IMG-LOGO
Nasional

Kopri PB PMII Bahas Spirit Perempuan dalam Pendidikan untuk Jaga Perdamaian

Sabtu 18 Mei 2019 2:15 WIB
Kopri PB PMII Bahas Spirit Perempuan dalam Pendidikan untuk Jaga Perdamaian
Jakarta, NU Online
Kopri PB PMII membahas spirit perempuan dalam pendidikan untuk menjaga perdamaian di Hotel New Idola Jakarta Timur, Jumat (17/5). Kegiatan berlangsung dalam bentuk talkshow.

Acara ini menghadirkan dua pembicara, yakni dari Perempuan Bangsa Luluk Nurhamidah dan Tenaga Ahli KPU Muhtar Said. Sementara peserta yang hadir dari mahasiswa-mahasiswa sejumlah kampus Jakarta, seperti Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta, Universitas Paramadina, Universitas Indonesia, dan Universitas Nasional.

Sekretaris Kopri PB PMII Nurma Ningsih mengemukakan tentang kondisi menjelang dan pascapemilu, yakni terjadinya pergeseran pola pikir masyarakat, khususnya perempuan. Apalagi, perempuan dikenal sebagai istilah tiangnya negara.

“Kami merasa perlu adanya pendidikan untuk membangkitkan semangat dan spirit perempuan agar tidak terjadi perselisihan. Ketika masyarakat khususnya perempuan ada perselisihan dengan yang lain, maka akan membuat pemicu hancurnya negara Indonesia,” kata Ningsih.

Tenaga Ahli KPU Muhtar Said menyebut tentang posisi perempuan merasa termarjinalkan. Menurut Said, PMII perlu membuat rumusan nawacita untuk mengatasi persoalan pemarginalan yang menimpa perempuan.

Hal lain yang dikemukakan Muhtar, ialah tentang perlunya pemuda menciptakan gerakan perdamaian, sehingga ke depan tidak perlu turun ke jalan atau mengadakan aksi yang merugikan.

Sementara Perempuan Bangsa Luluk Nurhamidah menyatakan bahwa kondisi politik saat ini sangat tidak mudah kita benahi, seperti pemilu yang baru dilaksanakan. Berbagai provokasi dan penyebaran berita hoaks di media sosial sangat massif.

“Picuan (provokasi) itu bisa diciptakan dari situasi yang berakibat adu mulut, yang tadinya urusan ringan menjadi urusan suku, ras, agama,” ucap Luluk.

Menurutnya, perempuan yang mempunyai perilaku toleran sangat bisa menjaga perdamaian dengan melibatkan masyarakat untuk meredam berbagai aksi politik jalanan. 

“Perempuan punya kemampuan yaitu komunikasi lobi dan mediasi yang mengedepankan prinsip perdamaian,” ucapnya.

Acara ini diakhiri dengan deklarasi damai yang diikuti pemuda dengan berbagai kalangan dan latar belakang yang tergabung di organisasi PMII. Deklarasi itu berisi tiga poin.

Pertama, kami generasi muda Indonesia mengajak masyarakat untuk tetap tenang, sabar, dan tidak terprovokasi di tengah kondisi politik saat ini.
Kedua, kami generasi muda Indonesia menyerahkan dan percaya sepenuhnya penyelenggaraan Pemilu 2019 kepada KPU. 

Ketiga, kami generasi muda Indonesia sepakat untuk menciptakan situasi yang kondusif demi terwujudnya Indonesia yang, damai, sopan, bermartabat, dan demokratis. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Sabtu 18 Mei 2019 23:15 WIB
Empat Hal Perlu Disadari dalam Mengawal Kebangsaan
Empat Hal Perlu Disadari dalam Mengawal Kebangsaan
KH Lukman Hakim
Jakarta, NU Online
Direktur Sufi Center Jakarta KH Lukman Hakim menyatakan empat hal yang harus disadari warga Indonesia dalam mengawal kebangsaan. Pertama, minallah atau dari allah. Menurut Kiai Lukman, jika warganya tidak menyadari bahwa kebangsaan ini anugerah dari Allah maka yang terjadi adalah konflik dan perang.

"Oleh karena itu kebangsaan ini harus kita lihat minallah. Mau kita bawa ke mana bangsa ini?" kata Kiai Lukman pada acara dialog kebangsaan dan buka puasa bersama Wakil Ketua MPR RI H Muhaimin Iskandar di Jakarta, Sabtu (18/5).

Menurut Kiai Lukman, jika hari ini Allah menurunkan ayat Al-Qur'an, maka menggunakan panggilan 'يَا أَيُّهَا النَّاسُ'  (hai manusia) dan bukan 'يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا' (hai orang-orang yang berimana) karena di Indonesia terdapat semua golongan.

Kedua, ilallah (menuju kepada Allah). Terkait hal ini, ia menyatakan kalimat bijak dari Syekh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari.

لاتَصْحَبْ مَن لايُنهِضُك حالُه، ولايَدُلُّك على الله مقالُه

Artinya: "Janganlah kamu berteman dengan orang yang perilakunya tidak membangkitkanmu menuju Allah Swt, dan ucapannya tidak memberi petunjuk padamu ke jalan Allah."

"Kalau tidak bangkit menuju kepada Allah, celaka betul kita," ucapnya.

Ketiga, ma'allah (bersama Allah). Ia mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak lepas dari Allah. Sebab jika sampai lepas, bangsa ini terkena tirai atau hijab yang terdapat kegelapan.

Keempat, lillah (untuk Allah). Ia menyatakan, apa pun karir dan prestasi yang didapatkan bukan untuk Allah, maka menjadi gersang.

"(Kalau tidak untuk Allah) Kita ini berjalan seperti tengkorak gersang dan tiba-tiba menjadi sampah bangsa ini," ucapnya. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Sabtu 18 Mei 2019 21:15 WIB
As'ad Said Ali Paparkan Kekuatan NU
As'ad Said Ali Paparkan Kekuatan NU
H As'ad Said Ali pada dialog kebangsaan, Sabtu 18/5 (foto: Ahmad Labieb)
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 H As'ad Said Ali menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama mempunyai kekuatan sebagai pemersatu bangsa karena nilai-nilai yang selalu dipegangnya, seperti toleran dan moderat. Selain itu, NU juga tidak memisahkan antara agama dan budaya.

"Inilah kekuatan NU," kata As'ad pada acara dialog kebangsaan dan buka puasa bersama Wakil Ketua MPR RI H Muhaimin Iskandar di Jakarta, Sabtu (18/5).

Apalagi, menurut As'ad, suara politik warga NU tidak hanya ada di satu partai politik, melainkan di partai-partai politik lain. Hal itu sebagai kenyataan bahwa NU merupakan organisasi masyarakat sipil atau civil society.

"Jadi (NU) semacam civil society yang menyatukan bangsa kita ini. Itulah modal kita," ucapnya.

Menurutnya, karena NU menjadi pemersatu itulah sehingga warganya sudah selayaknya bangga dan tidak perlu takut. Namun demikian, ia menginginkan agar manajemen politik dan dakwah NU menjadi sinkron, sehingga NU mendapat barokah yang lebih besar dari politik.

Sementara pembicara lain KH Ahmad Muwaffiq atau Gus Muwaffiq, mengaku membayangkan lahir sosok santri di masa depan yang menjadi pemimpin negara Indonesia. Menurutnya, sampai hari ini hanya santri yang selalu menyerukan ‘NKRI Harga Mati’. Sementara NKRI harga mati hari ini hanya bisa ditopang oleh orang-orang yang bertakwa.

"Jadi hanya orang bertaqwa yang bisa memimpin negeri hari ini," kata Gus Muwaffiq. 

Adapun pangkat takwa sendiri, sambungnya, diberikan oleh Allah kepada orang-orang mampu menerima perbedaan. Hal itu sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ­ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangs­a dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.­ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Sabtu 18 Mei 2019 18:41 WIB
MUTIARA HATI
Quraish Shihab: Hijrahlah Tinggalkan yang Salah Menuju yang Benar
Quraish Shihab: Hijrahlah Tinggalkan yang Salah Menuju yang Benar
M. Quraish Shihab (istimewa)
Jakarta, NU Online
Ulama Tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa hijrah berarti meninggalkan sesuatu yang buruk menuju kepada yang lebih baik atau yang baik kepada yang lebih baik.

Hal itu diungkapkan Quraish Shihab dalam program Mutiara Hati SCTV yang dikutip NU Online, Sabtu (18/5). Lewat tema hijrah ini, Prof Quraish menyampaikan cara jika seseorang ingin berhijrah.

"Apabila kita ingin berhijrah, maka tinggalkan segala hal yang buruk. Namun, pilih-pilihlah terlebih dahulu apa yang harus ditinggalkan," tuturnya. 

Lalu mengapa dalam berhijrah kita harus memilih terlebih dahulu apa yang harus ditinggalkan? Menurutnya, karena Islam mengajarkan jangan meninggalkan hal-hal sepele. Tapi, menurutnya, keliru juga jika tetap melakukan hal-hal yang buruk. 

"Berhijrahlah meninggalkan yang salah menuju keyakinan yang benar," jelas Prof Quraish. (Fathoni)
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG