IMG-LOGO
Cerpen

Kitab Kuning Ayah

Senin 20 Mei 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Kitab Kuning Ayah
Oleh Abdullah Alawi

Ayah mengambil sebuah kitab lusuh agak tebal dari lemari jati yang tampak masih kokoh. Di lemari itu berderet kitab-kitab lain. Kitab yang tebal menyatu dengan yang tebal. Begitu pula yang kecil. Ada juga yang kelihatannya masih baru. Rata-rata kitab yang jilidnya tipis dilapisi dengan sampul. Ada yang dengan koran, bekas almanak dan ada yang memang benar-benar sampul. 

Ayah menyebut benda-benda itu dengan kitab kuning. Padahal menurutku, tidak kuning. Mungkin dulunya memang kuning. Bahkan kitab yang baru diambilnya sudah berwarna coklat muda. Pinggir-pinggir halamannya sudah keriting seperti milikku ketika setahun dibawa pulang pergi ke madrasah tanpa tas. Mungkin tokonya sudah lupa menjual kitab itu karena pembelinya saja, ayahnya ayah, telah almarhum. 

Kemudian ia membuka jilidnya dengan perlahan seolah tidak ingin ada suara mengikutinya. Di jilid bagian dalam itu tampak tinta hitam tulisan tangan berbahasa Arab, berbaris rapi. Setiap baris tulisan diakhiri angka dengan huruf Arab juga. Ia meraba tulisan-tulisan itu sampai berakhir di satu barisan. Lalu membuka halaman-halaman dengan perlahan. Dan berhenti di angka sesuai akhir baris tulisan di jilid tadi. Ternyata ia tidak memulai dari daftar isi, melainkan dari catatan itu. Entah ayah yang membuatnya atau kakek karena konon ketika ayah nyantri, menggunakan kitab-kitab kakek.    

Di halaman itu, tampaklah rimba semut hitam kaku. Semut-semut itu kadang terjalin dalam satu susunan kalimat, ada juga yang sendirian. Di pengajian malam Jumat bersama bapak-bapak dan Jumat pagi bersama ibu-ibu, berdasarkan semut-semut itu, ayah bisa bercerita tentang para nabi atau sahabat dan para sufi, hukum-hukum yang rumit, perkataan-perkataan ulama, atau kisah-kisah orang alim. Ia bisa membacanya dengan lancar seperti orang kota membaca koran karena di saat senggangnya, ia sering sendirian terpekur di hadapan benda itu di ruangan paling depan rumahku.

Tapi bagiku, jangankan bercerita, melihatnya saja bikin mata kunang-kunang. 

"Suatu saat, semut-semut ini harus bicara kepadamu," kata ayah. Dia memberi tekanan pada kata “harus”.

"Bicara? Bagaimana caranya, Ayah?"

"Kau harus belajar nahwu dan sharaf.  Untuk bisa seperti itu, kamu harus nyantri. Ayah nyantri. Kakekmu nyantri. Ayahnya kakekmu juga.” 

Aku diam. 

“Sore ini Rabu wekasan. Rabu terakhir bulan Safar dalam penanggalan Hijriyah,” lanjut ayah sambil mengeluarkan pena bertinta jafaron  yang warnanya kemerahan. Kemudian memanggil ibu di dapur untuk membawakan piring. 

Ibu dan kedua adikku datang. Ia menyerahkan piring putih berukuran besar. Kami mengerubungi ayah. Fokusnya kepada pena di atas piring. 

“Buat apa Ayah nulis di piring? Apa Ayah sudah tidak punya buku? Aku masih punya,” kata adikku yang pertama, berusia 6 tahun. Ayah tidak menanggapi. Adikku langsung ngeloyor pergi ke kamarnya. Ketika kembali, ia sudah menyodorkan bukunya. Tapi diambil ibu yang langsung membisikkan sesuatu di telinganya. Adik kemudian diam dan memerhatikan ayah. Kami tak ada yang bicara. Termasuk si bungsu. 

Tatapan kami tetap seperti semula, ke tangan ayah yang mulai bekerja, mencipta huruf dan rangkaian huruf Arab di atas piring dengan rapi sebagaimana aku lihat di halaman-halaman Al-Qur’an. Ukurannya menurutku seimbang. Selintas, sebagaimana di kitab kuning itu, huruf-huruf itu nyaris seperti barisan semut-semut, cuma bedanya yang ini berwarna merah. Juga barisannya tidak lurus, melainkan berputar ke dalam seperti lingkaran obat antinyamuk bakar. 

Ayah terus menulis dengan khusuk. Kami khusuk juga memerhatikannya. Semakin lama, semut-semut yang berbaris melingkar itu semakin berdesakkan. Kemudian tangan ayah berhenti persis di tengah-tengah piring. Dia meletakkan pena itu. Dan semut itu pun berhenti seolah jalan yang akan dilewatinya tercegat. 

"Kamu tahu Al-Qur’an berapa juz?” tanya ayah kepadaku.

“Tiga puluh juz, Ayah.”

“Berapa surat dan berapa ayat?”

"Seratus empat belas ayat, dan enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat.”

"Nah, dalam ayat sebanyak itu, perlu kamu ketahui, dalam Al-Qur’an ada 7 ayat yang dimulai kata salamun. Salah satunya ada dalam surat Ya-Siin yang sering kita baca tiap malam Jumat. Kamu ingat?”

“Ingat, Ayah.”

“Coba bacakan!”

“Salamun qaulam mirrabi rahim”. 

“Coba apa artinya?”

Aku menggeleng kepala. Aku merasa ayah berlebihan meminta arti ayat kepada anak seusiaku. Ayah-ayah temanku sedesa, mungkin juga sekecamatan, sore itu dan sore-sore yang lain, tak mungkin ada yang bertanya arti ayat kepada anak kecilnya. Sementara ayah menatapku lekat-lekat. Inilah ayahku. Kalau pertanyannya tak terjawab, biasanya marah-marah, setidaknya melotot. Konon kakek dan buyutku juga seperti itu. Pertanyaannya selalu harus berjawab. Jika tidak bisa, membentaklah ia. Apalagi jika pertanyaan itu sudah biasa, ayah sering menghadiahi sapu lidi. Mau berlindung sama ibu adalah sia-sia. Karena ibu selalu berada di pihak ayah. Sedari ingat, aku diajari membaca dan menghafal tiap malam diakhiri dengan tangisan. Ayah dan ibu seolah tak puas kalau aku belum menangis. Beberapa bulan lalu, aku dimintannya mentashrif sebuah fi’il mudlari.  Aku lupa, makanya dimarahi habis-habisan sampai mencucurkan air mata.

Kemudian ayah mengguyurkan sedikit air putih dari ceret ke piring itu. Lalu menghapus-hapus dengan telunjuknya. Sekarang airnya kemerahan. Adikku yang pertama, tanpa komando, hendak turut menghapus dengan telunjuknya juga. Tapi tangan ibu keburu menahannya. Adik bungsu meronta-ronta di pangkuan ibu, sepertinya ingin turut berpartisipasi menghapus juga.  

Kemudian air itu dimasukkan kembali ke dalam ceret. Dan di piring itu tak ada satu pun semut yang tertinggal.  

“Ini adalah Rabu wekasan. Rabu terakhir bulan Safar,” kata ayah, “kalian harus meminum air ini. Guyurkan juga ke dalam bak mandi dan sumur, juga ke kolam di depan kobong. ” 

“Kenapa begitu, Ayah?”

“Kamu akan tahu penjelasannya kalau kamu sudah bisa membaca kitab ini,” katanya. 

Tak lama setelah itu, beberapa orang tetangga uluk salam dan mengetuk pintu. Mereka membawa piring sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Kemudian ayah menulis di piring itu seperti tadi. Ketika ada yang datang lagi, ayah berbuat serupa. Namun, ketika menjelang maghrib, tetangga yang datang disuruhnya mengambil air dari sumur di dapur untuk dibawa pulang kemudian disatukan dengan air sumur dan minum walaupun setetes. 

“Dulu mah para santri juga ikut meminta salamun ,” kata ayah seolah berbicara kepada dirinya sendiri. Sekitar lima tahun lalu, di kobong masih ramai dengan santri. Bahkan sejak zaman buyutku. Tak pernah kurang dari 30 santri yang tinggal. Sedikit memang, tapi tak pernah kering. Mereka berasal dari desa dan kecamatan tetangga. Bahkan pada generasi awal, banyak yang dari luar kabupaten. Namun sekarang tinggal beberapa santri kalong.  Santri tua telah pulang dan menikah, sementara anak-anak generasi baru, tak kerasan tinggal. Alasannya macam-macam. 

“Dulu, menurut kakekmu, salamun ini disimpan di saku para santri ketika menghadapi tentara Belanda datang ke desa sini. Buyutmu yang membuatnya, dituliskan dalam selembar kertas,” lanjut ayah bercerita. “Begitu juga ketika datang tentara Jepang, giliran kakekmu yang membuatnya. Tidak hanya para santri yang membawanya, tapi gerilyawan. Sekarang ayah. Kelak seharusnya kamu. Salamun itu tolak bala. Menurut kitab ini, Allah menurunkan berbagai macam penyakit di akhir bulan Safar. Nah, salamun itu tolak balanya, ” jelasnya. 

Kami tak ada yang berbicara. Adikku yang pertama pergi setelah meneguk segelas air. Kemudian berlari. Lamat-lamat terdengar suaranya agar meminum salamun entah kepada siapa. Sementara si bungsu menelusup ke dada ibu.   

“Zaman kakekmu, kobong itu dibakar Jepang karena mereka mengetahui tempat itu jadi persembunyian gerilyawan. Rumah kakekmu juga dibakar. Termasuk seluruh kitab kuningnya. Tapi santri selamat semua. Seluruh penduduk kampung mengungsi ke hutan. Sekembali dari pengungsian, kakek tak henti-hentinya menangisi kitab-kitab itu. Ketika zaman telah merdeka, santri berdatangan lagi. Tapi berbulan-bulan dia tak mengajari mereka. Ia masih sedih dengan kitab-kitab itu. Ia mau mengajar lagi ketika datang surat dari gurunya. Sedikit demi sedikit, ia membeli kitab. Semuanya masih terjaga di lemari jati itu. Sementara yang baru-baru, ayah yang beli. Kelak setelah tiada, kaulah dan adik-adikmu pemiliknya.”         

Enam bulan setelah ayah menulis salamun itu, selepas lulus SD, aku dikirimnya ke sebuah pesantren di kota kabupaten. Ayah menyuruhnya nyantri sambil sekolah, dan jangan dibalik. Tapi kenyatannya memang terbalik. Aku sekolah sambil nyantri. Pelajaran di sekolah lebih aku geluti daripada kitab-kitab kuning itu. Aku malas ngalogat  apalagi mutholaah.  Dan tak pernah bertanya apabila ada yang tidak mengerti kepada santri senior, apalagi langsung ke ajengan.  Karena itulah aku sering kena ta’jir.  

Pelajaran di pesantren aku rasa tidak menarik sama sekali dan suasananya juga tidak asyik. Dari hari ke hari aku makin tidak kerasan dan sering menginap di rumah teman sekelas di sekolah. Semakin bertambahlah ta’jir untukku. Makin berlipat-lipat juga ketidakbetahanku. 


Ketika ayah mengetahui hal itu, aku pasrah mau dimarahi dengan cara apa pun. Aku kaget karena ternyata ayah tidak marah, melainkan diam. Namun pandangannya ke arah lain. Ada sesuatu di muka ayah yang coklat dan mulai keriput itu, entah apa namanya. Karena tidak ada reaksi, hal itu malah membangkitkan keberanianku untuk meminta sekolah saja. Ayah lagi-lagi diam. Di muka itu aku makin melihat ada bahasa yang panjang tapi tak diungkapkannya. Tapi herannya itu tak menjadi perhatianku karena keinginan hengkang dari pesantren terbuka. Ayah lalu bangkit tanpa sepatah kata pun. 

Kelak, aku mengingatnya sejak itu, ia jadi pendiam. 

Meski tak mendapatkan izin secara lisan, aku menafsirkan ayah mengabulkan keinginanku. Aku tinggal di kosan bersama teman lain yang berasal dari desa. Kesempatan itu aku manfaatkan sebaik-baiknya dengan belajar giat. Biaya sekolah aku ambil sebulan sekali melalui pintu dapur. Ketika aku mau berpamitan, ayah selalu tiada, seolah menghindariku.

Selepas lulus, perjuanganku tidak sia-sia, aku mendapatkan beasiswa di perguruan negeri di ibu kota. Jurusan kupilih sendiri tanpa bermusyawarah dengan ayah. Dan kini aku jadi sarjana, tapi melihat piring kosong saja pergi, apalagi membuka perpustakaan kitab-kitab kuning ayah. 


















Bagikan:
Ahad 12 Mei 2019 23:30 WIB
Pertemuan Tak Terduga
Pertemuan Tak Terduga
Oleh Abdullah Alawi

Kita –lebih tepatnya aku dan kamu- sudah lama tidak bertemu. Aku tidak tahu bagaimana kabarmu sekarang. Kamu pun mungkin tidak tahu keadaanku. Aku berharap apa yang kaugumuli sekarang baik adanya. Tapi aku pernah punya keyakinan bahwa aku akan bertemu lagi denganmu dalam keadaan dan suasana berbeda. Dengan kedudukan dan status yang berbeda. Dengan kesan dan perasaan yang tak bisa kuduga. Seperti pertama kali kita bertemu tanpa diduga-duga. Seperti hidup itu sendiri yang sulit diduga. Seperti kata orang, segala sesuatu pasti akan ada perubahan. 

Sengaja atau tidak sengaja perubahan itu. Kamu pun mungkin seperti itu. Tapi dalam perubahan itu masih ada sebagian yang memungkinkan aku mengenalimu. Dan mungkin kamu pun seperti terhadapku.

Aku menyukai pertemuan tak terduga. Dalam pertemuan semacam itu, kita –lebih tepatnya aku dan kamu- dalam keadaan yang tak dibikin-bikin, dipoles atau dibuat seolah-olah. Kata-kata yang meluncur, intonasi, mimik muka di luar yang direncanakan. Semuanya tercipta dengan tiba-tiba. Yang ada, adalah aku yang seadanya. Kamu yang seadanya. Kita yang tidak mempersiapkan diri untuk berbuat  seolah-olah. Kita dalam keadaan waktu itu. 

Itulah mungkin kenapa aku malas bertemu denganmu jika direncanakan dan tentunya dengan tempat dan waktu yang ditentukan pula. Hal itu jangan kamu artikan aku tak mau bertemu denganmu. Bukan! Ada beberapa hal kenapa aku menghindari pertemuan semacam itu. Biasanya pikiranku selalu gelisah membayangkan bagaimana saat-saat pertemuan yang  direncanakan itu. Apa pertama kali yang akan atau harus aku katakan dan aku lakukan. Dan tentu saja aku tidak tahu yang akan kamu katakan dan kamu lakukan.

Pikiran-pikiran semacam itu sungguh menggangguku. Aku tak bisa berdamai dengan keadaan seperti itu. Hari-hariku terasa panjang aku jalani. Dan biasanya aku tak tahu apa yang harus  aku lakukan. Tapi sekali lagi itu bukan berarti aku tak mau bertemu denganmu. Sungguh! Bertemu denganmu adalah sebagian dari keinginanku saat ini. Singkatnya, bukan pertemuan yang tak kuinginkan, tapi caranya yang tak bisa kutentukan, lebih tepatnya aku dan kamu bertemu dengan cara tak direncanakan. Kemungkinan pertemuan semacam itu memang seperseribu dari kemungkinan-kemungkinan lain. Tapi karena itu kemungkinan, maka aku tak menganggap itu tidak mungkin. Tinggal masalah waktu saja sebenarnya. Waktu yang entah... 

jika pertemuan tak terduga itu terjadi, mungkin akan kuurai satu per satu apa yang pernah kualami, sedang kualami, dan mungkin kualami. Tentang harapan, tentang keinginan, dan tentang kecemasan. Tentang apa saja. Aku akan senang jika kamu juga mau mengurai apa yang ingin kau urai. Itu pun jika kamu mau. Kalaupun kamu tak mau melakukan itu, karena kamu sedang ada kepentingan lain sehingga harus cepat-cepat pergi, misalnya, atau kamu tidak menginginkan pertemuan tak terduga itu, ya sudah. Aku tak memaksa. Aku akan menatap arah kepergianmu. Mungkin suatu waktu nanti, waktu yang entah, kita –lebih tepatnya aku dan kamu- akan berjumpa dengan cara tak terduga lagi. Mungkin aku akan merasa kehilangan dengan kepergianmu, orang yang kutunggu dalam pertemuan tak terduga. Tetapi ya sudah. Mau apa lagi. Aku sudah terbiasa dengan perasaan semacam itu. 

***
Dan pertemuan tak terduga itu belum pernah terjadi. Meski kemungkinan itu tetap saja mungkin. Dan aku masih berkutat dalam hidupku seperti ini, seperti dulu-dulu, tak beres dan kacau. Seperti yang tak pernah aku ceritakan padamu detail-detailnya. Ternyata aku tidak becus mengurus diri sendiri. Karena itulah aku terus menunggu pertemuan denganmu –dan tentunya dengan cara tak terduga itu. Pada saatnya nanti aku berharap kau mau mendengar ceritaku. Aku cuma berharap. Tentu saja itu terserah kamu mau dan tidaknya. Jika kamu tak mau, ya sudah. Mungkin aku akan menunggu kembali pada pertemuan tak terduga yang tak pernah terjadi itu...  Pada waktu yang entah...

Ciputat, 2007

Ahad 28 April 2019 21:30 WIB
Aku dan Kamu Saling…
Aku dan Kamu Saling…
Oleh Abdullah Alawi

Aku berjalan-jalan. Jalan kemana saja mengikuti keinginanku. Bukan sedang menikmati hari, atau pemandangan, mencari angin, atau sedang mencari sesuatu atau seseorang. Tidak. Aku berjalan-jalan karena memang aku ingin berjalan-jalan. Dan itu kebiasaanku. Berjalan-jalan ke mana? Sudah kubilang aku tidak punya tujuan. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Cukup! Dan jika aku menemukan sesuatu, bukan salahku. Itu kebetulan saja. Dan jika tidak menemukan sesuatu, itu juga bukan salahku. Niatku cuma berjalan-jalan, tak bermaksud mencari atau menemukan.

Tiba–tiba di suatu tempat yang tak terduga sebelumnya, aku berjumpa denganmu. Tiba tiba kamu tersenyum. Senyum yang itu. kemudian Kamu menatapku. Tatapan yang itu. Bola mata yang itu. Kelopak mata yang itu. Aku juga tersenyum. Bola mata menatap bola mata. Aku diam. Kamu diam. Aku dan kamu seperti patung. Tiba-tiba saja aku berkata seperti ini, “Aku mencintaimu.” Kata-kata yang tak terduga sebelumnya. Lidahku seperti ada yang menggerakkan. Aku tak bisa menguasai mulutku. Aku ingin menarik kata-kataku karena itu kata-kata yang bukan kehendakku, tapi terlanjur keluar...

Kamu  tersenyum. Senyum yang itu. Yang belum kukenal sebelumnya.  Dan mata itu, mata yang baru kutemui selama ini.

“Aku juga mencintaimu,” ungkapmu.

Sungguh yang juga tak terduga sebelumnya. Aku tidak tahu apakah kata-kata yang meluncur dari mulutmu adalah kata-kata yang dikehendakinya atau kata-kata yang meluncur begitu saja seperti kata-kataku tadi.

Aku hampir tidak bisa mengenali perasaanku waktu itu, ketika mendengar perkataanmu. Kemudian aku tidak tahu apa yang harus kukatakan dan harus aku lakukan saat itu. Kamu pun mungkin seperti itu. Aku hanya diam. Kamu hanya diam. Aku dan kamu saling tidak tahu. Beberapa saat  aku dan kamu hanyalah patung. Aku tidak kerasan dengan suasana seperti ini. Mungkin kamu juga seperti itu. Maka aku pergi ke arah kemauanku. Dan kamu juga pergi ke arah kemauanmu. Aku dan kamu pergi ke arah kemauan masing-masing. Tanpa menoleh arah kepergian masing-masing.

Dalam beberapa hari ini aku tidak berjalan-jalan karena memang aku tidak ingin berjalan-jalan. Aku masih kaget dengan pertemuan itu.  Aku tidak tahu kenapa harus berjumpa denganmu. Sipakah namamu? Di mana tempatmu. Dan kenapa tiba-tiba aku mengatakan, “Aku mencintaimu” dan kenapa kamu mesti menjawab, “Aku juga mencintaimu.” Sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Sesuatu yang tidak kupahami sepenuhnya. Tapi kenapa pula itu menjadi pikiranku. 

Ketika aku berjala-jalan lagi pada suatu hari dengan niat sama, tidak untuk mencari dan menemukan, tiba-tiba aku bertemu lagi denganmu di tempat yang tak terduga sebelumnya. Tempat yang berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Tiba-tiba saja. Tapi kali ini aku mengatakan seperti ini, “Aku membencimu.” Kamu  hanya tersenyum. Senyum yang masíh seperti itu. Seperti kemarin. Yang tiba-tiba saja aku menyadari aku suka. Aku menekan perasaan yang tiba-tiba menyergap ini. Kamu menatapku dengan bola mata yang itu. Tatapan yang itu. Aku tak berkutik.  Ada semacam perasaan takjub yang tiba-tiba menyelinap. 

Tapi kenapa aku “Mengatakan aku membencimu.” Aku tak bisa menguasai lidah dan mulutku. Kata-kata yang berhambur adalah kata-kata yang tak kukehendaki. Tapi sebelum aku memikirkan lebih jauh apa yang terjadi dengan diriku dan apa yang kukatakan, tak kuduga kamu berkata seperti ini, “Aku juga mencintaimu.” Aku tertegun sebentar mendengar jawabanmu yang masih tetap seperti kemarin ketika aku mengatakan mencintaimu. Kamu masih tersenyum. Tapi cepat-cepat aku dan mungkin juga kamu tidak tahu apa yang harus kulakukan dan kukatakan. Kemudian aku pergi. Aku tak tahan dengan suasana seperti itu. Kami pergi ke arah kemauan masing-masing. Aku tidak tahu ke mana arahnya. Dan kamu tak tahu arahku. Dalam pikiranku tiba-tiba menyelinap pertanyaan-pertanyaan tentang pertemuanku denganmu. Tapi aku membuangnya jauh-jauh. 

Lama aku dan kamu tidak bertemu lagi meski aku tak menghentikan jalan-jalanku. Aku dan kamu tidak tahu keberadaan dan kabar masing-masing. Mana mungkin bisa tahu karena aku dan kamu tidak kenal dan tidak tahu keberadaan masing-masing. Aku dan kamu bertemu karena kebetulan yang tak terduga tanpa kita berusaha untuk berkenalan. Kata-kataku dan mungkin juga kata-katamu adalah kata-kata yang keluar tiba-tiba saja saat aku dan kamu terjebak dalam pertemuan. Aku dan mungkin juga kamu tidak menguasai sepenuhnya diri sendiri saat pertemuan itu.

Tapi pada suatu hari aku bertemu lagi denganmu. Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi apa yang harus kukatakan. Aku ingin melakukan sesuatu. Tapi apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus mengatakan, “Aku mencintaimu,’’ atau mengatakan, “Aku membencimu.” Pada pertemuan sebelumnya kamu tetap menjawab sama. Padahal kalimat yang aku ucapkan berbeda. Aku dalam keragu-raguan. Tapi lama-kelamaan aku berkata juga, “Aku mencintaimu.” Kamu hanya tersenyum. Senyum yang itu. Senyum ketika aku bertemu pertama kali. Dan kemudian kamu berkata, “Aku juga membencimu.” Aku tertegun sebentar. Jawaban yang tak terduga sebelumnya. Kamu masih tersenyum. Kemudian kamu pergi cepat-cepat ke arah kemauanmu. Sedangkan aku masih tertegun. Tapi aku juga cepat-cepat pergi ke arah kemauanku sendiri. Aku masih memikirkan kata-kataku. 

Pada suatu hari aku berjalan-jalan. Dalam perjalanan selalu terdapat kemungkinan-kemungkinan. Kebetulan-kebetulan. Dan kebetulan itu adalah aku bertemu lagi denganmu. Di tempat yang juga tak terduga sebelumnya. Tempat yang berbeda pada pertemuan sebelumnya. Aku tidak tersenyum. Kamu tersenyum. Senyum yang itu. Senyum ketika aku pertama kali berjumpa denganmu. Kamu menatapku. Tatapan mata yang itu. Bola matamu. Mata yang itu. Aku tidak berkata apa-apa. Tapi kamu berkata seperti ini, “Aku mencintaimu dan membencimu.” Aku cuma tertegun. Kamu masih tersenyum. Kemudian aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan kukatakan. Aku berjuang mengucap sesuatu. Tapi lidahku kelu. Aku berjuang melakukan sesuatu. Tapi tubuhku kaku. Keringat dingin membasahi tubuhku. Kamu masih tersenyum. Aku tersiksa. Kemudian aku cepat-cepat pergi ke arah kamauanku. Kamu masih tersenyum. Tapi kamu pun pergi cepat-cepat ke arah kemauaanmu sendiri. Selama perjalanan aku masih memikirkan perkataanmu. Mencintai dan membeci sekaligus, apakah mu
ngkin? Apakah dua kata berebeda ini berarti sama? Kenapa aku terjebak dalam suasana seperti ini? 

Sempat aku berpikir untuk tidak berjala-jalan. Pertemuan-pertemuan denganmu yang tak bisa kuhindari sangat mengangguku. Padahal jalan-jalan adalah kebiasaan yang tak bisa terpisahkan dari kehidupanku. Aku adalah jalan-jalan itu sendiri. Beberapa hari aku diam. Tapi aku tersiksa. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan ritualku, berjala-jalan kembali. Pertemuan denganmu adalah konsekuensi.

Pada suatu hari aku berjummpa lagi denganmu di tempat yang tak terduga sebelumnya. Tempat yang berbeda dengan waktu perjumpaan sebelumnya. Selalu begitu. Aku tertegun. Kamu tersenyum. Aku sekarang menunggu kamu berkata saja karena kemarin pun dia bicara tanpa aku bicara lebih dahulu. Kata-kata yang tak kuduga sebelumnya pula. Tapi kamu tak berkata juga. Kamu hanya tersenyum. Lama aku menunggu. Kamu pun mungkin merasa seperti itu. Kemudian aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan aku katakan. Aku masih tertegun. Kemudian aku cepat pergi ke arah kemauanku sebelum aku dan kamu sempat mengucap sesuatu. Dan kamu pun pergi ke arah kemauanmu.

Kemudian aku tidak berjumpa lagi dengamu di tempat mana pun. Aku tak tahu kabar dan keberadaannmu. Aku tidak tahu apakah kamu tersenyum. Senyum yang itu. Dengan tatapan yang itu. Bola mata yang itu. Kelopak mata yang itu. Tiba-tiba aku ingin berjumpa denganmu. Tapi aku tidak tahu apakah kamu ingin berjumpa denganku. Kalau berjumpa denganmu apa yang harus aku katakan dan aku lakukan. Atau aku harus menunggu kamu berkata. Aku tidak tahu. Kemudian aku cepat-cepat membuang keinginanku untuk berjumpa denganmu.


Sukabumi, Januari 2004

Senin 22 April 2019 4:34 WIB
Aku, Kamu, dan Kereta
Aku, Kamu, dan Kereta
Larangan Menyakiti Keturunan Rasulallah 







Jombang, NU Online - Wakil Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang KH M Soleh menjelaskan pesan Rasulullah Muhammad SAW tentang golongan yang dilaknat oleh Allah, Rasulallah dan para nabi.



Diantara golongan itu adalah orang yang menyakiti keturunan Rasulullah SAW. Baik keturunan biologis. Maupun keturunan ideologis yakni para ulama yang mewarisi ilmu nabi.



"Keturunanku seperti perahunya Nabi Nuh. Siapa yang naik kedalamnya akan selamat," katanya saat mengisi lailatul ijtima pengajian rutin ranting NU Candimulyo di Musala Al-Kautsar, Jombang, Jawa Timur, Ahad (21/4).



Kiai Soleh mengajak seluruh umat Islam menghormati keturunan para nabi. Seperti apapun kondisi mereka dan tetap tidak mencaci maki keturunan Nabi Muhammad SAW. "Misalnya ada sikap mereka yang kita tidak cocok, jangan sampai mencaci maki apalagi menyakitinya," tegas Kiai Soleh.



Kiai Soleh lalu menceritakan suatu peristiwa zaman dahulu dimana ada seorang perempuan keturunan Nabi Muhammad yang miskin dan saat itu anak-anaknya sedang kelaparan. Syarifah ini lantas mendatangi seseorang yang kaya lantas menyampaikan kebutuhannya.



Namun Orang kaya itu tidak mau memberi. Ia justru mempertanyakan bukti bahwa syarifah tersebut keturunan Rasulullah. Malamnya, orang itu mimpi dunia sudah kiamat. Ia panik mencari perlindungan. Hingga ketemu Rasulullah dan minta perlindungannya. Namun nabi bilang, dia hanya mau melindungi umatnya. 



"Orang itupun bilang, saya ini umat jenengan. Nabi balik bertanya, apa buktinya?. Orang itu pun terbangun dan menyesali perbuatannya. Lantas mencari syarifah tadi dan membantunya," bebernya.





Dikatakanya, di Nahdlatul Ulama banyak habib yang masuk struktur organisasi. Di PCNU Jombang juga ada habib. Diantaranya, Habib Muhammad Al-Jufri dan Habib Muhammad bin Salim Assegaf. Keduanya Wakil Rais syuriah.



Selain itu, para kiai di NU banyak juga yang nasabnya menyambung ke Rasulallah namun tidak koar-koar. "Kiai-kiai banyak yang habib tapi tidak diomong-omong," tegasnya



Agar tidak terjerumus pada menyakiti nabi dan keturunannya, Kiai Soleh mengingatkan untuk banyak bersalawat. Hal ini sesuai isi kandungan Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 56.



"Pada  Surat Al-Ahzab ayat 57 Allah menyebutkan golongan yang menyakiti Allah dan Rasulallah, sehingga dilaknat oleh Allah di dunia dan akhirat," tandas Kiai Soleh.



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG