IMG-LOGO
Nasional

Menaker Terbitkan Surat Edaran Pelaksanaan THR 2019, Ini Isinya

Sabtu 18 Mei 2019 10:35 WIB
Menaker Terbitkan Surat Edaran Pelaksanaan THR 2019, Ini Isinya
Surat Edaran THR 2019.
Jakarta, NU Online
Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 2 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan Tahun 2019. Surat Edaran Pelaksanaan THR yang ditandatangani pada 14 Mei 2019 ini ditujukan kepada para gubernur di seluruh Indonesia.

"Pemberian THR Keagamaan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan pengusaha kepada pekerja. Hal ini sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pekerja atau buruh dan keluarganya dalam merayakan hari raya keagamaan," ujar Menaker Hanif di Jakarta pada Kamis (16/5).

Dalam surat edarannya, Menaker Hanif mengatakan, SE pelaksanaan THR ini berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

"THR Keagamaan wajib dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum sebelum Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah. Pekerja yang telah bekerja selama sebulan secara terus menerus berhak mendapatkan THR," kata Menaker Hanif.

"Jika mengacu pada regulasi, pembayaran THR dilakukan paling lambat H-7. Tapi, saya mengimbau kalau bisa pembayaran dilakukan maksimal dua minggu sebelum Lebaran agar pekerja dapat mempersiapkan mudik dengan baik," kata Menaker Hanif.

Terkait jumlah besaran THR, setiap pekerja yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, memperoleh THR 1 (satu) bulan upah. Sedangkan bagi pekerja yang mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus-menerus tetapi kurang dari 12 bulan, THR-nya diberikan secara proporsional sesuai dengan perhitungan yang sudah ditetapkan, yaitu masa kerja dibagi 12 bulan dikali 1 bulan upah.

Sementara itu, bagi pekerja harian lepas yang mempunyai masa kerja 12  bulan atau lebih, besaran THR-nya berdasarkan upah 1 bulan yang dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan. Sedangkan bagi pekerja lepas yang mempunyai masa kerja kurang dari 12 (dua belas) bulan, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja.

"Bagi perusahaan yang menetapkan besaran nilai THR dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, atau kebiasaan lebih besar dari nilai THR yang telah ditetapkan, maka THR Kegamaan yang dibayarkan kepada pekerja sesuai dengan yang tertera di perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, atau kebisaan yang telah dilakukan," ujar Menaker Hanif.

Sedangkan terkait penerapan sanksi, apabila pengusaha terlambat atau tidak membayar THR Keagamaan dikenai sanksi admistrasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 20 Tahun 2016 tentangTata Cara Pemberian Sanksi Administratif Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

Sementara untuk mengantisipasi timbulnya keluhan dalam pelaksanaan pembayaran THR Keagamaan, Hanif Dhakiri berharap masing-masing provinsi membentuk  Pos Komando Satuan Tugas (Posko Satgas) Ketenagakerjaan Pelayanan Konsultasi dan Penegakan Hukum Tunjangan Hari Raya Tahun 2019.

"Kita juga meminta para Gubernur beserta para Bupati/Walikota untuk memperhatikan, mengawasi dan menegaskan kepada para pengusaha di wilayahnya untuk melaksanakan pembayaran THR tepat waktu," kata Hanif. (Red: Kendi Setiawan)
Sabtu 18 Mei 2019 23:15 WIB
Empat Hal Perlu Disadari dalam Mengawal Kebangsaan
Empat Hal Perlu Disadari dalam Mengawal Kebangsaan
KH Lukman Hakim
Jakarta, NU Online
Direktur Sufi Center Jakarta KH Lukman Hakim menyatakan empat hal yang harus disadari warga Indonesia dalam mengawal kebangsaan. Pertama, minallah atau dari allah. Menurut Kiai Lukman, jika warganya tidak menyadari bahwa kebangsaan ini anugerah dari Allah maka yang terjadi adalah konflik dan perang.

"Oleh karena itu kebangsaan ini harus kita lihat minallah. Mau kita bawa ke mana bangsa ini?" kata Kiai Lukman pada acara dialog kebangsaan dan buka puasa bersama Wakil Ketua MPR RI H Muhaimin Iskandar di Jakarta, Sabtu (18/5).

Menurut Kiai Lukman, jika hari ini Allah menurunkan ayat Al-Qur'an, maka menggunakan panggilan 'يَا أَيُّهَا النَّاسُ'  (hai manusia) dan bukan 'يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا' (hai orang-orang yang berimana) karena di Indonesia terdapat semua golongan.

Kedua, ilallah (menuju kepada Allah). Terkait hal ini, ia menyatakan kalimat bijak dari Syekh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari.

لاتَصْحَبْ مَن لايُنهِضُك حالُه، ولايَدُلُّك على الله مقالُه

Artinya: "Janganlah kamu berteman dengan orang yang perilakunya tidak membangkitkanmu menuju Allah Swt, dan ucapannya tidak memberi petunjuk padamu ke jalan Allah."

"Kalau tidak bangkit menuju kepada Allah, celaka betul kita," ucapnya.

Ketiga, ma'allah (bersama Allah). Ia mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak lepas dari Allah. Sebab jika sampai lepas, bangsa ini terkena tirai atau hijab yang terdapat kegelapan.

Keempat, lillah (untuk Allah). Ia menyatakan, apa pun karir dan prestasi yang didapatkan bukan untuk Allah, maka menjadi gersang.

"(Kalau tidak untuk Allah) Kita ini berjalan seperti tengkorak gersang dan tiba-tiba menjadi sampah bangsa ini," ucapnya. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Sabtu 18 Mei 2019 21:15 WIB
As'ad Said Ali Paparkan Kekuatan NU
As'ad Said Ali Paparkan Kekuatan NU
H As'ad Said Ali pada dialog kebangsaan, Sabtu 18/5 (foto: Ahmad Labieb)
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 H As'ad Said Ali menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama mempunyai kekuatan sebagai pemersatu bangsa karena nilai-nilai yang selalu dipegangnya, seperti toleran dan moderat. Selain itu, NU juga tidak memisahkan antara agama dan budaya.

"Inilah kekuatan NU," kata As'ad pada acara dialog kebangsaan dan buka puasa bersama Wakil Ketua MPR RI H Muhaimin Iskandar di Jakarta, Sabtu (18/5).

Apalagi, menurut As'ad, suara politik warga NU tidak hanya ada di satu partai politik, melainkan di partai-partai politik lain. Hal itu sebagai kenyataan bahwa NU merupakan organisasi masyarakat sipil atau civil society.

"Jadi (NU) semacam civil society yang menyatukan bangsa kita ini. Itulah modal kita," ucapnya.

Menurutnya, karena NU menjadi pemersatu itulah sehingga warganya sudah selayaknya bangga dan tidak perlu takut. Namun demikian, ia menginginkan agar manajemen politik dan dakwah NU menjadi sinkron, sehingga NU mendapat barokah yang lebih besar dari politik.

Sementara pembicara lain KH Ahmad Muwaffiq atau Gus Muwaffiq, mengaku membayangkan lahir sosok santri di masa depan yang menjadi pemimpin negara Indonesia. Menurutnya, sampai hari ini hanya santri yang selalu menyerukan ‘NKRI Harga Mati’. Sementara NKRI harga mati hari ini hanya bisa ditopang oleh orang-orang yang bertakwa.

"Jadi hanya orang bertaqwa yang bisa memimpin negeri hari ini," kata Gus Muwaffiq. 

Adapun pangkat takwa sendiri, sambungnya, diberikan oleh Allah kepada orang-orang mampu menerima perbedaan. Hal itu sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ­ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangs­a dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.­ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Sabtu 18 Mei 2019 18:41 WIB
MUTIARA HATI
Quraish Shihab: Hijrahlah Tinggalkan yang Salah Menuju yang Benar
Quraish Shihab: Hijrahlah Tinggalkan yang Salah Menuju yang Benar
M. Quraish Shihab (istimewa)
Jakarta, NU Online
Ulama Tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa hijrah berarti meninggalkan sesuatu yang buruk menuju kepada yang lebih baik atau yang baik kepada yang lebih baik.

Hal itu diungkapkan Quraish Shihab dalam program Mutiara Hati SCTV yang dikutip NU Online, Sabtu (18/5). Lewat tema hijrah ini, Prof Quraish menyampaikan cara jika seseorang ingin berhijrah.

"Apabila kita ingin berhijrah, maka tinggalkan segala hal yang buruk. Namun, pilih-pilihlah terlebih dahulu apa yang harus ditinggalkan," tuturnya. 

Lalu mengapa dalam berhijrah kita harus memilih terlebih dahulu apa yang harus ditinggalkan? Menurutnya, karena Islam mengajarkan jangan meninggalkan hal-hal sepele. Tapi, menurutnya, keliru juga jika tetap melakukan hal-hal yang buruk. 

"Berhijrahlah meninggalkan yang salah menuju keyakinan yang benar," jelas Prof Quraish. (Fathoni)
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG