IMG-LOGO
Trending Now:
Fragmen

KH Hasyim Asy’ari Tentukan Proklamasi Kemerdekaan RI pada 9 Ramadhan 1364

Senin 13 Mei 2019 16:15 WIB
Bagikan:
KH Hasyim Asy’ari Tentukan Proklamasi Kemerdekaan RI pada 9 Ramadhan 1364
Peran ulama pesantren yang cukup sentral membuat seluruh komponen pejuang kemerdekaan Indonesia tidak ingin melepaskan diri dari bimbingan para ulama. Hal ini dibuktikan ketika para pejuang nasionalis seperti Bung Karno, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lain-lain senantiasa sowan ke KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara.

Meminta nasihat, saran, dan masukan para kiai bagi para pejuang merupakan hal penting karena segala sesuatunya tidak terlepas dari Rahmat dan Ridho Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah. Hal ini relevan dilakukan karena para ulama merupakan manusia yang paling dekat dengan Tuhannya.

Meminta nasihat terjadi ketika Bung Karno, dan kawan-kawan hendak memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sowan Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Hasyim Asy’ari memberi masukan, hendaknya proklamasi dilakukan hari Jumat pada Ramadhan. Jumat itu Sayyidul Ayyam (penghulunya hari), sedangkan Ramadhan itu Sayyidus Syuhur (penghulunya bulan). Hari itu tepat 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Hal itu sesuai dengan catatan Aguk Irawan MN dalam Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari (2012) yang menyatakan bahwa awal Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 8 Agustus, utusan Bung Karno datang menemui KH Hasyim Asy’ari untuk menanyakan hasil istikharah para kiai, sebaiknya tanggal dan hari apa memproklamirkan kemerdekaan? Dipilihlah hari Jumat (sayyidul ayyam) tanggal 9 Ramadhan (sayyidus syuhur) 1364 H tepat 17 Agustus 1945, dan lihatlah apa yang dilakukan Bung Karno dan ribuan orang di lapangan saat itu, dalam keadaan puasa semua berdoa dengan menengadahkan tangan ke langit untuk keberkahan negeri ini. Tak lama dari itu, sahabat Mbah Hasyim semasa belajar di Mekkah (Hijaz) yang memang selama itu sering surat-menyurat, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina untuk pertama kali memberikan dukungan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan hari kemerdekaan Indonesia dikonsultasikan terlebih dahulu kepada KH Hasyim Asy’ari. Lalu Kiai Hasyim mengumpulkan para ulama secara bersama-sama untuk melakukan munajat kemudian istikharah agar Allah memberi petunjuk hari yang tepat.

Maka setelah para ulama memusyawarahkan hasil istikharahnya, dipilihlah tanggal 9 Ramadhan 1364 H yang secara kebetulan itu pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Angka Sembilan adalah simbol numerik tertinggi,  hari Jumat adalah penghulu atau raja-nya hari dalam sepekan dan Ramadhan adalah rajanya bulan dalam setahun.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia telah melalui proses yang panjang dan berdarah-darah dari seluruh elemen bangsa. Selain pertempuran militer dengan pihak penjajah, para pejuang seperti Bung Karno, Bung Hatta, KH Wahid Hasyim, KH Wahab Chasbullah, dan tokoh-tokoh lainnya juga melakukan langkah diplomasi. Diplomasi tersebut tidak hanya berhenti di tataran dalam negeri, tetapi juga luar negeri sehingga kemerdekaan Indonesia kala itu langsung mendapat dukungan banyak negara di dunia.

Diplomasi luar negeri dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari sendiri dengan melakukan korespondensi dengan Syekh Al-Amin Al-Husaini. Saat itu, janji kekaisaran Jepang untuk memerdekakan bangsa Indonesia memang menarik perhatian bukan hanya di tanah air, tetapi masyarakat dunia Islam, khususnya Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini.

Sampai pada 3 Oktober 1944, Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (2010) mencatat, Syekh Al-Amin Al-Husaini yang merupakan pensiunan mufti besar Baitul Muqadas Yerusalem yang ketika itu juga menjabat Ketua Kongres Muslimin se-Dunia mengirim surat teguran kepada Duta Besar Nippon di Jerman, Oshima. Kala itu Syekh Al-Husaini sedang berada di Jerman.

Kawat teguran tersebut berisi imbauan kepada Perdana Manteri Jepang Kuniki Koiso agar secepatnya mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia yang 50 juta di antaranya bergama Islam. Kongres Islam se-Dunia menekan Jepang untuk segera mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Atas teguran tersebut, Kuniki Koiso berjanji akan mengusahakan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Jawaban Koiso itu disebarluaskan melalui Majalah Domei. Kawat teguran dari Syekh Al-Amin Al-Husaini tersebut sampai kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ia selaku Ketua Masyumi menerima tindasan kawat teguran tersebut.

Menyikapi kawat teguran tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari yang juga pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU) merasa perlu mengumpulkan para pengurus Masyumi yang terdiri dari berbagai golongan umat Islam dari sejumlah organisasi pada 12 Oktober 1944.

KH Hasyim Asy’ari selaku pemimpin NU dan Masyumi segera membalas kawat tindasan Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini yang telah membantu bangsa Indonesia dengan menegur Perdana Menteri Jepang Kuniki Koiso tersebut.

Catatan sejarah tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari untuk mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari sisi diplomasi internasional. Selain itu, Kiai Hasyim dibantu para kiai lain juga menyiapkan pasukan santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk mengantisipasi kemungkinan perang pasca kemerdekaan diproklamirkan.

Kemungkinan tersebut terjadi, sebab tentara NICA Belanda yang menumpang sekutu hendak kembali menguasai Indonesia setelah Jepang takluk kepada tentara sekutu. 10 November 1945 di Surabaya merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, di mana para santri dan seluruh rakyat Indonesia berhasil menumpas agresi militer Belanda II sehingga mampu mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 atau 9 Ramadhan 1364. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Senin 13 Mei 2019 23:30 WIB
Karomah Moyang Gus Dur, Sebelum Lahir Allah Berikan Ujian Berupa Bongkahan Emas
Karomah Moyang Gus Dur, Sebelum Lahir Allah Berikan Ujian Berupa Bongkahan Emas
Makam Kiai Usman di Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang
Jombang, NU Online
Pesantren Tebuireng dan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang punya ikatan keluarga yang sangat kuat. Tokoh pesantren ini dipersatukan pada jalur KH Soichah. Kiai Soichah nama aslinya adalah Abdus Salam, punya dua menantu bernama KH Said dan KH Usman. Kiai Abdus Salam merupakan putra Kiai Abdul Jabbar putra Kiai Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin Kiai Abdurrohman (Joko Tingkir).

Dari jalur KH Said lahir KH Hasbullah yang kemudian melahirkan KH Abdul Wahab Hasbullah. Sedangkan KH Usman menurunkan Halimah (Winih) yang kelak dinikahi oleh KH Asy'ari dan melahirkan Pendiri Pesantren Tebuireng, KH Hasyim Asy'ari.

Kiai Usman sendiri menikah dengan putri Kiai Soichah bernama Layyinah. Kemudian menurunkan Halimah (Winih), Tandur, Cukul, Lilir dan Jebul. KH Usman merupakan putra dari KH Hasan yang berasal dari Demak, Jawa Tengah. Konon, KH Hasan masih keturunan dari Raden Patah, pendiri kerajaan Demak Bintoro. Kiai yang biasa disapa Mbah Hasan adalah seorang yang haus akan ilmu, kemudian sampailah ia di padepokan yang dipimpin KH Soichah.

Menurut Pengasuh Pesantren Al-Ghozali Bahrul Ulum, KH Jauharuddin Al-Fatih, Kiai Said saat itu lebih fokus pada pelajaran syariat dan bertempat tinggal di sisi barat sungai yang dinamai Dusun Tambakberas. Sedangkan Kiai Usman bermukim di bagian timur sungai, Dusun Gedang. Dua menantu Kiai Soichah ini menekuni ilmu yang berbeda, Kiai Said di bidang syariat dan Kiai Usman bagian ilmu thariqat.

"Pesantren Bahrul Ulum dirintis sejak tahun 1825 dan Pesantren Tebuireng dirintis pada tahun 1899. Dua pesantren ini punya hubungan yang kuat, jadi wajar kalau KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah itu punya hubungan yang sangat dekat, karena pendahulunya KH Said dan Kiai Usman sama-sama menantu pendiri Pesantren Bahrul Ulum Kiai Soichah" kata Kiai Jauharuddin Al-Fatih saat dijumpai di kediamannya, Senin (13/5).

Jalur thariqat Kiai Usman didapatkan lewat Kiai Wahab dari Jorosan yang mengamalkan thariqat Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Dan ketika Kiai Usman meninggal dunia pengembangan pondok thariqat pindah ke Kapas, Peterongan, Jombang dikarenakan ia tidak punya penerus anak putra. 

Hingga saat ini, jamaah thariqat ini masih eksis dan terus memiliki pengikut. Sementara sisa santri yang masih ada sebagian pindah ke sebelah barat sungai, bergabung dengan pondok Kiai Said. Sebagian lagi ikut menantunya bernama Kiai Asy'ari ke Jombang bagian selatan tepatnya di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang. Kemudian dari sini berkembang menjadi Pondok Pesantren Tebuireng.

Ada kisah menarik saat Kiai Usman belum lahir. Saat ia masih di dalam kandungan sang ibu, ayahnya Kiai Hasan mengalami kejadian unik. Saat itu Kiai Hasan sedang memasak nasi di atas tungku, tiba-tiba telihat benda berkilau di dasar tungku. Setelah diamati oleh Kiai Hasan, tampaklah bongkahan-bongkahan emas. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil cangkul dan menggali tanah untuk mengubur emas tersebut sambil meratap, "Bukan ini duh Gusti yang hamba cari. Bukan ini".

Kiai Hasan mengharapkan keturunan yang bisa melampiaskan dahaganya akan ilmu pengetahuan. Doanya pun terkabul, tak lama kemudian lahirlah anak laki-laki yang diberi nama Usman. Usman kemudian dititipkan kepada Mbah Soichah untuk dididik secara langsung. Pemuda bernama Usman ini akhirnya menjadi salah seorang murid terpandai sehingga Mbah Soichah merasa perlu mengangkatnya sebagai menantu.

Selain menitipkan putranya ke ulama, Kiai Hasan dan sang istri sepanjang pernikahan dan ketika mengandung, suami-istri ini melakukan tirakatan. Tirakatan tersebut antara lain berpuasa selama 22 tahun lamanya.

"Kiai Usman adalah sosok kiai yang kuat dzikir dan tirakatnya, masjid tempatnya wiridan masih ada hingga saat ini. Masjid itu diberi nama Al-Utsmani," jelas KH Jauharuddin.

Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Kabupaten Jombang ini menjelaskan, Kiai Usman selain sebagai tokoh agama ahli tharikat ia juga merupakan ahli dalam pengobatan. Banyak masyarakat sekitar yang datang ke rumahnya untuk berobat. Bila ditelisik, rumah Kiai Usman berada di lokasi yang saat ini ditempati  Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 3 Jombang, tepatnya barat MTsN 3 Jombang.

Bahkan Kiai Usman punya tempat khusus untuk menumbuk atau menghaluskan obat yang akan diberikan kepada pasien. Tempat tersebut berupa batu yang cukup besar dan bagian tengahnya dilombangi. Sehingga tak mengherankan bila di kemudian hari ada keturunan KH Usman yang menjadi dokter, bernama dr Umar Wahid.

"Batu ini masih ada di depan asrama Pangeran Dipenogoro Pondok Induk Bahrul Ulum Tambakberas. Bisa dicek di sana, bisa difoto juga. Insyaallah masih dijaga sama pengurus," jelas Kiai Jauharuddin.

Doa Kiai Hasan yang ingin memiliki keturunan yang soleh-solehah tampaknya terwujud lewat Kiai Usman. Hal ini bisa kita lihat dari keturuannya yang kelak menjadi tokoh besar seperti KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, KH Karim Hasyim, Nyai Khoriyah Hasyim dan Muhammad Yusuf Hasyim. Di era modern ini, keturunan Kiai Usman terus menghiasi perkembangan Indonesia seperti Gus Dur, KH Shalahuddin Wahid, dan Yenny Wahid.

Menurut juru kunci makam Kiai Usman yang bernama Mbah Fatih, di antara keturunan Kiai Usman yang punya perhatian khusus ke tempat peristirahatan terakhir Kiai Usman adalah Gus Dur. Presiden RI ke-4 ini pada tahun 2001 secara khusus membangun lokasi sekitar makam agar para peziarah lebih nyaman. Bahkan sebelum wafat pada tahun 2009 lalu, Gus Dur masih menyempatkan diri ziarah ke Tambakberas.

"Dulu makamnya tidak sebagus ini, sekarang sudah ada atap, pakai keramik, dan kamar mandi juga ada. Gus Dur yang merenovasi bangunan ini. Sering datang ke sini, dan kadang tidak ada yang tahu kalau ia ke sini," pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz)
Senin 13 Mei 2019 15:30 WIB
Indonesia Hadapi Agresi Militer Belanda I Saat Puasa Ramadhan
Indonesia Hadapi Agresi Militer Belanda I Saat Puasa Ramadhan
Waktu kafir menduduki negeri
Semua kita wajib berperang
Jangan diam bersunyi diri
Di dalam negeri bersenang-senang
Di waktu itu hukum fardhu ain
Harus yakin seperti sembahyang
Wajib kerjakan setiap waktu
Kalau tak begitu dosa hal abang
Tak sempurna sembahyang puasa
Jika tak mara ke medan perang
Fakir miskin, kecil dan besar
Tua, muda, pria dan wanita
Yang sanggup melawan kafir
Walaupun dia budaknya orang
Hukum fardhu ain di pundak kita
Meski tak sempat lunaskan hutang
Wajib harta disumbangkan
Kepada siapa yang mau berperang

Berpuasa adalah satu hal. Sementara berperang adalah hal lain. Namun, umat Islam pernah melakukan keduanya secara bersamaan. Dalam catatan sejarah, umat Islam pernah berperang melawan musuh secara fisik saat berpuasa di bulan Ramadhan. Dan itu dicontohkan langsung Rasulullah Muhammad SAW. 

Pada tahun kedua Hijriah, tepatnya pada 17 Ramadhan tahun kedua atau tahun 624 Masehi, terjadi Perang Badar antara umat Islam dan kalangan yang memusuhinya dari Mekah. Perang terjadi di sebuah lembah yang terletak di antara Makkah dan Madinah. 

Pertempuran ini tidak seimbang karena pasukan Islam yang berjumlah 314 orang melawan pasukan Mekah berjumlah 1000 orang. Bahkan dalam catatan lain disebutkan 1.300 orang. Namun, umat Islam berhasil memenangkan peperangan besar pertama bagi mereka.

Umat Islam Indonesia adalah bangsa yang kenyang akan pahit getirnya perang sehingga syair Hikayat Perang Sabil (hikayat dari Aceh yang dikutip dari buku Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987) ada kalimat: tak sempurna sembahyang puasa, jika tak mara ke medan perang, fakir miskin, kecil dan besar. Kalimat tersebut mendudukan perang melawan kafir adalah kewajiban bagi tiap orang. Bahkan tak sempurna puasa dan sembahyang jika tidak melakukannya. 

Sebagaimana terjadi di zaman Rasulullah, umat Islam Indonesia pernah pula mengalami saat-saat berperang di bulan Ramadhan. Paling terkenal adalah melawan penyerangan mendadak yang dilakukan oleh Belanda atau dikenal dengan Agresi Militer I Belanda. Mereka melancarkan agresinya pada awal puasa Ramadhan 1366 Hijriah atau bertepatan dengan 21 Juli 1947. 

Menurut sejarawan NU, KH Abdul Mun’im DZ, Belanda kemungkinan melakukan agresinya pada Ramadhan  karena orang Indonesia yang mayoritas Muslim sedang berpuasa sehingga dalam keadaan lemah. 

Sebetulnya, aksi itu tidak mendadak karena agresi itu sudah diduga jauh hari oleh tokoh-tokoh Indonesia. “Apa yang diduga ternyata menjadi kenyataan,” tulis KH Saifuddin Zuhri pada Berangkat dari Pesantren (LKiS, 2013). 

Menurut Kiai Saifuddin Belanda menggunakan 3 divisi lengkap untuk menggempur Jawa dan 3 brigade untuk menghantam Sumatera. Mereka mengerahkan kekuatan angkatan darat, laut, dan udara.

“Agresi militer Belanda I di daerah Sumatera Selatan tepat pada bulan puasa hari ketiga. Aksinya itu dimulai pada pagi hari sesudah umat Islam di daerah Sumatera Selatan selesai melakukan sahur,” tulis Sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatera, 1945-1950 sebagaimana dikutip Historia. 

Digempur dengan cara demikian, saat Indonesia baru saja dua tahun merdeka, tentu saja TNI, laskar-laskar rakyat seperti Hizbullah dan Sabilillah, tak mampu mengimbanginya. Serangan Belanda yang bersenjata lengkap itu tidak mungkin dihadapi tentara dan laskar rakyat dengan cara berhadap-hadapan, melainkan dengan cara gerilya. 

“Agresi itu Belanda berhasil merebut Magelang. Karenanya sepanjang garis Surabaya-Malang dikuasai Belanda bukan saja dalam arti militer, tetapi juga ekonomi politik (untuk sementara). Setelah Surabaya jatuh, kaum republik memusatkan perhatian militernya ke Malang,” kata Kiai Saifuddin. 

Menurut Mun’im, waktu itu tentara (TNI) kan belum siap. Dan itu sudah dihitung Belanda. Makanya mereka menyerbu basis-basis laskar rakyat seperti Hizbullah dan Sabilillah. Markasnya tiada lain adalah pesantren. (Abdullah Alawi)

Ahad 12 Mei 2019 10:30 WIB
Wirid KH Hasyim Asyari saat Dipenjara Jepang
Wirid KH Hasyim Asyari saat Dipenjara Jepang
KH Hasyim Asy'ari (Dok. istimewa)
Kepedihan perjuangan melawan ketidakperikemanusiaan penjajah dirasakan betul oleh gurunya para kiai di Nusantara, Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947). Pahlawan Nasional, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut digelandang oleh tentara Nippon (Jepang) karena alasan mengada-ada, berupaya melakukan pemberontakan.

Ayah KH Abdul Wahid Hasyim ini dipenjara dan mengalami siksa pedih dari tentara Jepang untuk alasan yang tidak pernah diperbuatnya. Meski mengalami beragam kekerasan di dalam penjara, kakek dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak menyurutkan sedikit pun semangat menegakkan agama Allah dengan tetap melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mengulang hafalan hadits-hadits dalam kitab Al-Bukhari dan menolak dengan tegas agar hormat menghadap matahari sebagai sikap tunduk dan patuh kepada Kaisar Jepang, Teno Heika.

Kisah keteguhan hati Kiai Hasyim Asy’ari dengan tetap menghafal Al-Qur’an dan Kitab Hadits Al-Bukhari sebagai wiridan (kebiasaan rutin) selama dipenjara oleh Jepang diriwayatkan oleh Komandan Hizbullah wilayah Jawa Tengah, KH Saifuddin Zuhri saat berbincang dengan KH Wahid Hasyim (Berangkat dari Pesantren, 2013) dalam sebuah kesempatan sesaat setelah Kiai Hasyim Asy’ari dibebaskan oleh Jepang melalui diplomasi KH Abdul Wahab Chasbullah dan Gus Wahid sendiri.

“Bagaimana kabar Hadlratussyekh setelah keluar dari tahanan Nippon?” tanya Kiai Saifuddin Zuhri mengawali obrolan dengan Kiai Wahid Hasyim.

Kiai Wahid Hasyim menjelaskan bahwa kesehatan ayahnya justru semakin membaik. Bahkan salah satu perumus dasar negara Indonesia itu mengabarkan bahwa ayahnya selama di penjara mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dan Kitab Hadits Al-Bukhari berkali-kali.

“Alhamdulillah, kesehatannya justru semakin membaik. Selama dalam penjara, Hadlratussyekh bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dan Kitab Hadits Al-Bukhori berkali-kali,” terang Kiai Wahid kepada Saifuddin Zuhri.

Sejak zaman penjajahan Belanda hingga Nippon (Jepang), pesantren menjadi basis kuat perlawanan rakyat Indonesia terhadap ketidakperikemanusiaan kolonial. Hal itu dibuktikan ketika pesantren dan para kiai senantiasa menjadi bidikan para penjajah untuk ditundukkan dengan segala cara, baik dengan mengajak kerja sama maupun memenjarakan para kiai.

Langkah memenjarakan kiai dengan tuduhan mengajak masyarakat melakukan pemberontakan terhadap penjajah Jepang terjadi pada tahun 1943, dua tahun sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Di antara kiai yang digelandang Tentara Nippon yaitu Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (1971-1947).

Awalnya Pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) itu dipenjarakan di Jombang, lalu dipindah ke Mojokerto.  Selama masa itu, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tersebut mengalami penyiksaan teramat berat dan pedih dari para serdadu Nippon. Namun, keteguhan dan kekuatan spiritualnya mengalahkan rasa sakit dan pedih ketika jari-jemarinya remuk dipukuli tentara Jepang.

Dipenjaranya Kiai Hasyim Asy’ari memantik perlawanan dari ribuan santrinya. Mereka ramai-ramai menggeruduk penjara Jepang di Jombang sehingga mereka terpaksa harus memindahkan ayah Kiai Abdul Wahid Hasyim itu ke Mojokerto. Langkah tersebut sekaligus disadari oleh Jepang bahwa langkah mengurung Kiai Hasyim merupakan kesalahan besar sehingga langkah diplomasi perlu dilakukan.

Langkah diplomasi ini memang sekuat tenaga dilakukan oleh Jepang, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, dan Kiai Wahid Hasyim. Tujuan utama Kiai Wahid agar bisa membebaskan ayahnya atas tuduhan mengada-ada para tentara Jepang yang memicu perlawanan para santri dan rakyat Indonesia ketika itu. Hal ini menjadi kekhawatiran Jepang sendiri akan munculnya perlawanan yang lebih besar bangsa Indonesia terhadap kolonialismenya.

Ya, Jepang memperoleh informasi yang salah ketika menuduh Kiai Hasyim Asy’ari memobilisasi rakyat untuk melakukan pemberontakan di daerah Cukir, sekitar Jombang. Akhirnya kesepakatan diperoleh, Jepang mau membebaskan Kiai Hasyim Asy’ari dengan syarat ia mau diangkat sebagai Shumubucho, Kepala Jawatan Agama yang dulunya dijabat oleh seorang Jepang Kolonel Horie.

Di sinilah politik kompensasi dilakukan oleh Jepang untuk menarik perhatian rakyat Indonesia karena Kiai Hasyim mempunyai pengaruh yang sangat luas. Lantas, apakah kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menerima dan setuju kemauan penjajah Jepang itu? “Setuju, meski ada tapinya,” ujar Kiai Wahid Hasyim ketika ditanya Kiai Saifuddin Zuhri terkait kondisi ayahnya. (Berangkat dari Pesantren, LKiS, 2013)

Bagi Kiai Hasyim Asy’ari seperti yang diterangkan oleh Kiai Wahid Hasyim, menerima tawaran Kolonial Jepang lebih bijaksana daripada menolaknya. Alasannya sederhana, jika menolak bisa dianggap oleh Jepang sebagai sikap yang tidak mau kerja sama. Jangan dilupakan, Hadlratussyekh baru saja mengalami penderitaan selama lima bulan di penjara. Akan tetapi jabatan tersebut diserahkan kepada Kiai Wahid karena kondisi sepuh Kiai Hasyim yang tidak memungkinkan mondar-mandir Tebuireng-Jakarta, selain alasan harus mengasuh dan memangku pesantren.

Nampak bahwa Kiai Hasyim Asy’ari sedang memberi keteladanan kepada para pejuang muda bahwa arti perbuatan bijaksana itu bukanlah untuk menjatuhkan pilihan terhadap yang benar dan yang salah serta terhadap yang baik atau buruk, tetapi menjatuhkan pilihan antara dua perkara yang sama-sama salah atau yang sama-sama buruk, namun diharuskan memilih salah satunya berhubung dengan situasi yang mengharuskan untuk memilih. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG