IMG-LOGO
Nasional

FK-GMNU: Rekonsiliasi Kebangsaan Perlu Disuarakan

Selasa 21 Mei 2019 20:45 WIB
Bagikan:
FK-GMNU: Rekonsiliasi Kebangsaan Perlu Disuarakan
Jakarta, NU Online
Koordinator Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FK-GMNU), Amsar A Dulmanan mengingatkan betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan pasca Pemilu 2019. Menurutnya, sistem demokrasi di Indonesia terlihat melelahkan, kaitannya dengan sikap masyarakat yang terlalu fanatik dan terlalu lengah dengan berlebihan dalam bersikap. 

Ia khawatir dinamika nasional yang terjadi di Indonesia belakangan dimanfaatkan kelompok tertentu untuk memenuhi kepentingannya. Masalah  pilpres kata dia sangat kecil pengaruhnya terhadap nilai nilai kehidupan berbangsa dan bernegara jika dibandingkan dengan penyusupan ideologi yang bertentangan dengan nilai nilai Pancasila dan UUD 45. 

Pernyataan tersebut disampaikan Amsar A Dulmanan saat Talk Show dan Buka Puasa Bersama Goebox Indonesia di Hotel Mega Matra di Matraman Jakarta Timur, Selasa (21/5) sore. 

Ia menegaskan, kekhawatiran itu harus diwaspadai saat proses Pemilu berlangsung seperti saat ini. Dulmanan kemudian bercerita bagaimana dulu pendiri bangsa debat kusir mengenai sistem negara di Indonesia, apakah akan menganut sistem negara islam atau negara kesepakatan. Dan masalah itu telah usai dengan hasil yang penuh dengan kerukunan tanpa ada perpecahan serta hidup saling menghargai satu sama lain.  

“Problem rekonsiliasi itu adalah problem konstitusional, oke kalau  kita hanya berfikir  Pilpres, tidak ada problem. Problemnya hanya masalah bagaimana kepatuhan terhadap tata aturan main secara politik yang secara satu sama lain belum disepakati, belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Tapi kalau kita tarik Pilpres sebagai realitas sosial, mundur lagi ke tahun tahun 1966, 1949, 1950, 1948, 1926,” katanya. 

Dulmanan yang juga dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) ini menilai variabel eksternal tersebut sudah jelas akan mengancam perpecahan sesama anak bangsa. Untuk itu kini saatnya mengisi kemerdekaan dengan berdasarkan nilai nilai Pancasila dan kesamaan tanpa diskriminatif. 

“Kalaupun ada masalah kecurangan itu bisa di atasa dengan hukum makanya ada Bawaslu, dan MK,” ujarnya. 

Sementara itu, aktivis muda NU, Shaleh, mengatakan apa yang hari ini bangsa indonesia saksikan tidak terlepas dari perubahan konstitusi yang ada pada pemerintahan. Misalnya karena amandemen tahun 2002 yang mengubah kontestasi Pemilu yang mengharuskan masyarakat terlibat secara langsung, sehingga masyarakat pun harus ikut berdebat adu gagasan soal sistem pemerintahan yang sebenarnya belum memahaminya secara utuh.  

“Sangat disayangkan jika suhu politik di masyarakat masih berlangsung, sebab kontestasi yang hanya dilakukan 5 tahunan ini dikhawatirkan dapat memutus persahabatan dan kekeluargaan,” tuturnya. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 21 Mei 2019 23:15 WIB
Rangkul Anak Yatim, Mendes Gelar Buka Bersama
Rangkul Anak Yatim, Mendes Gelar Buka Bersama
Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo
Jakarta, NU Online
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar buka puasa bersama seluruh keluarga besar dilingkungan Kemendes PDTT dan anak-anak yatim di Gedung Balai Makarti Muktitama, Kantor Kemendes PDTT pada Selasa (21/5). Gelaran buka bersama keluarga besar Kemendes PDTT bertepatan dengan hari Ulang Tahun Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo yang ke-54.
 
"Terima kasih kepada seluruh jajaran dilingkungan Kemendes PDTT yang telah menggelar buka bersama ini dengan waktu yang bersamaan dengan hari ulang tahun saya. Saya juga terima kasih karena saya masih diberi kesempatan untuk berbuat bagi rakyat yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Saya berharap tugas kita dalam membangun desa menjadi lebih baik, bisa terus kita tingkatkan lagi," kata Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo.
 
Dalam kesempatan buka bersama ini, Eko menyampaikan bahwa bulan puasa menjadi salah satu pembelajaran penting untuk melatih diri agar mampu melaksanakan komitmen yang telah dibuat oleh diri kita masing-masing. selain itu, juga bulan puasa membuat ibadah seseorang menjadi lebih baik.
 
"Kita selalu diingatkan untuk melatih diri kita untuk mampu menahan diri meskipun ada berbagai macam godaan. karena kemampuan menahan diri itulah yang menentukan sukses atau tidaknya seseorang dalam mencapai cita-citanya," katanya.
 
Eko berharap, kepada seluruh jajaran dilingkungan Kemendes PDTT maupun masyarakat yang berpuasa dapat dimudahkan dalam menjalankan ibadah puasanya dan dapat merayakan hari kemenangan bersama pada Idul Fitri yang merupakan kemenangan kita bersama karena berhasil berbuat baik dan mampu untuk dapat menahan diri dari berbagai macam cobaan karena memiliki komitmen diri yang kuat untuk selalu berbuat baik," katanya.
 
Kegiatan buka puasa bersama jajaran dilingkungan Kemendes PDTT dan anak-anak yatim ini merupakan acara yang setiap tahunnya digelar saat bulan Ramadhan yang bertujan untuk mempererat silaturahim seluruh pegawai. Kegiatan ini dihadiri oleh para pejabat dan pegawai dilingkungan Kemendes PDTT serta turut dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri. 

Selasa 21 Mei 2019 22:30 WIB
Manusia Dianjurkan Menahan Tiga Kesabaran ini
Manusia Dianjurkan Menahan Tiga Kesabaran ini
Sekretaris LDNU HM Bukhori Muslim (ketiga dari kiri)
Jakarta, NU Online
Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU H Mochammad Bukhori Muslim menyatakan salah satu sikap orang yang bersyukur, yakni menerima nikmat yang besar dari Allah SWT, di bulan Ramadhan adalah dengan bersabar.

“Syukur dengan sabar itu berdempatan. Cara bersyukur di bulan Ramadhan itu bersabar,” kata Bukhori Muslim pada kultum puasa di di Masjid An-Nahdlah Gedung PBNU Jl Kramat Raya No 164, Jakarta Pusat, Senin (21/5).

Bukhori lantas mengutip Imam Nawawi tentang sabar yang dibagi menjadi tiga macam, yakni sabar dalam ibadah, sabar dalam maksiat, dan sabar dalam menerima musibah.

Pertama, sabar dalam ibadah. Ia mencontohkan seseorang yang harus sabar dalam beribadah, seperti sabar ketika shalat tarawih lalu menemukan shalat imam yang lama dan sabar dalam bersedekah.

Terkait pentingnya menyedekahkan sesuatu yang dicintainya, Allah dalam Al-Qur'an Surat Ali Imron ayat 92 menyatakan:

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

“Bapak-bapak, 100 ribu sama 2 ribu lebih cinta mana? (100 ribu). Tetapi lebih cinta mana? Sedekah 2 ribu sama 100 ribu lebih sabar mana? (sedekah). Seribu itu gampang. Tapi 100 ribu itu butuh pikir panjang,” ucapnya. 

Kedua, sabar dalam maksiat. Menurut dia, seseorang menahan maksiat seperti tidak ikut memberikan komentar negatif atau saling menjelekkan di media sosial. “Makanya, puasa itu kan imsak, menahan. Nahan jangan maksiat,” tandasnya.

Ketiga, sabar menghadapi musibah. Ia mencontohkan sabar saat tidak menerima Tunjangan Hari Raya (THR). “Ayo kita upayakan mudah-mudahan Allah benar-benar pilih kita khoiro ummatin di bulan mulia,” ucapnya. (Husni Sahal/Musthofa Asrori)

Selasa 21 Mei 2019 22:0 WIB
Muhibbah Qawwali Sufi India Manggung di Unipdu Jombang
Muhibbah Qawwali Sufi India Manggung di Unipdu Jombang
Ramadhan Kareem Muhibbah Qawwali Sufi India di Unipdu.
Jombang, NU Online
Kerja sama saling menguntungkan terus dijalin oleh Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Yang terbaru, kampus yang berada di lingkungan Pesantren Darul Ulum ini menjalin kemitraan dengan pemerintah India.

Hal tersebut dibuktikan dengan kegiatan Ramadhan Kareem Muhibbah Qawwali Sufi India yang berlangsung Selasa (21/5). Kegiatan dipusatkan di auditorium kampus Unipdu dan disambut antusias pimpinan dan mahasiswa kampus setempat.

“Sekadar diketahui bahwa kegiatan ini hanya dilaksanakan di tiga tempat, yaitu Pengurus Besar Nahdlaatul Ulama atau PBNU di Jakarta, Unipdu Jombang dan Universitas Maarif Hasyim Latif atau Umaha Sidoarjo,” kata H Zulfikar As’ad kepada NU Online.

Menurut Wakil Rektor Unipdu ini, kegiatan sebagai rangkaian dari kerja sama antara PBNU dan Pemerintah India. “Ini sekaligus peringatan 70 tahun hubungan Indonesia dan India,” terang Gus Ufik, sapaan akrabnya. 

Menurutnya, kerja sama diawali dengan pameran foto dan kebudayaan India di Kantor PBNU, jalan Kramat Raya Jakarta Pusat. “Dan Muhibbah Qawwali Sufi India adalah sebagai mata rangkai dari kerja sama tersebut,” ungkap doktor lulusan Unair Surabaya ini. 

“Alhamdulillah, tampilan mereka di Unipdu berlangsung meriah meski siang hari, audiens sangat antusias dan mengikuti kegiatan dengan khidmat,” bangga Gus Ufik.

Manfaat dari kerja sama ini akan dirasakan para mahasiswa dan dosen di Unipdu serta santri Pesantren Darul Ulum. “Kami mendapatkan informasi tentang kesempatan beasiswa dari negara India untuk program S1, S2 dan S3 bagi santri Pesantren Darul Ulum, mahasiswa dan dosen Unipdu,” jelasnya. 

Dalam pandangan Gus Ufik, kerja sama tersebut tentu akan segera ditindaklanjuti. “Seperti diketahui, India adalah salah satu negara yang memiliki kelebihan dalam bidang informasi dan teknologi,” pungkas Gus Ufik.

Kegiatan ini dihadiri Mr Makram Sukhal selaku Direktur Jawarlal Nehru Culture Center, Ketua PBNU, Mohammad Iqbal Sullam serta Hanif Saha Ghafur. (Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG