IMG-LOGO
Nasional

Empat Pesan Menteri Agama untuk Konferensi Al-Qur'an JQHNU


Senin 20 Mei 2019 13:50 WIB
Bagikan:
Empat Pesan Menteri Agama untuk Konferensi Al-Qur'an JQHNU
Jakarta, NU Online
Menjamurnya rumah-rumah tahfidz turut membantu mensosialisasikan Al-Qur'an kepada masyarakat. Namun di sisi lain, para penghafal itu tidak diimbangi dengan pemahaman kandungannya yang cukup.

Tak ayal Al-Qur'an yang semestinya menjadi rahmat penyejuk, tetapi justru dipahami secara bertolak belakang dengan inti ajaran Islam sehingga menimbulkan unsur-unsur yang merusak tatanan sosial.

Melihat fenomena tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam Konferensi Al-Qur'an, Sima'an Akbar Al-Qur'an untuk Keselamatan dan Keberkahan Bangsa di Hotel Sriwijaya, Senin (20/5) menitipkan empat hal yang perlu menjadi garapan JQHNU ke depan.

"Ada empat hal yang ingin saya titipkan dalam kesempatan konferensi ini yang mungkin juga bisa menjadi garapan utama," katanya saat memberikan sambutan sebelum membuka acara secara resmi.

Pertama, pendidikan pamahaman Al-Qur'an, menurutnya, perlu menjadi gerakan yang dilakukan secara serentak. "Perlu sosialisasi yang masif bagaimana ayat Al-Qur'an itu diterjemahkan dan ditafsirkan," ujar putra KH Saifuddin Zuhri itu.

Pasalnya, Lukman mengaku sering menyaksikan kesalahpahaman orang akan terjemah atau tafsir Al-Qur'an dianggap kedudukannya sama sebagai Al-Qur'an itu sendiri. Padahal terjemahan, menurutnya, diubahsuaikan dengan kondisi dan situasi terkini pada masanya. "Proses penerjemahan dan penafsiran itu perlu dijelaskan utuh," katanya.

Kedua, penjelasan menyeluruh terkait proses kontekstualisasi Al-Qur'an dengan realitas yang dihadapi di masa dan tempatnya sehingga teks tidak mati. "Sehingga teks itu tetap memiliki relevansi yang tinggi dan menjadi sumber rujukan utama kehidupan kita," ucapnya.

Ketiga, perlu adanya penelusuran rujukan Al-Qur'an sebagai landasan atas isu terkini. Hal ini, menurutnya, sebagai upaya untuk mensosialisasikan Al-Qur'an sehingga tetap memiliki relevansinya.

Terakhir, keempat, penerjemahan Al-Qur'an tidak bisa dilakukan secara serampangan, tetapi perlu pemahaman yang mumpuni. Para penghafal dan pembelajar Al-Qur'an, menurutnya, tidak hanya sekadar menghafal dan memperbaiki bacaannya saja, tetapi perlu juga pemahaman yang utuh terhadap kandungan ayat-ayat Al-Qur'an itu sendiri.

"Tapi bagaimana yang juga tidak kalah penting bahkan jauh lebih penting adalah pemahaman terhadap kandungan Al-Qur'an, bagaimana menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur'an sehingga lalu kemudian kita bisa menarik kesimpulan yang benar terkait ayat-ayat Al-Qur'an ini," pungkasnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh Rais Majelis Ilmi PP JQHNU KH Ahsin Sakho Muhammad, Ketua PP JQHNU KH Saifullah Ma'shum, Ketua Lajnah Pentashih Al-Qur'an Kementerian Agama Mukhlis Hanafi, dan perwakilan dari 19 pengurus Pimpinan Wilayah JQHNU seluruh Indonesia. (Syakir NF/Fathoni)
Tags:
Bagikan:
IMG
IMG