IMG-LOGO
Internasional

Dubes Pastikan Tak Ada Korban WNI dalam Serangan Bom di Mesir

Senin 20 Mei 2019 15:45 WIB
Bagikan:
Dubes Pastikan Tak Ada Korban WNI dalam Serangan Bom di Mesir
Ilustrasi bom (thisiswhyimbroke.com)
Kairo, NU Online
Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Helmy Fauzi, memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban serangan teror bom terhadap bus wisata di jalan dekat Piramida Giza, Kairo, Mesir, pada Ahad (19/5) waktu setempat. 

"Berdasarkan pemantauan KBRI Kairo dan pelacakan melalui sumber keamanan Mesir, Alhamdulillah sejauh ini diperoleh informasi tak ada WNI yang menjadi korban serangan tersebut," kata Helmy dalam pernyatannya yang diterima NU Online, Senin (20/5). 

Diketahui, sebuah serangan bom yang ditanam pinggir jalan dekat lokasi Grand Museum Mesir di wilayah Giza, Kairo Mesir menyasar sebuah bus wisata yang membawa 25 turis asing. 

Berdasarkan penelusuran KBRI Kairo, diperoleh keterangan bahwa serangan itu menggunakan bahan peledak berskala ringan. Dilaporkan, serangan itu menyebabkan 7 warga negara Afrika Selatan dan 10 warga negara Mesir terluka setelah terkena dampak ledakan dan pecahan kaca jendela bus wisata tersebut. Sampai rilis ini dibuat, tidak ada informasi mengenai jatuhnya korban jiwa.

Himbauan KBRI Kairo

Berkaitan dengan terjadinya serangan bom tersebut, KBRI Kairo kembali mengeluarkan himbauan kepada seluruh warga negara Indonesia di Mesir untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari daerah rawan serta kerumunan masa.

“Kepada WNI yang melakukan kunjungan wisata ke Mesir dihimbau untuk lapor diri melalui aplikasi Safe Travel. Sementara bagi WNI yang yang akan melakukan kunjungan ke atau melintasi wilayah Sinai diminta untuk memastikan agar bus wisata yang digunakan mendapat pengawalan dari pihak keamanan Mesir,” demikian imbauan KBRI Kairo. 


Aplikasi Safe Travel

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI meluncurkan aplikasi Safe Travel pada 2017 lalu. Melalui aplikasi ini, pihak Kemlu berusaha untuk meningkatkan perlindungan WNI di luar negeri. Aplikasi ini dapat diunduh melalui telepon genggam berbasis android ataupun IOM. 

Dalam aplikasi tersebut, WNI yang menemui masalah di negara tujuan dapat langsung menekan tombol darurat yang otomatis mengirimkan data lokasi tempat kejadian perkara ke Perwakilan RI di wilayah tersebut.

Selain itu, aplikasi Safe Travel juga memuat informasi lengkap mengenai tingkat keamanan 180 negara di dunia, juga informasi tentang restoran, tempat ibadah, objek wisata, kurs mata uang, pelaporan paspor hilang, lapor diri, dan alamat Perwakilan RI di negara tersebut.

“Aplikasi ini juga memiliki unsur hiburan karena memungkinkan WNI yang sedang melakukan kunjungan wisata di luar negeri untuk mengunggah foto kunjungan di aplikasi ini,” jelas KBRI Kairo dalam pernyataannya. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Senin 20 Mei 2019 19:0 WIB
Ketika Bendera Palestina Muncul dalam Acara Musik di Israel
Ketika Bendera Palestina Muncul dalam Acara Musik di Israel
Saat Madonna tampil di Eurovision 2019 (Orit Pnini/AFP)
Tel Aviv, NU Online
Ada ‘pemandangan menarik’ ketika acara final kompetisi musik Eurovision 2019 dihelat di Tel Aviv, Israel pada Sabtu (18/5) malam waktu setempat. Pasalnya, banyak muncul bendera-bendera Palestina dalam acara tersebut. Salah satunya adalah kemunculan bendera Palestina ketika saat bintang pop dunia, Madonna, tampil sebagai bintang tamu di final Eurovision 2019 itu.

Pada kesempatan itu, Madonna bersama rapper Amerika Serikat (AS), Quavo, menyanyikan lagu terbarunya berjudul ’Future’. Mereka berdua bernyanyi diiringi dengan para penari. Sepasang penari yang bergandengan tangan dan membelakangi penonton terlihat dengan jelas mengenakan kostum dengan atribut bendera Palestina dan Israel di punggungnya. 

Hal itu dinilai sebagai seruan untuk persatuan. Kendati demikian, Madonna belum menyeluarkan pernyataan resminya. 

Tidak sampai di situ, salah satu kontestan dari Islandia, Hatari, juga membentangkan selendang dengan motif bendera Palestina. Mereka tersorot kamera melakukan itu ketika hasil kontes diumumkan. 


Hatari membentangkan selendang dengan motif bendera Palestina

Menteri Kebudayaan Israel, Miri Regev, mengkritik kemunculan bendera-bendera Palestina di acara Eurovision 2019 tersebut. Menurutnya, politik dan kebudayaan tidak seharusnya dicampur-adukkan. 

“Itu sebuah kesalahan,” kata menteri sayap kanan yang dikenal berpendirian provokatif tersebut, dikutip AFP, Senin (20/5).

Eurovision merupakan kontes lagu internasional tahunan yang diikuti 50 negara, termasuk diantaranya adalah Israel. Kebetulan tahun ini Israel ditunjuk menjadi tuan rumahnya. Sayangnya, tempat diselenggarakannya Eurovision 2019 diselenggarakan di Taman Yarkon di Tanah-Al-Shaykh Muwannis, permukimam Palestina yang terkena dampak pendudukan Israel dan hancur pada 71 tahun yang lalu.

Sebelumnya, Zochrot, sebuah LSM Israel yang mengadvokasi agar orang-orang Palestina mendapatkan hak-haknya kembali setelah terusir dari tanah mereka, menggelar aksi protes menjelang festival dan kompetisi musik Eurovision 2019. 

Seorang pemandu wisata, Umar al-Ghubari, mengatakan, para penggemar Eurovision tahun ini akan merayakan gelaran mereka di lokasi yang dulunya adalah permukiman warga Palestina. Namun, 71 tahun lalu Israel menduduki dan mengusir semua warga Palestina dari sana.

"Tentunya Israel tak ingin menceritakan kisah ini. Mereka hanya ingin menunjukkan segalanya berjalan normal," kata Ghubari, dikutip Reuters, Sabtu (19/5).

Madonna diketahui menolak seruan pro-Palestina untuk memboikot acara tersebut. Sebelum tampil, Madonna sempat melontarkan pernyataan bahwa dirinya tidak akan berhenti melawan pelanggaran hak asasi manusia.

"Saya tidak akan pernah berhenti bermusik untuk memuaskan agenda politik seseorang, saya juga tidak akan berhenti berbicara melawan pelanggaran HAM di belahan dunia manapun itu terjadi," kata Madonna. (Red: Muchlishon)
Senin 20 Mei 2019 18:43 WIB
Seperti di Pesantren Indonesia, Ini Ngaji Pasaran di Tarim Yaman
Seperti di Pesantren Indonesia, Ini Ngaji Pasaran di Tarim Yaman
Jakarta, NU Online
Ro’fat Hamzie menjalani puasa di Yaman tak ubahnya seperti di Indonesia, yakni dengan mengikuti pasaran. Ya, Tarim, kota yang ia tinggali memang selayaknya pesantren.

"Selama Ramadhan kegiatan kampus diliburkan. Dan diberikan kebebasan untuk mengaji dengan ulama-ulama yang buka pengajian Ramadhan," kata mahasiswa Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadramaut, Yaman itu kepada NU Online pada Ahad (19/5).

Selepas dzuhur, misalnya, beberapa mahasiswa asal Indonesia mengikuti pengajian kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim di masjid dekat kampusnya hingga menjelang Maghrib.

Selain itu, mahasiswa lainnya memilih untuk mendaras Al-Qur'an, membaca ulang materi yang telah dipelajari, hingga membaca kitab-kitab referensi.

Setelah Asar, ada yang mengikuti pengajian-pengajian yang dibuka oleh para ulama. Hamzie sendiri memilih mengaji kepada Habib Abu Bakar Balfaqih di Masjid Barosyid.

Lima menit dengan berkendara motor, pria asal Cirebon, Jawa Barat itu sudah bisa sampai dan menyimak penjelasan Habib Abu Bakar tentang kitab Riyadus Sholihin, dan beberapa kitab Hadhramaut, yakni Wasoya Nafiah lil Imam Haddad, Nasim Nafahat Haajiri li Habib Abdullah Syathiri, dan kalam Habib Muhammad al-Haddar.

Pengajian itu ia ikuti bersama rekan-rekannya yang lain sembari menanti terbenamnya matahari di ufuk barat.

Sementara saban usai subuh, katanya, para pelajar Indonesia berangkat menggunakan sepeda motornya melaju ke pondok yang diasuh oleh Habib Umar bin Hafidz guna mengikuti pengajiannya.

Selepas itu, beberapa di antaranya memilih beristirahat mengingat waktu malam mereka habiskan dengan mengikuti tarawih keliling. Hal tersebut, katanya, sudah menjadi tradisi Yaman.

Perihal tarawih keliling itu, Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Universitas Al-Ahgaff, kata Hamzie, berinisiatif menyusun jadwal tarawih setiap masjid di seantero Kota Tarim. "Karena Tarim itu masjidnya banyak," katanya.

Hal tersebut, menurutnya, penting guna memberikan informasi kepada seluruh mahasiswa Indonesia yang hendak menunaikan tarawih keliling agar dapat menyesuaikan waktunya. "Biasanya ada mahasiswa yang sering melakukan hal itu," pungkasnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Senin 20 Mei 2019 18:15 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Berzakat Fitrah 8 Euro di Amsterdam
Berzakat Fitrah 8 Euro di Amsterdam
Seorang jamaah membayarkan zakat fitah di Masjid Al-Ikhlash Belanda
Zakat itu membersihkan. Membersihkan hati kita dari ketamakan. Zakat itu mensucikan. Mensucikan harta kita dari keharaman. Haram karena hak mustahik yang kita makan. Haram karena kewajiban kita sebagai muzakki yang tidak ditunaikan. Berzakatlah karena zakat akan memberikan ketenangan bagi yang memberi dan menerimanya.

Berzakat di bulan Ramadhan ini semakin simpel dan sederhana. Semua dipermudah dengan berbagai fasilitas gerai, unit, dan cara menunaikannya. Bisa dengan langsung menyerahkan ke panitia zakat yang telah diamanahkan dalam bentuk fitrah atau harta. Bisa dengan menyerahkannya kepada lembaga-lembaga terpercaya yang mampu mendistribusikan zakat kepada penerimanya. Bisa melalui transfer bank, akun, EDC, dan lain sebagainya sesuai dengan kemajuan teknologi dan perbankan sekarang ini.

Inilah yang disebut jenis ibadah maaliyah. Jenis ibadah yang mengorbankan harta kekayaan dan benda. Jika ibadah mengorbankan fisik namanya ibadah jasadiyah seperti sholat, puasa, dan manasik haji. Jika ibadah mengorbankan hati dan lisan namanya ibadah qolbiyah seperti berdzikr dan bershalawat.
 
Zakat fitrah mengeluarkan harta berupa makanan pokok. Zakat maal mengeluarkan harta berupa kekayaan, investasi, profit, dan bisinis. Berzakatnya adalah kewajiban. Pendistribusian zakatnya akan membahagiakan.

Pengelolaan zakat di PPME Al-Ikhlash Amsterdam merupakan salah satu program penting yang sudah bertahun-tahun dilakukan oleh Panitia Ramadhan dari mulai awal sampai akhir Ramadhan. Besaran zakat fitrah ditetapkan sebesar 8 Euro per orang. Tidak ada perbedaan dengan besaran seperti tahun lalu pada Ramadhan 1439 H. Biasanya seperti tahun-tahun yang sudah, setiap orang yang membayarkan zakatnya akan digenapkan menjadi 10 Euro, agar tidak merepotkan panitia mencari uang kembalian.

Sebenarnya bagi diaspora Indonesia di sini, baik buruh migran ataupun ekspatriat, besaran zakat 8 hingga 10 Euro itu terlalu kecil. Karena jika dibandingkan dengan pendapatan sehari-harinya, 10 Euro itu hanya senilai satu jam kerja saja. Rata-rata mereka bekerja sehari antara lima sampai delapan jam. Artinya, bagi buruh migran saja, pendapatan sehari-harinya minimal 50-80 Uero. Jika dikonversikan besaran zakat ke dalam rupiah, 10 Euro sama dengan senilai 160 ribu rupiah.

"Enteng banget," kata Agus Acoy, salah satu buruh migran asal Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Panitia Ramadhan PPME Al-Ikhlash setiap malam sebelum Tarawih berlangsung selalu mengingatkan para jamaah untuk menunaikan zakatnya melalui panitia zakat yang telah ditunjuk oleh Bestuur atau pengurus. Setiap hari sebelum buka puasa, yaitu pukul 20.00 waktu Amsterdam, sampai setelah selesai Tarawih, yaitu pukul 00.30, panitia melayani penerimaan zakat. Zakat bisa diserahkan kepada Ustadz Tamsil, Pak Opang Kamal, Pak Maman Dani, Bu Muti Kamal, dan Bu Hazra.

Zakat diserahkan kepada panitia di Masjid Al-Ikhlash bisa dalam bentuk uang tunai atau digesek pada mesin EDC bagi yang tidak membawa uang tunai. Panitia akan memberikan lembaran kertas bukti pembayaran zakat setiap selesai transaksi serah terima zakat tersebut.

Salah satu penerima manfaat zakat ini adalah para buruh migran Indonesia yang membantu meramaikan dan menghidupkan masjid Al-Ikhlash Amsterdam. "Di samping itu masih banyak lagi para mustahik di luar masjid dan non-diaspora Indonesia yang mendapatkan manfaat zakat di PPME Al-Ikhlash Amsterdam," ungkap Muti Opang Kamal, Panitia Ramadhan.

Sebagaimana Allah berfirman dalam QS At-Taubah ayat 60, bahwa orang-orang yang berhak menerima zakat itu adalah orang-orang fakir, miskin, amilin, orang yang masih lemah iman Islam-nya, budak, orang yang banyak hutang, orang yang berjuang di jalan Allah, dan musafir.

H Khumaini Rosadi, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ichsan Bontang, Dai Tidim Jatman, Dai Ambasador Cordofa, Dosen STIT Syam Bontang, Guru PAI SMA YPK Bontang, Muballigh LDNU Bontang, Imam Masjid Agung Al-Hijrah Kota Bontang.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG