IMG-LOGO
Nasional

Empat Hal Perlu Disadari dalam Mengawal Kebangsaan

Sabtu 18 Mei 2019 23:15 WIB
Bagikan:
Empat Hal Perlu Disadari dalam Mengawal Kebangsaan
KH Lukman Hakim
Jakarta, NU Online
Direktur Sufi Center Jakarta KH Lukman Hakim menyatakan empat hal yang harus disadari warga Indonesia dalam mengawal kebangsaan. Pertama, minallah atau dari allah. Menurut Kiai Lukman, jika warganya tidak menyadari bahwa kebangsaan ini anugerah dari Allah maka yang terjadi adalah konflik dan perang.

"Oleh karena itu kebangsaan ini harus kita lihat minallah. Mau kita bawa ke mana bangsa ini?" kata Kiai Lukman pada acara dialog kebangsaan dan buka puasa bersama Wakil Ketua MPR RI H Muhaimin Iskandar di Jakarta, Sabtu (18/5).

Menurut Kiai Lukman, jika hari ini Allah menurunkan ayat Al-Qur'an, maka menggunakan panggilan 'يَا أَيُّهَا النَّاسُ'  (hai manusia) dan bukan 'يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا' (hai orang-orang yang berimana) karena di Indonesia terdapat semua golongan.

Kedua, ilallah (menuju kepada Allah). Terkait hal ini, ia menyatakan kalimat bijak dari Syekh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari.

لاتَصْحَبْ مَن لايُنهِضُك حالُه، ولايَدُلُّك على الله مقالُه

Artinya: "Janganlah kamu berteman dengan orang yang perilakunya tidak membangkitkanmu menuju Allah Swt, dan ucapannya tidak memberi petunjuk padamu ke jalan Allah."

"Kalau tidak bangkit menuju kepada Allah, celaka betul kita," ucapnya.

Ketiga, ma'allah (bersama Allah). Ia mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak lepas dari Allah. Sebab jika sampai lepas, bangsa ini terkena tirai atau hijab yang terdapat kegelapan.

Keempat, lillah (untuk Allah). Ia menyatakan, apa pun karir dan prestasi yang didapatkan bukan untuk Allah, maka menjadi gersang.

"(Kalau tidak untuk Allah) Kita ini berjalan seperti tengkorak gersang dan tiba-tiba menjadi sampah bangsa ini," ucapnya. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Sabtu 18 Mei 2019 21:15 WIB
As'ad Said Ali Paparkan Kekuatan NU
As'ad Said Ali Paparkan Kekuatan NU
H As'ad Said Ali pada dialog kebangsaan, Sabtu 18/5 (foto: Ahmad Labieb)
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 H As'ad Said Ali menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama mempunyai kekuatan sebagai pemersatu bangsa karena nilai-nilai yang selalu dipegangnya, seperti toleran dan moderat. Selain itu, NU juga tidak memisahkan antara agama dan budaya.

"Inilah kekuatan NU," kata As'ad pada acara dialog kebangsaan dan buka puasa bersama Wakil Ketua MPR RI H Muhaimin Iskandar di Jakarta, Sabtu (18/5).

Apalagi, menurut As'ad, suara politik warga NU tidak hanya ada di satu partai politik, melainkan di partai-partai politik lain. Hal itu sebagai kenyataan bahwa NU merupakan organisasi masyarakat sipil atau civil society.

"Jadi (NU) semacam civil society yang menyatukan bangsa kita ini. Itulah modal kita," ucapnya.

Menurutnya, karena NU menjadi pemersatu itulah sehingga warganya sudah selayaknya bangga dan tidak perlu takut. Namun demikian, ia menginginkan agar manajemen politik dan dakwah NU menjadi sinkron, sehingga NU mendapat barokah yang lebih besar dari politik.

Sementara pembicara lain KH Ahmad Muwaffiq atau Gus Muwaffiq, mengaku membayangkan lahir sosok santri di masa depan yang menjadi pemimpin negara Indonesia. Menurutnya, sampai hari ini hanya santri yang selalu menyerukan ‘NKRI Harga Mati’. Sementara NKRI harga mati hari ini hanya bisa ditopang oleh orang-orang yang bertakwa.

"Jadi hanya orang bertaqwa yang bisa memimpin negeri hari ini," kata Gus Muwaffiq. 

Adapun pangkat takwa sendiri, sambungnya, diberikan oleh Allah kepada orang-orang mampu menerima perbedaan. Hal itu sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ­ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangs­a dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.­ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Sabtu 18 Mei 2019 18:41 WIB
MUTIARA HATI
Quraish Shihab: Hijrahlah Tinggalkan yang Salah Menuju yang Benar
Quraish Shihab: Hijrahlah Tinggalkan yang Salah Menuju yang Benar
M. Quraish Shihab (istimewa)
Jakarta, NU Online
Ulama Tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa hijrah berarti meninggalkan sesuatu yang buruk menuju kepada yang lebih baik atau yang baik kepada yang lebih baik.

Hal itu diungkapkan Quraish Shihab dalam program Mutiara Hati SCTV yang dikutip NU Online, Sabtu (18/5). Lewat tema hijrah ini, Prof Quraish menyampaikan cara jika seseorang ingin berhijrah.

"Apabila kita ingin berhijrah, maka tinggalkan segala hal yang buruk. Namun, pilih-pilihlah terlebih dahulu apa yang harus ditinggalkan," tuturnya. 

Lalu mengapa dalam berhijrah kita harus memilih terlebih dahulu apa yang harus ditinggalkan? Menurutnya, karena Islam mengajarkan jangan meninggalkan hal-hal sepele. Tapi, menurutnya, keliru juga jika tetap melakukan hal-hal yang buruk. 

"Berhijrahlah meninggalkan yang salah menuju keyakinan yang benar," jelas Prof Quraish. (Fathoni)
Sabtu 18 Mei 2019 17:25 WIB
PEMILU 2019
Real Count KPU Sabtu Sore Capai 88,69 Persen
Real Count KPU Sabtu Sore Capai 88,69 Persen
Ilustrasi via detikcom
Jakarta, NU Online
Real Count yang dilakukan olek Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam sistem penghitungan suara (Situng) https://pemilu2019.kpu.go.id telah mencapai angka 88,69 persen pada Jumat (17/5) pukul 10.30 WIB.

Data itu diperoleh berdasarkan angka yang tercantum dalam salinan formulir C1 sebagai hasil penghitungan suara dari 721.373 tempat pemungutan suara (TPS) dari keseluruhan 813.350 TPS yang tersebar di seluruh provinsi dan daerah pemilihan luar negeri.

Perolehan suara suara Jokowi-Ma'ruf Amin mencapai 75.824.328 suara atau 55,80 persen. Sedangkan paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno baru meraih 60.062.808 suara atau sekitar 44,20 persen. Selisih suara kedua pasangan calon (paslon) mencapai 15.761.520 suara atau 11,60 persen. 

Dari data di Situng KPU tersebut menunjukkan bahwa sejauh ini pasangan 01 Jokowi-Ma’ruf Amin unggul di 21 provinsi dan luar negeri. Sementara itu, pasangan 02 Prabowo-Sandiaga hanya unggul di 13 provinsi.

Sejauh ini, Jokowi masih menguasai Pulau Jawa dan Kalimantan. Pasangan petahana mengamankan posisi kemenangan di DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. 

Selain itu, Jokowi-Ma'ruf juga memimpin perolehan suara di luar Jawa khususnya wilayah Indonesia Timur yaitu di Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku, Papua, serta Papua Barat. 

Sementara itu, pasangan penantang Prabowo-Sandiaga sejauh ini berhasil menguasai hampir seluruh wilayah di Pulau Sumatera. Keduanya memimpin di Aceh, Sumatra Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jambi, dan Bengkulu. 

Namun, KPU menegaskan data dalam Situng bukan hasil final untuk menentukan pemenang pemilu. Calon terpilih pada Pemilu 2019 akan ditentukan berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dari formulir C1.

Data di formulir C1 dihitung secara manual dan berjenjang, mulai dari tingkat TPS, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional. Hasil itu baru akan diumumkan KPU selambat-lambatnya Rabu, 22 Mei 2019 mendatang. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG