IMG-LOGO
Humor

Azan Berkumandang Pukul Sepuluh Pagi

Senin 20 Mei 2019 21:0 WIB
Bagikan:
Azan Berkumandang Pukul Sepuluh Pagi
Orang-orang hampir sekampung tumpah-ruah ke masjid jami di kampung itu. Mereka datang dengan membawa kemarahan dan siap memaki. Di antara mereka bahkan ada yang membawa senjata tajam dan pentungan siap hantam seperti hendak menghadapi maling motor tetangga. 

Pasalnya mereka mendengar kumandang azan melalui pengeras suara. Padahal waktu baru pukul 10.00. Shalat dzuhur masih jauh. Shalat subuh juga telah jauh berlalu, tidak alasan secuil pun untuk dikatakan terlambat. Sementara shalat sunat dhuha, dimana pun tak perlu kumandang azan.

Mereka datang ke masjid itu dengan tergesa supaya tidak ketinggalan momentum. Malah ada yang setengah berlari. Laki perempuan, tua-muda berhamburan.  

Sementara azan terus berkumandang sebagaimana biasanya seperti tak ada persoalan sama sekali. 

"Lha ini kenapa ada azan jam sepuluh pagi?" tanya salah seorang sambil merebut mikropon muazin. 

"Kamu mimpi ya?" tanya yang lain sebelum mendapat jawaban muazin.

"Ini bisa jadi aliran sesat!" tegas yang lain.

"Iya, ini aliran sesat!"

"Kamu sekarang ikut aliran sesat!"
 
"Kafir!" seru seseorang sambil mengangkat pentungan. 

Padahal mereka tahu muazin itu adalah tetangganya sendiri. Sangat mengenalnya. Muazin itu tiap hari mengumandangkan azan dan kadang menjadi imam shalat. Pekerjaan sehari-harinya sebagaimana mereka sendiri, bertani.  

"Kamu sekarang ikut aliran sesat?" tanya salah seorang yang paling tua di antara mereka. Nadanya tidak sekeras orang-orang sebelumnya.

"Lha justru saya mau bertanya kepada kalian semua. Apakah kalian ikut aliran sesat? Saya azan setiap waktu shalat mulai dhuhur, ashar, maghrib, isya sampai subuh, kalian tidak ada yang datang. Lalu kenapa azan pukul sepuluh kalian datang? Jadi, yang sesat siapa?" (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Senin 20 Mei 2019 16:30 WIB
Kisah tentang Uang THR
Kisah tentang Uang THR
Ilustrasi humor
Hari raya adalah hari bahagia dan berbagi kebahagiaan bersama keluarga. Hari raya tidak akan lengkap tanpa adanya tunjangan hari raya atau THR.

THR inilah salah satunya yang diharapkan Romlah, istri Romli. Ia kerap menanyakan THR kapan turun kepada suaminya yang bekerja di sebuah kantor.

“Pak, kapan dapat THR dari kantor?” tanya Romlah.

“Kemarin kan udah bapak kasih ke ibu,” kata Romli.

“Oh, yang kemarin itu.. Terus kalau uang yang dilaci bapak itu apa?” Romlah lagi.

“Yang mana?” tanya Romli.

“Dalam amplop coklat yang diselipkan di buku, dalam laci paling bawah,” ucap Romlah.

“Ohh itu.. Itu uang sial,” kata Romli.

“Kok uang sial sih Pak?” tanya sang istri.

“Iya, emang uang sial. Sudah disembunyikan masih ketahuan juga,” jawab Romli ketus. (Ahmad)
Sabtu 18 Mei 2019 18:50 WIB
Buka Puasa dengan Teh Panas
Buka Puasa dengan Teh Panas
Ilustrasi humor
Buka puasa telah tiba, Suhadi menepikan motornya di sebuah warteg. Ia terlebih dahulu memesan segelas teh.

“Mbak, ada teh nggak?” tanya Suhadi.

“Ada, mau dingin atau panas? Teh dingin 5.000, dan teh panas 3.000,” jawab Mbak penjaga warteg.

“Teh panas aja lah,” pinta Suhadi.

Selang beberapa waktu teh panas sudah disediakan.

“Uhhh! Panas…” ucap Suhadi seketika setelah nyruput teh.

“Ditungguin aja dulu mas, biar dingin,” kata si Mbak.

“Nggak ahh, ntar tehnya jadi 5.000,” seloroh Suhadi. (Ahmad)
Rabu 15 Mei 2019 16:15 WIB
Ngabuburit di Pasar Kaget
Ngabuburit di Pasar Kaget
Ilustrasi humor
Di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat kerap digelar pasar kaget setiap minggu. Memasuki bulan Ramadhan, pasar tersebut buka menjelang maghrib.

Melihat aneka produk yang tersedia, baik makanan, pakaian, dan lain-lain, pasar kaget di Kwitang seringkali menjadi tempat ngabuburit atau jalan-jalan menghabiskan waktu sambil menunggu buka puasa tiba.

Sabeni, warga asli Kwitang dengan beberapa temannya bermaksud ngabuburit di pasar tersebut.

Sampailah Beni ke seorang pedagang. Dia amat penasaran melihat orang berkerubung menyaksikan pedagang yang terdengar semangat meneriakkan barang dagangannya.

"Beli satu dapat dua, beli satu dapat dua," teriak pedagang.

Beni akhirnya mendekat ke pedagang tersebut dan bertanya. "Apa sih barangnya bang?" 

Pedagang: “Sepatu” (sambil menunjuk sepasang sepatu)

(Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG