IMG-LOGO
Opini

Belajar dari Suasana Tarawih di Negeri Kinanah

Selasa 14 Mei 2019 20:0 WIB
Bagikan:
Belajar dari Suasana Tarawih di Negeri Kinanah
Suasana Qiyamul Lail di Salah Satu Masjid di Mesir
Oleh: Muhammad Nur Hayid 

Shalat tarawih merupakan kegiatan rutin kaum muslimin setiap malam di bulan suci Ramadhan. Shalat ini dilakukan karena merupakan sebuah kesunahan dari Rasulullah SAW dengan harapan agar malam-malam yang diturunkan oleh Allah, di malam bulan suci Ramadhan, diisi dengan dzikir, ibadah serta shalat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sebab bisa jadi dari malam-malam yang dijalani di bulan Ramadhan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yang sering dikenal dengan malam Lailatul Qadar. Dengan shalat tarawih ini diharapkan orang-orang yang beriman yang siang harinya berpuasa, malam harinya bisa mendapatkan kemuliaan lailatul qadar. Karena sudah menyiapkan diri dengan antisipasi shalat setiap malam melalui shalat tarawih.

Di Mesir, kegiatan ini tidak dikenal dengan nama shalat tarawih, tapi qiyamul lail. Maka dari awal petugas bilal atau Imam, langsung memulai shalat tarawih dengan memberi pengumumam persiapan untuk shalat qiyamul Lail. Sang bilal mengucapkan "Shallu li qiyamil lail". Orang-orang Mesir sudah paham bahwa shalat qiyamul lail di malam bulan suci Ramadan itu maknanya adalah seperti shalat tarawih di Indonesia.

Mengenai jumlah rakaatnya, orang-orang Mesir memilih rakaat shalat tarawih dengan jumlah yang beragam. Namun perbedaan ini tidak mengakibatkan saling menyalahkan dan merasa jumlah rakaatnya lah yang paling benar.

Masjid Al Azhar yang sudah berumur 1079 tahun misalnya, memilih shalat tarawih sebanyak 20 rakaat ditambah 3 rakaat shalat witir. Ini dilakukan dengan dua rakaat satu salam sebagaimana yang dilakukan umumnya di Indonesia oleh warga Nahdlatul Ulama. Di Masjid Sayyidina Husein lebih memilih shalat delapan rakaat dengan empat kali salam atau dua rakaat satu salam dan tiga rakaat witir dalam satu salam.

Semua masjid rata-rata menghatamkan satu juz Al-Qur'an dalam satu malam. Di Masjid Zainab juga di masjid yang lain memilih dengan shalat 23 rakaat yaitu 20 rakaat shalat tarawih dan 3 rakaat shalat witir. Tidak ada yang melakukan empat rakaat sekali salam.

Semua aktifitas shalat tarawih di Mesir berjalan normal, damai dan tidak ada pertentangan sedikitpun, karena mereka memahami bahwa perbedaan bilangan itu adalah kesadaran untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Bagi yang ingin lebih memaksimalkan ibadah di malam bulan suci Ramadhan, mereka memilih untuk shalat sebanyak 20 rakaat ditambah tiga witir. Tapi ada yang merasa cukup dengan delapan rakaat karena pertimbangan bacaan yang panjang-panjang dengan 1 juz setiap malamnya.

Sementara di Zawiyah atau di Indonesia disebut sebagai pondok pesantren menerapkan shalat tarawih setiap malam lebih dari 23 rakaat. Bacaannya pun lebih dari 1 juz. Syeikh Yusri misalnya, tiap malam menjaga malam-malam bulan suci Ramadan dengan qiyamul lail sampai shubuh. Kegiatan shalat diselingi dengan ta'lim dan minimal menghatamkan bersama murid-muridnya tiga juz setiap malamnya. Malah untuk dirinya sendiri bisa lebih dari tiga juz.

Di Negeri Kinanah ini sendiri terdapat empat mazhab yang berlaku. Mayoritas warga Mesir mengikuti mazhab Imam Malik diikuti dengan mazhabnya Imam Syafi'i dan Imam Abu Hanifah, dan terakhir mazhab Imam Hambali. Perbedaan ini dapat terlihat dari amaliah dan cara mereka beribadah.

Sebagai contoh, model shalat yang dilakukan relatif berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Ada yang dalam tahiyat akhirnya tidak dalam bentuk duduk iftirasy namun seperti orang yang jongkok di lututnya. Bahkan sudah biasa terlihat ada orang tidur di bagian shaf (baris) pertama, padahal dibelakangnya banyak yang sedang melaksanakan shalat qiyamul lail dengan khusyuk. Dan ini tidak ditegur serta tidak diusir.

Ada juga yang saat shalat hanya memakai celana pendek persis di bawah lutut. Untuk ukuran orang Indonesia, hal ini sangat tidak sopan karena diibaratkan menghadap presiden, gubernur, atau bupati saja harus rapi. Terlebih menghadap Allah SWT.

Orang Mesir pun pasti sudah tahu dalilnya bahwa Allah memerintahkan agar kita menghias dan memperbaiki diri saat memasuki masjid. Orang Mesir pun pastinya mengerti bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur'an dan hadits. Namun mereka tidak menyalahkan karena memang dalam mazhab Imam Abu Hanifah, aurat laki-laki bukan antara pusar sampai lutut namun yang penting tertutup. Untuk kategori kepantasan sebenarnya sangat tidak pantas.

Namun secara umum orang Mesir betul-betul, ketika shalat, menjaga diri dengan baik. Mereka menggunakan jubah, bercelana, walaupun masih ada yang mengenakan kaos dengan model celana sedikit di bawah lutut.

Kondisi berbeda pemahaman namun tetap saling menghormati ini menunjukkan kematangan beragama umat Islam di Mesir. Hal ini sesuai dengan kata bijak yang mengungkapkan bahwa semakin orang mengerti agama, maka akan semakin toleran ia. Sebaliknya, semakin orang tidak mengerti agama maka akan gampang dimasuki berbagai paham dan gampang semakin radikal serta mudah menyalahkan orang lain.

Penulis adalah ketua rombongan dai dan imam utusan PBNU untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Tadribut Du'at) di Al-Azhar Kairo, Mesir Ramadhan 1440 H.
Bagikan:
Senin 13 Mei 2019 0:0 WIB
Puasa Sebagai Refleksi Penyelamatan Lingkungan Hidup
Puasa Sebagai Refleksi Penyelamatan Lingkungan Hidup
Ilustrasi
Oleh Wahyu Eka Setyawan 

Bumi semakin panas, di beberapa publikasi ilmiah mencatatkan peningkatan suhu hampir mencapai 1 derajat celcius. Maka tidak heran, jika di beberapa titik wilayah suhu bisa mencapai 29 hingga 30 derajat celcius. Belum lagi di kota-kota besar yang selain panas karena cuaca terik, juga diakibatkan oleh polusi yang semakin meningkat tajam. Hal ini menjadi isu bersama, mengenai peningkatan suhu di bumi dengan aneka dampaknya bagi kehidupan manusia.

Salah satu dampak yang nyata akibat peningkatan suhu ialah terganggunya ibadah puasa. Peningkatan suhu ekstrem memaksa tubuh untuk menyesuaikan, tak jarang juga yang gagal beradaptasi dengan ekstremnya suhu. Salah satu dampaknya ialah pusing-pusing, lemas dan kurang fokus. 

Hal ini diakibatkan oleh cuaca panas yang menguras habis energi tubuh, salah satu yang umum ditemui yakni dehidrasi. Tubuh manusia mayoritas adalah cairan, peningkatan suhu ekstrem memaksa cairan di tubuh keluar dengan cepat, melalui pori-pori kulit atau saluran pembuangan.

Hal ini menjadi persoalan serius, yang mana ibadah puasa menuntut kita untuk tidak makan dan minum selama 12 jam lebih. Dengan situasi dan kondisi inilah mengakibatkan kekhusukan ibadah puasa terganggu. Bukan hanya itu saja, di tengah bumi yang tidak baik-baik saja, suhu yang meningkat tajam ternyata bukan satu-satunya ancaman. Masih ada ancaman kekeringan hingga memburuknya kualitas udara. 

Tidak hanya ibadah puasa saja yang terancam, namun ibadah lainnya juga sangat riskan. Seperti ketika kita shalat butuh air bersih, ketika berdzikir membutuhkan udara yang segar dan hal-hal lain yang mendekatkan diri dengan sang khaliq.

Maka dari itu, esensi sesungguhnya ibadah puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar. Meningkatkan jumlah kunjungan ke masjid untuk berjamaah, hingga buka dan sahur bersama. Bahkan melampaui tren kekinian yakni sekedar update status di media sosial. 

Namun, ibadah puasa ramadhan secara hakikat merupakan ajakan untuk merefleksikan diri terkait apa yang telah kita perbuat. Mengajak kita untuk berlaku adil serta melawan hawa nafsu, ini sangat relasional dengan upaya pencegahan dari tindakan-tindakan yang berpotensi merusak.

Puasa merupakan wujud transendensi, mencoba berinteraksi dengan sang khaliq. Di dalam aspek teologi Islam mengajak setiap insan untuk kembali ke rabb. Menunjukkan suatu sisi hubungan vertikal, antara makhluk dengan sang khaliq. Selain itu, puasa juga manifestasi dari sisi ekuilibrium. Titik di mana manusia harus egaliter, duduk setara dengan manusia dan makhluk lain baik biotik ataupun abiotik. 

Secara horizontal hubungan tersebut terbagi menjadi dua yakni hablum minannas dan hablum minal alam. Dalam konteks hablum minannas, puasa ramadhan sejatinya mengajak kita untuk memperbaiki hubungan sosial, dalam hal ini termanifestasi dalam shalat tarawih dan aneka kegiatan yang bersifat kolektif. 

Selain itu, ada hablum minal alam yakni mengajak manusia untuk menjaga dan melestarikan alamnya. Dalam konteks ini puasa ialah menahan hawa nafsu, menjaga diri agar tidak berbuat kerusakan dan senantiasa menunjukan sisi rehabilitatif sebagai salah satu manifestasi memperbaiki diri.

Dari konteks ini puasa sejatinya mengajak manusia untuk lebih baik, menahan hawa nafsu agar tidak merusak, memperbaiki diri agar bisa menjaga dan merawat. Karena puasa sendiri merupakan ibadah reflektif, baik secara horizontal maupun vertikal. 

Tentu, hal ini dapat dimaknai jika salah satu cara untuk menanggulangi bencana alam ialah dengan istiqamah berbuat positif untuk bumi. Seperti berupaya untuk menahan, dan menghentikan peningkatan suhu di bumi yang mengakibatkan perubahan iklim.

Maka puasa ramadhan adalah cara jitu untuk merefleksikan diri, hingga masuk ke hakikat dari beribadah dan menjalankan perintah dari Allah SWT. Salah satunya ialah menjaga lingkungan hidup, serta serius dalam melawan perubahan iklim.

Perubahan iklim, rusaknya lingkungan hidup hari ini, merupakan akibat dari rakusnya manusia, perubahan perilaku dari manfaat ke mudharat, dari yang menggunakan sesuai kebutuhan menjadi perilaku boros menjurus ke ghuluw. Semua itu merupakan implikasi dari keserakahan manusia, mereka memakan apapun demi keuntungannya sendiri. Tanpa peduli orang lain dan kontinuitas peradaban manusia.
 
Puasa ramadhan merupakan sebuah cara progresif, karena memiliki syarat materil untuk menjadi sebuah gerakan etis. Etika lingkungan hidup dapat dikonstruksikan melalui puasa ramadhan, sebagai satu langkah konkrit dalam menghadapi perubahan iklim. 


Penulis adalah kontributor NU Online
Ahad 12 Mei 2019 8:0 WIB
Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 2)
Ramadhan dan Demokrasi (Bagian 2)
Oleh: Asmawi Mahfudz

Kelanjutan dari hikmah puasa Ramadhan adalah menjadi pribadi yang sabar untuk menjauhi larangan-larangan Allah (munkarat). Di sekitar kita mungkin banyak meluapkan kegembiraan dengan melampauhi batasan atau larangan Allah. Misalnya setelah kita menang, dalam alam demokrasi ini melakukan tindakan-tindakan yang dilarang oleh agama, negara, atau bertentangan dengan adat kebiasaan kita. Sabar tipe menghindari perkara yang tidak baik ini biasanya lebih berat dibanding dengan sabar menjalankan ketaatan, tetapi yang dapat mengukur adalah invidu masing-masing dan sesuai dengan konteks kehidupannya. Orang kadang bisa untuk menjalankan ketaatan secara istiqomah, tetapi belum tentu dapat menghindari larangan-larangan yang diingkari oleh agama dan kemanusiaan kita.

Maka tidak heran kadang orang rajin untuk shalat, dermawan, sudah haji, tetapi kadang menebar fitnah, hoaks, adu domba, caci maki kepada sesama, menebar aib atau kejelekan orang lain, atau bahkan karena terlanjut mendapat atribut status sosial yang tingi di masyakat (borju). Akhirnya merasa yang paling dekat dengan Allah, paling berhak untuk masuk surga, dan lain sebagainya. Untuk itu dalam suasana rutinitas demokrasi tahun ini, penting sekali kita aktualisasikan sabar dalam menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. 

Selanjutnya adalah sabar atas musibah yang menimpa kita. Musibah menurut Islam mempunyai pengertian tersendiri. Musibah itu tidak selamanya dapat diartikan sebagai tanda-tanda murka Allah atau keburukan. Demikian pula dengan nikmat, tidak selamanya sebagai pertanda mendapat ridha Allah. Tetapi, bahagia dan musibah kedua-duanya merupakan hukum Allah terhadap makhluk-Nya. Allah bermaksud menguji hamba-Nya yang beriman dengan kebaikan dan keburukan, agar dengan ujian ini Allah dapat mengetahui sampai di mana kebenaran imannya. Sebagaimana ayat Al-Qur’an "Wa basyir al-shabirin, alladhina idha ashabathum mushibat qalu inna lillahi wa inna ilayhi rajiun. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata sesungguhnya ini adalah milik allah dan sesungguhnya semuanya kembali kepada-Nya.

Menurut penulis, kandungan ayat ini adalah kegembiraan, ketidaksukaan, kekecewaan dalam kehidupan ini adalah kehendak Allah. Sebagai orang yang beriman bisakah kita menerima kekecewaan, kegembiraan sebagai perwujudan kehendak Allah. Tentu itu bukan hal yang mudah bagi kita. Sebagaimana manusia kadang kita bisa menerima kemenangan, kesenangan, kegembiraan dalam kehidupan kita, tetapi sulit untuk menerima kekecewaan, keburukan, kekalahan, menimpa kepada kita.

Maka semangat sabar pada tipe yang ketiga ini juga sesuatu yang sangat penting dalam kontestasi pemilu Indonesia tahun ini. Karena kita semua adalah orang yang beriman, meyakini keyakinan Agama masing-masing, tentunya segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan orang yang beriman harus selaras dengan apa yang diyakininya selama ini, baik kita sebagai pemenang kontestasi maupun sebagai pihak yang kalah. Atau jawaban yang lain dalam kontestasi ini adalah semua yang terjadi inilah yang terbaik untuk hamba Allah menurut Allah, bukan menurut hamba-Nya. Karena kita sebagai hamba Allah tidak mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita sendiri. Mungkin kemenangan itu yang terbaik dan mungkin juga kekalahan itu yang terbaik.   

Tipe sabar yang lain menurut Al-Ghazali adalah sabar atas ketentuan (takdir) Allah. Sebagai sabar kelompok sebelumnya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah berdasarkan ketentuan Allah Rabul Izzati. Manusia sebagai hamba diberi hak untuk berikhtiar sesuai dengan kemauannya, tetapi akhir dari semua usaha manusia tetap akan kembali kepada kuasa Allah. Kita diberi hak untuk berpartisipasi dalam alam demokrasi ini sesuai dengan perannya masing-masing. Semua dari kita berperan sebagai pemilih dalam pemilu, sebagaian sebagai calon legislatif, sebagian sebagai panitia pemilu, sebagian sebagai pengamat, sebagian sebagai peneliti, sebagian sebagai calon pemimpin dalam tingkatannya. Tetapi, seluruh kita tetap bermuara kepada keputusan Tuhan yang Maha Esa, Allah Swt. 

Dalam sebuah dawuh-nya, Kanjeng Nabi Saw bersabda "Man Lam Yardla bi Qadla’i, fa al-Yathlub Rabban Siwaya." Barang siapa tidak ridla dengan ketentuan-ketentuan Allah maka carilah Tuhan selain Allah. Artinya, keputusan atau takdir dalam ajaran agama Tauhid menempati posisi pokok dalam keimanan ajaran Tauhid. Maka sikap sabar dalam menerima keputusan Allah adalah sebuah akhlak yang mulia bagi hamba Allah di sisi-Nya.
 
Sejak awal, rutinitas lima tahunan pesta demokrasi ini sudah dirancang sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang mempunyai kewenangan, sesuai dengan perannya. Sebagian mungkin sesuai dengan keinginan seseorang, tetapi sebagian mungkin mengecewakan. Sebagian mungkin diposisikan sebagai orang yang kalah dalam kontestasi, tetapi sebagian di posisi sebagai pemenangnya. Sebagai posisi apa pun kita, baik sebagai pemenang atau yang kalah, jika dikembalikan kepada teologi ketuhanan kita, maka sebenarnya semuanya telah berposisi sebagai hamba Allah yang dalam satu muara yaitu kehendak Allah.

Sikap kerelaan atau sabar untuk mengembalikan kepada yang berkehendak, itulah yang harus kita tanamkan dalam sikap kita sekarang ini. Dan, sikap sabar dan rela ini harus menjadi sifat bagi orang yang beriman, dengan menjadikannya dasar utama dalam melakukan perbuatannya. Implikasinya dalam demokrasi ini semuanya akan menjadi pemenang dalam kacamata teologi kita. Hasil dari pemilu kita yang sesuai dengan keinginan seseorang, itu merupakan kehendak Tuhan disebut sebagai pemenang. Juga, yang tidak sesuai dengan keinginan dan kepentingan kita disebut sebagai pemenang pula. 

Demikianlah sebenarnya teologi sabar sebagai hikmah dari Ramadhan kita dalam berdemokrasi, apalagi dalam konstitusi bangsa Indonesia, sila yang pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Artinya, kehidupan berbangsa dan bernegara kita di Bumi Nusantara ini jelas mempunyai landasan teologis yang jelas, bahwa landasan utamanya adalah berdimensi Ketuhanan (Ilahiyah). Baik dari sisi kehidupan ekonomi, politik, sosial, seni budaya, pendidikan, religius (keagamaan), olahraga, pengelolaan hutan, kelautan, pengelolaan aset bangsa, administrasi, dan lain sebagainya. Semuanya di dasari oleh teologi yang meramu antara aspek ketuhanan dan aspek kemanusiaan.

Semoga bermanfaat.     

Penulis adalah pengajar IAIN Tulungagung dan Mustasyar PCNU Blitar, Jawa Timur.


Ahad 12 Mei 2019 4:15 WIB
Bagaimana Memilih Teman di Era Medsos?
Bagaimana Memilih Teman di Era Medsos?
Ilustrasi (Ist.)

Oleh: Muhammad Nur Hayid

Teman adalah kebutuhan yang tak bisa kita tolak. Karena berteman itu merupakan wujud nyata kita ini mahluk sosial. Orang yang tak berteman tidak akan pernah menjadi manusia seutuhnya. Lalu, Bagaimana cara berteman dalam Islam?

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali membagi manusia dalam tiga kategori.

Pertama, manusia seperti makanan. Kita tidak mungkin bisa melepaskan diri dari makanan selama kita masih bernyawa. Artinya, sebagai makhluk sosial, tidak tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Maka, berakhlaklah yang baik agar kita bisa mendapatkan asupan makanan yang baik melalui mua'syaroh kita dengan akhlak yang mulia.

Kedua, manusia seperti obat. Kadang kita butuh saat kita sakit dan kadang kita harus menjauhi obat agar tidak over dosis. Dalam konteks ini, pastikan jangan salah memilih teman sebagaimana jangan salah mendiagnosa penyakit dan akhirnya salah minum obat.

Kalau kita salah memilih teman sama dengan salah minum obat, bukannya badan sehat yang kita rasakan, tetapi justru bisa keracunan. Begitu juga saat kita salah memilih sahabat atau teman, bukannya kemaslahatan dan kemanfaatan yang kita peroleh, tetapi justru madharat dan bahaya yang akan kita rasakan.

Ketiga, manusia seperti penyakit. Jauhilah tipe yang ketiga ini. Maka tidak ada pilihan, jangan cari manusia model ini sebagai kawan atau teman, sebab selain pasti akan merusak diri kita, pasti juga akan menularkan keburukannya kepada orang lain. Sebagaimana penyakit yang akan menularkan kepada orang lain kalau kita tidak menjauhi dan mencegahnya.

Namun tipe ketiga ini tidak bisa kita hindari karena itu bentuk ujian dari Allah SWT. Sebagaimana penyakit juga tidak bisa kita hindari pasti akan ada untuk menguji kita sebagai manusia yang mengaku beriman kepada Allah.

Hanya saja caranya, kalau kita tahu dia ini penyakit, maka janganlah didekati, jauhi dan jika bisa dibasmi. Bukan manusianya yang dibasmi, tapi akhlak dan prilakunya yang menjadi penyakit menular itulah yang harus kita basmi.

Di era medsos yang sangat terbuka ini, kita bisa mencari sendiri tipologi manusia yang disebutkan Imam Ghazali di atas. Pilihan tinggal kita sendiri, mau memilih sahabat dan teman yang kita butuh setiap saat karena mampu membawa kekuatan dan energi yang baik, atau mau memilih penyakit yang akan menggerogoti diri kita hingga tumbang tanpa manfaat hidup di atas muka bumi ini.

Tentu orang yang waras akan memilih yang pertama dibanding yang ketiga. Dan golongan orang-orang yang pertama itu adalah golongan orang-orang yang shaleh, alim, tawadhu', penuh rahmah dan cinta yang jauh dari sikap sombong, benere dewe alias maunya menang sendiri.

Bukan model orang-orang yang suka mencaci maki dan menebar hoaks, suka menghina dan merendahkan orang lain karena kesombongannya. Bukan pula model orang yang suka membid'ahkan orang lain, bahkan berani mengkafirkan orang lain. Karena golongan ini adalah golongan manusia yang ketiga yaitu penyakit menular yang sangat berbahaya dan harus diberantas agar masyarakat menjadi sehat.

Nabi Isa AS pernah ditanya soal bagaimana beliau belajar adab, tata krama dan akhlak yang mulia? Beliau menjawab, tidak pernah belajar dari siapa pun dan diajari oleh seseorang pun. Tetapi Nabi Isa belajar akhlak dan adab itu dari bodohnya orang-bodoh yang tidak mau memperbaiki diri. Lalu beliau menjauhi sikap para juhala itu alias tak mau mencontohnya.

Dengan menghindari sikap yang dibenci orang lain, dan tidak meniru kelakuan orang-orang bodoh itu, sebenarnya cara belajar adab yang paling sederhana dan gampang, demikian kata Imam Ghozali. Sekarang bagaimana dengan kita?

Masihkan kita ikuti prilaku orang-orang yang tak paham agama lalu menyerukan jihad dan meniru prilaku orang-orang bodoh yang setiap saat menghina siapapun yang berbeda dengan dirinya? Jawabannya adalah, itulah potret kita sesungguhnya. Menjadi bodoh bersama juhala atau keluar dari mereka menjadi orang-orang yang waras.

Saatnya kita jadikan medsos kita medsos yang sehat dan waras. Jangan jadikan medsos kita sebagai alat penebar fitnah, hoaks dan adu domba. Orang jawa bilang, becik ketitik olo ketoro, apa yang kita tulis akan jadi cacatan pribadi kita di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak saat kita mempertanggungjawabkan semua itu dihadapan sang khaliq.

Penulis adalah Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG