IMG-LOGO
Nasional

Dua Kelas Sosial Manusia dalam Pandangan Tasawuf

Kamis 16 Mei 2019 1:45 WIB
Bagikan:
Dua Kelas Sosial Manusia dalam Pandangan Tasawuf
Tangerang Selatan, NU Online
Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil mengungkapkan, dalam konsep tasawuf maqam seseorang atau yang dapat diartikan sebagai kelas itu terbagi menjadi dua, yakni manusia yang memiliki kedudukan di tengah-tengah masyarakat (man of action) dan manusia yang kehidupannya menyendiri (man of contemplation).

“Saya mengomentarinya sebagai manusia kamar dan manusia sosial,” kata Gus Ulil saat menjadi narasumber dalam acara Ramadhan on Campus, Tadarus Al Hikam di Aula Lantai 1, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (15/5).  
 
Manusia kamar, lanjutnya, adalah mereka yang kehidupannya terpisah dari masyarakat. Meskipun begitu, ia adalah seseorang yang berkedudukan sebagai konseptor, pemikir, dan bekerja secara menyendiri. Pemikiran-pemikiran yang dihasilkannya berguna bagi banyak orang.

Sedangkan manusia sosial adalah mereka yang bertindak dan berinteraksi dengan masyarakat dan melakukan pekerjaannya di tengah-tengah masyarakat. Bagi Gus Ulil, kedua kelas tersebut sangat dibutuhkan untuk mengoperasikan suatu masyarakat. 

“Manusia itu tidak bisa tegak jika hanya dalam satu kelas saja, meskipun secara rohani kelas yang pertama—yang bekerja dalam kesendirian, maqamnya jauh lebih tinggi dibandingkan kelas yang kedua,” papar penulis buku Menjadi Manusia Rohani ini. 

Ia mengungkapkan, seseorang yang kelasnya sebagai manusia kamar tetapi berkeinginan untuk pindah menjadi manusia sosial, maka sesungguhnya ia telah turun dari pangkatnya. Begitupun sebaliknya, jika seseorang yang kelasnya sebagai manusia sosial kemudian berkeinginan untuk pindah menjadi manusia kamar untuk memperoleh label kesufian, maka sesungguhnya ia sedang melakukan kesufian untuk menutupi hawa nafsunya. 

“Jadi, seseorang yang memiliki maqam tertentu tidak bisa nyebrang ke maqam lain,” tambahnya.

Mengutip keterangan dalam kitab Ihya Ulumuddin, Gus Ulil menerangkan bahwa ada tiga cara untuk mendeteksi masing-masing maqam dalam diri seseorang. Pertama, petunjuk seorang guru. Karena seseorang tidak mampu melihat dirinya dengan jernih, maka seorang guru sangat dibutuhkan untuk mengetahui di mana kelebihan muridnya kecenderungannya, serta bakat apa yang dimilikinya. 

“Oleh karenanya dalam dunia sufi, mursyid itu dibutuhkan untuk mengetahui di mana posisi seseorang,” ungkapnya.

Kedua, petunjuk seorang teman. Teman dalam hal ini adalah mereka yang berkata jujur (sodiqun suduqun), bukan mereka yang selalu berkata baik terhadap seseorang karena merasa segan, atau teman yang suka berkata buruk karena menyimpan kebencian. 

“Ketiga, adalah dirimu sendiri. Jika seseorang sudah tahu maqamnya berada di mana, apakah memiliki kecenderungan sebagai manusia kamar atau manusia sosial, maka seseorang harus konsisten dalam maqam tersebut,” tukasnya. (Nuri Farikhatin/Muchlishon)
Bagikan:
Kamis 16 Mei 2019 23:15 WIB
Kiai Said: Prinsip Demokrasi Jaga Keutuhan Bangsa
Kiai Said: Prinsip Demokrasi Jaga Keutuhan Bangsa
Jakarta, NU Online
Demokrasi sudah disepakati oleh para pendiri bangsa sebagai sistem politik Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, demokrasi jangan dipahami sebagai kebebasan tanpa batas sehingga tidak berorientasi pada nilai-nilai luhur.

“Prinsip demokrasi harus menjaga keutuhan bangsa,” tegas KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), saat memberikan tausiyah pada peluncuran buku Ironi Demokrasi karya Abdul Ghopur di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (16/5).

Lebih lanjut, Kiai Said menjelaskan bahwa demokrasi merupakan sarana untuk memperkuat persatuan dan keutuhan bangsa guna menciptakan keadilan dan kesejahteraan pada rakyat. Karenanya, menurutnya, harus ada pemerataan. “Harta jangan dimonopoli oleh kelompok tertentu,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta itu.

Sejak 15 abad lalu, jelas Kiai Said, Nabi Muhammad sudah berpesan, bahwa ada tiga hal yang tidak boleh dimonopoli, yakni air, energi, dan hutan. Namun, hari ini tiga hal tersebut menjadi monopoli beberapa pihak saja.

Senada dengan Kiai Said, Ketua Pusat Generasi Muda Indonesia-Tionghoa (GEMA INTI) Krista Wijaya mengungkapkan bahwa hari ini kepentingan orang acap kali lebih kepada kepentingan pribadi. Mestinya, yang perlu dipikirkan, menurutnya, adalah kepentingan bangsa.

“Lebih membuat kita terbuka sehingga goal bukan untuk pribadi tapi untuk bangsa,” katanya.

Sementara itu, Sekjen Dokter Bhinneka Tunggal Ika Mariya Mubarika melihat meskipun demokrasi menjadi sistem resmi, tetapi feodalisme masih banyak dipraktikkan di beberapa tempat.

“Saya rasa belum sepenuhnya demokrasi karena masih ada warisan gen politik feodal,” ujarnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)
Kamis 16 Mei 2019 22:45 WIB
PWNU Riau Terima Hibah dari Umat Budha, PBNU: Untuk Kemaslahatan Umat
PWNU Riau Terima Hibah dari Umat Budha, PBNU: Untuk Kemaslahatan Umat
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sangat mengapresiasi atas kepercayaan dari sebuah keluarga Budha bernama Khodrat Mulia yang telah mewakafkan tanah dan bangunan seluas 2333 meter persegi kepada PWNU Riau.

"Kami mengapresiasi setinggi-tingginya atas kepercayaan pemberian wakaf dari keluarga Khodrat Mulia Budha," kata Ketua PBNU Bidang Hukum, Perundang-undangan, dan Hukum Robikin Emhas di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (16/5).

Menurut Robikin, pemberian wakaf ini menandakan tingkat kepercayaan dari masyarakat yang beragama lain terhadap NU itu tinggi, baik dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan maupun pendidikan dan sosial

"Kepercayaaan ini kita terima dengan komitmen untuk kemaslahatan umat," ucapnya.

PBNU meminta kepada PWNU Riau untuk mengelolanya dengan profesional, amanah, dan akuntabel.

"Jangan sia-siakan terhadap kepercayaan yang diberikan. Lakukan dengan baik, dengan niat yang tulus, ikhlas karena Allah demi kemaslahatan umat," pungkasnya.

Sebelumnya di tempat yang sama, Ketua PWNU Riau Teungku Rusli Ahmad mengaku berencana memanfaat pemberian wakaf tersebut untuk dijadikan pesantren.

"Dalam bulan ini juga setelah administrasi selesai, wakaf itu akan dijadikan pondok pesantren. Karena tugas kita adalah menjalankan, memfungsikan, sehingga nanti bisa berguna bagi masyarakat yang ada di Riau," ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Kamis 16 Mei 2019 22:15 WIB
PWNU Riau Terima Wakaf Tanah dan Bangunan Seluas 2.333 Meter Persegi
PWNU Riau Terima Wakaf Tanah dan Bangunan Seluas 2.333 Meter Persegi
Keluarga Khodrat Mulia yang wakafkan tanah dan bangunan ke PWNU Riau
Jakarta, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Riau menerima wakaf tanah dan bangunan seluas 2333 meter persegi dari sebuah keluarga Budha yang bernama Khodrat Mulia. Prosesi penerimaan itu berlangsung di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (16/5).

Turut menyaksikan prosesi penerimaan wakaf ialah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Ketua PBNU Bidang Hukum, Perundang-undangan, dan HAM Robikin Emhas.

Ketua PWNU Riau Teungku Rusli Ahmad menyambut baik atas kepercayaan Khodrat Mulia kepada pihaknya. Menurutnya, seusai proses administrasi selesai, PWNU akan segera memanfaatkan wakaf tersebut untuk dijadikan pesantren.

"Dalam bulan ini juga setelah administrasi selesai, wakaf tanah dan bangunan akan dijadikan pondok pesantren. Karena tugas kita adalah menjalankan, memungsikan, sehingga nanti bisa berguna bagi masyarakat yang ada di Riau," ucapnya.

Nantinya, ketika aktivitas pesantren di tempat wakaf itu berjalan, para santri akan diminta untuk mendoakan pemberi wakaf, seperti agar rezekinya dilancarkan dan selalu diberikan kesehatan.

"Inilah yang akan kita berikan salah satu komitmen kita kepada pengurus pondok pesantren karena kita harus memberikan juga timbal balik. Bahwasanya kemungkinan yang bisa kita berikan ke Pak Bambang dan Bu Mona (Khodrat Mulia) adalah sebuah doa. Semoga Tuhan, Allah SWT memberikan kemudahan seluruh usaha, rezeki, terutama kesehatannya," ucapnya.

Sementara perwakilan dari Khodrat Mulia, Bambang mengatakan bahwa keluarganya senang bisa mewakafkan kepada NU. Ia menilai, NU merupakan organisasi yang bagus yakni ramah dan karena anggotanya banyak. "Kami gak salah mewakafkan ke NU," ucap Bambang.

Ia berharap, wakaf ini bisa dijadikan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. "Mudah-mudahan kita-kita ini selanjutnya juga ada contoh sehingga bisa lanjut lagi," ucapnya. (Husni Sahal/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG