IMG-LOGO
Nasional

Seabad Lebih, Kitab Tulisan Tangan Pendiri NU Masih Terawat Rapi

Kamis 16 Mei 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Seabad Lebih, Kitab Tulisan Tangan Pendiri NU Masih Terawat Rapi
Salah satu kitab Mbah Hasyim di Perpustakaan Pesantren Tebuireng, Jombang.
Jombang, NU Online
Kitab-kitab asli tulisan tangan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari masih tetap terawat hingga kini. Kitab yang berusia 100 tahun lebih tersebut disimpan dan dirawat oleh pengelola perpustakaan A Wahid Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur.

Saat ini ada tujuh kitab yang berada di perpustakaan tersebut. Semua kitab masih utuh, hanya beberapa kitab kondisinya sudah robek termakan waktu. Bahkan, ada beberapa sampul yang berlubang. Kitab-kitab tersebut berupa Al-Qur’an dan beberapa kitab tentang hadits, fiqih, maupun sejumlah doa.

 "Usianya sudah sangat tua,'' ujar Muhamad Zainal Arifin (46), pengelola perpustakaan, Kamis (16/5).

Jika dihitung, dari usia KH M Hasyim Asy'ari (Mbah Hasyim) sewaktu muda saat menulis kitab, tentu usia kitab tersebut sudah mencapai ratusan tahun. 

Dijelaskannya, Pesantren Tebuireng, pertama kali didirikan pada 1899. Sedangkan, waktu itu, Mbah Hasyim sudah mulai menulis beberapa kitab. Artinya, usia kitab tersebut diperkirakan mencapai 130 tahun. "Kisaran 120 tahun, bahkan lebih,'' terangnya.

Semua kitab tersimpan rapi dalam sebuah rak berukuran 2x4 meter di ruang khusus yang terletak di ujung belakang perpustakaan. Selain kitab tulisan Mbah Hasyim, ada juga beberapa kitab yang dulunya sering dibaca saat mengajar para santri. 

"Ada juga kitab lain yang dibaca Mbah Hasyim,'' tegasnya.

Ketika dilihat secara teliti, tampak sekali tulisan tersebut dilakukan secara manual. Mulai dari goresan pena, hingga garis tepi pada kitab yang tak begitu simetris. Kondisi kertas juga terlihat berserat.

Zainal menjelaskan, ada beberapa bahan yang dipakai Mbah Hasyim dalam membuat kitab tersebut. Di antaranya, kertas merang yang terbuat dari tangkai padi. Maupun kertas yang terbuat dari serat pohon turi. "Jadi kertasnya berserat, berbeda dengan kertas zaman sekarang yang mudah sobek itu,'' tuturnya.

Di perpustakaan tersebut hanya terdapat tujuh kitab. Tapi kitab Mbah Hasyim juga ditemukan di tempat lain. Dari penelusurannya yang dilakukan waktu ke waktu, kitab tulisan tangan Mbah Hasyim sering ditemukan di daerah kabupaten/kota lain di Indonesia. Mulai dari Ponorogo, Lamongan dan daerah lain.

"Peninggalan kitab Mbah Hasyim tercatat 400 kitab. Yang tersebar di seluruh dunia termasuk di Saudi Arabia,'' tandasnya.

Dari tujuh kitab yang ada di perpustakaan A Wahid Hasyim, kini sebagian sudah digandakan untuk berbagai macam kepentingan termasuk studi dan penelitian. Totalnya ada 17 kitab yang diterbitkan dalam satu jilid berukuran besar. 

"17 kitab tersebut memuat di antaranya tentang pesan untuk para umat NU, pernikahan, macam-macam lah termasuk fiqih dan hadits,'' rincinya.


Perawatan dengan Bubuk Merica
Perawatan kitab-kitab kuno ini dilakukan pihak pesantren sebanyak tiga kali dalam setahun. Sementara itu, tidak perlu dilakukan perawatan khusus untuk menjaga kitab-kitab asli tulisan tangan Mbah Hasyim. Pengelola perpustakaan cukup menabur campuran kapur barus dan bubuk merica pada kitab.

"Sejauh ini kita hanya melakukan perawatan sederhana untuk menjaga dan merawat kitab kita peninggalan Mbah Hasyim,'' ungkap Muhamad Zainal Arifin.

Perawatan tersebut dilakukan secara rutin sebanyak tiga kali. Terhitung mulai awal tahun, libur hari raya Idhul Fitri dan pada akhir tahun.

Sejuah ini, belum ada perawatan khusus untuk merawat dan menjaga kitab-kitab tersebut. Pengelola pondok cukup menempatkan di tempat yang kering dan tidak terlalu lembab. 

"Penempatan juga kita tempatkan di private room atau ruangan pribadi yang tidak bercampur dengan buku-buku di perpustakaan lain,'' tambahnya.

Dia menjelaskan, ruangan tersebut sudah steril. Di dalamnya adalah ruangan tertutup yang sudah ditebari bubuk merica dan campuran kapur barus. Itu dilakukan untuk mengusir hewan yang bisa menggerogoti kitab, misalnya kecoa, tikus, kutu maupun klaper dan sejenisnya.  "Campuran merica dan kapur barus itu juga kita taburi pada pojok-pojok ruangan,'' jelasnya.

Sekitar tahun 90-an, lanjut Zainal, semua buku dan kitab peninggalan KH M Hasyim Asy'ari pernah dilakukan fumigasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pada saat itu, juga dilakukan pencucian terhadap kitab-kitab yang warnanya sudah kusam. Hasilnya, kini banyak kitab yang terselamatkan dari proses fumigasi tersebut. 

"Dulu itu waktu zamannya Presiden Soeharto, dilakukan pembersihan selama tujuh hari dan hasilnya memang sangat bagus. Semua kutu yang terdapat di dalam kitab mati,'' terangnya.

Namun sejak saat itu, belum pernah dilakukan hal serupa sampai saat ini. Sehingga pihak pengelola hanya menggunakan cara tradisional untuk menjaga kitab-kitab tersebut. "Yang penting kitabnya tetap terawat dan terjaga,'' ungkapnya.

Kitab-kitab peninggalan KH M Hasyim Asy'ari sering dipakai untuk studi dan penelitian oleh beberapa pihak, mulai dari ormas, akademisi, hingga jajaran Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PBNU). "Kalau PBNU sering dipakai sebagai rujukan pendidikan karakter,'' jelasnya.

Zainal menyebutkan, dari beberapa kitab yang ditulis KH M Hasyim Asy'ari sebagian besar memuat tentang pentingnya pendidikan karakter. Seperti tata krama seorang murid ke guru, akhlak guru dalam mengajar, ada juga nasihat untuk diri sendiri, dan adab sopan santun kepada masyarakat luas.

Salah satu kitab Mbah Hasyim yang populer di pesantren yaitu Adabul Alim wal Muta'allim. Kitab ini juga dikaji di berbagai kampus di nusantara, baik sebagai refrensi mata kuliah, seminar, skripsi maupun tesis. Bahkan beberapa madrasah mewajibkan para santrinya mempelajari kitab ini.

"Termasuk tentang pendidikan karakter, kesopanan itu sering termuat dalam kitab Mbah Hasyim,'' pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Ibnu Nawawi)
Bagikan:
Kamis 16 Mei 2019 23:15 WIB
Kiai Said: Prinsip Demokrasi Jaga Keutuhan Bangsa
Kiai Said: Prinsip Demokrasi Jaga Keutuhan Bangsa
Jakarta, NU Online
Demokrasi sudah disepakati oleh para pendiri bangsa sebagai sistem politik Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, demokrasi jangan dipahami sebagai kebebasan tanpa batas sehingga tidak berorientasi pada nilai-nilai luhur.

“Prinsip demokrasi harus menjaga keutuhan bangsa,” tegas KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), saat memberikan tausiyah pada peluncuran buku Ironi Demokrasi karya Abdul Ghopur di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (16/5).

Lebih lanjut, Kiai Said menjelaskan bahwa demokrasi merupakan sarana untuk memperkuat persatuan dan keutuhan bangsa guna menciptakan keadilan dan kesejahteraan pada rakyat. Karenanya, menurutnya, harus ada pemerataan. “Harta jangan dimonopoli oleh kelompok tertentu,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta itu.

Sejak 15 abad lalu, jelas Kiai Said, Nabi Muhammad sudah berpesan, bahwa ada tiga hal yang tidak boleh dimonopoli, yakni air, energi, dan hutan. Namun, hari ini tiga hal tersebut menjadi monopoli beberapa pihak saja.

Senada dengan Kiai Said, Ketua Pusat Generasi Muda Indonesia-Tionghoa (GEMA INTI) Krista Wijaya mengungkapkan bahwa hari ini kepentingan orang acap kali lebih kepada kepentingan pribadi. Mestinya, yang perlu dipikirkan, menurutnya, adalah kepentingan bangsa.

“Lebih membuat kita terbuka sehingga goal bukan untuk pribadi tapi untuk bangsa,” katanya.

Sementara itu, Sekjen Dokter Bhinneka Tunggal Ika Mariya Mubarika melihat meskipun demokrasi menjadi sistem resmi, tetapi feodalisme masih banyak dipraktikkan di beberapa tempat.

“Saya rasa belum sepenuhnya demokrasi karena masih ada warisan gen politik feodal,” ujarnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)
Kamis 16 Mei 2019 22:45 WIB
PWNU Riau Terima Hibah dari Umat Budha, PBNU: Untuk Kemaslahatan Umat
PWNU Riau Terima Hibah dari Umat Budha, PBNU: Untuk Kemaslahatan Umat
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sangat mengapresiasi atas kepercayaan dari sebuah keluarga Budha bernama Khodrat Mulia yang telah mewakafkan tanah dan bangunan seluas 2333 meter persegi kepada PWNU Riau.

"Kami mengapresiasi setinggi-tingginya atas kepercayaan pemberian wakaf dari keluarga Khodrat Mulia Budha," kata Ketua PBNU Bidang Hukum, Perundang-undangan, dan Hukum Robikin Emhas di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (16/5).

Menurut Robikin, pemberian wakaf ini menandakan tingkat kepercayaan dari masyarakat yang beragama lain terhadap NU itu tinggi, baik dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan maupun pendidikan dan sosial

"Kepercayaaan ini kita terima dengan komitmen untuk kemaslahatan umat," ucapnya.

PBNU meminta kepada PWNU Riau untuk mengelolanya dengan profesional, amanah, dan akuntabel.

"Jangan sia-siakan terhadap kepercayaan yang diberikan. Lakukan dengan baik, dengan niat yang tulus, ikhlas karena Allah demi kemaslahatan umat," pungkasnya.

Sebelumnya di tempat yang sama, Ketua PWNU Riau Teungku Rusli Ahmad mengaku berencana memanfaat pemberian wakaf tersebut untuk dijadikan pesantren.

"Dalam bulan ini juga setelah administrasi selesai, wakaf itu akan dijadikan pondok pesantren. Karena tugas kita adalah menjalankan, memfungsikan, sehingga nanti bisa berguna bagi masyarakat yang ada di Riau," ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Kamis 16 Mei 2019 22:15 WIB
PWNU Riau Terima Wakaf Tanah dan Bangunan Seluas 2.333 Meter Persegi
PWNU Riau Terima Wakaf Tanah dan Bangunan Seluas 2.333 Meter Persegi
Keluarga Khodrat Mulia yang wakafkan tanah dan bangunan ke PWNU Riau
Jakarta, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Riau menerima wakaf tanah dan bangunan seluas 2333 meter persegi dari sebuah keluarga Budha yang bernama Khodrat Mulia. Prosesi penerimaan itu berlangsung di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (16/5).

Turut menyaksikan prosesi penerimaan wakaf ialah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Ketua PBNU Bidang Hukum, Perundang-undangan, dan HAM Robikin Emhas.

Ketua PWNU Riau Teungku Rusli Ahmad menyambut baik atas kepercayaan Khodrat Mulia kepada pihaknya. Menurutnya, seusai proses administrasi selesai, PWNU akan segera memanfaatkan wakaf tersebut untuk dijadikan pesantren.

"Dalam bulan ini juga setelah administrasi selesai, wakaf tanah dan bangunan akan dijadikan pondok pesantren. Karena tugas kita adalah menjalankan, memungsikan, sehingga nanti bisa berguna bagi masyarakat yang ada di Riau," ucapnya.

Nantinya, ketika aktivitas pesantren di tempat wakaf itu berjalan, para santri akan diminta untuk mendoakan pemberi wakaf, seperti agar rezekinya dilancarkan dan selalu diberikan kesehatan.

"Inilah yang akan kita berikan salah satu komitmen kita kepada pengurus pondok pesantren karena kita harus memberikan juga timbal balik. Bahwasanya kemungkinan yang bisa kita berikan ke Pak Bambang dan Bu Mona (Khodrat Mulia) adalah sebuah doa. Semoga Tuhan, Allah SWT memberikan kemudahan seluruh usaha, rezeki, terutama kesehatannya," ucapnya.

Sementara perwakilan dari Khodrat Mulia, Bambang mengatakan bahwa keluarganya senang bisa mewakafkan kepada NU. Ia menilai, NU merupakan organisasi yang bagus yakni ramah dan karena anggotanya banyak. "Kami gak salah mewakafkan ke NU," ucap Bambang.

Ia berharap, wakaf ini bisa dijadikan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. "Mudah-mudahan kita-kita ini selanjutnya juga ada contoh sehingga bisa lanjut lagi," ucapnya. (Husni Sahal/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG