IMG-LOGO
Opini

Urgensi Puasa bagi Bangsa Indonesia

Rabu 22 Mei 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Urgensi Puasa bagi Bangsa Indonesia
Oleh: Nanang Qosim

Dalam sejarah manusia di muka bumi ini, puasa diakui memiliki peran dan fungsi yang sangat signifikan dalam membentuk kepribadian manusia yang baik. Ini terbukti dengan banyaknya tokoh dunia yang merupakan figur-figur manusia yang selalu melakukan aktivitas berpuasa dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja, mereka semua adalah para Nabi Allah yang kita muliakan. Mereka semua tidak lain adalah contoh-contoh  teladan dari kalangan agamawan yang terlatih di dalam melaksanakan ritual puasa tersebut. 

Pun, puasa sangatlah diperlukan oleh seorang manusia dalam rangka melatih ketahanan fisik guna menghadapi penderitaan yang selalu saja menyertai kehidupannya. Karena dengan berpuasa seseorang akan terbiasa menghadapi cobaan hidup seperti menghadapi keterbatasan yang kerap menjadi fenomena yang sering kita alami.  Bahkan, puasa dapat mengajarkan kepada manusia untuk selalu bersikap empati terhadap penderitaan yang diderita oleh sesama manusia. Puasa juga mendorong manusia untuk rela berbagi antar sesama umat manusia. 

Di negeri ini (Indonesia) yang setiap tahunnya kedatangan Ramadhan dan sebagian besar pemimpin dan rakyatnya adalah beragama Islam, tentunya mereka semua turut berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan keagamaan di bulan Ramadhan ini. Oleh sebab itu, dengan banyaknya penduduk di negeri ini yang berpuasa, sejatinya bangsa ini akan mampu menghasilkan para pemimpin yang berkualitas dan juga rakyat yang kuat di dalam mengemban tugas sehari-hari. 

Sudah waktunya dengan berpuasa bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang besar dan kompetitif di dunia intenasional. Karena tanpa kita sadari, dengan berpuasa bangsa ini sedang mengingatkan dirinya sebagai bangsa yang ber-Tuhan seperti yang sudah tertulis di dalam sila pertama Pancasila "Ketuhanan Yang Maha Esa".  Yang berarti percaya kepada Tuhan bermakna bahwa kita selalu merasakan bahwa sikap, tindakan, batin yang ada di relung jiwa yang paling dalam selalu berada dalam pengawasan Tuhan Yang Maha Tahu. Larangan makan dan minum di siang hari tanpa harus diawasi oleh siapa pun membuat kita tumbuh sebagai bangsa yang jujur, yang bisa dipercaya dan yang selalu siap berbuat baik. 

Menjadi Lebih Maju

Dengan berpuasa bangsa Indonesia akan lebih maju dalam mengembangkan kepribadian yang baik. Sebagaimana terlihat, kepribadian tersebut terbentuk dengan latihan merasakan rasa lapar dan haus yang pada dasarnya kita sedang melatih untuk prihatin, dan yang pada gilirannya akan mengembangkan wawasan sosial, kepedulian sosial dan sikap empati bagi sesama manusia. Puasa juga melatih bangsa ini untuk memiliki wawasan yang tidak sesempit diri dan kelompok. Puasa melihatkan kita bahwa di sekitar kita ada kehidupan yang layaknya mendapat perhatian. Suatu kesadaran yang sangat penting bagi kita sebagai satu bangsa.
 
Puasa yang juga melandasi kita untuk saling membantu satu sama lain, sehingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan diwujudkan secara riil di negeri ini. Falsafah hidup Bhinneka Tunggal Ika akan dapat diwujudkan apabila kita mau saling mengenal, saling prihatin, saling mengetahui dan merasakan nasib satu sama lain. Dengan cara ini maka nilai kebangsaan kita akan muncul dengan sendirinya. Namun, terlebih dulu nilai kebangsaan tersebut harus terbentuk bila seseorang ingin memberi lebih banyak dari orang lain, ingin berkorban lebih dari orang lain, ingin memberi lebih banyak dari yang diterimanya. 

Baik buruknya sebuah negara dapat dilihat dari hubungan yang terjadi antara sesama anggota masyarakatnya. Bila masyarakat secara umum cenderung untuk sedikit berbuat dan banyak menuntut, banyak menuntut tidak mau memberi, maka negara tersebut cenderung menjadi lemah dan kacau. 

Bangsa menjadi lemah karena tidak mempunyai tabungan, tidak mempunyai cadangan bila terjadi krisis. Begitu pun menjadi lemah tatkala elemen bangsa cenderung mementingkan diri sendiri. Maka, dengan berpuasa, bangsa Indonesia dapat membentuk anggota masyarakat yang siap berkorban dan tidak banyak menuntut kepada negara namun selalu berusaha memberi lebih banyak dari yang mereka terima. Bangsa dengan mentalitas seperti ini akan berubah menjadi bangsa yang maju, karena memiliki sumber daya yang luas. Akhirnya, bangsa ini akan menjadi bangsa yang kaya, dan tidak ada rakyat yang hidup dalam kekurangan.

Demikian pula, bangsa ini  akan lemah apabila antar elemen bangsanya saling terkam-menerkam, mencari kesalahan yang lain dan saling menjatuhkan, sehingga roda pembangunan menjadi terhenti. Bangsa yang berpuasa akan menciptakan anggota masyarakat yang selalu berusaha mencari kebaikan dan melihat segi positif anggota masyarakat lainnya. 

Oleh karena itu, di sinilah fungsi dan peran puasa yang bisa mengajarkan kita untuk saling membantu yang lemah. Puasa pun mengajarkan kita untuk bersikap ikhlas tidak terlalu menghitung-hitung kelebihan dan prestasi kita, lebih jauh lagi kita diajarkan lewat nilai-nilai puasa untuk menutupi kelebihan dan prestasi diri. Dengan kualitas kepribadian bangsa seperti ini maka bangsa Indonesia diharapkan mampu menjelma menjadi bangsa yang kuat dan sejahtera. Amin.

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Prodi PAI UIN Walisongo Semarang, Pengurus ISNU Kabupaten Demak, Jawa Tengah. 


Bagikan:
Selasa 21 Mei 2019 19:30 WIB
Belajar dari Kisruh Pascapemilu di Belahan Dunia
Belajar dari Kisruh Pascapemilu di Belahan Dunia
Oleh Achmad Murtafi Haris

Ada beberapa catatan dari rentetan hiruk-pikuk Pemilu 2019. Khususnya terkait dengan perlawanan kubu 02 terhadap hasil penghitungan suara yang memenangkan kubu 01 Jokowi-Makruf. Tanpa menyangkal kemungkinan kecurangan dilakukan oleh pihak yang menang, tapi kecenderungan tidak bisa menerima kekalahan adalah masalah mendasar dalam kontestasi apapun. 

Konflik Pascapemilu di Empat Negara
Banyak konflik bahkan perang sipil terjadi akibat ketidak mampuan menerima kekalahan Pemilu.  Di negara Afrika kerap terjadi hal itu. Juga di Amerika Latin seperti di Honduras di mana bentrokan terjadi antara polisi anti huru-hara dan pendukung paslon yang kalah meski Pemilu sudah lewat dua tahun. Pemilu 2017 yang dimenangkan oleh Hernandez lawan Manuel Zelaya (mantan presiden) ternyata menyisakan kerusuhan yang tidak kunjung usai.

Sementara di Mesir, Pemilu 2012 yang memenangkan Muhammad Mursi dari kelompok Ikhwanul Muslimin pada akhirnya memunculkan gerakan penolakan massal yang berujung penggulingan sang presiden oleh militer. Abdel Fatah el-Sisi sang jendralpun melenggang ke tampuk kekuasaan meneruskan kekuasaan junta militer di sana. Parlemen Mesir belum lama ini bahkan menyetujui perpanjangan kekuasaan el-Sisi hingga 2030. Suatu hal yang bertentangan dengan prinsip rotasi kepemimpinan periodik dalam praktik demokrasi. Pergolakan sepanjang pelengseran memakan seribu korban nyawa. Korban nyawa terbesar jatuh saat pembubaran paksa demonstran pendukung Mursi yang bertahan berbulan-bulan di lapangan masjid Rabi’ah Adawiyah.

Di negara maju, konflik pascapemilu juga terjadi. Pascakemenangan Donald Trump melawan Hillary Clinton pada Pemilu Amerika Serikat 2016, warga New York yang mayoritas memilih Hillary melakukan demonstrasi menolak kemenangan Trump. Namun aksi-aksi itu akhirnya reda dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. 

Dari ketiga contoh keributan pascapemilu di Honduras, Mesir, Amerika dan Prancis, nampaknya apa yang terjadi di Amerika adalah relatif paling baik. Kekalahan Hillary Clinton yang sungguh di luar dugaan, sangat bisa dimaklumi meninggalkan kekecewaan berat di kalangan pendukungnya terutama di New York. Tetapi penolakan akan hasil Pemilu itu tidak berlangsung lama. Hebatnya lagi, Hillary yang menang secara populist vote tapi kalah secara elektoral, dengan cepat menerima kekalahan dan menyatakannya di depan publik. Dalam pidatonya dia mengajak para pendukungnya untuk menerima kekalahan dan tetap berbuat yang terbaik untuk Amerika.

Hillary mengingatkan akan fondasi demokrasi yang harus dijaga yaitu pergantian kepemimpinan yang aman. Dia memotivasi para kaum perempuan muda bahwa masa depan terbuka untuk mereka menjadi Presiden Amerika. Sebuah harapan yang pudar seiring kekalahannya dalam Pilpres. Dia juga menanamkan jiwa besar dan menyampaikan pengalamannya yang panjang di dunia politik bahwa berjuang untuk kebenaran tidak pernah rugi (Never stop believing that fighting for what is right is worth it). Pidato yang sungguh menenangkan hati, menghibur jiwa, menyadarkan akan mahalnya nilai perjuangan dan membangkitkan optimisme para pendukung yang  sedang menangis badai karena kekalahan.

Tragedi Terparah Pascapemilu Amerika 
Konflik pascapemilu di negara Paman Sam bukanlah suatu hal yang aneh. Pada awal pendirian negara, 1804, Aaron Burr Wakil Presiden Thomas Jefferson, terlibat pembunuhan lawan politiknya Alexander Hamilton sekretaris keuangan George Washington. 

Pada tahun Pemilu 1820 terjadi perang sipil seiring dengan memanasnya isu ras dan agama. Yaitu kekhawatiran kaum kulit putih Protestan terhadap kehadiran warga Irlandia dan Jerman yang Katolik. Mereka, kaum Protestan, mengkhawatirkan identitas Amerika yang dominan akan tergerus oleh pendatang baru. Mereka pun membuat Partai Amerika yang anti-Katolik pada1850an. Konflik berdarah terjadi pada pemilu 1855 yang terkenal dengan sebutan ‘Bloody Monday’ di mana 22 warga asal Jerman dan Irlandia meregang nyawa di Louisville, Kentucky untuk menghalangi mereka ikut serta dalam pencoblosan. 

Yang paling parah adalah pada pilpres 1860 yang mempertandingkan empat calon presiden dan berakhir dengan kemenangan Abraham Lincoln. Lincoln meraih 39,9% suara yang kemudian ditolak oleh warga Amerika bagian Selatan yang berujung pada perang sipil. Meski Lincoln tidak mendukung perubahan drastic system perbudakan namun warga yang tinggal di Amerika bagian Selatan meyakini bahwa kebijakan Lincoln akan mengarah ke sana: kemerdekaan para budak. Karenanya warga bagian selatan menuntut pemisahan diri dari Amerika yang kemudian ditolak oleh Lincoln. Ketegangan berlanjut hingga terjadi perang sipil dan terbunuhnya Lincoln sendiri. 

Setelah kemenangan bagian utara atas selatan, konflik masih terjadi dalam kaitannya dengan Pemilu. Yaitu ketika warga bagian utara menuntut warga Afro-Amerika yang berkulit hitam diberi hak pilih dan tuduhan bahwa mereka akan dijadikan pendulang suara Partai Republik. Pada 1873 pembantaian terjadi atas seratusan warga Afro-Amerika yang menjadi pengawas Partai Republik dalam pemilihan gubernur. 

Demikianlah, Amerika yang telah melewati perjalanan panjang demokrasi menyimpan kejadian tragis Pemilu. Jika diamati, itu semua terjadi tatkala Pemilu bersentuhan dengan isu SARA: Suku, Agama dan Ras dan Antargolongan. Dalam Pemilu 2019 kali ini di Indonesia, isu sejenis muncul dan digunakan untuk pendulang suara. Akankah tragedi buruk bakal menimpa Indonesia seperti halnya Amerika dua abad lalu?! Semoga tidak. Dan semoga ada solusi yang berujung pada penerimaan semua pihak akan hasil Pemilu. 

Penulis adalah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.

Selasa 21 Mei 2019 10:15 WIB
NU Factor
NU Factor
Oleh M Kholid Syeirazi

Setelah melalui kontestasi yang melelahkan, saya bersyukur Jokowi-KMA akhirnya menang melawan narasi politik identitas. Unggul 55 persen boleh dibilang tidak setimpal dibandingkan dengan apa yang sudah dicapai Jokowi selama 4 setengah tahun. Bandingkan dengan kemenangan SBY di periode kedua yang menyentuh angka 66 persen.

Kerja-kerja nyata Jokowi, yang secara teori adalah aset paling tangible untuk dibarter dengan dukungan elektoral seperti pembangunan infrastruktur yang massif, bagi-bagi sertifikat, segala jenis Kartu Indonesia Sejahtera, dan lain-lain ternyata sama sekali tdk dibeli oleh rakyat Indonesia. Jokowi menang bukan karena itu semua. Bahkan fakta bahwa Jokowi berhasil menyingkirkan keluarganya dari arena kekuasaan, sesuatu yang sering menjadi titik lemah dari seorang pemimpin, kalah digilas oleh isu-isu edan tentang asal-usul keturunannya.

Jokowi menang di tengah politik pascakebenaran yang basisnya bukan data dan fakta, tetapi rumor dan opini yang yang diracik dengan bumbu-bumbu agama. Bagi saya kinerja Jokowi patut diapresiasi, meski tidak sempurna, tetapi Jokowi tidak dipilih lagi karena prestasinya. Jokowi dipilih lagi karena dia adalah lawan dari politik identitas yang kental di kubu lawannya. 

Dan di titik ini, pilihan Jokowi menggandeng KMA adalah pilihan terbaik. Saya merasa pilihan itu tidak lahir dari kalkulasi politik an sich, tetapi dari firasat, insting, krenthek atau khatharat yang dibimbing dari ketajaman visi seorang pemain politik ulung. Andaikata bukan KMA, sebelum dipinang sebagai Cawapres adalah simbol tertinggi kepemimpinan NU, saya tidak bisa membayangkan Jokowi bisa bertahan dari bulan-bulanan agresi politik identitas yang mengerikan.

Jokowi menang karena keunggulan di dua basis wilayah gemuk di mana NU dan kelompok nasionalis kuat yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setahu saya, baru kali ini NU nyaris solid dalam kontestasi Pilpres. Nahdliyin yang terafiliasi dengan partai pendukung Paslon 02 mungkin pengecualian. Kita juga tidak menutup mata adanya sejumlah Kiai dan Gus yang sejak lama berteman dan mendukung Prabowo.

Ada juga petualang politik yang hobi dengan bola-bola pendek. Tetapi, menurut saya, jumlah mereka relatif kecil. Jumhur (mayoritas) Nahdliyin, elite dan massanya, bukan hanya mendukung, tetapi aktif mengajak orang untuk memenangkan Paslon 01.

Faktor bahwa Jokowi menggandeng KMA, bekas simbol tertinggi organisasi NU, adalah hal penting. Tetapi, yang lebih penting lagi, NU bergerak karena adanya ancaman terhadap narasi kebangsaan yang selama ini menjadi misi kembar NU, yaitu mas´uliyah diniyah (tanggung jawab keagamaan) dan mas´uliyah wathaniyah (tanggung jawab kebangsaan). Faksi dan narasi kubu sebelah adalah reinkarnasi gerakan 212 yang dianggap bertolak belakang dengan dua misi ganda NU, karena itu Nahdliyin aktif di seluruh tingkat melawan arus mereka.

Saya tahu ada pihak yang mengecilkan faktor NU dalam kemenangan Jokowi dengan mencuplik data parsial untuk menjustifikasi klaimnya itu. Tujuannya jelas, agar NU tidak terlalu ikut mengatur  pemerintahan. Saya kira anggapan itu salah. NU adalah kekuatan civil society. Tugas NU mengantarkan kepemimpinan nasional ke tangan orang yang tepat, yang kompatibel dengan misi keagamaan dan kebangsaan NU. Setelah itu NU balik kandang, melakukan fungsi sosial keagamaan dan kekuatan sipil yang mengontrol dan mengawasi pemerintahan. 

NU tidak perlu pengakuan karena semua orang mengakui NU sebagai organisasi besar yang setia mengawal NKRI. Andaikata NU diam, jarak Indonesia dengan Suriah dalam hal nasib mungkin tinggal sekian senti di tengah meruyaknya pekik-pekik takbir. Di titik ini saya tidak terlalu kaget.

Seorang sangat senior di kantor saya, seorang pemeluk Katolik, tiba-tiba menyalami saya dengan cara membungkukkan badan dalam-dalam. Saya terkejut karena nyaris mencium tangan saya. Tentu saja ini tidak patut. Dia mengucapkan selamat dan terima kasih. Andaikata bukan karena NU yang berjibaku dan pasang badan, “Saya tidak tahu bagaimana dengan nasib Jokowi,” katanya.

Saya lebih percaya pengakuan jujur masyarakat umum seperti ini ketimbang persepsi tendensius seorang partisan atau pengamat. NU mungkin bukan penentu kemenangan Jokowi–anggap saja kita ikut dawuh pengamat itu–tetapi tanpa NU, Jokowi akan tumbang digilas politik pascakebenaran.


Penulis adalah Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)
Senin 20 Mei 2019 8:0 WIB
Menguak Sistem Pesantren
Menguak Sistem Pesantren
Oleh R. Ahmad Nur Kholis 

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam salah satu artikel yang dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah mengisahkan bahwa ia pernah bertanya kepada Kiai Adlan Ali sebagai seorang kiai besar yang pernah nyantri kepada Kiai Hasyim As’ari. Pertanyaan tersebut kurang lebih demikian: 

“Kiai Anda belajar apa saja ketika nyantri kepada Kiai Hasyim?” Tanya Gus Dur.

“Ah, saya kepada Kiai Hasyim hanya belajar kitab Taqrib saja,” jawab Kiai Adlan.

Kiai Adlan Ali adalah seorang kiai di Jombang yang merupakan salah satu santri Kiai Hasyim Asy’ari yang menjadi kiai besar. Penulis juga pernah mendengar Kiai Ali Mushtafa di Pamekasan selama belasan tahun mondok hanya mengaji kitab Durratun Nashihin; Syarah Ibnu Aqil, Riyadlus Shalihin, dan Fathul Qarib saja selama di pesantren. 

Secara sekilas kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa muatan kurikulum di pesantren hanya sekian saja. Meskipun pernyataan ini sepenuhnya tidak dapat dibenarkan. Karena hampir semua pesantren di Indonesia mengkaji berbagai macam kitab yang ditulis pada abad pertengahan. Hal demikian ini dengan berbagai macam tema dan judul kitab yang ada. Akan tetapi setiap pesantren memiliki beberapa literature tetap yang dikaji secara kontinyu. Dalam arti bahwa ada beberapa kitab yang dikaji sampai khatam dan kemudian diulang lagi dari awal. 

Dalam kenyataannya, di sebuah pesantren ada yang menggunakan beberapa literatur lintas bidang sebagai bahan kajiannya. Seperti di Pesantren PPAI Ketapang Kepanjen yang mengkaji secara rutin kitab Fathul Mu’in,  dan Fathul Wahab yang merupakan bidang kajian fikih dan Shahih Bukhari yang merupakan kitab hadits. Beberapa literatur lain digunakan namun bisa diganti dengan kitab lain jika sudah khatam. Hal demikian ini dijalankan sejak pesantren ini diasuh pendirinya sendiri Kiai Ahmad Said sampai sekarang.

Penulis sendiri sewaktu mondok di Pondok Pesantren Sumber Bungur, sang kiai pengasuh hanya mengajarkan kepada penulis selama 3 tahun keberadaan penulis di sana kitab Matan Jurumiyyah secara rutin dan kontinyu. Dalam arti bahwa, ketika kitab jurumiyyah ini khatam maka diulangi kajiannya dari awal lagi. Adapun kitab yang lain—masih dalam satu bidang nahwu—seperti kitab Mutammimah, Kafrawi, Nubdzah dan Ibnu Aqil sebagai kajian tambahan atau sebagai mengisi kegiatan Ramadhan yang disebut kilatan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana bisa pesantren menjadi sebuah pusat studi Islam dengan kurikulum yang relative statis seperti itu? Jawabannya adalah karena kegiatan pembelajaran di pesantren mengutamakan kemendalaman dan pengamalan ilmu serta penanaman nilai moral dalam kegiatan pendidikannya. 

Kita mengetahui bahwa banyak di antara para santri pesantren terutama yang sudah senior, mengkaji satu kitab kuning kepada berbagai guru di pesantren. Hal ini dengan sendirinya membawa seorang santri ke dalam pemahaman yang filosofis setidaknya mengenai kitab tersebut. Dan pengajian tambahan sebagaimana telah disebutkan akan memperluas wawasan akan sebuah bidang ilmu tertentu.

Dengan demikian tidaklah berlebihan jika pesantren sebagai lembaga pendidikan nonformal dalam budaya pendidikannya telah membawa para santrinya ke dalam pemahaman yang menjadi tujuan dari sekolah doktoral. Tentu saja dalam bidang keislaman. Bukankah tujuan dari strata tiga adalah pemahaman filosofis akan suatu bidang ilmu bagi mahasiswanya? 

Pemahaman filosofis akan Islam ini menjadi penting bagi kita untuk menjelaskan Islam secara kaffah. Karena pemahaman filosofis ini membawa kita mengetahui konstruksi pemahaman Islam yang relatif kamil (sempurna) dan syamil (komprehensip). 

KH Hasyim Asy’ari menjelaskan mengenai adab seorang pebelajar dengan gurunya dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Kiai Hasyim menyebutkan ada 12 (dua belas) adab. Dan pada adab yang kedua ia menyatakan demikian:

“Pebelajar harus berusaha untuk berguru kepada orang yang sudah mempelajari ilmu syariah secara matang. Dan seorang guru itu harus kredibel dan diakui keulamaannya di masanya itu. Telah banyak melakukan telaah  dan sudah lama berijtima’ (dalam arti menguji keilmuannya) dengan sesama ulama yang lain.” (Kitab Adabul Alim wal Muta’allim halaman:29)

Dan penekanan yang penting harus diketahui adalah pada lanjutan statemen itu, yakni:
“(guru tersebut) bukanlah orang yang hanya mengambil ilmu dari lembaran-lembaran buku saja. Dan tidak pernah mengaji kepada ulama yang mumpuni.” (Kitab Adabul Alim wal Muta’allim halaman:29)

Kiai Hasyim lalu mengutip maqolah dari Imam Syafi’i yang mengatakan: “Barang siapa belajar (agama) hanya dari lembaran kertas (buku) saja, maka ia sama saja seperti menghilangkan hukum (agama) itu sendiri.” (Kitab Adabul Alim wal Muta’allim halaman:29)

Mengethui perkara di atas, adalah sangat ironi bagi kita jika kita harus belajar dari terjemahan saja. Atau bahkan belajar kepada orang yang hanya belajar dari terjemahan saja. Karena hal itu justru hanya akan mereduksi agama itu sendiri. 

Terjemahan memang mencukupi sebagai konsumsi praktis. Tapi masih jauh dari cukup untuk memahami agama sampai pada tahap tabahhur (mendalam dan luas) dalam sebuah ilmu agama. Dan sangat jauh dari cukup untuk memahami agama secara filosofis. Sehingga adalah tidak pantas bagi seseorang yang hanya membaca terjemahan Al-Qur’an misalnya lalu membuka pengajian untuk umum dengan dalih mengkaji agama. Sebagai tabligh mungkin saja bisa dibenarkan. Akan tetapi sebagai kajian agama untuk memfonis bahwa ini benar ini salah dan apalagi hanya untuk menyalahkan orang lain dan merasa dirinya paling benar, adalah sebuah kesalah kaprahan yang luar biasa.

Mungkin saja orang yang demikian ini tersalah dalam memahami makna dakwah yang berarti tabligh untuk menyampaikan Islam dengan ta’lim yang berarti kajian Islam. Maka dari itu jika ingin mengaji agama, marilah ke pesantren.


Penulis adalah Nahdliyin, tinggal di Malang

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG