IMG-LOGO
Tokoh

KH Ahmad Syaikhu Tokoh NU Pendiri Pesantren Al-Hamidiyah Depok

Ahad 19 Mei 2019 19:45 WIB
Bagikan:
KH Ahmad Syaikhu Tokoh NU Pendiri Pesantren Al-Hamidiyah Depok
Jika melakukan pencarian Ahmad Syaikhu di Google, maka mesin pencari itu akan mengarahkan kepada seorang pejabat di Bekasi dan segala aktivitasnya. Padahal ada Ahmad Syaikhu lain yang populer di masa orde lama dan orde baru. Dialah tokoh pendiri Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Depok. Juga tokoh NU kenamaan yang perannya tak hanya nasional, tapi juga internasional. 

Namun, peran dan jasa KH Ahmad Syaikhu jarang sekali diketahui orang, bahkan mungkin oleh warga NU sendiri. Penulisan namanya pun tidak seragam ada yang menulis Achmad Syaichu, Achmad Syaikhu, Ahmad Syaichu, Ahmad Syaikhu. Untuk memudahkan, dalam tulisan ini menggunakan yang disebut terakhir.  

Riwayat Masa Kecil dan Pendidikannya
KH Ahmad Syaikhu dilahirkan di daerah Ampel, Surabaya, pada Selasa Wage, 29 Juni 1921. Ia adalah putra bungsu dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Chamid dan Ny Hj Fatimah. Pada usia 2 tahun ia sudah yatim, ditinggal wafat ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Ahmad Syaikhu bersama kakaknya, Achmad Rifa'i, diasuh ibunya. 

Untuk memperoleh pendidikan agama, Syaikhu belajar kepada Kiai Said, guru mengaji bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Pada usia 7 tahun ia sudah mengkhatamkan Al-Qur'an 30 Juz. Selain belajar agama, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Mardi Oetomo, sebuah sekolah yang dikelola Muhammadiyah. 

Tak lama belajar di sekolah ini, oleh H. Abdul Manan, ayah tirinya, dipindahkan ke Madrasah Tashwirul Afkar. Lembaga pendidikan ini didirikan KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Mas Mansur, dan KH Dahlan Ahyad. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai cikal-bakal Nahdlatul Ulama.

Untuk membantu meringankan beban ibunya yang harus menghidupi putra-putranya, setelah H. Abdul Manan wafat, pada usia kanak-kanak Syaikhu sudah sudah mulai bekerja di perusahaan sepatu milik, Mohammad Zein bin H. Syukur. Dan terpaksa untuk beberapa lama ia tidak melanjutkan sekolah.

Syaikhu kembali ke bangku sekolah sesudah selama dua tahun bekerja dan memiliki bekal yang relatif cukup. Ia masuk Madrasah Nahdlatul Wathan, sebuah lembaga pendidikan yang juga didirikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah. Sambil belajar, ia kembali bekerja pada seorang tukang jahit kenamaan di Pacar Keling, Mohamad Yasin. Di Nahdlatul Wathan ia dibimbing seorang guru yang kemudian sangat mempengaruhi perkembangannya yaitu KH Abdullah Ubaid. Selain itu ia juga berguru kepada KH Ghufron untuk belajar ilmu fikih.

Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Ny Fatimah yang sudah dua kali menjanda diperistri KH Abdul Wahab Hasbullah. Di bawah bimbingan ayah tirinya itulah Syaikhu berkembang menjadi pemuda yang menonjol. Kepemimpinannya mulai tumbuh.

Sekolah sambil bekerja seolah-olah menjadi pola hidup pemuda Syaikhu. Setamat dari Nahdlatul Wathan, ia kembali bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut. Selama bekerja di bengkel itu, ia melakukan kegiatan dakwah di lingkungan kawan-kawan sekerja.

Setahun kemudian, 1938, KH Abdul Wahab Chasbullah mengirimkan Syaikhu ke Pesantren Al-Hidayah, Lasem asuhan KH Ma'shum. Selama di pesantren ini, ia menjadi santri kesayangan KH Ma'shum. Sesudah 3 tahun belajar di Lasem, ia terpaksa harus boyong ke Surabaya, karena ia terserang penyakit tipes (typus) yang cukup serius.

Pada tanggal 5 Januari 1945, pada usia 24 tahun, Syaikhu mempersunting Solichah, putri Mohamad Yasin, penjahit kondang asal Pacar Keling yang pernah menjadi majikannya. Sesudah berkeluarga, ia membuka home industry sepatu di rumahnya, dengan 15 orang karyawan. 

Berjuang melalui NU
Ketika terjadi penyerbuan tentara Sekutu ke kota Surabaya, ia bersama istrinya mengungsi ke Bangil. Pada tahun 1948, sesudah Surabaya kembali aman, ia pulang ke kota kelahirannya. Mulailah ia terjun sebagai sebagai pengajar di Madrasah NU. Di samping mengajar, ia juga menjadi Ketua Ranting NU Karang Menjangan. Itulah awal mula Syaikhu mulai terlibat di organisasi NU. 

Pada kepengurusan NU Cabang Surabaya periode 1948-1950, ia ditunjuk sebagai salah satu ketua Dewan Pimpinan Umum (tanfidziyah), bersama KH Thohir Bakri, KH Thohir Syamsuddin dan KH A. Fattah Yasin. Karier Syaikhu di organisasi terus menanjak dengan cepat. Pada tahun 1952, ia diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRDS Kota Besar Surabaya.

Awal tahun 1950-an ia mendaftarkan diri menjadi pegawai pemerintah dan bekerja di Kantor Pengadilan Agama Surabaya dan kemudian berhasil menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala. Baru setahun di Pengadilan Agama, ia pindah ke Kantor Agama Kotapraja Surabaya.

Pada tahun 1953, Syaikhu terpilih menjadi ketua LAPUNU (Lajnah Pemilihan Umum NU) daerah pemilihan Jawa Timur. Dan pada pemilu 1955, ia diangkat menjadi anggota DPR dari Fraksi NU, dan pada tanggal 25 November 1958 ia ditunjuk sebagai Ketua Fraksi NU. 

Dalam kurun waktu 15 tahun sejak ia menjadi anggota DPRDS di Surabaya, akhirnya ia mencapai puncak karir di gelanggang politik, dengan menjadi Ketua DPRGR pada tahun 1966. Di NU sendiri ia pernah menjadi salah seorang ketua PBNU, sampai tahun 1979 (ketika berlangsung Muktamar NU di Semarang).

Kepemimpinan dan ketokohan KH Ahmad Syaikhu tidak hanya diakui secara nasional, melainkan juga sampai ke level internasional. Pengakuan itu terbukti dengan dipilihnya KH Ahmad Syaikhu sebagai Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) dalam konferensinya yang pertama di Bandung, tanggal 6-14 Maret 1965. 

KH Ahmad Syaikhu yang dikenal sebagai pengagum Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu berhasil mengembangkan misi dakwah Islamiyah dan misi perjuangan bangsa Indonesia dalam pentas politik internasional.

Sekian lama KH Ahmad Syaikhu menekuni dunia politik, tak menyurutkan perhatian dan minatnya dalam dunia dakwah Islamiyah. Malahan semangat mengembangkan dakwah Islamiyah itulah yang dijadikan motivasi dalam keterlibatannya di pentas politik. Pada tanggal 27 Ramadhan 1398 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 1978, ia mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, yaitu Ittihadul Muballighin. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkannya menuju terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia dakwah dan pesantren. 

Pesantren Al-Hamidiyah yang kini berdiri cukup megah di daerah Depok, merupakan saksi bisu yang menunjukkan betapa besar dan luhurnya cita-cita yang dikandung KH Ahmad Syaikhu. Dari pesantren juga berakhir di pesantren. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Tags:
Bagikan:
Kamis 16 Mei 2019 4:0 WIB
Kiai Dhofir Munawwar, Menantu Andalan Kiai As’ad Syamsul Arifin
Kiai Dhofir Munawwar, Menantu Andalan Kiai As’ad Syamsul Arifin
Kiai Maimoen Zubair pernah bercerita, bahwa Kiai Abdul Karim, pendiri dan pengasuh pertama pesantren Lirboyo Kediri, memiliki dua menantu adalan. Pertama, adalah Kiai Marzuqi Dahlan, kedua, adalah Kiai Mahrus Ali. 

Dua menantu keren inilah yang banyak membantu Kiai Abdul Karim mengurusi pesantren Lirboyo. Bukan hanya itu, sepeninggal Mbah Manab, nama lain Kiai Abdul Karim, kedua menantu itu juga yang bahu-bahu membahu meneruskan dan memajukan pesantren Lirboyo. 

Keberadaan menantu bagi seorang kiai yang mengelola pesantren besar cukup fundamental. Karena ia menjadi “tangan kanan” bagi pengasuh. Beban berat sebagai pemimpin pesantren, suluh penerang umat dan segenap aktivitas akan sedikit banyak dibantu oleh kehadiran dan peran seorang menantu. Apalagi menantu tersebut termasuk kategori “menantu andalan”.  

Mungkin itulah yang dirasakan juga oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, pengasuh generasi kedua Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Kiai As’ad di tengah kesibukannya sebagai pemimpin pesantren, tokoh nasional, sesepuh NU dan kiai-nya masyarakat memiliki menantu andalan. Beliau adalah Kiai Dhofir Munawwar. 

Nama Kiai Dhofir Munawwar tidak begitu dikenal publik karena di samping kondisi politik pada waktu yang tidak memungkinkan, ia juga tipikal kiai yang menempuh jalan khumul, menyingkir dari popularitas. 

Seluruh waktunya dihabiskan untuk pesantren dan para santri.Khumul adalah salah satu jalan yang lumrah ditempuh oleh para sufi. Secara sederhana ia dimaknai dengan keterasingan, menyingkir dari hiruk-pikuk duniawi. Ibnu Athaillah al-Sakandari (bisa dibaca al-Iskandari atau al-Iskandarani) dalam al-Hikam berkata:

ادفن وجودك في ارض الخمول فما نبت مما لم يدفن لا يتم نتاجه 

“Kuburlah dirimu dalam tanah yang tak dikenal, sebab sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam tak berbuah sempurna” 

Syekh Muhammad Said Ramadan al-Buthi dalam anotasi (syarah) terhadap kitab al-Hikam menyebut bahwa laku khumul ini adalah salah satu kebiasaan nabi Muhammad Saw. Sebelum ia menerima wahyu. Pada waktu itu kebiasaan nabi adalah berkontemplasi di Gua Hira.

Masih menurut al-Buthi, fungsi laku khumul adalah pertama, untuk mematangkan diri baik secara intelektual, spiritual dan emosional. Kedua, ia sebagai salah satu cara untuk menyucikan jiwa (tazkiyah al-nafs). 

Nah Kiai Dhofir menempuh cara ini, ia menepi dari aktivitas selain mengajar para santri. Oleh mertuanya, Kiai As’ad, ia dipasrahi untuk mengajar kitab dan tidak diperkenankan mengurusi yang lain. Bahkan ketika perhelatan Munas NU 1983 dan Muktamar 1984, Kiai Dhofir oleh Kiai As’ad dilarang hadir dalam forum bahtsul masa’il. Kiai As’ad berkata dengan bahasa Madura, “Mon bedhe Syekh Dhofir, kebey apa mabede bahtsul masai’il?”, terjemahnya, “Kalau ada Syekh Dhofir, buat apa masih melaksanakan bahtsul masail?” 

Pernyataan Kiai As’ad di atas menyiratkan bahwa Kiai Dhofir memiliki kapasitas keilmuan yang luar biasa, sehingga untuk memecahkan sebuah masalah tak perlu repot-repot mengadakan bahtsul masai’l. Cukup ditangani oleh seorang Syekh Dhofir. Makna lainnya adalah Kiai As’ad sedang memosisikan agar Kiai Dhofir tetap di jalan khumul, yaitu tidak mencari popularitas dengan beradu dalil dalam forum Bahtsul Masail. 

Kiai As’ad memang lebih sering menyebut nama menantunya itu dengan sebutan “syekh” daripada “Kiai”. Panggilan syekh ini tidak bermakna beliau orang Arab, alih-alih orang Arab, selama menempuh pendidikan, beliau pun tak pernah mencarinya di tanah Arab. Panggilan syekh lebih kepada “pengakuan” Kiai As’ad kepada keilmuan sang menantu. Dan faktanya, dalam beberapa kesempatan, beliau memang mengakui bahwa secara keilmuan Syekh Dhofir lebih alim ketimbang dirinya. 

Secara nasab, Syekh Dhofir masih kerabat Kiai As’ad sendiri. Karena secara silsilah nasab keduanya bertemu di Kiai Ruham. Kiai As’ad ibn Kiai Syamsul Arifin ibn Kiai Ruham. Sementara Kiai Dhofir ibn Kiai Munawwar ibn Kiai Ruham. Dengan demikian, berarti Syekh Dhofir masih sepupu Kiai As’ad Syamsul  Arifin. 

Lahir dari keluarga pesantren, Kiai Dhofir belajar dasar-dasar agama dari orang tuanya. Setelah dirasa cukup, beliau belajar di Pesantren an-Nuqayyah Guluk-guluk Sumenep di bawah asuhan Kiai Abdullah Sajjad. Di pesantren ini beliau mendalami ilmu gramatika bahasa Arab (nahwu-sharaf). Kitab-kitab nahwu dari marhalah ula hingga marhala ulya, beliau libas tuntas di pesantren yang didirikan oleh Kiai Syarqawi ini. 

Nahwu-sharaf menjadi sangat penting dalam membentuk intelektual seseorang. Sebab dengan ilmu itulah ia bisa terkoneksi dengan khazanah islam yang mayoritas berbahasa arab. Menjadi repot kiranya ada seorang mengaku ustaz atau kiai masih bermasalah di ilmu alat dasar, misalnya ia tidak bisa membedakan mashdar dan isim mashdar? apakah lafadz kafara apakah ikut wazan tsulasi mujarrad atau mazid?

Maka memahami nahwu-sharaf adalah langkah pertama dalam karir intelektual seseorang.  Syekh Syarafuddin ibn Yahya, Pengarang Nazam Imrithi, pernah berkata: 

النحو اولى اولا ان يعلما # اذ الكلام دونه لن يفهما

Nahwu adalah ilmu yang harus pertama kali dipelajari
Karena tanpanya perkataan tak dapat dipahami

Selepas dari an-Nuqayyah, Syekh Dhofir melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke pesantren tua yang amat kesohor, Pesantren Sidogiri. Di pesantren inilah ia mulai menyusun, mematangkan dan terus memberi beberapa counter discourse, pandangan ulang terhadap beberapa ilmu yang dipelajari. Jadilah Syekh Dhofir seorang yang alim, mutabahhir, menguasasi beberapa jenis keilmuan seperti fikih, usul fikih, tafsir, hadits tasawuf dan beberapa ilmu yang lain. 

Dengan karir akademik yang cemerlang inilah, konon Syekh Dhofir diamanati untuk menjadi “lurah pondok” Pesantren Sidogiri.  Setelah dari Sidogiri kemudian ayahanda dari Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy ini melanjutkan pendidikan ke Pesantren Lasem di bawah asuhan Kiai Maksum. Di Lasem beliau tidak lama, karena di sana tujuannya adalah tabarrukan, yaitu mondok dalam durasi sebentar yang tujuan utamanya adalah mengharap berkah.

Setelah matang secara keilmuan dan namanya cukup popular, Kiai Dhofir menjadi primadona para kiai. Tidak sedikit dari mereka bertujuan untuk menjadikannya sebagai menantu. Konon, beliau dulu diperebutkan tiga pesantren, salah satunya adalah pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. 

Kiai As’ad dengan “strategi” ulungnya bisa menarik Syekh Dhofir muda ke pangkuan pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, yaitu dengan dengan cara dinikahkan dengan putri pertamanya, Nyai Hj Zainiyah As’ad. Dari pernikahan ini, beliau dikarunia empat buah hati. Nyai Qurratul Faizah, Nyai Umi Hani’, Nyai Uswatun Hasanah dan Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah saat ini. 

Keren bukan ada santri menjadi rebutan untuk dijadikan menantu kiai?

Kehadiran Syekh Dhofir benar-benar membawa iklim yang segar bagi Pesantren Sukorejo. Sejak masa Syekh Dhofir inilah kitab-kitab yang dibaca tidak hanya kitab dasar seperti al-Jurumiyah, Kailani, Safinah dan lain-lain. Tetapi nama-nama kitab besar, marhalah ulya seperti Iqna’ ala halli alfadz al-Syuja’, Fath al-Wahhab, Tafsir Jalalain dan nama kitab yang lain. 

Tidak berhenti di situ, model pembacaan dan penerjemahan kitab yang awalnya menggunakan bahasa madura berubah menjadi bahasa Indonesia. dari eksklusif menjadi inklusif. Dan sampai saat ini di Pesantren Sukorejo cara menerjemahkan kitab kuning menggunakan bahasa Indonesia. 

Dahulu pesantren Sukorejo dikenal dengan pesantren perjuangan. Banyak orang menjadikan Sukorejo sebagai tempat persembunyian. Oleh Belanda Sukorejo disebut dengan “daerah suci” yang tak boleh diganggu. 

Maka Sukorejo menjadi tempat yang aman untuk bersembunyi. Bukan hanya itu, Sukorejo menjadi tempat untuk mencari dan melatih kekebalan. Namun, semenjak kedatangan Syekh Dhofir inilah lambat laun citra sebagai pesantren keilmuan juga disematkan kepada Sukorejo. 

Tidak hanya melakukan terobosan dalam aspek keilmuan, Syaikh Dhofir juga melakukan terobosan administrasi. Sejak masa beliaulah, para guru mendapatkan honorarium. Sebelum itu, para guru mendapat upah dengan menerima sarung dan makan di dapur pesantren. Bahkan lembaga-lembaga formal seperti SD, SMP dan SMA konon juga idenya bersumber dari beliau. 

Kepada Syekh Dhofir saya mempunyai hubungan langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung, beliau adalah sanad keilmuan saya, karena seluruh guru saya pernah berguru dan menyambungkan koneksi keilmuan kepada beliau. Terlebih Syekh Dhofir menjadi salah satu “arsitek intelektual” yang memiliki jasa besar dalam membentuk “bangunan” keilmuan KH Afifuddin Muhajir, guru saya saat ini.

Secara langsung saya memiliki hubungan dengan Syekh Dhofir karena sampai saat ini saya membaca doa (bahasa lainnya amalan) yang salah satu tawassulnya adalah beliau. Konon, manfaat dari doa ini adalah bisa menambah kecerdasan  dan menguatkan hafalan.

Aspek lain yang membuat Syekh Dhofir begitu melekat dalam benak saya adalah soal satu pengetahuan yang saya dapat dari beliau, keterangan ini tidak saya jumpai dalam berbagai literatur keislaman. Keterangan yang dimaksud adalah bahwa apabila dalam karya-karya Syekh Nawawi al-Bantani ditemukan redaksi “wazadahu al-Syarqawi” “dan menambah siapa al-Syarqawi” maka dimaksud adalah Kiai Syarqawi Guluk-guluk Sumenep bukan Syekh Ahmad Ibn Ibrahim Ibn Abdullah al-Syarqawi, ulama asal mesir yang umumnya dikutip dalam kitab-kitab fikih abad pertengahan. Ilmu ini saya terima dari Dr. Abdul Moqsith Ghazali, beliau dari abahnya, KH Ghazali Ahmadi, beliau dari Syekh Dhofir Munawwar. 

Setelah diteliti kisahnya begini; Syekh Nawawi al-Bantani adalah ulama asli Indonesia yang ada di Mekkah, ia tumbuh dan belajar di sana sampai menjadi ulama terkenal yang memiliki banyak karya. Saking tingginya nilai keulamaan ulama asal Banten ia dianugerahi gelar sayyid ulama al-Hijaz. 

Nah, semasa di Mekkah Syekh Nawawi ini satu angkatan dengan Kiai Syarqawi. Ketika Syekh Nawawi menulis kitab dan kemudian dibaca oleh sahabatnya, Kiai Syarqawi, beliau biasanya memberi catatan tambahan dalam karya Syaikh Nawawi itu. Maka oleh Syekh Nawawi diberi keterangan, “Wazadahu al-Syarqawi, dan menambah siapa sahabat saya, Kiai Syarqawi. 

Sekadar selingan, di samping nama Syaikh Nawawi dalam literatur mazhab syafi’iyah ada juga yang bernama Imam al-Nawawi. Beliau adalah ulama kenamaan mazhab Syafi’iyah yang berasal dari Damaskus Suriah (Syam), penulis beberapa kitab, seperti al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Minhaj al-Thalibin, Raudhah al-Thalibin, Riyadl al-Shalihin, Hadis Arbain dan lain sebagainya. Jadi ada Nawawi dalam negeri, ada Nawawi luar negeri.  Yang dimaksud pertama adalah Syekh Nawawi al-Bantani sedangkan nama kedua adalah Imam al-Nawawi al-Damasyqi, keduanya berbeda. 

Syekh Dhofir Munawar mengabdikan seluruh jiwa dan raganya kepada ilmu dan peradaban. Denyut nadinya adalah pendidikan dan keilmuan. Setiap hari kebiasaannya adalah membacakan kitab di hadapan para santri. Ketika bulan ramadhan, beliau istikamah mengisi khataman Tafsir Jalalain. Dari jam 08. 00 WIB hingga waktu asar. 

Pada dini hari Ramadan tanggal 10 tahun 1405 atas 30 Mei 1985, setelah satu tahun Muktamar NU ke 27, Syekh Dhofir menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan seluruh santri, alumni dan seluruh pecintanya. Semua orang merasakan kehilangan dengan sosok yang jasanya begitu besar utamanya bidang keilmuan di Pesantren Sukorejo ini, tak terkecuali Kiai As’ad Syamsul Arifin. 

Konon beliau meneteskan air mata dan mengatakan bahwa separuh ilmunya pergi bersamaan dengan kepergian Syekh Dhofir. Syekh Dhofir Wafat dan pergi namun ide-ide dan pengetahuan yang ia salurkan kepada para santri terus direproduksi kembali.


Ahmad Husain Fahasbu, santri Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo

Kamis 9 Mei 2019 11:35 WIB
Hj Siti Zubaidah Hasbiyallah Ulama Perempuan Betawi, Penulis Risalah Shalat Tarawih dan Shalat Id
Hj Siti Zubaidah Hasbiyallah Ulama Perempuan Betawi, Penulis Risalah Shalat Tarawih dan Shalat Id
Oleh Rakhmad Zailani Kiki

Di Betawi juga di belahan bumi lainnya, ulama perempuan sangat sedikit jumlahnya yang dimunculkan oleh masyarakat. Salah satu dari yang sedikit ini adalah Nyai Hj Siti Zubaidah KH Hasbiyallah.

Lazimnya ulama, ia memiliki karya dalam bentuk risalah yang ditulisnya dalam aksara Arab Melayu dengan judul Kayfiyah Sembahyang Tarawih dan Shalat Al-`Idain (Tata Cara Shalat Tarawih dan Shalat Idul Fithri serta Idul Adha). Sebelum lebih jauh membahas tentang risalah ini, perlu diketahui dulu mengenai sosok ulama perempuan Betawi ini.

Riwayat Hidup Nyai Siti Zubaidah
Nama lengkapnya Siti Zubaidah binti H Hasanuddin. Ia merupakan anak pertama dari sembilan saudara dari hasil perkawinan H Hasanuddin dan Hj Hindun. Ia lahir sekitar tahun 1941 atau tahun 1942 di Cipinang Kebembem, Jatinegara, Jakarta Timur.

Sejak kecil sampai menikah, ia  mengaji kitab kuning kepada KH Abdul Hadi, ulama Betawi di Cipinang Kebembem. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya adalah nahwu shorof, aqidah, akhlak dan fiqih. Di usia sekitar 21 tahun yang bertepatan dengan tahun 1962, ia dinikahi oleh KH Hasbiyallah, pendiri Perguruan Islam Al-Wathoniyah.

Dari hasil perkawinannya ini, ia dikarunia dua orang anak, putra dan putri, yaitu Hj Hilmah dan H Saifullah Hasbiyallah. Pada tahun 1973, ia menunaikan ibadah haji yang pertama. Kemudian ia menunaikan ibadah haji kembali pada tahun 1978, 1994, 1995, dan tahun 1996.

Ketinggian intensitasnya dalam pergi haji lebih didasarkan pada layanan bimbingan haji yang dipimpinnya pada tahun 1994. Pada tahun 1996, bimbingan hajinya berbadan hukum yayasan dengan nama KBIH Al-Istiqamah Az-Zubaidiyyah yang kini diteruskan oleh anaknya, KH Saifullah Hasbiyallah.

Walau sudah menikah dan kemudian mempunyai anak, ia tetap meneruskan pendidikan agama non-formalnya dengan mengaji kitab kuning kepada suaminya, KH Hasbiyallah. Ia merupakan tipe pembelajar yang tekun dan gigih. Hampir setiap hari, ia mengaji kitab kuning setiap selesai shalat Zuhur atau selesai shalat Ashar, tergantung keluangan waktu suaminya. Aktivitas mengaji ini terus dijalaninya sampai kitab-kitab yang dipelajarinya itu selesai atau khatam. Maka wajar jika ia sangat paham tentang isi Kitab Alfiyah Syarah Ibnu Malik, Bulughul Maram, dan Ihya `Ulumiddin.

Selain mengaji, ia juga turut mengajar di dua puluh dua majelis taklim ibu-ibu setiap bulannya. Majelis taklimnya tersebar di sekitar Klender, Tanah Koja, Kampung Bulak, Kampung Sumur, Rawa Badung, Kampung Jati, Cipinang, dan Pulo Kambing. Ia juga menjadi guru tetap di majelis taklim ibu-ibu di Kelurahan Jatinegara Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Selain mengajar keluar, ia juga dipercaya oleh suaminya untuk mengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Banatul Wathoniyah.

Santri-santrinya yang mondok dan yang pulang pergi (santri kalong) berasal dari sekitar Klender, Bogor, Cinere, Taman Mini. Kebanyakan santrinya berasal dari Bekasi. Pada tahun 1986, ia tidak lagi menerima santri yang mondok. Ia hanya menerima santri yang pulang pergi sampai ia wafat pada tahun 1996 tepatnya pada tanggal 22 Rabi`ul Tsani. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga besar KH Hasbiyallah di depan Masjid Jami` Al-Ma`mur, Klender.

Latar Belakang Penulisan Risalah
Salah satu motif utama Nyai Hj Siti Zubaidah KH Hasbiyallah menulis risalah Kayfiyah Sembahyang Tarawih dan Shalat Al-`Idain adalah untuk membantu suaminya dalam mencarikan dana ketika Pondok Pesantren Putri Al-Banatul Wathoniyah dalam masa pembangunan. Cara yang dilakukannya ini untuk mencari dana pembangunan tersebut terbilang cukup unik bahkan terbilang cerdas pada masa itu.

Risalah ini kemudian dicetak dan diperbanyak kemudian disebarkan kepada jamaahnya dan jama`ah suaminya. Hasil penjualan risalah ini kemudian digunakan untuk membangun pondok pesantren putri tersebut. Sebenarnya, ia banyak menulis risalah, namun tidak sempat tercetak. Risalah-risalah yang masih berbentuk manuskrip itu kini hilang pada saat kediamaannya direnovasi untuk pelebaran jalan raya.

Isi Risalah Kaifiyah Sembahyang
Risalah Kayfiyah Sembahyang Tarawih dan Shalat Al-`Idain memiliki tinggi 21,5 cm dan lebar 13, 5 cm; dicetak di kertas jenis HVS. Halamannya berjumlah 18 halaman dengan halaman muka sebagai halaman pertamanya.

Pada pengantar risalah di halaman kedua, ia menuliskan alasan lainnya tentang penulisan risalah ini, selain sebagai sarana untuk mencari dana pembangunan pondok pesantren, yaitu adanya kebangkitan atau dorongan hati untuk menyusun sebuah risalah tentang kayfiyat tarawih mengingat betapa pentingnya pada kaum Muslimin dan Muslimat agar menjadi tertib amal ibadah kita dan menjadi semangat di dalam mengerjakan ibadah tarawih.

Isi risalah ini terdiri atas tata cara pelaksanaan shalat tarawih dan tata cara shalat Idul Fithri dan shalat Idul Adha. Namun, isi risalah lebih didominasi oleh tata cara pelaksanaan shalat tarawih yang mencakup 14 halaman. Sedangkan tata cara shalat Idul Fithri dan shalat Idul Adha hanya mencakup tiga halaman. Pada tulisan ini, saya hanya menjelaskan tentang tata cara pelaksanaan shalat tarawih dari risalah ini secara singkat.

Sebagai tata cara shalat tarawih, isi risalah ini sangat lengkap. Risalah ini ditulis dengan sistematis dan sangat rinci. Ia, seperti umumnya masyarakat Betawi, berpegang kepada Mazhab Syafi`i. Karenanya, risalah ini menjelaskan tentang tata cara shalat tarawih sebanyak 20 rakaat yang ditutup dengan shalat sunnah witir tiga rakaat.

Tata cara shalat tarawih yang pertama adalah bilal atau mubaligh mengucapkan seruan shalat. Imam kemudian berdiri. Bacaan pada shalat pertama di rakaat pertama adalah Surat At-Takatsur dan rakaat kedua Surat Al-Ikhlas.

Adapun bacaan shalat kedua sampai shalat kesepuluh, pada rakaat pertama surat yang dibaca mengikuti urutan surat sesudah Surat At-Takatsur, kecuali untuk rakaat kedua yang dibaca tetap Surat Al-Ikhlas.

Adapun shalat witir dilakukan sebanyak dua kali, yaitu shalat pertama berisi dua rakaat dan shalat kedua berisi satu rakaat. Surat yang dibaca pada rakaat pertama adalah Surat Al-A’la. Sedangkan surat yang dibaca pada rakaat kedua adalah Surat Al-Kafirun.

Setelah selasai, jamaah kemudian melakukan shalat witir sebanyak satu rakaat. Surat yang dibaca pada shalat witir setelah Surat Al-Fatihah ini adalah Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Nas. ***


Penulis adalah peneliti dan penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris Asosiasi Pesantren (RMI NU) DKI Jakarta.
Kamis 25 April 2019 8:0 WIB
Kiai Chayyi, Aktivis NU Kencong Pegiat Literasi
Kiai Chayyi, Aktivis NU Kencong Pegiat Literasi
Kiai Chayyi
Oleh: Rijal Mumazziq Z 

Dalam buku lawas berjudul--kalau tak salah ingat--"Pekan Raja Buku 1954" terbitan Gunung Agung tahun 1954, yang saya baca sekilas di kiosnya Erwin Dian Rosyidi alias Erwin BukuKuno beberapa tahun lalu, tercatat nama-nama penerbit serta toko buku di Indonesia. Nama, sekilas riwayat hidup dan foto aktivis perbukuan juga dicantumkan. Beberapa toko buku di berbagai daerah juga disebutkan berikut nama pemilik dan alamatnya. 
Sebagai orang Jember, saya langsung mengecek entri Djember. Benar, di tahun 1954 itu, di Jember telah berdiri beberapa toko buku. Di antara yang tertera adalah toko buku di Kentjong Djember yang dikelola oleh Abd Chayyi.

Nama terakhir ini saat itu--saya kira--telah merintis diri menjadi aktivis Nahdlatul Ulama. Alumni Pesantren Tebuireng ini di kemudian hari juga menjadi anggota DPRD Jember  dan juga menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cabang Kencong mendampingi KH Djauhari Zawawi, Pengasuh Pesantren Assunniyah Kencong. Kiai Chayyi wafat kurang lebih 40 hari setelah wafatnya Kiai Djauhari, 1994. Duet pejuang hingga akhir hayat.

Kita bisa melihat, di kota kecamatan seperti Kencong, di era 1950-an, Kiai Chayyi yang beberapa tahun sebelumnya lulus dari Tebuireng sudah punya keinginan mendirikan toko buku. Jelas ini bukan usaha mudah, sebab selain akses transportasi dan telekomunikasi yang masih terbatas, minat baca dan gairah beli buku zaman itu masih minim. Tapi kendala ini tak menyurutkan langkahnya, terbukti, Toko Buku miliknya masuk katalog buku terbitan Gunung Agung ini. Sebuah upaya membumikan literasi di sebuah kota kecamatan di Jember.

Kiai Chayyi ini aktivis tulen. Puluhan tahun mengabdi di NU Kencong, sejak NU menjadi parpol hingga balik lagi menjadi Ormas. Dirinya adalah dokumentator dan organisator ulung. Meskipun, sayang sekali, banyak dokumentasi-arsip PCNU Kencong yang hilang dan rusak. Selain buku tipis "Sejarah Berdirinya NU Cabang Kencong" yang ditulis, ada beberapa notulensi rapat PCNU yang terselamatkan. Catatan ini ditulisnya dalam buku tulis tebal. Di antara yang masih bisa dibaca adalah hasil rapat penyusunan pengurus NU Cabang Kencong tahun 1969, notulensi rapat sebagai anggota DPRD Jember, poin-poin sambutan dan pengarahan, serta catatan rapat PCNU Kencong di kediaman KH Djauhari Zawawi, sekaligus pembentukan Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (tanggal rapat, 19 Januari 1984). Tulisan latin Kiai Chayyi sangat rapi. Halus, miring ke kanan,  dan klasik. Tulisan Arabnya juga tapi. Pakai khat gaya Riq'ah. Serapi tulisan latinnya. Sahabat saya, Y. Setiyo Hadi, pegiat Sejarah Jember, memperoleh buku catatan ini dari keluarga Kiai Chayyi.

Polarisasi Jagat Perbukuan
Di Hari Buku ini, bukan hanya sekilas profil Kiai Chayyi yang hendak saya tulis, melainkan polarisasi jagat perbukuan yang terjadi satu dasawarsa usai kemerdekaan. Di antaranya, penerbit dan toko buku dikuasai oleh orang Jawa, Arab, dan Tionghoa. Hal ini terlihat dari nama-nama yang termuat dalam entri pemilik penerbitan dan toko buku. Selain itu ada juga beberapa nama khas beraroma bule yang nangkring sebagai nama ‘pemilik’.

Hal ini mengindikasikan jaringan penerbit dan toko buku hanya berporos di kota besar. Etnis Jawa, Arab dan Tionghoa memiliki akses khusus di bidang penerbitan sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang. Karena itu ketika kemerdekaan berkumandang, secara infrastruktur mereka telah siap. Hal ini berbeda dengan suku lainnya yang harus pontang-panting mendirikan penerbitan, apalagi di kota kecil.

Selain itu, hal ihwal penerbitan di Komunitas Arab dan Tionghoa harap dimaklumi, karena selain memiliki previlis di Kampung Arab dan Pecinan, mereka juga menjaga adat, tradisi dan hubungan dengan negara leluhurnya melalui pasokan buku-buku impor yang telah berlangsung sejak berpuluh tahun sebelumnya. Sampai saat inipun, orang Arab masih menjadi bos beberapa penerbitan di kawasan Kampung Arab daerah Ampel, Surabaya. Yang paling kondang tentu Pak Haidar Bagir, bos Mizan, itu. Bagaimana dengan orang Tionghoa? Ini yang unik. Entah karena dikepras geraknya oleh Orde Baru atau karena faktor lain, orang Tionghoa jarang yang berkiprah di dunia penerbitan dan toko buku, kecuali banyak dari mereka yang menjadi bos percetakan buku (harap dibedakan: penerbitan dan percetakan).

Kalau orang Jawa masih banyak yang berkecimpung di jagat penerbitan dan jaringan toko buku. Urang Sunda punya kiprah penerbitan selama puluhan tahun melalui Penerbit Remaja RosdaKarya, misalnya. Madura beberapa saja (inipun ada di Yogyakarta. Edi Mulyono, bos Diva, itu di antaranya). Sedangkan orang Padang mengalami kebangkitan sejak medio 90-an dalam industri perbukuan melalui jejaring penerbit RajaGrafindo Persada.

Bila perputaran industri perbukuan semakin dinamis, kelak, persaingan di jagat penerbitan semakin ketat dengan kompetitor yang variatif: bukan hanya soal etnis, melainkan pada konteks corak keberagamaan di Indonesia. Wallahu A'lam

Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong. Jember, Jawa Timur.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG