IMG-LOGO
Nasional

Untuk Hancurkan Sebuah Bangsa, Hancurkan Akhlak Generasi Mudanya

Senin 13 Mei 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Untuk Hancurkan Sebuah Bangsa, Hancurkan Akhlak Generasi Mudanya
Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Mengutip Imam Mawardi dalam kitab Adabun Dunya wad Din yang mengatakan, untuk menghancurkan suatu bangsa dan negara adalah dengan menghancurkan akhlak generasi mudanya. 

Hal itu dikemukakan oleh KH Nasrullah Affandi pada pengajian live streaming yang disiarkan NU Channel melalui Youtube yang membahas akhlak. 

Menurut kiai yang akrab disapa Gus Nasrul, hal itu senada dengan apa yang dikatakan sastrawan terkemuka asal Mesir, Ahmad Syauki, yang berpendapat bahwa kejayaan suatu bangsa negara terletak pada akhlaknya. Jika akhlak sebuah bangsa itu baik, maka akan baik juga bangsa. Sebaliknya, jika akhlak sebuah bangsa itu buruk, maka akan buruk bangsa dan negara tersebut. 

Faktor hancurnya Dinasti Roma, lanjut Gus Nasrul karena kerusakan akhlak penduduknya dari akar rumput hingga pejabatnya. 

Padahal, sebelumnya, dinasti tersebut pernah berjaya, penduduknya memiliki pemikiran yang cerdas, strategi militernya bagus, dan negaranya kuat. Namun, karena kemudian akhlak penduduknya rusak, maka rusak pula dinasti tersebut. 

Tentang ambruknya Roma tersebut, lanjut Gus Nasrul, senada dengan apa yang dikemukakan sejarawan Edward Gibbon, yaitu faktor kerusakan akhlak.

"Kalau kerusakan fisik sangat mudah diperbaiki. Contohnya Negara Jepang. Pada perang dunia dua, dibom atom Nagasaki dan Hirosihma. Namun kemudian bangkit lagi. Tapi begitu hancurnya akhlak seperti dinasti Roma, akan susah bangkit lagi," ungkap dia. 

Oleh karena itu, menurut Gus Nasrul, akhlakul karimah sangat perlu diperhatikan, terutama generasi muda saat ini karena merekalah yang akan menjadi penerus bangsa di kemudian hari. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Senin 13 Mei 2019 23:20 WIB
Alumni Daiyah Fun Camp IPPNU Raih Polling Tertinggi di AKSI Indosiar Ahad Kemarin
Alumni Daiyah Fun Camp IPPNU Raih Polling Tertinggi di AKSI Indosiar Ahad Kemarin
Almaratus Sholihah (kanan)
Jakarta, NU Online
Almaratus Sholihah atau Alma, salah satu alumni dari 30 peserta Daiyah Fun Camp 2018 tahun lalu berhasil melaju pada babak selanjutnya dalam ajang Akademi Sahur Indonesia (AKSI) di stasiun televisi Indoensiar, setelah penampilannya pada Ahad (12/5) dini hari memperoleh polling SMS tertinggi.

Alma merupakan kader IPPNU Lampung, dan peserta Daiyah Fun Camp pertama tahun lalu. Kala itu, ajang tersebut bertema Pemuda Berdakwah, untuk Islam yang Ramah. Keberhasilan Alma masuk pada babak selanjutnya di ajang AKSI Indosiar menjadi kebanggaan dan salah satu bukti bahwa Daiyah Fun Camp cukup efektif diadakan. 

Pada penampilannya di AKSI Indosiar, Ahad (12/5), perempuan kelahiran Lampung itu membawakan tema Dakwah Bukan Marah.

"Apabila kita berdakwah sampaikanlah dengan penuh kelembutan, namun sayangnya masih ada saja yang mengaku berdakwah di jalan Allah, namun nyatanya bertolak belakang dengan pesan utama Al-Qur’an, bahkan kebencian dan kekerasan dilakukan dengan atas nama agama, Nauzubillahi min zalik," demikian salah satu yang disampaikan Alma.

Menurut Alma, jika manusai mau merenungi lebih dalam esensi agama, tak lain hanyalah cinta. "Cinta yang bermula pada Allah dan bermuara pada seluruh karya ciptaan-Nya," ungkapnya. 

Alma melanjutkan dengan berkisah ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Bagaimanakah sejatinya sikap beragama yang paling dicintai Allah?" Rasul pun menjawab al-hanifiyyah al-samhah, yakni sikap yang lurus dan toleran.

"Senada dengan hal ini Rasul pun mengatakan Irhamuu man fil ardhi yarhamukum man fis samaa. Sayangilah yang ada di muka bumi, maka yang ada di langit akan menyayangimu," ujar Alma.

"Mudah-mudahan pesan utama dalam Al-Qur’an dan Assunnah tadi dapat istiqomah kita jalankan dalam berdakwah yakni penebar kedamaian tanpa kebencian," tutup Alma.

AKSI Indonesiar sendiri merupakan salah satu program yang sudah sejak beberapa tahun ini diadakan di bulan Ramadhan. (Anty Husnawati/Kendi Setiawan)



Senin 13 Mei 2019 23:15 WIB
People Power Memberi Peluang Aksi Terorisme
People Power Memberi Peluang Aksi Terorisme
Jakarta, NU Online
Tertangkapnya terduga teroris pada minggu lalu di Duren Sawit dan Bekasi menambah daftar panjang sederetan nama Jaringan Ansharut Daulah (JAD). Mereka berencana meledakkan bom pada 22 Mei mendatang.

Selain sebagai bentuk penolakan terhadap demokrasi, rencana aksi juga melihat tanggal tersebut sebagai momentum yang bisa berlipat mengingat akan ada perlawanan terhadap hasil demokrasi.

"Jadi kemungkinan korban akan besar yang bisa menjadi isu nasional bahkan internasional," ujar M Imdadun Rahmat, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), kepada NU Online, pada Senin (13/5).

Karena itu, ia melihat seruan people power yang digaungkan oleh sebagian elit politik justru memberi ruang aksi teror. "People power memberi peluang aksi terorisme," katanya.

Sebab, menurutnya, teroris akan berupaya mencari kemungkinan-kemungkinan agar mereka dapat melaksanakan terornya dengan minim risiko tertangkap dan menciptakan ketakutan.

Untungnya, polisi bertindak cepat dan langsung meringkus mereka yang berencana melakukan aksi tersebut. "Alhamdulillah kawan-kawan Densus 88 sudah bisa menangkap sebelum kejadian. Kita apresiasi," kata Ketua Komnas HAM 2016-2017 itu.

Para teroris juga selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mencari habitus yang mendukung rencana aksinya. "Habitus itu jaringan orang yang membuat dia bisa hidup membuat dia mendapat resources dukungan rekrutmen dan kemudahan untuk melakukan tindakan teror," katanya.

Artinya, lanjut Imdad, mereka tidak terpusat pad satu titik sentral, kecuali sudah menguasai satu wilayah teritori tertentu. Sebab, mereka cenderung klandestin, beraktivitas secara diam-diam.

"Terorisme sebagai ujung paling ekstrem kelompok intoleran itu ya paling klandestin," pungkasnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Senin 13 Mei 2019 23:0 WIB
Tak Ada Kitab Suci yang Dihafal Kecuali Al-Qur’an
Tak Ada Kitab Suci yang Dihafal Kecuali Al-Qur’an
Mustasyar PBNU, KH Sya'roni Ahmadi (duduk di kursi roda)
Kudus, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sya’roni Ahmadi menyebut tidak ada yang hafal kitab suci selain Al-Qur’an kecuali Nabi mereka sendiri. Oleh sebab itu, kitab-kitab tersebut sangat rawan diubah teks aslinya.

Hal itu disampaikan ketika menjelaskan tafsir QS Al-Maidah ayat 65-66 di Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Senin (13/05). “Mengapa kitab Taurat, Injil, dan kitab-kitab lain selain Al-Qur’an rawan diubah? Sebab tidak ada yang hafal kecuali Nabinya sendiri,” sebutnya.

Kitab Taurat, terang KH Sya’roni, yang hafal hanya Nabi Musa dan Nabi Harun. Jadi kalau sekarang ada kekeliruan tidak ada yang bisa meluruskan. Berbeda dengan Al-Qur’an yang dihafal oleh banyak orang. “Bahkan anak-anak kecil saja sudah banyak yang hafal, itu keistimewaan Al-Qur’an,” tambahnya.

Pada kesempatan itu, KH Sya’roni memaparkan perilaku orang-orang Yahudi yang tidak mau mengakui kerasulan Nabi Muhammad meski telah disebutkan tanda-tandanya dalam Taurat dan Injil. Yang lebih parah lagi, mereka bahkan berani mengubah ayat-ayat Allah di dalam kitab mereka.

“Padahal jikalau mereka itu mau mengimani Nabi Muhammad sebagai utusan, Allah akan menghapus kesalahan dan dosa mereka lalu menggantinya dengan kebaikan,” papar Mbah Sya’roni menafsirkan ayat  66 QS Al-Maidah.

Lebih lanjut, KH Sya’roni menjelaskan, Nabi Muhammad adalah manusia yang dijaga langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik jasad maupun ruh, selamanya. Ulama ahli ilmu Al-Qur’an ini kemudian menceritakan bukti-bukti mengenai hal tersebut. “Pernah ada orang Yahudi yang mau mengambil jasad Nabi Muhammad yang telah dikubur, tapi akhirnya ketahuan,” katanya. (Farid/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG