IMG-LOGO
Internasional

Di Jerman, Ramadhan Mulai Semarak Seiring Islam Kian Mengakar

Kamis 16 Mei 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Di Jerman, Ramadhan Mulai Semarak Seiring Islam Kian Mengakar
Peta negara Jerman (halokawan.com)
Jakarta, NU Online
Ramadhan begitu semarak disambut oleh masyarakat di Jerman. Pasalnya kultur Islam mulai mengakar di negeri yang dipimpin Kanselir Angela Markel itu. Hal tersebut ditandai dengan berdirinya masjid-masjid di berbagai wilayah oleh Muslim asal berbagai negara, seperti Turki, Pakistan, Arab hingga Indonesia.

Iftar gratis juga diberikan di masjid-masjid selama sebulan penuh. Jadi, saya bisa hemat biaya makan selama Ramadhan,” kata Mochammad Mirza Ilham Tontowi, Ketua Pengurus Cabang Internasional Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PCI PMII) Jerman, kepada NU Online pada Rabu (15/5).

Mirza mengaku kerap berbuka di Masjid Indonesia, Indonesische Wisheit Und Kultur Zentrum, Perleberger Str. 61, 10559 Berlin, yang terletak 4,3 km dari Technische Universitat Berlin, kampus tempatnya berstudi. Meski antara waktu pulang dan berbuka cukup panjang, akan tetapi ia lebih memilih pulangnya selepas buka bersama.

“Karena masjid yang baru saya temui di Berlin masih di sekitar daerah barat, tanggung jadinya kalau pulang dulu. Biasanya saya buka di masjid Indonesia atau Arab,” ujarnya.

Baru selepas itu, ia pulang ke tempat tinggalnya yang terletak di Berlin bagian timur. Ia baru sampai ke sana sekitar pukul 11 sampai 12 malam.

Enam jam jarak antara terbenam matahari sampai terbit fajar membuat perencanaan kegiatan malam harus cukup matang. Baginya, jika rencana makan sahur dan bukanya beres akan memudahkan ibadah dan aktivitas lainnya. Mirza memilih buka sebagai sahurnya sekaligus.

“Untuk saya pribadi, saya memilih untuk berbuka dan sahur sekaligus, dengan begitu saya punya waktu tidur yang cukup,” kata mahasiswa bachelor bidang Engineering Physics itu.

Bangun sebelum waktu subuh, baginya, hanya untuk makan buah dan minum air yang cukup. Sebab, jika waktu tidurnya yang berkurang, hal tersebut justru membuat badan jauh lebih lemas dibanding dengan tidak berbuka atau tidak sahur sama sekali.

Mirza memilih untuk melaksanakan tarawih di rumah pada awal-awal Ramadhan seperti ini guna memanfaatkan istirahatnya yang cukup. Sebab, biasanya, katanya, tarawih bakal selesai tengah malam. Ia bertarawih di masjid pada akhir pekan saja. “Tarawih di masjid bisa berlangsung sampai tengah malam,” ujarnya.

Namun, menjelang akhir ia berencana banyak bertarawih di masjid. Pasalnya, tarawih akan lebih cepat selesai. Hal itu disebabkan adanya fatwa khusus di Eropa yang membolehkan menjamak waktu Maghrib dan Isya dari tanggal 18 Mei 2019 hingga pertengahan Agustus 2019.

“Tapi kalau sudah diperbolehkan menjamak Maghrib dan Isya, insyaallah akan istiqamah tarawih di masjid karena bisa pulang lebih awal,” pungkas pria asal Mojokerto, Jawa Timur itu. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 16 Mei 2019 23:30 WIB
Komunitas Muslim Austria Tolak Pengesahan UU Larangan Jilbab untuk Pelajar SD
Komunitas Muslim Austria Tolak Pengesahan UU Larangan Jilbab untuk Pelajar SD
Ilustrasi (shutterstock.com)
Wina, NU Online
Parlemen Austria mengesahkan undang-undang yang melarang pemakaian jilbab bagi pelajar di tingkat sekolah dasar, Rabu (14/5). Peraturan tersebut pertama kali diajukan oleh dua partai sayap kanan koalisi pendukung pemerintah, yaitu Partai Rakyat kanan-tengah (OeVP) dan Partai Kebebasan sayap kanan (FPOe) pada April 2018 lalu.

Dikutip laman AFP, Kamis (16/5), dua partai tersebut secara tegas menyebutkan bahwa aturan itu khusus ditujukan untuk komunitas Muslimah yang mengenakan jilbab. Otoritas setempat menyebutkan, larangan dalam undang-undang tersebut tidak akan berlaku untuk kippa (penutup kepala laki-laki Yahudi) dan patka (penutup kepala laki-laki Sikh). 

Memang, dalam peraturan itu tidak disebutkan secara eksplisit tentang larang jilbab. Mereka menggunakan istilah ‘pakaian yang dipengaruhi ideologi atau agama yang terasosiasi dengan penutup kepala’ untuk menghindari diskriminasi.

Juru bicara bidang pendidikan dari FPOE, Wendelin Moelzer, menyatakan, undang-undang tersebut merupakan ‘sebuah sinyal perlawanan’ pemerintah terhadap politik Islam. Sementara, anggota parlemen dari OeVP, Rudolf Taschner, menyebut kalau tujuan dari pembuatan peraturan itu adalah untuk melindungi kaum perempuan dari ‘penindasan’.

Langkah itu mendapatkan tentang dari banyak pihak. Salah satunya organisasi komunitas muslim resmi di Austria, IGGOe. Menurut IGGOe, aturan itu merupakan bentuk tindakan ‘tidak tahu malu’ dan taktik pengalihan.’ Mereka yakin, aturan ini tidak akan mempengaruhi kehidupan anak Muslimah di Austria.

Seluruh oposisi pemerintah juga menentang pengesahan peraturan itu. Bahkan, sejumlah oposisi menuduh pemerintah sayap kanan hanya ingin mencari popularitas semata ketika mengambil langkah tersebut, daripada kesejahteraan anak. Meski parlemen Austria sudah mengesahkannya, namun pemerintah mengakui kalau undang-undang ini akan ditolak Mahkamah Konstitusi Ausria.

Sebelumnya pada 2017 pemerintah Austria juga sudah menerapkan larangan penggunaan cadar atau penutup wajah. (Red: Muchlishon)
Kamis 16 Mei 2019 19:0 WIB
Laksanakan Umrah di Bulan Ramadhan, Ini Pesan Paul Pogba
Laksanakan Umrah di Bulan Ramadhan, Ini Pesan Paul Pogba
Paul Pogba dan Kurt Zouma di depan Ka'bah (IG @paulpogba)
Makkah, NU Online
Pemain bintang klub sepakbola Inggris Manchester United, Paul Pogba, menunaikan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Dia terbang ke Makkah Arab Saudi untuk umrah beberapa hari setelah Liga Primer Inggris selesai.

Dari akun Instagram milik pribadinya @paulpogba, Pogba bersama bek Everton Kurt Zouma terlihat tengah berada dan berpose di depan Ka’bah. Sambil mengenakan tas slempang dan peci putih, gelandang termahal di dunia itu tampak tersenyum hangat. 

Dalam unggahan itu, Pogba menuliskan tautan atau pesan untuk selalu mengingat hal-hal yang penting dalam hidup ini. “Jangan pernah lupa hal-hal penting dalam hidup,” kata Pogba dalam bahasa Inggris. Pada tautan itu, Pogba juga menyertakan emoticon Ka’bah, tangan berdoa, dan hati.

Hingga saat ini, unggahan Pogba bersama Zouma di depan Ka’bah ini disukai 1,8 juta dan dikomentari 19,6 ribu akun. Rata-rata, warganet mengomentari unggahan Pogba itu dengan nada positif. 

“Masya Allah! Salah satu pemain terbaik berada di tempat terbaik di dunia," tulis salah satu warganet, @ilhamyrommy.  

Pogba dinilai sebagai pesepak bola Muslim yang taat. Dia tidak ragu-ragu menunjukkan kecintaannya kepada Islam. Terbukti, dia beberapa kali menunaikan ibadah umrah pada saat bulan Ramadhan atau ketika kompetisi bola jeda. Dia kemudian mengunggah foto atau video dirinya sedang di Makkah itu ke akun media sosialnya. Tahun lalu menjelang Piala Dunia 2018, Pogba juga memanfaatkan waktu luangnya pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah umrah. (Red: Muchlishon)
Kamis 16 Mei 2019 17:0 WIB
Warga Irak Dilarang Pakai Celana Pendek selama Ramadhan
Warga Irak Dilarang Pakai Celana Pendek selama Ramadhan
Laki-laki bercelana pendek di Kirkuk, Irak. (Gulfnews)
Kirkuk, NU Online
Pihak kepolisian Kota Kirkuk, Irak, melarang warganya mengenakan celana pendek atau celana Bermuda dan jins sobek selama bulan Ramadhan. Jika melanggar, mereka akan ditangkap.

“Keputusan untuk melarang celana pendek dan jins sobek datang dari pusat operasi kepolisian Kirkuk," kata juru bicara kepolisian Kirkuk, Irak, Kolonel Afrastyaw Kamel kepada Kurdistan 24, seperti diberitakan Gulfnews, Rabu (15/5).

Kamel mengatakan, keputusan larangan mengenakan celana pendek tersebut sudah dikirimkan ke semua kantor polisi di Kota Kirkuk. Sanksinya juga jelas dan tegas, kantor polisi di seluruh Kota Kirkuk diwajibkan untuk menangkap mereka yang mengenakan celana pendek dan jins sobek.

Tidak hanya melarang penggunaan celana pendek, kepolisian setempat juga melarang warganya mengendarai sepeda motor selama bulan Ramadhan.

‘Keputusan aneh’ tersebu menjadi bahan olok-olokan warga kota Kirkuk di media sosial. Salah seorang pengguna media sosial Twitter, @AhmedIr94374971, mengunggah sebuah foto yang memperlihatkan seseorang mengenakan celana pendek di balik kandoura, pakaian panjang tradisional Irak. Dalam unggahan itu, dia berkomentar ‘Pria Kirkuk setelah celana pendek dilarang’.



Dilaporkan, sudah ada 20 orang yang ditangkap akibat mengenakan celana pendek selama bulan Ramadhan di kota tersebut. Kirkuk terletak 238 km di utara Baghdad atau terletak di antara ibu kota Irak dan ibu kota Pemerintah Daerah Kurdistan di Erbil. Mayoritas penduduk Kirkuk adalah etnis Kurdi dan Arab. 

Tidak hanya di Irak, di Iran juga menerapkan ‘kebijakan yang aneh dan ketat’ selama bulan Ramadhan. Beberapa hari lalu, Iran mengeluarkan keputusan larangan laki-laki melihat langsung ke arah perempuan, larangan makan di tempat umum, dan larangan memutar musik di dalam mobil selama bulan Ramadhan.

“Siapapun yang melanggar instruksi selama Ramadhan ini akan dianggap melakukan tindakan kriminal dan harus dihukum oleh unit aparat penegak hukum," kata juru bicara Kementerian Kehakiman Iran, Gholan Hosein Esmaili, dikutip The Telegraph, Sabtu (11/5). (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG