::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cerita 'People Power' dan Gus Dur

Jumat, 17 Mei 2019 21:15 Nasional

Bagikan

Cerita 'People Power' dan Gus Dur
Gus Dur - Lukisan tentang Gus Dur karya Nabila Dewi Gayatri
Jakarta, NU Online
Ada sekelompok orang yang hendak menggalang people power dalam kontestasi Pemilu 2019. Hal tersebut menarik Gusdurian Jakarta mendiskusikan tema tersebut pada Jumat (17/5) di Griya Pergerakan Gus Dur, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta.

Ivan Aulia Hasan, Sejarahwan Universitas Indonesia, dalam pembahasannya Gus Dur di Era Orde Baru. Ia menceritakan bahwa sekitar tahun 1992, sosok yang tengah menjabat sebagai Ketua PBNU saat itu berkesempatan mengisi seminar bersama Syarwan Hamid.

Pada kesempatan tersebut, Syarwan, kata Ivan, menyinggung Gus Dur agar tidak menjadi seperti Kardinal Jaime Sin di Filipina sebagaimana pemberitaan saat itu karena sikap oposannya.  Sosok pimpinan Katolik di negara itu menjadi motor penggerak people power Filipina pada tahun 1986 yang berhasil menggulingkan Ferdinand Marcos dari kursi nomor satu yang telah didudukinya selama lebih dari 22 tahun.

Mendengar singgungan itu, Gus Dur geram. Akhirnya, ia membalikkan pernyataan tersebut dengan pertanyaan kepada Syarwan Hamid. "Pak Syarwan, kalau saya Kardinal Sin, Marcos-nya siapa?" Tanya Gus Dur, sebagaimana disampaikan Ivan.

Mendengar pertanyaan itu, lanjut pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta itu, Syarwan langsung balik kanan. "Itu kata Greg Barton di biografinya Gus Dur, Syarwan Hamid langsung pergi," ujarnya.

Ivan menguraikan bahwa gerakan yang dilakukan di Filipina itu sebelumnya pernah terjadi di Amerika yang lebih digawangi tentara dan Perancis yang digelorakan oleh rakyat sehingga menumbangkan rezim monarki pada tahun 1968.

Kegiatan yang menghadirkan narasumber Aktivis '98 Mugiyanto ini juga diikuti oleh berbagai kalangan. (Syakir NF/Abdullah Alawi)