IMG-LOGO
Trending Now:
Internasional

Beda Tarawih di Indonesia, Maroko, dan Yaman

Rabu 22 Mei 2019 11:0 WIB
Bagikan:
Beda Tarawih di Indonesia, Maroko, dan Yaman
Jakarta, NU Online
Shalat tarawih menjadi salah satu kesunahan utama dalam mengisi bulan Ramadhan mengingat hanya ada di bulan suci ini saja. Meskipun ulama sepakat akan sunahnya, tetapi tidak ada kesepakatan di kalangan ulama perihal jumlah rakaatnya. Hal tersebut sudah maklum di seluruh umat Islam, hatta orang awam sekalipun.

Perbedaan itu tidak saja terjadi di Indonesia. Masyarakat Timur Tengah juga mengalami hal yang sama. Kakak beradik yang tengah studi di dua negara berbeda ini, misalnya.

Ro'fat Hamzi, sang kakak,menuturkan bahwa jumlah rakaat shalat tarawih di Tarim, Hadramaut, Yaman adalah 20 rakaat. "Seperti di pesantren di Indonesia, shalat tarawih 20 rakaat," katanya kepada NU Online pada Selasa (21/5).

Lebih lanjut, Hamzie menjelaskan bahwa masyarakat Yaman dan beberapa mahasiswa asal Indonesia bahkan melakukan tarawihnya 100 rakaat selama satu malam karena mengikuti tarawih di lima masjid berbeda. Mereka berkeliling dari satu masjid ke masjid lain.

"Biasanya sih ada mahasiswa yang sering begitu," kata mahasiswa Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadramaut, Yaman itu.

Perihal tarawih keliling itu, Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Universitas Al-Ahgaff, kata Hamzie, berinisiatif menyusun jadwal tarawih setiap masjid di seantero Kota Tarim. "Karena Tarim itu masjidnya banyak," katanya.

Namun, bacaan Al-Qur'an di sana, lanjutnya, berbeda dengan di Indonesia. Jika umumnya masyarakat Indonesia menggunakan riwayat Hafsh dari Imam 'Ashim, masyarakat Tarim umumnya menggunakan bacaan Al-Qur'an riwayat Ad-Duri dari Abu Amr.

Berbeda dengan adiknya, Safrie Ilman yang tengah studi di Maroko. Ia menuturkan bahwa di tempatnya, tarawih dilakukan 16 rakaat. Selepas Isya, ia melaksanakan tarawih delapan rakaat dan delapan rakaat lagi sebelum sahur.

"Imamnya diambil dari santri-santri muassasah sendiri, juga orang-orang tetangga muassasah," kata pelajar Madrasah al-Fath Khos li Ta'lim al-'Atiq, Aioun, Maroko itu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap dua rakaat, imam berganti. Selama delapan rakaat itu, bacaan surat setelah surat Al-Fatihah satu hizb.

"Jadi satu hizb buat tarawih delapan rakaat setelah Isya, dan satu hizb lagi buat tarawih delapan rakaat sebelum Subuh," ujarnya.

Lamanya tarawih di Maroko juga karena imam menggunakan qiraat Imam Nafi' riwayat Warsy yang banyak terdapat bacaan mad lazimnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Rabu 22 Mei 2019 19:30 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Tadarus Yasin Bakda Tarawih di Amsterdam
Tadarus Yasin Bakda Tarawih di Amsterdam
Tadarus Al'Quran di Masjid Al-Ikhlas Belanda.
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Maka pada bulan ini sudah sepantasnya kaum Muslimin membaca al-Qur'an berulang-ulang kali sampai khatam. Minimal jika tidak bisa khatam sendirian, maka bacalah bersama-sama dengan Tadarusan. Tadarus akan membuat kita bertambah semangat membaca Al-Qur'an karena membacanya secara estafet bergantian. Sementara yang satu membaca, yang lain menyimak dan mendengarkan.

Di Amsterdam pun ada Tadarusan yang dirancang oleh PPME Al-Ikhlash untuk meramaikan dan mengisi keberkahan Ramadhan. Dipimpin oleh Ustadz Tamsil, secara bergantian dan estafet disambung oleh Ustadz Muharram dan Ustadz Faisol. Namun, Tadarusan ini tidak mengejar khatam Al-Qur'an.

"Bisa berkumpul dan bersama-sama membaca Al-Qur'an saja sudah alhamdulillah, karena kesibukan dan jauhnya rumah dari masjid," ungkap Maman Dani, salah satu jamaah Tadarusan.

Tadarusan di sini adalah rutin membaca surat Yasin dan Al-Waqiah setiap malam bakda Tarawih, dimulai dari pukul 00.15 sampai 01.00.

"Pembacaan Surat Yasin dan Al-Waqiah ini dilakukan di samping untuk memperlancar bacaan dan membiasakan membaca Al-Qur'an, diharapkan dengan membaca rutin Yasin dan Al-Waqiah ini akan memudahkan segala urusan dan melancarkan rezeki bagi yang membaca dan mendengarkannya," kata Ustadz Tamsil, pengurus PPME Al-Ikhlash Divisi Dakwah.
 
Harapan Ustadz Tamsil ini sebagaimana di dalam sebuah riwayat hadits disebutkan, "Dari Anas bin malik, Rasulullah bersabda: Barang siapa yang membiasakan membaca Yasin setiap malam maka tanpa terduga dia menemui ajalnya, maka matinya dalam keadaan syahid." (HR Atthabrani).

Begitu juga keutamaan membaca surat Al-Waqiah disebutkan dalam sebuah riwayat hadits dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah, ia tidak akan tertimpa oleh kefakiran selamanya." Maka membaca kedua surat ini merupakan doa dan upaya untuk meningkatkan ibadah dan mengisi bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Jamaah yang mengikuti Tadarusan ini sekitar 15 orang setiap malamnya. Dari jamaah laki-laki tujuh orang, dan dari jamaah perempuan delepana orang. Tadarusan ini semakin menambah kekhusyukan di tengah malam di Amsterdam. Apalagi dibacakan oleh suara bernada murottal oleh Ustadz Muharrom, Ustadz Tamsil, dan Ustadz Faisol.

Setelah jamaah beristirahat sebentar sampai pukul 03.00, mereka bangun kembali untuk menyantap menu sahur bersama. Indah dengan kebersamaan. Berkah dengan berjamaah. Puasa yang berlangsung selama 17 jam di musim semi Belanda ini, seakan tidak terasa lama.

Saya pun berdoa semoga dengan Tadarusan bersama semakin menambah kecintaan jamaah terhadap belajar Al-Qur'an. Karena sebaik-baik kita adalah orang yang mau mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. Mari membudayakan membaca Al-Qur'an. Dan, semoga bukan hanya di bulan Ramadhan saja, tetapi berkelanjutan kepada bulan-bulan berikutnya. Amiin.

H Khumaini Rosadi, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ichsan Bontang, Dai Tidim Jatman, Dai Ambasador Cordofa, Dosen STIT Syam Bontang, Guru PAI SMA YPK Bontang, Muballigh LDNU Bontang, Imam Masjid Agung Al-Hijrah Kota Bontang, tengah bertugas dakwah Ramadhan di Belanda.

Selasa 21 Mei 2019 18:15 WIB
Kumpulkan Bukti Pembantaian, PBB Gali 12 Kuburan Massal Korban ISIS di Irak
Kumpulkan Bukti Pembantaian, PBB Gali 12 Kuburan Massal Korban ISIS di Irak
Tim PBB menggali kuburan massal korban ISIS di Kojo (AFP)
Baghdad, NU Online
Tim penyelidik Persetikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggali 12 kuburan massal korban di Irak. Hal itu sengaja dilakukan sebagai upaya untuk mengumpulkan bukti dugaan pembantaian yang dilakukan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terhadap minoritas Yazidi.

Kepala tim penyelidik PBB, Karim Asad Ahmad Khan, mengatakan, sejak Oktober lalu pihaknya sudah merencanakan untuk melakukan penyelidikan dengan membongkar sejumlah kuburan massal. Hingga saat ini, ada beberapa kuburan massal yang sudah berhasil digali. Diantaranya kuburan di Kojo pada Maret dan kuburan di Sinjar pada April lalu. 

Meski demikian, Khan mengakui bahwa karena satu dua hal maka rencana yang dibuat itu berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. “Kemajuan terlihat lebih lambat dari yang diharapkan dalam penyelidikan. Perlu membentuk alur yang jelas dan efektif,” kata Khan, dikutip lama AFP, Senin (20/5).

Menurut Khan, penyelidikan PBB berfokus pada tiga hal. Pertama, pembantaian terhadap kaum Yazidi pada 2014. Kedua, kejahatan di Mosul dari 2014 hingga 2016. Ketiga, pembunuhan massal terhadap militer Irak di wilayah Tikrit pada Juni 2014.

Sebetulnya pemerintah Irak menolak penyelidikan oleh PBB. Kendati demikian, PBB terus melakukan penggalian makam untuk mengumpulkan kejahatan kelompok ISIS. Ada 48 orang yang tergabung dalam tim penyelidik PBB tersebut. Mereka ‘terlibat langsung’ dengan para korban dan saksi kekejaman ISIS. Di samping itu, mereka juga membuat program perlindungan untuk para saksi.

Setelah melakukan peneluran terhadap korban ISIS di Dohuk, Mosul, Tikrit, dan lainnya, tim penyelidik PBB menyimpulkan bahwa para korban mengalami berbagai macam kejahatan. Diantaranya pembantaian, perkosaan, dan perbudakan. 

Saat ini, PBB tengah berunding dengan otoritas Irak untuk menyerahkan bukti-bukti terkait kekejaman ISIS. Mereka siap manakala diminta untuk memaparkan bukti-bukti tersebut dalam persidangan untuk mengadili kelompok ISIS.

Pada November 2018, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah meninggalkan 202 kuburan massal di seluruh wilayah Irak. Sebagian besar kuburan massal ISIS tersebut ditemukan di wilayah utara dan barat Irak yang memang pernah dikuasai ISIS selama rentang waktu 2014 hingga 2017. 202 kuburan massal itu berisikan sekitar 12 ribu orang. Mereka adalah korban dari kekejaman ISIS. (Red: Muchlishon)
Selasa 21 Mei 2019 16:0 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Menikmati Makanan Indonesia di Belanda
Menikmati Makanan Indonesia di Belanda
Penulis (kiri) di depan Warung Pojok Sari di Belanda.
Rasa masakan Indonesia memang tidak asing lagi bagi orang-orang Belanda. Mungkin karena dulu nenek moyang mereka pernah tinggal di Indonesia, sehingga sangat familiar dengan menu makanan ala Indonesia. Restauran Indonesia di Belanda pun tidak pernah sepi dari pelanggan setianya yang keluar masuk warung di saat makan sore pukul 18.00 waktu Belanda. Saya melihat sendiri pemandangan pelanggan yang tidak pernah berhenti keluar masuk itu.

Salah satu restauran yang ada adalah milik Bu Ismiyatun dan Pak Amin yang terletak di Harleem, Netherland, namanya Pojok Sari. Letaknya tidak jauh dari stasiun kereta Harleem. Banyak orang-orang Belanda singgah untuk membeli makan dan cemilan di warung ini. Dengan konsep sederhana seperti warung makan Padang atau warung Tegal di Indonesia, para pelanggan bisa memilih lauk pauk yang mereka inginkan. Dan, ternyata smoor glinding, menjadi menu pilihan favorit untuk mereka.

Nasi rames atau nasi campur juga mereka suka. Harganya sudah jelas dipampang di daftar menu. Sehingga, tidak ada yang kecewa, karena mereka membeli sesuai keadaan kantong. Kalau membeli satu paket menu harganya lebih murah ketimbang membeli hanya lauknya saja dengan konsep ditimbang per gramnya. Seperti memilih oseng-oseng sayur kacang panjang saja, ditimbang dalam sebuah microwave ware. Harga per 100 gramnya sekitar €3,00 atau kurang lebih Rp48.000

Sebelum mengawali puasa, di tanggal 5 Mei 2019 lalu, saya menyambangi restauran tersebut. Saya ditemani oleh Beestuur atau Pengurus PPME Al-Ikhlas Amsterdam, Pak Opang Kamal,  Bu Moti, dan Bu Iik Sukidjo. Pojok Sari salah satu warung milik orang Indonesia yang memiliki restauran serupa, seperti Warung Solo milik Bu Sri Hartutik, Warung Madjoe milik Pak Umar, Warung Adji milik Pak Budi Santoso, dan masih banyak lagi warung-warung makan Indonesia yang belum saya kenal.

Harga makan paling murah di Warung Pojok Sari adalah sate ayam lontong €7,00 setara dengan Rp112.000 dengan kurs Euro sekarang, 1 Euro sama dengan Rp16.000. Isinya lontong dan empat tusuk sate ayam. Mmhh, harga yang lumayan mahal untuk makan sate bagi orang Indonesia. Nasi komplit harganya €10,00, artinya jika dirupiahkan akan setara dengan Rp160.000. Isinya nasi, tiga lauk pauk, dua macam sayur, dan satu butir telur. Harga untuk sekali makan restauran di Belanda kurang lebih membutuhkan uang €7,00 - €12,00 atau anatara Rp120.000–Rp200.000.

Selain smoor gelinding, makanan yang disukai oleh orang-orang Belanda di Warung Pojok sari ini adalah ayam pedas, sate malas, oseng-oseng teri, empal pedas, daging rendang, daging bali, ayam kare, kerupuk dan rempeyek kacang.
Saya merasa amat bersyukurlah masih diberikan rezeki oleh Allah dan dimudahkan mendapatkan rezeki itu.

H Khumaini Rosadi, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ichsan Bontang, Dai Tidim Jatman, Dai Ambasador Cordofa, Dosen STIT Syam Bontang, Guru PAI SMA YPK Bontang, Muballigh LDNU Bontang, Imam Masjid Agung Al-Hijrah Kota Bontang, tengah bertugas dakwah Ramadhan di Belanda.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG