Ketua NU NTB: Pemilu Pesta Demokrasi, Jangan Meninggalkan Dendam

Ketua PWNU NTB, H Masnun.
Ketua PWNU NTB, H Masnun.
Ketua PWNU NTB, H Masnun.
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) H Masnun Tahir mengatakan pemilihan umum 2019 sebagai pesta demokrasi. Sebagaimana pesta maka setelah berakhir tidak melahirkan dendam karena semuanya merasa bahagia.

Selain itu, pemilu seperti permainan di dunia, sehingga bersifat tidak kekal. Adapun yang kekal adalah persaudaraan dan persatuan. "Pemilu usai, harus disadari kembali bahwa ini permainan dunia, kemudian maklumi bahwa adanya perbedaan jangan merusak persatuan. Kemanusiaan, kebangsaan di atas segala-galanya," ujar Masnun, Selasa (21/5) malam.

Untuk itu, menurutnya sudah waktunya masyarakat Indonesia untuk kembali dan bersama-sama membangun bangun. "Sudah selesai (kubu-kubuan) 01 atau 02. Yang ada adalah 03 ‘Persatuan Indonesia,"ungkapnya.

Masyarakat yang tadinya saling berbeda pilihan, perlu kemudian melakukan hijrah dari saling bersitegang. Sebagai sesama anak bangsa, pihak yang calonnya tidak menang, jangan berlama-lama larut dalam merasa kalah, karena yang menang adalah semua rakyat Indonesia. 

"Harus merajut kembali kebersamaan dan persaudaraan. Hasil dari pemilu adalah sunatullah. Sudah beriktiar takdir berkata lain. Mengajak kembali ke spirit kebersaaan, jangan kemudian larut dalam kefanaan," terangnya.

Upaya menjaga persatuan sangat penting dilakukan, terlebih di bulan Ramadhan ini. Marwah bulan Ramadhan harus dikedepankan dengan memaksimalkan ibadah kepada Allah maupun ibadah sosial dengan tetap menjaga persatuan dan persaudaraan.

"Agar kita benar-benar fitri, tidak ada dendam dan caci maki. Kalau masih ada kebencian, dendam dan caci maki, bagaimana mau lebaran dengan hati yang fitri?" tanyanya.

Menjaga jangan ikut mencaci maki bukan hanya dilakukan oleh pihak dan pendukung yang kalah, namun pihak yang menang. Hal itu sesuai tradisi masyarakat Indoensia, bahwa yang kalah jangan jumawa, dan yang kalah jangan kecewa.

"Lagipula kalah menang dalam politik itu biasa saja. Calon yang kalah juga bukan artina kehilanganan segala-galanya," ungkapnya.

Penyelenggaraan Pemilu 2019, dalam pandangan Masnun, sudah berjalan dengan baik. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) telah melakukan tugas sebagaimana harusnya.

"Sesuai aturan dan mekanisme yang sudah ada di UU tentang KPU, sudah bagus. Semua bekerja sesuai tupoksi. Anggota KPU, Bawaslu, petugas Pemilu isinya orang-orang berintergitas, profesional. Mereka juga telah mengikuti tahap-tahapan penyaringan, tes kesehatan, wawancara, dan lainnya," paparnya.

Apabila kemudian ada kekurangan KPU yang menunjukkan pelaksanaan pemilu berjalan tidak sebagaimana mestinya, penyelesaian persoalan tersebut dapat ditempuh sesuai prosedur. Misalnya jika ada sengketa dapat dilaporkan ke MK.

Masnun juga menyebut peran NU dan warga NU dalam proses pemilu. Dari perspektif makro, peran warga NU sangat besar karena mengawal tetap berlangsungnya sistem kenegaraan, mengawal ideologi bangsa, ritual kenegaraan.

"NU juga memberikan edukasi literasi bagaimana pesta demokrasi berjalan kondusif, kemudian akuntabel, transparan, berjalan on the track. Sudah sesuai keberlanjutan peran-peran civil society, bagaimana mengawal instrumen demokrasi pemilu berjalan di jalurnya," tegas Masnun. (Kendi Setiawan)
BNI Mobile