IMG-LOGO
Daerah

Negara Tanpa Pemimpin, Hukum Rimba Terjadi


Rabu 22 Mei 2019 13:00 WIB
Bagikan:
Negara Tanpa Pemimpin, Hukum Rimba Terjadi

Jember, NU Online
Posisi pemimpin atau presiden dalam sebuah negara teramat vital. Sebab pemimpin  merupakan ikon pemersatu masyarakat sekaligus tanda hidupnya sebuah negara.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Aswaja Center Jember, KH Abdul Haris saat menjadi nara sumber dalam acara DIAGRA (dialog agama via udara) di masjid Jamik Al-Baitul Amin, Jember, Jawa Timur, Selasa (21/5).

Menurutnya, pemimpin adalah tempat bertemunya segala kepentingan rakyat, dan dari tangannyalah kepentingan-kepentingan itu dikelola sehingga tidak menimbulkan kekacauan meski banyak yang tidak terakomodasi.

“Sebagai pengatur negara, maka rakyat diwajibkan tunduk pada presiden. Salah satu tujuannya untuk meminimalisasi potensi kekacauan akibat kepentingan rakyat yang berbeda-beda. Kalau tidak patuh kepada presiden, tapi patuh kepada pemimpin lain misalnya, kan jadi kacau negara. Masing-masing rakyat punya pemimpin sendiri yang dipatuhi,” urainya.

Kiai Haris lalu menukil kata-kata bijak para ulama bahwa enam puluh tahun dengan penguasa (pemimpin) dzalim lebih baik dibanding satu malam tanpa pemimpin. Artinya, keberadaan pemimpin sangatlah penting.

 “Negara tak boleh vakum dari pemimpin. Sebab jika negara tanpa pemimpin, maka yang terjadi adalah  hukum  rimba,” pungkasnya. (Aryudi AR).


Tags:
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG