IMG-LOGO
Daerah

Pelajar Purbalingga Produksi Film 'Orang-orang Tionghoa'

Kamis 23 Mei 2019 1:45 WIB
Bagikan:
Pelajar Purbalingga Produksi Film 'Orang-orang Tionghoa'
Syuting film 'Orang-orang Tionghoa'.
Purbalingga, NU Online
Setelah absen selama tiga tahun pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP), Smega Movie ekstrakulikuler sinematografi SMK Negeri 1 Purbalingga, Jawa Tengah rencananya kembali mengirimkan karya filmnya ke program kompetisi pelajar FFP 2019 se-Banyumas Raya.

Tahun ini, para pelajar itu sedang menggarap sebuah film dokumenter tentang perjuangan orang-orang Tionghoa di Purbalingga dalam melewati kekuasaan Orde Baru. Film tersebut diberi judul Orang-orang Tionghoa.

Sutradara film, Icha Feby Nur Futikha, mengatakan setelah melakukan riset, ia dan teman-teman mengangkat tiga subyek dalam film. "Subyek orang Tionghoa yang dari dulu tetap beragama Konghucu, yang beragama Katolik, dan yang beragama Islam," jelas siswi kelas X jurusan Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran (OTKP).

Pada film yang saat ini masih dalam tahap editing, dibahas bagaimana sejarah warga Tionghoa di Indonesia wajib berganti nama Indonesia di masa Presiden Soeharto bila ingin tetap menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Termasuk ketiga subyek dalam film itu karena adanya Keputusan Presidium Kabinet Nomor 127 Tahun 1966 tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia yang memakai nama Cina.

Perjuangan panjang, menurut periset Rena Aryana Putri, dialami oleh subyek yang sampai saat ini menganut agama Konghucu yaitu Ambing Setiawan. "Pada tahun 1975, Om Ambing pernah rela KTP-nya ditulis Kristen di kolom agama. Ya itu karena saat Orde Baru, hanya lima agama yang diakui negara," ungkap siswi kelas XI Jurusan Pemasaran.

Selain soal agama Konghucu yang tidak diakui negara, di masa Orde Baru, kebudayaan Tionghoa juga turut diberangus. Orang tidak bebas menyaksikan kesenian Liong, Barongsai, dan Wayang Potehi seperti sekarang ini.

"Baru setelah Reformasi yang dimulai era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gusdur, agama Konghucu dan budaya Tionghoa mulai menghirup udara bebas hingga Presiden Joko Widodo sekarang," jelas Rena.

Menurut Icha, membuat film dokumenter itu mengasikan. "Awalnya terasa membosankan, namun semakin banyak informasi yang kami dapat, ternyata ada tantangan disitu. Kami mendapat pengetahuan yang sama sekali tidak kami dapatkan di bangku sekolah," tegasnya.

Walaupun, pihak sekolah tidak merespons kreativitas siswa-siswinya dalam memproduksi film ini, dengan modal uang sendiri dan pinjaman kamera serta pendampingan dari Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, film mereka nantinya diharapkan akan banyak diapresiasi. (Red: Kendi Setiawan)

Bagikan:
Kamis 23 Mei 2019 23:0 WIB
Seberapa Dekat Kita dengan Al-Qur'an?
Seberapa Dekat Kita dengan Al-Qur'an?
KH Abdul Hamid, Pengasuh Pesantren Al Husna Pringsewu
Pringsewu, NU Online
Ramadhan bulan Al-Qur'an. Segala amalan dilipatgandakan. Sudah seharusnya kualitas dan kuantitas ibadah pun ditingkatkan. Khususnya ibadah membaca kitab suci Al-Qur'an. Inilah mukjizat Nabi Muhammad yang dalam hidup kita menjadi pegangan dan pedoman.

Namun muncul pertanyaan. Seberapa dekat kita dengan Al-Qur'an? Adakah kitab Al-Qur'an dalam rumah kita selalu jadi bacaan? Apakah jumlah kitab Al-Qur'an dan anggota keluarga di rumah kita sepadan? Terlebih, apakah kita bisa lebih meresapi maknanya dengan memiliki kitab terjemah Al-Qur'an?

Renungan ini ditanyakan Pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur'an Al Husna Pringsewu, Lampung KH Abdul Hamid Al Hafidz kepada jama'ah yang hadir pada acara Safari Ramadhan Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu, Lampung di Desa Rejosari, Kamis (23/5).

Ketua MUI Kecamatan Pringsewu ini pun mengajak umat Islam untuk merenungkan pertanyaan berapa juz yang menjadi target untuk dikhatamkan selama Ramadhan. Ia mengungkapkan perbandingan dengan para ulama terdahulu yang berkali-kali khatam khususnya saat Ramadhan.

"Imam Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Qur'an selama 6000 kali dalam hidupnya. Imam Syafi'i menghatamkan 60 kali selama Ramadhan. Minimal kita bisa khatam satu kali dalam satu bulan ini," kata pria yang meraih doktoralnya di Universitas Negeri Islam Raden Intan Lampung ini.

Target untuk terus menambah kuantitas dalam menghatamkan Al-Qur'an memang berat dirasakan. Namun tekad untuk mewujudkannya perlu terus ditumbuhkan. Karena menurutnya kesuksesan seseorang dapat diukur dari seberapa kuat tekadnya dalam meraih tujuan dan impian.

Selain kuantitas yang harus ditingkatkan, umat Islam juga harus senantiasa menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk dalam kehidupan. Jika hidup ingin selamat, Allah telah memberikan petunjuk yakni Al-Qur'an.

"Kalau beli barang elektronik, apa itu televisi, kulkas, motor, mobil mesti punya panduan agar dapat mengoperasikannya dengan baik dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu juga hidup. Allah telah membuat panduan agar selamat dunia akhirat yang tak lain adalah Al-Qur'an," tegasnya.

Oleh sebab itu lanjutnya, umat Islam harus memanfaatkan panduan ini terlebih pada bulan Ramadhan yang ia sebut sebagai Bulan BBM (Bulan Berkah Maghfirah)

"Mari jalankan Ramadhan dengan Premium (prei makan dan minum), lakukan Solar (shalat tambah rajin) , Pertamax (perangi tabiat maksiat), Pertalit (perangi tabiat pelit), LPG (lek pingin ngerti ngaji), dan Bensin (Ben ora isin)," pungkasnya. (Muhammad Faizin)
Kamis 23 Mei 2019 22:30 WIB
Safari Ramadhan Ansor Pematangsiantar Sapa Kawasan Pinggiran
Safari Ramadhan Ansor Pematangsiantar Sapa Kawasan Pinggiran
Pematangsiantar, NU Online
Ansor berkomitmen membentuk dan mengembangkan generasi muda Indonesia sebagai kader bangsa yang cerdas dan tangguh. Juga memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, berkepribadian luhur, berakhlak mulia. Termasuk sehat, terampil, patriotik, ikhlas dan beramal shalih. Dan pada Ramadhan kali ini, menjadi momentum untuk mengaktualisasikan tujuan mulia tersebut.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Arjuna saat memberikan pengarahan kepada tim Safari Ramadhan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Rabu (22/5).

Menurut Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar tersebut mengemukakan, untuk mencapai tujuan organisasi, beberapa usaha harus dilakukan. 

“Salah satunya meningkatkan kesadaran di kalangan pemuda Indonesia untuk memperjuangkan cita-cita proklamasi kemerdekaan dan memperjuangkan pengamalan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.

“Sedangkan kedua yakni mengembangkan kualitas sumber daya manusia melalui pendekatan keagamaan, kependidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai wujud partisipasi dalam pembangunan,” ungkapnya.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain pelaksana kegiatan Ridwan Akbar Pulungan, Arif Siregar, Samaun Harahap (Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Siantar Utara), Yoki (Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Siantar Barat). Hadir pula sejumlah tokoh, termasuk Dewan Penasehat PC GP Ansor Kota Pematangsiantar.

Ridwan Akbar Pulungan menyampaikan safari Ramadhan 1440 H difokuskan ke daerah pinggiran. “Ini cara GP Ansor untuk menjalin hubungan kemasyarakatan, meningkatkan kesadaran dan aktualisasi masyarakat sebagai upaya peningkatan kualitas kehidupan berbangsa, terutama kalangan pemuda,” katanya.

Jadwal safari pekan ini akan dilaksanakan pada Sabtu (25/5) malamdi Masjid Al-Ikhlas Bane, Siantar Utara. “Kami mengharapkan kepada keluarga besar GP Ansor dan Banser Kota Pematangsiantar untuk menghadiri dan berperanserta dalam kegiatan tersebut,” pintanya. (Ibnu Nawawi)






Kamis 23 Mei 2019 20:50 WIB
Ulama Jakarta Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat dan NKRI
Ulama Jakarta Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat dan NKRI
Jakarta, NU Online
Para ulama dan pengasuh pondok pesantren di Jakarta menyelenggarakan halaqah perekonomian, Jumat-Ahad, (24-26/5). Forum ini dilaksanakan di Pesantren Al-Wathaniyah As-Shodriyah, Jakarta Timur. Halaqah ini diramaikan dengan bazaar dan buka puasa bersama.

Pengasuh Pondok Pesantren Alwathoniyah As-Shodriyah KH Ahmad Shodri HM, mengemukakan, halaqah ulama Jakarta membahas masalah keumatan sesuai tantangan zaman.

“Di antaranya adalah pemberdayaan ekonomi umat untuk menghadapi kapitalisme global melalui pemberdayaan ekonomi pondok pesantren, moderasi Islam dan peran ulama dalam menjaga keutuhan NKRI.

Kiai Ahmad Shodri menjelaskan, dari forum halaqah ulama Jakarta ini akan disepakati dan dirumuskan butir-butir rekomendasi untuk memberikan kesejukan dan ketenangan kepada masyarakat serta menghindari segala bentuk fitnah, ujaran kebencian, berita hoaks dan provokasi terhadap sesama warga Indonesia.

“Forum ini juga akan merumuskan sikap kritis terhadap segala paham dan gerakan yang bertentangan dengan Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhineka Tunggal Ika serta Undang Undang Dasar 1945,” kata Kiai Shodri.

Panitia Halaqah Ulama Jakarta yang juga Sekretaris Umum MUI Kota Administrasi Jakarta Timur Ma'arif Fuadi menyampaikan, ada beberapa organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang ikut mendukung acara ini.

“Mereka di antaranya MUI Kota Administrasi Jakarta Timur,  Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), Masyarakat Cinta Masjid (MCM), Muballigh Indonesia Bertauhid (MIB) dan lain-lain,” kata Ma’arif. (Red Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG