan tempat dan waktu yang ditentukan pula. Hal itu jangan kamu artikan aku tak mau bertemu denganmu. Bukan! Ada beberapa hal kenapa aku menghindari pertemuan semacam itu. Biasanya pikiranku selalu gelisah membayangkan bagaimana saat-saat pertemuan yang  direncanakan itu. Apa pertama kali yang akan atau harus aku katakan dan aku lakukan. Dan tentu saja aku tidak tahu yang akan kamu katakan dan kamu lakukan.

Pikiran-pikiran semacam itu sungguh menggangguku. Aku tak bisa berdamai dengan keadaan seperti itu. Hari-hariku terasa panjang aku jalani. Dan biasanya aku tak tahu apa yang harus  aku lakukan. Tapi sekali lagi itu bukan berarti aku tak mau bertemu denganmu. Sungguh! Bertemu denganmu adalah sebagian dari keinginanku saat ini. Singkatnya, bukan pertemuan yang tak kuinginkan, tapi caranya yang tak bisa kutentukan, lebih tepatnya aku dan kamu bertemu dengan cara tak direncanakan. Kemungkinan pertemuan semacam itu memang seperseribu dari kemungkinan-kemungkinan lain. Tapi karena itu kemungkinan, maka aku tak menganggap itu tidak mungkin. Tinggal masalah waktu saja sebenarnya. Waktu yang entah... 

jika pertemuan tak terduga itu terjadi, mungkin akan kuurai satu per satu apa yang pernah kualami, sedang kualami, dan mungkin kualami. Tentang harapan, tentang keinginan, dan tentang kecemasan. Tentang apa saja. Aku akan senang jika kamu juga mau mengurai apa yang ingin kau urai. Itu pun jika kamu mau. Kalaupun kamu tak mau melakukan itu, karena kamu sedang ada kepentingan lain sehingga harus cepat-cepat pergi, misalnya, atau kamu tidak menginginkan pertemuan tak terduga itu, ya sudah. Aku tak memaksa. Aku akan menatap arah kepergianmu. Mungkin suatu waktu nanti, waktu yang entah, kita –lebih tepatnya aku dan kamu- akan berjumpa dengan cara tak terduga lagi. Mungkin aku akan merasa kehilangan dengan kepergianmu, orang yang kutunggu dalam pertemuan tak terduga. Tetapi ya sudah. Mau apa lagi. Aku sudah terbiasa dengan perasaan semacam itu. 

***
Dan pertemuan tak terduga itu belum pernah terjadi. Meski kemungkinan itu tetap saja mungkin. Dan aku masih berkutat dalam hidupku seperti ini, seperti dulu-dulu, tak beres dan kacau. Seperti yang tak pernah aku ceritakan padamu detail-detailnya. Ternyata aku tidak becus mengurus diri sendiri. Karena itulah aku terus menunggu pertemuan denganmu –dan tentunya dengan cara tak terduga itu. Pada saatnya nanti aku berharap kau mau mendengar ceritaku. Aku cuma berharap. Tentu saja itu terserah kamu mau dan tidaknya. Jika kamu tak mau, ya sudah. Mungkin aku akan menunggu kembali pada pertemuan tak terduga yang tak pernah terjadi itu...  Pada waktu yang entah...

Ciputat, 2007

Bagikan:
Ahad 28 April 2019 21:30 WIB
Aku dan Kamu Saling…
Aku dan Kamu Saling…
Oleh Abdullah Alawi

Aku berjalan-jalan. Jalan kemana saja mengikuti keinginanku. Bukan sedang menikmati hari, atau pemandangan, mencari angin, atau sedang mencari sesuatu atau seseorang. Tidak. Aku berjalan-jalan karena memang aku ingin berjalan-jalan. Dan itu kebiasaanku. Berjalan-jalan ke mana? Sudah kubilang aku tidak punya tujuan. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Cukup! Dan jika aku menemukan sesuatu, bukan salahku. Itu kebetulan saja. Dan jika tidak menemukan sesuatu, itu juga bukan salahku. Niatku cuma berjalan-jalan, tak bermaksud mencari atau menemukan.

Tiba–tiba di suatu tempat yang tak terduga sebelumnya, aku berjumpa denganmu. Tiba tiba kamu tersenyum. Senyum yang itu. kemudian Kamu menatapku. Tatapan yang itu. Bola mata yang itu. Kelopak mata yang itu. Aku juga tersenyum. Bola mata menatap bola mata. Aku diam. Kamu diam. Aku dan kamu seperti patung. Tiba-tiba saja aku berkata seperti ini, “Aku mencintaimu.” Kata-kata yang tak terduga sebelumnya. Lidahku seperti ada yang menggerakkan. Aku tak bisa menguasai mulutku. Aku ingin menarik kata-kataku karena itu kata-kata yang bukan kehendakku, tapi terlanjur keluar...

Kamu  tersenyum. Senyum yang itu. Yang belum kukenal sebelumnya.  Dan mata itu, mata yang baru kutemui selama ini.

“Aku juga mencintaimu,” ungkapmu.

Sungguh yang juga tak terduga sebelumnya. Aku tidak tahu apakah kata-kata yang meluncur dari mulutmu adalah kata-kata yang dikehendakinya atau kata-kata yang meluncur begitu saja seperti kata-kataku tadi.

Aku hampir tidak bisa mengenali perasaanku waktu itu, ketika mendengar perkataanmu. Kemudian aku tidak tahu apa yang harus kukatakan dan harus aku lakukan saat itu. Kamu pun mungkin seperti itu. Aku hanya diam. Kamu hanya diam. Aku dan kamu saling tidak tahu. Beberapa saat  aku dan kamu hanyalah patung. Aku tidak kerasan dengan suasana seperti ini. Mungkin kamu juga seperti itu. Maka aku pergi ke arah kemauanku. Dan kamu juga pergi ke arah kemauanmu. Aku dan kamu pergi ke arah kemauan masing-masing. Tanpa menoleh arah kepergian masing-masing.

Dalam beberapa hari ini aku tidak berjalan-jalan karena memang aku tidak ingin berjalan-jalan. Aku masih kaget dengan pertemuan itu.  Aku tidak tahu kenapa harus berjumpa denganmu. Sipakah namamu? Di mana tempatmu. Dan kenapa tiba-tiba aku mengatakan, “Aku mencintaimu” dan kenapa kamu mesti menjawab, “Aku juga mencintaimu.” Sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Sesuatu yang tidak kupahami sepenuhnya. Tapi kenapa pula itu menjadi pikiranku. 

Ketika aku berjala-jalan lagi pada suatu hari dengan niat sama, tidak untuk mencari dan menemukan, tiba-tiba aku bertemu lagi denganmu di tempat yang tak terduga sebelumnya. Tempat yang berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Tiba-tiba saja. Tapi kali ini aku mengatakan seperti ini, “Aku membencimu.” Kamu  hanya tersenyum. Senyum yang masíh seperti itu. Seperti kemarin. Yang tiba-tiba saja aku menyadari aku suka. Aku menekan perasaan yang tiba-tiba menyergap ini. Kamu menatapku dengan bola mata yang itu. Tatapan yang itu. Aku tak berkutik.  Ada semacam perasaan takjub yang tiba-tiba menyelinap. 

Tapi kenapa aku “Mengatakan aku membencimu.” Aku tak bisa menguasai lidah dan mulutku. Kata-kata yang berhambur adalah kata-kata yang tak kukehendaki. Tapi sebelum aku memikirkan lebih jauh apa yang terjadi dengan diriku dan apa yang kukatakan, tak kuduga kamu berkata seperti ini, “Aku juga mencintaimu.” Aku tertegun sebentar mendengar jawabanmu yang masih tetap seperti kemarin ketika aku mengatakan mencintaimu. Kamu masih tersenyum. Tapi cepat-cepat aku dan mungkin juga kamu tidak tahu apa yang harus kulakukan dan kukatakan. Kemudian aku pergi. Aku tak tahan dengan suasana seperti itu. Kami pergi ke arah kemauan masing-masing. Aku tidak tahu ke mana arahnya. Dan kamu tak tahu arahku. Dalam pikiranku tiba-tiba menyelinap pertanyaan-pertanyaan tentang pertemuanku denganmu. Tapi aku membuangnya jauh-jauh. 

Lama aku dan kamu tidak bertemu lagi meski aku tak menghentikan jalan-jalanku. Aku dan kamu tidak tahu keberadaan dan kabar masing-masing. Mana mungkin bisa tahu karena aku dan kamu tidak kenal dan tidak tahu keberadaan masing-masing. Aku dan kamu bertemu karena kebetulan yang tak terduga tanpa kita berusaha untuk berkenalan. Kata-kataku dan mungkin juga kata-katamu adalah kata-kata yang keluar tiba-tiba saja saat aku dan kamu terjebak dalam pertemuan. Aku dan mungkin juga kamu tidak menguasai sepenuhnya diri sendiri saat pertemuan itu.

Tapi pada suatu hari aku bertemu lagi denganmu. Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi apa yang harus kukatakan. Aku ingin melakukan sesuatu. Tapi apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus mengatakan, “Aku mencintaimu,’’ atau mengatakan, “Aku membencimu.” Pada pertemuan sebelumnya kamu tetap menjawab sama. Padahal kalimat yang aku ucapkan berbeda. Aku dalam keragu-raguan. Tapi lama-kelamaan aku berkata juga, “Aku mencintaimu.” Kamu hanya tersenyum. Senyum yang itu. Senyum ketika aku bertemu pertama kali. Dan kemudian kamu berkata, “Aku juga membencimu.” Aku tertegun sebentar. Jawaban yang tak terduga sebelumnya. Kamu masih tersenyum. Kemudian kamu pergi cepat-cepat ke arah kemauanmu. Sedangkan aku masih tertegun. Tapi aku juga cepat-cepat pergi ke arah kemauanku sendiri. Aku masih memikirkan kata-kataku. 

Pada suatu hari aku berjalan-jalan. Dalam perjalanan selalu terdapat kemungkinan-kemungkinan. Kebetulan-kebetulan. Dan kebetulan itu adalah aku bertemu lagi denganmu. Di tempat yang juga tak terduga sebelumnya. Tempat yang berbeda pada pertemuan sebelumnya. Aku tidak tersenyum. Kamu tersenyum. Senyum yang itu. Senyum ketika aku pertama kali berjumpa denganmu. Kamu menatapku. Tatapan mata yang itu. Bola matamu. Mata yang itu. Aku tidak berkata apa-apa. Tapi kamu berkata seperti ini, “Aku mencintaimu dan membencimu.” Aku cuma tertegun. Kamu masih tersenyum. Kemudian aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan kukatakan. Aku berjuang mengucap sesuatu. Tapi lidahku kelu. Aku berjuang melakukan sesuatu. Tapi tubuhku kaku. Keringat dingin membasahi tubuhku. Kamu masih tersenyum. Aku tersiksa. Kemudian aku cepat-cepat pergi ke arah kamauanku. Kamu masih tersenyum. Tapi kamu pun pergi cepat-cepat ke arah kemauaanmu sendiri. Selama perjalanan aku masih memikirkan perkataanmu. Mencintai dan membeci sekaligus, apakah mu
ngkin? Apakah dua kata berebeda ini berarti sama? Kenapa aku terjebak dalam suasana seperti ini? 

Sempat aku berpikir untuk tidak berjala-jalan. Pertemuan-pertemuan denganmu yang tak bisa kuhindari sangat mengangguku. Padahal jalan-jalan adalah kebiasaan yang tak bisa terpisahkan dari kehidupanku. Aku adalah jalan-jalan itu sendiri. Beberapa hari aku diam. Tapi aku tersiksa. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan ritualku, berjala-jalan kembali. Pertemuan denganmu adalah konsekuensi.

Pada suatu hari aku berjummpa lagi denganmu di tempat yang tak terduga sebelumnya. Tempat yang berbeda dengan waktu perjumpaan sebelumnya. Selalu begitu. Aku tertegun. Kamu tersenyum. Aku sekarang menunggu kamu berkata saja karena kemarin pun dia bicara tanpa aku bicara lebih dahulu. Kata-kata yang tak kuduga sebelumnya pula. Tapi kamu tak berkata juga. Kamu hanya tersenyum. Lama aku menunggu. Kamu pun mungkin merasa seperti itu. Kemudian aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan aku katakan. Aku masih tertegun. Kemudian aku cepat pergi ke arah kemauanku sebelum aku dan kamu sempat mengucap sesuatu. Dan kamu pun pergi ke arah kemauanmu.

Kemudian aku tidak berjumpa lagi dengamu di tempat mana pun. Aku tak tahu kabar dan keberadaannmu. Aku tidak tahu apakah kamu tersenyum. Senyum yang itu. Dengan tatapan yang itu. Bola mata yang itu. Kelopak mata yang itu. Tiba-tiba aku ingin berjumpa denganmu. Tapi aku tidak tahu apakah kamu ingin berjumpa denganku. Kalau berjumpa denganmu apa yang harus aku katakan dan aku lakukan. Atau aku harus menunggu kamu berkata. Aku tidak tahu. Kemudian aku cepat-cepat membuang keinginanku untuk berjumpa denganmu.


Sukabumi, Januari 2004

Senin 22 April 2019 4:34 WIB
Aku, Kamu, dan Kereta
Aku, Kamu, dan Kereta
Larangan Menyakiti Keturunan Rasulallah 







Jombang, NU Online - Wakil Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang KH M Soleh menjelaskan pesan Rasulullah Muhammad SAW tentang golongan yang dilaknat oleh Allah, Rasulallah dan para nabi.



Diantara golongan itu adalah orang yang menyakiti keturunan Rasulullah SAW. Baik keturunan biologis. Maupun keturunan ideologis yakni para ulama yang mewarisi ilmu nabi.



"Keturunanku seperti perahunya Nabi Nuh. Siapa yang naik kedalamnya akan selamat," katanya saat mengisi lailatul ijtima pengajian rutin ranting NU Candimulyo di Musala Al-Kautsar, Jombang, Jawa Timur, Ahad (21/4).



Kiai Soleh mengajak seluruh umat Islam menghormati keturunan para nabi. Seperti apapun kondisi mereka dan tetap tidak mencaci maki keturunan Nabi Muhammad SAW. "Misalnya ada sikap mereka yang kita tidak cocok, jangan sampai mencaci maki apalagi menyakitinya," tegas Kiai Soleh.



Kiai Soleh lalu menceritakan suatu peristiwa zaman dahulu dimana ada seorang perempuan keturunan Nabi Muhammad yang miskin dan saat itu anak-anaknya sedang kelaparan. Syarifah ini lantas mendatangi seseorang yang kaya lantas menyampaikan kebutuhannya.



Namun Orang kaya itu tidak mau memberi. Ia justru mempertanyakan bukti bahwa syarifah tersebut keturunan Rasulullah. Malamnya, orang itu mimpi dunia sudah kiamat. Ia panik mencari perlindungan. Hingga ketemu Rasulullah dan minta perlindungannya. Namun nabi bilang, dia hanya mau melindungi umatnya. 



"Orang itupun bilang, saya ini umat jenengan. Nabi balik bertanya, apa buktinya?. Orang itu pun terbangun dan menyesali perbuatannya. Lantas mencari syarifah tadi dan membantunya," bebernya.





Dikatakanya, di Nahdlatul Ulama banyak habib yang masuk struktur organisasi. Di PCNU Jombang juga ada habib. Diantaranya, Habib Muhammad Al-Jufri dan Habib Muhammad bin Salim Assegaf. Keduanya Wakil Rais syuriah.



Selain itu, para kiai di NU banyak juga yang nasabnya menyambung ke Rasulallah namun tidak koar-koar. "Kiai-kiai banyak yang habib tapi tidak diomong-omong," tegasnya



Agar tidak terjerumus pada menyakiti nabi dan keturunannya, Kiai Soleh mengingatkan untuk banyak bersalawat. Hal ini sesuai isi kandungan Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 56.



"Pada  Surat Al-Ahzab ayat 57 Allah menyebutkan golongan yang menyakiti Allah dan Rasulallah, sehingga dilaknat oleh Allah di dunia dan akhirat," tandas Kiai Soleh.



Rabu 17 April 2019 14:30 WIB
Palu dalam Lingkaran Benturan
Palu dalam Lingkaran Benturan
Ilustrasi via Dictio
Harus hadir angin segar masuk ke dalam rumah. Ada sebuah gradasi panjang yang kemudian menjadi mushaf penggunaan elemen sebagai otoritas kekuasaan. Ini bukan drama, bukan hikayat, bukan ludruk, bukan pula wayang. Wujud itu benar-benar muncul dengan huruf dan kata-kata yang tak butuh asumsi. Hanya dia yang bisa memikul, bahkan raja pun tak akan sanggup dan kuat.

Ucapannya bukan bahasa sekedar bahasa, tapi bahasa yang memungkinkan ia dapat dari pengelanaan berjuta atau bermiliaran tahun. Bukan umur, tapi jangka daya pikirnya. Jangan berburuk sangka dahulu.

Bayangkan jika ia pun mampu menaklukkan isi otak manusia. Karena dari mulutnya, aku pernah mendengar ultimatum bernada ancaman. "Bisakah anda bayangkan apa yang akan saya lakukan jika saya bisa melakukan semua yang saya bisa?"

Seketika nyaliku ciut dan menarik kembali sebilah bambu yang sedari tadi kuacung-acungkan dengan tangan kiri, begitu juga dengan tangan kanan dan mulut moncong yang tak kalah panjangnya dengan galah. Ini mungkin yang sering disebutkan oleh banyak orang. Bahwa jangan pernah menganggap kecil si muka datar, jangan pernah menganggap rendah dia yang nyaris tak pernah muncul di permukaan.

Aku duduk dihadapkan tepat di depannya. Bajunya lusuh sama seperti sarung yang dililit di pinggangnya. Tak beraturan, asal pakai, yang penting paha rampingnya tertutupi barangkali. Di sela-sela jari telunjuk dan tengahnya terselip sebatang rokok tembakau. Suara hisapannya berbeda dari perokok amatir biasanya. Seolah ia ingin menunjukkan bahwa rokok adalah bagian dari dirinya. Perlahan, berbunyi "srlupppppp". Kalian pernah mendengar orang menyeruput kopi? Nah persis seperti itulah kira-kira.

"Tadi asalnya dari mana?" Kepalanya agak sedikit mendongak ke atas, lalu keluar kepulan asap yang membuat kepalaku pening menciumnya.

"Aslinya Jakarta, bang."

Aku tak mau bercerita banyak tentang bagaimana Maghrib itu. Kutimbang dengan mata yang tak kunjung segar, badan yang tak kunjung bugar, kaki pegal, kepala buyar, malas meladeni beliau bercerita panjang lebar. Tapi namanya tamu, mana ada yang mempersilakan diri rebahan di balai-balai ataupun di tikar pohon. Ini saja kakiku dingin.

Hal unik yang membuatku agak sedikit planga plongo adalah, bagaimana orang Palu kuno bisa membuat lantai kayu selicin keramik. Aku nyaris bisa berkaca. Sekalinya ketika menunduk, aku bisa mencuri pandang pada sosok yang ada di depanku.

"Itu dipel pakai serutan kelapa, digosok-gosok di permukaan lantai kayu berkali-kali sampai licin betul. Ada juga yang pakai oli. Tapi resikonya agak sedikit bau." Aku mengangguk pelan.

"Dudukmu gusar begitu, ada apa?"

"Eh he ini bang, kakiku pegal."

"Kamu kalau letih, silakan rehat dulu. Nanti kita lanjut ceritanya, masih ada banyak waktu kamu di sini kan?"

"Iya bang, siap. Saya duluan ya bang." Ucapku tanpa berpikir panjang. Karena memang itulah yang aku inginkan sedari tadi.

Ia mengangguk.

"Eh tapi tunggu dulu." Tiba-tiba ia menyetop jalanku.

"Iya bagaimana bang?"

"Nanti selesai sholat maghrib, kamu siap-siap ya. Kita langsung menemui bu Fifi. Kebetulan kamu kebagian di yayasan Darul Fatah. Nanti kamu ngobrol banyak dengan beliau."

Aku hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol dan langsung balik arah menuju kamar yang akan aku tinggali selama 2 minggu kedepan di Palu.

***

Sore itu aku berangkat ke yayasan Darul Fatah. Perjalanan itu memakan waktu kisaran 15 menit dari Guest House Legian, tempat menginapku sekarang. Mataku tak lepas dari laut yang kemarin ganas dan tak terkendali. Ia menyapu bersih permukaan. Masjid Apung sudah tak lagi berdiri cantik, jembatan kuning hanya tinggal ruas ujung barat dan timur, bangkai ayam, sampah, kayu, ranting, ikan mati, dan masih banyak lagi onggokan yang menutupi jalanan aspal sepanjang pinggiran pantai.

Kiranya, terkutuklah mereka yang berfoto dan swafoto gembira sambil tertawa memperlihatkan gusi dan geraham mereka dengan latar rumah roboh, puing tiang listrik dan sandal balita. Bagaimana bisa mereka bangga berdiri di tanah yang baru saja tertimbun duka? Terkutuklah mereka yang berani demikian.

"Abang, tidak takut lagi melihat air? Bukankah punggung abang kemarin sempat tersapu juga?"

"Peristiwanya sudah lama. Tak usah lagi diingat-ingat, tugasmu ke sini adalah menghilangkan duka? Bukan kembali membawa ingatan bukan?"

Aku berusaha untuk tidak menelan ludah sendiri yang dari tadi terkumpul di mulutku. Ditelan tak enak, dibuang tak sopan. Nanti dikira tidak punya tata krama. Belum lagi kejadian 3 hari yang lalu. Ketika aku dan rombongan datang untuk pertama kalinya. Tadinya, aku pikir bahwa Palu adalah keras dan tidak terbuka. Sehingga aku juga menarik diri untuk tidak terkesan "sok asik" di depan mereka. Prasangka hanyalah prasangka. Justru penerimaan mereka sangat luar biasa. Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya.

Darul Fattah kami tempuh dalam waktu kisaran 45 menit dari posko utama. Dimulai dari ketika bagasi mobil dibuka, anak-anak dari yayasan Darul Fattah yang terdiri dari Raudhatul Anfal (setingkatan Paud), MI, MTs dan MA mulai mengerumuni kami. Dengan energi yang masih segar, aku tersenyum sumringah di hadapan mereka. Berharap dari senyuman inilah, akan lahir semangat baru pula bagi mereka.

Jika diizinkan, seharusnya Tuhan mengundur bencana agar mereka tidak tumbang secara mental di usia yang masih dini. Atau setidaknya Tuhan beri tahu mereka dengan tanda-tanda agar mereka bersiap menyingsingkan celana dan baju untuk berlari menghindari ganasnya gempa dan tsunami.

Bang Tamik sudah berdiri di depan gerbang. Tidak seperti kemarin pakaian dan dirinya yang acak-acakan. Kali ini rambutnya licin oleh minyak rambut, seragam gurunya yg rapi walaupun ada bekas garis setrika, sepatunya yang bersih. Ia mempersilakan kami memasuki tenda darurat yang digunakan untuk keperluan belajar mengajar. Sembari menunggu anak-anak berkumpul untuk mendengarkan terapi psikososial tim dari Jakarta.

Acara dimulai, anak-anak diajak berteriak kencang, berdoa, bermain, dll. Sedangkan seorang anak duduk dengan rambut sebahu yang tergerai lurus. Pupil matanya tidak diam menetap, menunduk, menggigit jari. Sekali-kali ia mendekap kaki hingga menyatu dengan tubuhnya. Aku memaksakan diri untuk menghampirinya dan bertanya. Tidak berhasil. Tidak ada jawaban.

Aku mencoba lagi berkomunikasi dengan melakukan kontak mata. Tetap tidak ada respon. Malah tatapannya bergulir ke kanan dan ke kiri.

"Ini sudah ada perubahan. Pasca gempa keadaannya lebih parah dari ini. Sungguh kejam memang nasib berpihak kepadanya. Sudah yatim dan tidak ada yang mengurusi kecuali ibunya yang pincang. Tentu menambah sakit hati ibunya."

Telinga bang Tamik memerah. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia berpura-pura membenarkan posisi kacamatanya. Padahal aku tahu, ia menyeka air matanya yang setitik, "Saya sangat ingin membantunya. Tapi tidak bisa kecuali berdoa supaya ada yang bisa mengajaknya bicara."

"Saya ini lho, miskinnya nggak selesai-selesai. Capek. Kalau saja saya kaya, sudah saya bawa ia ke psikolog atau psikiater." Lanjut bang Tamik.

"Kepalanya terbentur, mba. Kebetulan waktu kejadian gempa itu, dia duduk di gerobak menunggui ibunya yang sedang sholat di masjid. Namanya ibunya pincang ya, jadi ketika gempa berlangsung, ibunya juga nggak bisa berbuat apa-apa kecuali berusaha menghampirinya. Sedangkan badannya sudah tidak bergerak dengan kepala yang bertetes darah. Saya kepengin nangis, mba. Saya ini bukan siapa-siapanya dia. Kebetulan saya lewat dan melihat keadaannya dan ibunya seperti itu. Kejam sekali." Lagi bang Tamik menyeka air matanya.

Aku mengkhususkan diri mengajak anak tersebut berkomunikasi dan bicara. Susah memang. Tapi tidak ada pilihan lain. Dengan keadaan dan peralatan seadanya untuk terapi psikososial aku terus mengajaknya berkomunikasi.

Aku memutuskan tiga hari berturut-turut selepas mendatangi sekolah-sekolah di Palu, sorenya akan menyempatkan waktu berkunjung ke Darul Fattah. Perubahan memang tidak cukup signifikan. Hanya saja aku patut bersyukur, si anak sudah mulai mau kuajak mengobrol walau dengan jawaban yang terbata-bata. Setidaknya ini adalah awal yang baik.

Di hari ke empat, aku tidak berkunjung lagi ke Darul Fattah. Melainkan berbalik ke kantor pusat konseling di kota Palu. Berbicara kelanjutan terkait dengan kasus-kasus trauma yang dialami oleh anak-anak di Palu pasca bencana.

Waktu sangat terbatas, tidak mungkin si anak akan menunggui dan bergantung padaku sampai selesai ke tahap penyembuhan. Tahap pelepasan dimulai. Di hari kelima aku dan konselor datang lagi ke Darul Fattah. Kali ini aku melakukan aktivitas seperti biasa. Bedanya sekarang aku mulai memperkenalkan konselor baru dengan si anak. Mulai ngobrol bersama-sama dan bermain.

Esok Jakarta sudah menungguku dengan sejuta aktivitas yang lain. Semoga semua baik-baik saja. Ini hari adalah terakhir. Semoga kedepan aku bisa menyambangi tempat ini kembali dengan keadaan yang sudah damai dan bersahabat.


Dwi Putri, Tim Psikososial LPBINU dan UNUSIA Jakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG