IMG-LOGO
Nasional

Kiai Jatim: Jangan Peralat Islam untuk Kelabui Masyarakat

Kamis 23 Mei 2019 0:40 WIB
Bagikan:
Kiai Jatim: Jangan Peralat Islam untuk Kelabui Masyarakat
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Amin Kediri, Jawa Timur, KH Anwar Iskandar menegaskan aksi demonstrasi di Bawaslu tidak bisa disebut aksi bela Islam. Menurutnya, Islam hanya diperalat oleh kelompok tertentu untuk mengelabui masyarakat.
 
"Islam itu hanya diperalat saja, hanya jubah saja," kata Kiai Anwar kepada NU Online, Rabu (22/5).
 
Ia mengatakan pemerintah Indonesia telah membuktikan perhatiannya kepada umat islam sejak kemerdekaan. Bahkan, umat Islam di Indonesia patut bersyukur karena tidak pernah terjadi bentrokan agama seperti yang terjadi di negara negara timur tengah.
 
Semua dibebaskan untuk beribadah sebanyak-banyaknya tanpa ada larangan dari pemerintah bahkan pemerintah sendiri mempelopori kegiatan ibadah seperti aparat kepolisian yang kerap melakukan kegiatan keagamaan.
 
"Disini ustadz, mubaligh, gampang banget, yang ditangkap dan sebagainya memang orangnya yang melanggar aturan kebetulan orang Islam, mana ada kiai ditangkap," tuturnya.
 
Islam di Indonesia kata dia tidak memiliki persoalan seperti yang dituduhkan kelompok masyarakat tertentu. Islam di Indonesia masih damai tidak ada yang melarang umatnya untuk melakukan aktifitas ibadah dan sebagainya.
 
Kemudian terkait dengan demo yang masih berlangsung, kata Kiai Anwar, sesungguhnya hanya karena ketidakpahaman masyarakat soal demokrasi. Sebab, capres Prabowo Subianto yang dibela massa pun telah menyampaikan bahwa akan menempuh jalur hukum melalui Mahkamah Konstitusi.
 
"Kalau mereka paham sebenarnya tidak perlu ada demo karena apa karena Prabowo sendiri mengatakan  bahwa ketika dia menolak hasil KPU artinya dia mau mengajukan sengketa ke MK. Sekarang ada demo ya gak usah terjadi, kalau harus terjadi mestinya tidak usah anarkis boleh demo sebagai bagian dari kebebasan berpendapat tapi kan harus ikut aturan," ujarnya.(Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi) 
 

Bagikan:
Kamis 23 Mei 2019 22:15 WIB
Redam Konflik, Gubernur Jatim Gelar Silaturahmi di Sampang
Redam Konflik, Gubernur Jatim Gelar Silaturahmi di Sampang
Khofifah Indar Parawansa di Mapolres Sampang.
Sampang, NU Online
Gubernur Jawa Timur menggelar silaturahmi dengan para ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat di Sampang. Hal tersebut sebagai solusi meredam terjadinya konflik. Solusi ini juga berlaku di kawasan manapun di seluruh Jatim.

“Kami menyilaturahmikan pikiran kami, menyilaturahmikan hati kami, menyilaturahmikan bagaimana bersama-sama kita membangun kehidupan yang harmoni, saling berseiring, proses saling menjaga dan menghormati di antara ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan,” kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Kapolda Jatim dan Pangdam V/Brawijaya serta para ulama di Kantor Mapolres Sampang, Kamis (23/5).

Menurutnya, silaturahmi bisa menyambungkan kesepahaman, persepsi dan pikiran antara pemerintah, Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat. “Sebab kesepahaman melahirkan saling mempercayai,” ujar Khofifah.

Menurut perempuan yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU tersebut, dengan silaturahmi diharapkan para kiai bisa mempersambungkan kesepakatan dalam merawat umat dalam kehidupan masyarakat.

“Keinginan pemerintah bersilaturahmi untuk menata kehidupan masyarakat yang baik, menata kehidupan keagamaan yang baik, serta kehidupan kebangsaan kenegaraan yang baik,” terangnya.

Di sela kunjungannya, Khofifah menyerahkan sepenuhnya kepada Kapolda Jatim beserta jajarannya terkait kasus pembakaran Kantor Mapolsek Tambelangan, Sampang.

Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen (Pol) Luki Hermawan tidak menginginkan kejadian pembakaran Mapolsek Tambelangan, Sampang terulang kembali. Kepala daerah hingga tokoh agama di Sampang diminta untuk bergandeng tangan mencari solusi agar tidak terjadi kasus serupa. 

“Terima kasih kepada tokoh-tokoh agama, ulama, pemuda yang ada di Sampang. Kami difasilitasi Ibu Gubernur dengan Pak Pangdam, kami bisa bertatap muka terkait dengan kejadian semalam,” katanya.

Berdasarkan hasil rapat yang dilakukan dengan para ulama, pihaknya telah mendapatkan kesepakatan terkait kasus di Mapolsek Tambelangan Sampang untuk tidak berkembang lagi dan tidak menjalar ke wilayah Madura atau ke seluruh Jatim. 

Untuk penanganannya, Kapolda Jatim akan melakukan sesuai prosedur dan akan menarik kasus tersebut ke Polda Jatim. Kasus tersebut, saat ini sedang didalami. Pelakunya nanti akan diproses secara hukum yang berlaku. 

Dirinya berharap agar masyarakat Sampang bisa menjaga keguyuban yang selama ini sudah terjalin baik. “Mudah-mudahan kejadian yang kemarin ini tidak terulang lagi, dan bisa menahan diri dan bisa berkomunikasi, bersilaturahmi apabila ada hal-hal bisa dipecahkan dengan cara silaturahmi atau cangkrukan. Sehingga bisa dipecahkan permasalahan tersebut,” jelasnya. 

Menurutnya, diperkirakan kejadian ini terjadi karena adanya berita hoaks yang menginformasikan ada sejumlah tokoh Madura ditahan di Jakarta. 

“Alhamdulillah di Jakarta, Bu Gubernur sudah dapat masukan di sana (Polda Metro Jaya), masyarakat Jawa Timur tidak ada yang terkena atau terjaring oleh Polda Metro Jaya,” imbuhnya. 

Seusai melakukan silaturahmi, gubernur bersama Kapolda Jatim dan Pangdam V/Brawijaya meninjau langsung kondisi Kantor Mapolsek Tambelangan Sampang. (Ibnu Nawawi)

Kamis 23 Mei 2019 21:45 WIB
Enam Rencana Strategis Rakor Pendidikan Diniyah dan Pesantren
Enam Rencana Strategis Rakor Pendidikan Diniyah dan Pesantren
Rakor Rencana Strategis Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.
Yogyakarta, NU Online
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Imam Safe'i mengingatkan enam hal penting untuk merumuskan rencana strategis pendidikan diniyah dan pondok pesantren. Keenam hal itu antara lain pembangunan karakter, pengembangan informasi teknologi, pendidikan kader ulama, layanan masyarakat kurang beruntung, dan pengembangan akademik serta 'branding' pesantren. 

Imam Safe'i menjelaskan hal tersebut saat membuka Rapat Koordinasi Rencana Strategis Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Program Pendidikan Islam 2020-2024, Rabu (22/5) malam di Yogyakarta. 

Menurut Safe'i, pesantren harus memiliki karakter kuat. "Dengan karakter yang kuat, pesantren akan melahirkan alumni yang mumpuni dan menjadi tokoh nasional," katanya. 

Selain itu, pengembangan IT di era 4.0 menurutnya juga tak kalah penting. Juga pengembangan kader ulama. "Tiap provinsi harus ada Mahad Aly meskipun kecil, karena ini merupakan keterwakilan pendidikan pesantren," urainya. 

Sementara layanan pendidikan untuk masyarakat yang kurang beruntung menurut Safe'i bisa dicontohkan dengan membangun pesantren di wilayah perbatasan. "Semua berangkat dari semangat ingin menjangkau yang tidak terlayani dan melayani yang tidak terjangkau," imbuhnya. 

Terkait pengembangan akademik, Safe'i menilai banyak santri yang sebenarnya memiliki potensi untuk melanjutan pendidikan tinggi. "Bahkan sebenarnya mereka mampu bersaing di beberapa fakultas bergengsi di kampus negeri," paparnya. 

Terakhir, Safe'i menilai pendidikan unggul adalah yang punya kekhasan. "Jika kekhasan sudah dimiliki maka trademark pesantren akan muncul, di sinilah perlu 'membranding' pesantren," pungkasnya.

Sebelumnya selaku tuan rumah, Kakanwil Edhi Gunawan menyampaikan ucapan selamat datang di Yogyakarta. "Yogyakarta adalah kota dengan banyak predikat, seperti kota pelajar, budaya, pendidikan dan sebagainya," ujar Kakanwil.

Selain itu, imbuhnya, Yogyakarta dikenal sebagai City of Tolerance. "Meski demikian kami tidak boleh terlena karena ada saja tantangan yang dihadapi," sambung Kakanwil. Terlebih media sosial yang sangat masif sekali sehingga peristiwa yang terjadi di Yogyakarta dapat cepat sekali mencuat sebagai isu nasional, lanjutnya. 

Selain Safe'i dan Edhi Gunawan, hadir pula Kabag Perencanan Sekretariat Ditjen Pendis Ridwan, Kabid Pendidikan Agama Islam dan Keagamaan Islam Kemenag DIY Masrudin dan 70 peserta. Mereka terdiri dari kepala bidang, kepala seksi, dan perencana yang mengampu pendidikan diniyah dan pesantren seluruh Indonesia.

Kegiatan yang dihelat di Grand Quality Hotel Yogyakarta ini berlangsung hingga Jumat (24/5) besok. (Bramma Aji Putra/Ibnu Nawawi)

Kamis 23 Mei 2019 21:30 WIB
Dosen Muda NU Paparkan Awal Mula Islam Radikal di Zaman Rasulullah
Dosen Muda NU Paparkan Awal Mula Islam Radikal di Zaman Rasulullah
Diskusi 'Membedah Pergerakan Islam Radikal di Indonesia' di Unusia Bogor, Kamis (23/5)
Bogor, NU Online
Pengurus Komisariat PMII Unusia Kampus B Rayon Fakultas Agama Islam (FAI) kembali melaksanakan agenda rutina diskusi di Pendopo Unusia Parung Bogor, Kamis (23/5) petang. Acara ini dirangkai dengan buka puasa bersama.

Diskusi bertema Membedah Pergerakan Islam Radikal di Indonesia menghadirikan narasumber aktivis media yang juga dosen muda NU, Fathoni Ahmad. Fathoni memaparkan bahwa munculnya pergerakan Islam radikal di Indonesia awal mulanya terjadi karena mereka didoktrin dengan doktrin agama.

"Semisal, jihad fisabilillah, iming-iming surga dan kenikmatan-kenikmatannya. Dan, muncullah mereka yang berideologi radikal itu," ujar Fathoni.

Mereka, lanjut Fathoni, seakan-seakan sangat mengerti agama. Tetapi, sebenarnya pemahaman tentang agama itu dangkal. Mereka memahami agama secara tekstual dan parsial saja.

"Dan setelah itu, mereka di kasih pemahamahan bahwa seakan-akan tidak percaya dengan pemerintahan dan terjadilah benturan antara mereka dan pemerintahan. Alhasil, muncullah teroris," lanjutnya.

Fathoni juga menceritakan embrio-embrio radikal itu sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw. Waktu itu, Rasulullah Saw dan para sahabat sedang berbincang ringan di emperan masjid. Tiba-tiba datanglah orang tanpa sopan santun melewati Rasulullah SAW dan para sahabat tanpa menyapa langsung masuk masjid, lalu orang tersebut melaksanakan shalat.

"Ciri-ciri mereka adalah berpakaian cingkrang dan dadanya besar seperti dada perempuan. Golongan mereka mulai menyebar pada era kekhalifahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karomallahu Wajhah, yang dinamakan kelompok Khawarij," papar Fathoni.

Fathoni membeberkan pergerakan teroris itu terbagi menjadi tiga level, yaitu, Salafi, Jihadi dan Takfiri. Salafi adalah mereka yang menyebarkan dakwah radikal di majelis-majelis, masjid dan kampus. Mereka nonpolitik. Sementara Jihadi adalah mereka yang bergerak siap jihad atau siap mati. Sedangkan Takfiri adalah mereka yang mengganggap selain golongannya adalah kafir dan wajib dibunuh.

Fathoni berpesan agar mereka memegang teguh paham Islam moderat, tidak seperti mereka yang mempunyai idelogi radikal. "Terkhusus teman-teman (pergerakan) harus lebih  bisa memahami sosiologis dan psikologis masyarakat, sehingga Islam bisa dipahami. Tantangan luar bisa bagi kita, akhlaq dan adab yang harus diperkuat," pungkasnya. (Muhammad Asna Maulana/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG