IMG-LOGO
Internasional

Indonesia Perkuat Kemitraan dengan Media Arab Saudi

Sabtu 18 Mei 2019 4:0 WIB
Indonesia Perkuat Kemitraan dengan Media Arab Saudi
Jeddah, NU Online 
Kemitraan di bidang pemberitaan dengan media Arab Saudi terus dibangun oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah. Upaya tersebut secara konsisten dilakukan guna memperluas sebaran pemberitaan positif Indonesia di Arab Saudi dan memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
 
Setelah sebelumnya mengunjungi harian berbahasa Arab Okaz dan harian berbahasa Inggris Saudi Gazette di Jeddah, serta harian berbahasa Arab Al Watan di Abha, Konsul Jenderal RI Jeddah Dr. Mohamad Hery Saripudin Rabu, 15 Mei 2019, melakukan pertemuan dengan Pemimpin Redaksi (Pemred) Arab News, Faisal J. Abbas, di kantornya.
 
Kehadiran Konjen yang didampingi Pelaksana Fungsi Pensosbud-1 di kantor harian internasional berbahasa Inggris tersebut dalam rangka menindaklanjuti rintisan kerja sama yang dicetuskan Konjen di sela-sela kehadirannya pada acara Annual Arab News Iftar sebagai tamu kehormatan.
 
Dalam pertemuan singkat tersebut, Konjen menyampaikan pentingnya peran Arab News dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Arab Saudi.
 
Konjen Hery memandang hubungan bilateral antar negara juga dipengaruhi oleh bagaimana media negara tersebut memberitakan negara mitra hubungan bilateral dimaksud. Peran media sangat penting dalam membentuk persepsi dan opini publik terhadap suatu negara.
 
"Pendekatan dan kerja sama dengan media sangat penting. KJRI Jeddah memandang media merupakan mitra strategis dalam upaya peningkatan kerja sama bilateral Indonesia-Arab Saudi," ujar Konjen.
 
Lebih lanjut, Konjen mendorong Arab News agar menjalin kerja sama dengan media di tanah air dalam membangun narasi pemberitaan yang mempromosikan nilai-nilai Islam Moderat.
 
Selain itu, Konjen menyampaikan berbagai success stories sejumlah perusahaan Indonesia yang berinvestasi di Saudi. Melalui rencana  penerbitan green card bagi warga asing di Arab Saudi yang kini tengah dikaji, Konjen Hery berharap semakin banyak perusahaan Indonesia yang bisa berkiprah di Arab Saudi.
 
Faisal J. Abbas menyambut baik berbagai gagasan yang dikemukakan Konjen Hery. Untuk merealisasikan ide tersebut, Arab News sedang menjajaki pembukaan Kantor Biro di Indonesia dan nantinya akan menerbitkan edisi Indonesia.
 
Secara khusus, Faisal juga tertarik untuk melakukan peningkatan liputan layanan haji melalui liputan khusus bagi jemaah haji Indonesia dan pengembangan virtual reality prosesi haji.
 
Pada saat yang sama, Faisal menyampaikan ketertarikannya untuk berpartisipasi dalam Bali Civil Society and Media Forum yang dilaksanakan bersamaan dengan Bali Democracy Forum (BDF), menjelang akhir tahun ini. (Fauzy Chusny/Abdullah Alawi)
 
 
 

Tags:
Sabtu 18 Mei 2019 23:0 WIB
Mustasyar NU Pakistan: Puasa Simbol Perlawanan terhadap Hawa Nafsu
Mustasyar NU Pakistan: Puasa Simbol Perlawanan terhadap Hawa Nafsu
Islamabad, NU Online
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan hari Kamis (16/5) sore menggelar silaturahim dan buka puasa bersama warga NU se-Islamabad di kediaman salah satu Nadliyin. Kegiatan ini ditujukan untuk mempererat tali silaturahim dan ajang guyub antarwarga NU di Pakistan.

Acara dimulai dengan penampilan grup shalawat NU Pakistan yang membawakan beberapa lantunan shalawat dan lagu-lagu yang menghibur. Nahdliyin yang hadir tak jarang tertawa dan guyub bersama mendengar lirik-lirik lagu yang dibawakan.

Menjelang Maghrib, acara sampai pada tausiyah keagamaan yang disampaikan oleh Mustasyar PCINU Pakistan, H. Muladi Mughni. Muladi menyampaikan sejarah turunnya perintah puasa yang terjadi pada tahun kedua Hijriah dan disusul dengan kebolehan umat Islam untuk berjihad membalas serangan dari kaum kafir Quraisy.
 
Menurutnya, terdapat hikmah dua ibadah diturunkan pada tahun dan bulan yang sama. Puasa adalah simbol perlawanan terhadap musuh tersembunyi  'hawa nafsu'. Sementara jihad adalah perlawanan terhadap musuh yang tampak 'manusia'.

"Perintah puasa lebih dahulu dari pada berjihad, seakan Allah Swt hendak berpesan bahwa jika kita telah mampu mengalahkan musuh yang tersembunyi, maka akan lebih mudah untuk mengalahkan musuh yang tampak," ujarnya.

Dalam perintah puasa yang tertulis dalam QS Al Baqarah ayat 183, disebutkan bahwa tidak ada subjek yang mewajibkan puasa, namun hanya disebutkan bahwa puasa telah diwajibkan atas kalian (kalimat pasif).
 
"Seakan-akan Allah hendak menyampaikan kepada kita bahwa sekiranya tidak ada pihak lain,  sekalipun Allah yang mewajibkan berpuasa, niscaya diri manusia sendiri yang akan mewajibkan atas dirinya," terang Muladi. 

Hal tersebut mengingat betapa besar manfaat dan hikmah yang dirasakan seseorang dalam menjalankan puasa.

Doa bersama yang dipimpin oleh Eris Rismatullah di saat adzan berkumandang menutup rangkaian acara tersebut, sekaligus mengakhiri puasa yang telah berlangsung selama 15 setengah jam ditambah cuaca panas yang mencapai 39 derajat. 

Seluruh warga pun membatalkan puasa dengan menyantap menu takjil yang disediakan oleh panitia. Usai shalat Maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan malam bersama. (Reza Ainul Haq/Kendi Setiawan)

Sabtu 18 Mei 2019 20:45 WIB
Dapat Amnesti Pemerintah Yordania, 50 Pekerja Migran Pulang ke Tanah Air
Dapat Amnesti Pemerintah Yordania, 50 Pekerja Migran Pulang ke Tanah Air
Jakarta, NU Online
Sebanyak 50 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang termasuk bermasalah (PMI-B) dipulangkan dari Yordania. Mereka tiba di Tanah Air pada Jumat (17/5) siang.

Dari 50 PMI-B, 23 pekerja berasal dari Provinsi Jawa Barat. Mereka berasal dari Indramayu (7) dan Kerawang (6), Cirebon dan Sukabumi (3), Cianjur serta Subang (2), Bandung, Kuningan dan Purwakarta (1). Sementara itu, sisanya berasal dari Jawa Tengah dengan rincian Brebes (3), Kendal dan Payung tengah (1) Purwodadi (1). Kemudian Banten (6), NTB (4), Lombok timur (1), Lampung Timur (1), dan Situbondo Jawa Timur (1).

Pemulangan (repatriasi) ini dilakukan Kedutaan Besar RI (KBRI) Amman dengan memanfaatkan program amnesti gelombang ke-4 Pemerintah Yordania atas pengampunan terhadap pelanggaran atau kesalahan hukum. Dubes KBRI Amman, Andy Rachmianto mengatakan, program amnesti pemerintah Yordania ini harus dimanfaatkan sebenar-benarnya karena program itu tidak selalu ada setiap tahunnya.

"Kami menargetkan setidaknya 50 persen dari WNI yang berstatus ilegal dapat dibantu kepulangannya," ucapnya.

Sebagai informasi, PMI yang memanfaatkan program amnesti untuk pulang ke tanah air ini, keseluruhannya adalah mereka yang sudah habis masa kontrak kerja dan ijin tinggalnya di Yordania, namun memaksakan diri bekerja secara ilegal.

Kasubdit Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Kementerian Ketenagakerjaan Kemenaker), Yuli Adiratna, dalam keterangan tertulisnya mengungkapkan, mayoritas peserta program ini adalah PBI-B. Mereka berstatus ilegal (tidak berdokumen) dan telah berdomisili di Yordania lebih dari delapan tahun.

Sebagai informasi, kebijakan Amnesti ini diberlakukan selama enam bulan, terhitung sejak tanggal 12 Desember 2018 dan akan berakhir tanggal 12 Juni 2019.

Dalam pemulangan itu tercatat ada 3 PMI dipulangkan dari rumah tahanan detensi An-Nadara setelah kasusnya telah diputuskan pemerintah untuk di deportasi. Sementara itu,  satu orang anak dari Murni BT Nuryah Pumok dipulangkan melalui program amnesti. 

"Pemerintah melakukan berbagai upaya agar proses repatriasi berjalan lancar. Ini bentuk perlindungan bagi pekerja migran," katanya.

KBRI Amman telah melakukan berbagai sosialisasi baik dengan pertemuan langsung, melalui telepon, maupun lewat media sosial. Atase Ketenagakerjaan KBRI Amman, Suseno Hadi mengatakan, hampir seluruh WNI yang memanfaatkan program amnesti ini merupakan para pahlawan penyumbang devisa.

Mereka seluruhnya perempuan dan telah menetap di Yordania selama belasan tahun. Diharapkan mereka dapat memanfaatkan program amnesti ini untuk dapat kembali ke Indonesia.

Sementara itu, bagi mereka yang tidak memanfaatkan program ini, denda izin tinggal akan dihitung sejak masa izin tinggal resminya habis dengan perhitungan 1,5 Jordan Dinar (sekitar Rp29.500) per hari. Setelah diumumkannya program amnesti, jumlah pekerja migran bermasalah yang mendaftarkan diri ke KBRI terus bertambah setiap harinya. Program ini diharapkan dapat menjaring seluruh WNI yang bermasalah terhadap pelanggaran izin tinggal di Yordania.

"Tim Satgas telah mengidentifikasi 50 orang anak lebih yang terlahir dari PMI yang berhubungan tidak resmi dengan warga negara lain. Anak-anak yang lahir dengan keadaan yang demikian akan bermasalah karena tidak memiliki surat kelahiran dan tidak memiliki status kewarganegaraan yang sah," kata Suseno.

Selain program repatriasi, pemerintah punya banyak program perlindungan negara terhadap PMI. Salah satunya adalah program Desa Migran Produktif (Desmigratif), Program Desmigratif bertujuan untuk meningkatkan perlindungan bagi pekerja migran sejak dari desa. Maka dari itu petugas migran dan keluarga PMI mempunyai peranan penting untuk menghindarkan pekerjaa migran dari proses migrasi yang unprosedual, beresiko tinggi dan perdagangan orang (human trafficking). (Red: Kendi Setiawan)
Sabtu 18 Mei 2019 17:0 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Momen Ramadhan Pertama Kali di Eropa
Momen Ramadhan Pertama Kali di Eropa
Bulan Ramadhan tahun ini saya tugas dakwah di Eropa. Tiga negara yang menjadi destinasi safari dakwah saya  adalah Belanda, Jerman dan Belgia.

Momen pertama kali saya berada di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini terjadi di Wageningen. Wageningen ini sebuah gementee (semacam kotamadya). Luasnya 32,36 kilometer persegi, terletak di Provinsi Gerderlands yang luasnya 5,136 ribu kilometer dari total negara Netherlands (Belanda), yang luasnya 42.508 km2, lebih kecil dari Jawa Timur. 

Wageningen ini berjarak sekitar 164 Km dari pusat ibukota pemerintahan Belanda, Den Haag.

Sebelum di Wageningen, saya di Den Haag, tinggal di rumah Masjid Al-Hikmah PS Indonesia, yang menjadi sekretariat PCINU Belanda. Dari rumah ini saya berjalan kaki membawa koper dan ransel menuju Stasiun Den Haag Moerwijk kurang lebih 1,3 km. Kemudian naik kereta. Ada dua jenis kereta, yaitu Sprinter dan intercity. 

Dari Stasiun Den Haag Moerwijk tujuan Stasiun Ede-Wageningen dengan satu tiket sekali jalan, yang sudah dipesankan secara online. Saya ditemani Mas Munif naik Sprinter dari Stasiun Den Haag Moerwijk menuju Stasiun Den Haag Sentraal. Di Stasiun Den Haag Sentraal berganti kereta Intercity menuju Stasiun Uttrech Centraal. Kemudian berganti kereta Intercity menuju Stasiun Ede-Wageningen.

Di stasiun ini saya telah ditunggu oleh Mas Sahri, seorang pelajar Ph.D. di Wageningen Campus. Kemudian dengan mobil pribadinya saya diantar ke apartemen Mas Fahrizal Yusuf Affandi, seorang student Ph.D. di Hollandseweg.

Momen pertama malam Ramadhan tepat terjadi pada hari Ahad malam Senin, 5 Mei 2019. Tanggal 5 Mei ini adalah hari bersejarah bagi warga Belanda, karena merupakan Liberation Day dikenal pula Freedom Day (Hari Pembebasan) Belanda. Dalam bahasa Belanda populer dengan sebutan Bevrijfings, yang menandai berakhirnya Perang Dunia II, oleh pendudukan tentara Nazi Jerman, tahun 1945.

Di Liberation Day diadakan festival yang dipusatkan di Wageningen. Festival ini menampilkan beragam penampilan, mulai dari aksi parade veteran yang mengendarai mobil-mobil perang kuno, jeep, tank baja, dan verjalan kaki pawai marching band dari para pemuda dan veteran, hingga pentas live music. 

Secara khusus acara festival yang memajang mobil-mobil perang kono, berikut beragam senjata, dan tenda-tenda ini disertai pesta, diadakan di Kebun Raya Belmonte Arboretum, sekitar 3,1 kilometer dari kampus Wageningen University. Penampilan live music ini diadakan di banyak titik, sekitar sepuluhan titik, dalam tajuk Bevrijdings Festival Gerderlands.

Siang hari hingga sore hari pada Ahad tersebut saya menikmati Liberation Day. Kemudian malam harinya kami melaksanakan shalat tarawih dan witir malam pertama. 

Tentu ini menjadi momen yang paling langka bagi saya, terutama takkala kami melaksanakan shalat tarawih berjamaah yang terletak di ruang lantai tiga  apartemen dua orang mahasiswa Wageningen University. Apartemen ini tepat di samping salah satu titik pertunjukan live music.

Sebelum melaksanakan shalat berjamaah, Isya, tarawih dan witir, di salah satu titik live music, saya sempat menikmati langsung beberapa lagu yang sempat saya rekam. Ada satu musik dengan lirik yang berkesan bagi saya, yang belakangan saya tahu judulnya, setelah bertanya pada Mr. Petter Oorschot, yaitu Free Together dinyanyikan oleh Navarone. Navarone adalah band rock alternatif Belanda, dibentuk di kota Nijmegen tahun 2008. Lagu Free Together ini musik dan liriknya enak dinikmati, berisi tentang pentingnya harmoni (keselarasan) dalam kehidupan kita. 

Live music ini diadakan dari sore hingga jam 12 malam. Tentu saja, suara dentuman musik terdengar nyaring dari ruang kami shalat tarawih. Shalat tarawih ini dilaksanakan sebagaimana di Indonesia, sebanyak 20 rakaat, dilanjutkan dengan witir 3 rakaat. 

Dalam shalat tarawih dan witir ini, saya bertindak sebagai imam, dengan mempraktikkan shalat ala Nusantara. Shalat tarawih khas Nusantara adalah bacaan surat dalam tiap-tiap rakaat pertama setelah surat Al-Fatihah secara berurutan dimulai dari surat al-Takatsur, hingga surat al-Lahab. Dalam tiap rakaat kedua, bacaan surat setelah surat al-Fatihah selalu surat al-Ikhlas. Kemudian pada rakaat ketiga dari shalat witir setelah Al-Fatihah dibaca tiga surat sekaligus, yaitu surat al-Ikhlas, al-Falaq dan al-Nas.

Di shalat Isya dan Witir di momen-momen ini juga menjadi berkesan bagi saya, karena ketika mengimami saya membaca beberapa ayat akhir surat Al-Hasyr, beberapa ayat surat Luqman, dan surat An-Nisa', yang tidak pernah saya baca saat menjadi imam pada malam Ramadhan tahun-tahun sebelumnya.

Demikilanlah selama beberapa hari di gementee ini saya shalat tarawih berjamaah. Dalam satu momen bukber yang dirangkai dengan tarawih berjamaah diadakan di tempat Mas Sahri, di Lombardi Wageningen Apartment, tempat tinggal khusus bagi mahasiswa Ph.D. Di tempat pasangan masahiswa Ph.D. ini saya juga mengimami shalat maghrib, Isya, tarawih dan witir. Sebelumnya didahului dengan bukber dan ceramah agama (kultum).

Tentu saja, di Ramadhan kali ini sangat serkesan sekali, karena pertama kami berpuasa sekitar 17 jam. Hari pertama puasa, sejak Subuh pukul 04.37 hingga Maghrib pukul 21.13. Juga di musim semi (spring) dengan suhu sangat dingin berkisar 8°C. 

Inilah beberapa momen paling langka dan mengesankan bagi saya. Momen Ramadhan pertama kali di Eropa.

Den Haag Netherlands, 10 Ramadhan 1440/15 Mei 2019.

Ustadz Ahmad Ali MD, Mubaligh/dai pengurus Lembaga Dakwah PBNU yang bertugas di Eropa.
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG