IMG-LOGO
Opini

Rasionalitas dalam Ekonomi Syariah

Kamis 23 Mei 2019 12:30 WIB
Bagikan:
Rasionalitas dalam Ekonomi Syariah
Oleh Azhim Ahdar

Rasionalitas bukan berarti anti-tekstualitas atau tidak menerima teks sebagai sumber dan landasan pengetahuan. Rasionalitas dalam konteks ini adalah mempertimbangkan aspek rasional-logis terhadap pembacaan serta pemaknaan terhadap teks agama sehingga mampu menghasilkan pandangan universal dan menghindari kontradiksi dalam menyikapi perbedaan pandangan yang muncul dari pemahaman teks yang berbeda.

Kadang kita keliru menempatkan dalil naqli (Al-Qur’an & Al-Hadits) dalam menetapkan hukum terkait muamalah. Karena permasalahan muamalah berbeda dengan Ibadah, baik dari sisi dasar hukum maupun nilai hukumnya. Dalam Ilmu usul fiqh ada satu kaidah yang berbunyi, “asas dari permasalahan muamalah adalah boleh (halal/mubah) selama tidak ada dalil naqli yang menunjukkan ketidakbolehannya”. Sedangkan “asas permasalahan ibadah adalah ketidakbolehan (haram) selama tidak ada dalil yang mendasarinya”.

Sehingga, dalam masalah muamalah yang harus ditekankan ketika ingin memutuskan suatu hukum adalah aspek realitas dan rasionalitas. Mengapa? Karena Islam datang untuk memberikan maslahat bagi manusia dan maslahat dalam spektrum sosial hanya bisa tegak seiring dengan ditegakkannya keadilan. Al-Qur’an yang merupakan usaha untuk mendokumentasikan wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril as kepada Nabi SAW berisi petunjuk umum yang membahas asas beragama serta petunjuk khusus yang membahas permasalahan yang tidak mampu dicapai oleh rasio dan indra manusia.

Masalah ekonomi seperti jual-beli, sewa-menyewa, uang, lembaga keuangan, dan lain-lain merupakan pembahasan muamalah. Muamalah adalah aturan yang bertujuan untuk mengatur hubungan dan aktivitas manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu muamalah semestinya bertujuan untuk mewujudkan keadilan. Ketika sudah mengandung aspek ini, keadilan, maka sistem ekonomi apa pun namanya adalah sistem ekonomi syariah secara nilai. 

Berbicara tentang ekonomi syariah bukan hanya tentang profit, tapi lebih dari itu juga bicara tentang landasan dalam menentukan hukum dari setiap permasalahan yang muncul sehingga mampu membawa ekonomi syariah pada tujuannya, yaitu upaya untuk menyingkap hukum syariah dalam permasalahan ekonomi yang menjadi sebab utama terciptanya kesejahteraan bagi masyarakat yang berbasis keadilan. Realitasnya, lembaga keuangan syariah masih jauh dari tujuan ini, bahkan kalau kita lihat data perkembangan lembaga keuangan syariah maka yang nampak justru penurunan, baik dari sisi profit maupun dari sisi kesesuainnya dengan Syariah itu sendiri. Bisa jadi hal ini disebabkan karena adanya ketimpangan epistemologis, yaitu memandang teks sebagai rujukan utama tapi melupakan realitas dan rasionalitas.

Merupakan hal yang sangat mendasar bahwa tujuan sistem ekonomi syariah adalah mewujudkan kesejahteraan bukan hanya bagi umat Islam tapi juga bagi seluruh manusia. Karena aktivitas ekonomi bukan hanya dijalani oleh sesama umat Islam sehingga kesejahteraan itu muncul dengan menegakkan keadilan. Dalam konteks keindonesiaan misalnya, terdapat berbagai macam agama, sehingga yang harus dikedepankan adalah aspek keadilan agar seluruh agama menerima sistem ekonomi syariah. 

Pertanyaannya kemudian adalah  di mana peran dalil naqli dalam ekonomi sehingga melahirkan sistem ekonomi syariah? Ketika kita renungkan lebih dalam, bahwa Islam diturunkan kepada manusia untuk memberikan petunjuk terhadap hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal, maka hakikat dan esensi Islam adalah petunjuk tentang permasalahan yang akal tidak mampu mencapainya.

Hal ini sejalan dengan Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 113 yang artinya; “Dan Allah menurunkan Kitab serta Hikmah dan mengajarkan kalian apa yang tidak kalian ketahui”. Dari sinilah Islam yang berisi dalil naqli memainkan perannya yang kemudian memunculkan satu sistem baru dalam sistem ekonomi yang dinamakan dengan sistem ekonomi syariah, yaitu sistem ekonomi yang menjadikan dalil naqli dalam hal ini Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai salah satu landasan penetapan hukumnya.

Terus di mana posisi rasio dalam sistem ekonomi syariah serta bagaimana melibatkan rasionalitas dalam permasalahan ekonomi syariah? Dari sisi epistemologis posisi rasio sebagai media yang menjembatani teks dan realitas. Pemahaman terhadap teks harus dilandasi dengan pemahaman yang benar terhadap realitas. Dari sisi metodologis rasio menjadi timbangan dalam memahami teks. Artinya, pemahaman terhadap teks bukan hanya karena kita mengimaninya, menerima karena yang menurunkannya adalah Allah dan yang menyampaikannya adalah Nabi SAW.

Akan tetapi tolok ukur utamanya adalah bagaimana kita mampu mengurai preposisi yang ada dalam teks sehingga mampu dibuktikan kebenarannya sehingga menghasilkan keyakinan yang kuat terhadap kebenaran preposisi tersebut. Melibatkan rasio bukan berarti melepaskan keimanan tapi lebih kepada penalaran yang mendalam terhadap kebenaran teks agama dalam hal ini Al-Qur’an dan Hadits sehingga pemahaman yang lahir darinya adalah pemahaman yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ini tidak berarti menghilangkan esensi syariah dalam sistem ekonomi syariah, mengapa? Karena teks tetap menjadi landasan utama dalam menyingkap hukum Syariah, sedangkan akal hanya menjadi media atau perantara dalam usaha memahami teks yang menghasilkan hukum syariah.

Dalam sejarahnya, sistem dalam ilmu ekonomi tidak lahir begitu saja, dia merupakan hasil penalaran para pemikir yang mencoba untuk memberikan solusi terhadap ketimpangan yang terjadi dalam tatanan masyarakat, ekonomi sosialis yang diprakarsai oleh Karl Marx misalnya lahir dari semangat menumbangkan kesenjangan antara kelas buruh dan pemilik modal. Sistem dalam ilmu ekonomi selalu lahir dari sebab yang dialami oleh masyarakat pada saat itu. Begitupun dengan kelahiran sistem ekonomi syariah, dia merupakan upaya untuk mengurai ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat yang menjadi halangan terhadap terwujudnya kesejahteraan dalam masyarakat. Dan memasukkan aspek rasionalitas merupakan langkah baru untuk sistem ekonomi syariah. 


Penulis adalah Mahasiswa Program Magister Ekonomi dan Keuangan Syariah, SKSG UI.

Tags:
Bagikan:
Kamis 23 Mei 2019 11:30 WIB
Saat NU Hadang Pemberontak Negara
Saat NU Hadang Pemberontak Negara
Oleh Fathoni Ahmad

Perjuangan Nahdlatul Ulama hingga berhasil bersama para tokoh nasionalis dan rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H belum berhenti. Selain harus menghadapi agresi militer Belanda II, para tokoh pesantren juga harus menghadapi kelompok-keompok pemberontak. Justru perjuangan melawan pemberontak bagi NU tidak kalah hebatnya karena tak lain melawan bangsanya sendiri.

Kelompok pemberontak tersebut ialah Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) prakarsa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu digerakkan oleh Dipo Nusantara Aidit, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang didirikan oleh Letkol Achmad Husein, Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang dimotori oleh Lektol Venjte Sumual, Kolonel D.J. Somba, dan Mayor Eddy Gagola.

Sejarah mencatat, para pemberontak membawa misi ideologi mengganti dasar negara Pancasila dan UUD 1945. Di antaranya PKI dengan komunismenya, DI/TII dengan negara Islamnya, PRII/Permesta, dan pemberontakan lainnya. Pemberontakan yang terjadi merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan karena legitimasi ideologi, tidak sedikit rakyat yang menjadi korban keganasan para pemberontak, termasuk dari korban dari kalangan pesantren.

Pancasila dan UUD 1945 bagi NU adalah dasar negara yang sudah final berdasarkan kesepkatan bersama seluruh bangsa Indonesia. Sebab itu, NU selalu konsisten membela negara dan mempertahankan Pancasila dari hadangan kelompok mana pun hingga sekarang. Indonesia yang sudah terbukti mampu bersatu bagi para kiai sudah sesuai dengan kaidah fiqih yang berbunyi, al-baqa’ ashalu minal ibtida’ (melanjutkan lebih mudah daripada memulai). (Lihat Syaikhul Islam Ali, Kaidah Fikih Politik: Pergulatan Pemikiran Politik Kebangsaan Ulama, 2018)

Dari prinsip hukum Islam tersebut, NU memandang bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah selesai dan final. Tidak perlu lagi dasar negara dan prinsip dasarnya diotak-atik dan dan diubah. Para ulama terdahulu beserta tokoh bangsa sudah berusaha merumuskan dasar negara yang mampu mengakomodasi kepentingan seluruh bangsa Indonesia yang majemuk. Tidak hanya kepentingan umat Islam, tetapi juga umat agama lainnya.

Dari tekad dan upaya yang terus berusaha menjaga Pancasila dan UUD 1945 membuat NU jadi kelompok Islam yang kerap berhadapan dengan para pemberontak yang ingin mengubah dasar negara. Argumentasi teologis, sosial, dan budaya yang diperkuat NU dalam memahami kehidupan berbangsa dan bernegara seringkali membuat para pemberontak kesusahan. Apalagi komitmen pergerakan NU dalam menghadang dan menumpas keganasan para pemberontak.

Pada rentang tahun 1957-1959, Majelis Konstituante memang sedang membahas rancangan dasar negara. PKI masuk dalam faksi Pancasila. Namun, dasar negara Pancasila yang PKI perjuangkan hanya kamuflase politik karena yang diperjuangkan justru materialisme historis yang ateis.

KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013) mengungkapkan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa yang termaktub dalam sila pertama dalam Pancasila ingin diubah menjadi “Kemerdekaan Beragama” oleh PKI. Padahal, “Kemerdekaan Beragama” merupakan esensi dasar demokrasi Pancasila. Pemerintah Indonesia menganjurkan setiap warga negara memeluk agama dan menjalankannya berdasar keyakinan masing-masing.

Upaya penjajahan dalam bentuk lain yang dilakukan PKI, pertama bisa dilihat dari usaha penetrasi ideologi komunis. Kedua, PKI melakukan pemberontakan fisik. Upaya bughot yang dilakukan PKI menelan banyak nyawa, termasuk dari kalangan NU yang sedari awal berjuang melawan ideologi komunis. NU melakukan perlawanan terhadap PKI di medan politik dan di lapangan selama kurun waktu 17 tahun.

Terkait penetrasi ideologi komunis, Abdul Mun’im DZ dalam Benturan NU-PKI 1948-1965 tidak terlepas dari perang global saat itu, yaitu Perang Dunia II. Marxisme merupakan pemikiran yang lahir dari filsafat Barat yang berjuang melawan perkembangan kapitalisme. Namun, keduanya lahir dari budaya yang sama, keduanya sama-sama ateis dan materialis. Karena itu, sekeras apapun permusuhan kedua saudara sekandung tersebut bisa ketemu dan saling bergandengan bahu-membahu.

Kapitalisme dan imperialisme Barat bisa bergandengan tangan dengan komunisme Soviet dalam menghadapi fasisme Nazi, Jepang, dan Italia dalam Perang Dunia II. Begitu juga dengan kolonialisme Belanda yang kapitalis itu bisa bekerja sama dengan komunisme yang sosialis dalam menghadapi Jepang dan dalam pemberontakan Madiun.

Bahkan jauh sebelumnya, Pendiri NU Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1947 mengingatkan bahaya ajaran materialisme historis yang ateis itu bagi bangsa Indonesia. Karena konsep yang sedang dikembangkan secara gencar oleh PKI yaitu menyerukan pengingkaran terhadap agama dan pengingkaran terhadap adanya akhirat. (Lihat Naskah Khotbah Iftitah KH Hasyim Asy’ari pada Muktamar ke-14 NU di Madiun tahun 1947)

Terkait strategi dalam menghadapi PKI itu ditegaskan kembali oleh KH Saifuddin Zuhri (2013: 502) dalam sebuah tulisannya yang menyatakan bahwa: “Dengan dalil agama sebagai unsur mutlak dalam nation building, maka kita dapat menyingkirkan kiprah PKI di mana-mana. Bahkan kita bisa menumpas segala bentuk ateisme, baik ateisme yang melahirkan komunisme maupun ateisme yang melahirkan kapitalisme, liberalisme, atau fasisme. Setiap ideologi yang berbahaya tidak hanya bisa dilawan dengan kekerasan dan senjata, tetapi juga harus dihadapi dengan kesadaran beragama.”

Karena dari awal sudah memahami gerak-gerik PKI dengan komunismenya, tidak sulit bagi NU untuk mengidentifikasi siapa dalang dari pemberontakan Gerakan 30 September 1965 (G 30 S) di Madiun dan di beberapa daerah dengan melakukan penculikan dan perbuatan sadis lainnya. Sebab saat itu, belum banyak yang mengetahui siapa dalang bughot tersebut.

NU mengidentifikasi bahwa percobaan perebutan kekuasaan melalui pemberontakan fisik didalangi oleh PKI. Karena itu, pada tanggal 3 Oktober 1965, ketika banyak orang belum mengethaui siapa dalang G 30 S, NU telah menuntut agar pemerintah membubarkan PKI.

Sekilas dilihat, upaya bughot (memberontak) sebagian besar dimotori oleh tentara yang sudah merasa tidak sejalan dengan visi pemerintahan yang ada dengan kecenderungan politik kekuasaaan yang tinggi. Di beberapa literatur sejarah menyebutkan, proklamasi kemerdekaan RI dibarengi gerakan hijrah pasukan, baik dari tentara nasional, Hizbullah dan Sabilillah dari kawasan jajahan Belanda ke kawasan RI.

Gerakan pembersihan dalam bentuk hijrah tersebut menyisakan beberapa tentara. Sisa-sisa laskar tentara tersebut selanjutnya diorganisir secara perorangan, misal di Jawa Barat oleh Kartosoewirjo untuk melakukan perlawanan terakhir.

Dijelaskan oleh Abdul Mun’im DZ dalam Runtuhnya Gerakan Subversif di Indonesia (2014), sejumlah tentara yang tertinggal di Jawa Barat tersebut diorganisir kemudian dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Setelah itu mereka merancang Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian pada 10 Februari 1948 dan pada 25 Agustus 1948 dikeluarkan maklumat Pemerintah Islam Indonesia yang menandai berdirinya Negara Islam menggantikan Republik Indonesia yang dianggap kafir dan komunis.

Kondisi keamanan nasional seketika kacau apalagi PKI merespon DI/TII yang menganggap bahwa Indonesia merupakan negara komunis dengan menggelorakan perlawanan dengan mengadakan pemberontakan di Madiun pada 18 September 1948. Jika DI/TII ingin mendirikan Negara Islam, PKI berupaya menegakkan Negara Soviet Indonesia.

Penghianatan yang dilakukan oleh DI/TII dan PKI ini mendorong NU sebagai satu-satunya organisasi yang loyal terhadap NKRI untuk segera mengangkat Soekarno sebagai waliyyul 'amri yang sah sehingga diharapkan bisa menyingkirkan semua yang memberontak dan memusuhi negara.

Sikap NU dan pesantren yan tegas terhadap aksi pemberontakan menyebabkan mereka dimusuhi oleh DI/TII. Beberapa perangkat dakwah NU menjadi sasaran teror. Pesantren, masjid, madrasah NU dibakar, bahkan beberapa kiai diculik dan harta benda dirampas dengan tidak berperikemanusiaan. Bahkan salah satu kiai NU, KH Idham Chalid menjadi sasaran pembunuhan.

Terhadap gerakan-gerakan subversif ini, para kiai tidak tinggal diam begitu saja. Mereka tidak mau bangsa dan negara yang telah dibangun atas dasar konsensus (kesepakatan) kebangsaan menjadi hancur hanya karena kepentingan kelompok tertentu yang a historis. Aksi gerombolan DI/TII bukannya menguntungkan umat Islam tetapi malah menimbulkan malah petaka bagi Muslim itu sendiri. Tidak sedikit umat Islam yang menjadi korban kekejaman DI/TII.

Gerakan DI/TII yang sudah melampui batas kemanusiaan dan konsensus bersama negara berdasarkan Pancasila membutuhkan pemikiran, bantuan, dan partisipasi aktif dari para kiai. Dalam buku memoarnya (2008), KH Idham Chalid yang saat itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II dan Kepala Badan Keamanan membentuk badan yang diberi nama Kiai-kiai Pembantu Keamanan (KPK).


Penulis adalah Redaktur NU Online
Kamis 23 Mei 2019 5:0 WIB
RENUNGAN RAMADHAN
Islam dan Kedamaian
Islam dan Kedamaian
Oleh: Salim Taib

Dalam Ensiklopedia Al-Qur'an, kata Islam berasal dari akar kata salima, yaslima, silman/salaman, yang berarti damai dan sejahtera. Kata salima ditambah dengan huruf hamzah menjadi aslama-yuslimu-Islaman yang berarti tunduk patuh dan taat atau masuk kedalam kedamaian dan kesejahteraan, karena adanya sifat tunduk, patuh dan taat.

Seyyed Hossein Nasr menjelaskan kesatuan pengertian antara Islam dan kedamaian dalam The Heart Of Islam. Menurutnya bagi seorang Muslim mewujudkan hidup damai dengan menafikan keberadaan Tuhan adalah absurd, karena hanya Tuhan yang dapat menata kekacauan didalam jiwa manusia. Selanjutnya tidak ada kadamaian di dalam batin atau jiwa seseorang, tidak ada pula kedamaian di luar.

Tujuan tertinggi Islam adalah mengarahkan jiwa ke tempat perdamaian (dar al-salam). Ketenangan dan kedamaian hati manusia bisa didapatkan ketika kita mampu memaujudkan Allah dalam pikiran, dalam berdzikir, (ala bidzikrillah tatmainnul qulub). Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang tentram.

Subuul al salam (jalan kedamaian) secara horizontal, antara manusia di bumi bisa dengan muda diwujudkan jika meletakkan hubungan vertikal seorang hamba dengan Tuhannya. Benar-benar terinstal secara baik dan terus menerus, karena sesungguhnya hakikat kekacauan yang terjadi secara sosial bermula dari tidak adanya titik temu yang saling melegakan, menerima apa adanya antara macam-macam syahwat pada diri manusia itu sendiri.

Jalan kedamaian kebanyakan dinisbatkan dan diperuntukkan secara khusus kepada hamba-hamba-Nya yang taat, tunduk dan patuh kepada seluruh regulasi yang Allah turunkan melalui kitab Al-Qur’an, untuk mengatur agar manusia berada dalam keteraturan hidup, baik personal maupun komunal. Sedikit meriwatkan sejarah mengalirnya darah dan terkapar bujur jasad Habil pertama di bumi, hanyalah refleksi perilaku antagonis yang disimbolkan melalui Qabil dan Habil. Menurut Ali Syari'ati perseturuan yang membawa nestapa kemanusiaan pertama di bumi, sesungguhnya adalah pertikaian antara keburukan dan kebaikan dalam diri manusi. Kita sering lalai dalam mengelolah untuk menjinakkan nafsu amarah, nafsu lauwamah menuju pada nafsu muthmainnah.

Membaca dua kitab Yoval Noah Harari penulis bestseller Sapiens dan Homo Deus, kita akan menemukan gambaran yang menjelaskan posisi manusia yang saling melibas, saling membunuh, menimbulkan kekacauan, ketidakdamaian, disebabkan karena tingkat keserakahan manusia yang tak terkendali. Ironisnya dari setiap tahapan sejarah terus meningkat dengan model dan variannya yang berbeda, dan zaman saat ini menurutnya  manusia tengah melaksanakan sebuah 'teologi kerakusan'.

Kerakusan menjadi konsepsi ketuhanan baru bagi manusia zaman now, manusia zaman kini tidak gampang puas dengan kepemilikan harta yang dimiliki. Terus berburu dan mengumpul serta memonopoli kekayaan, dalam perburuan mengumpulkan walqanaa thiriil muqantarati (harta benda yang tertumpuk), adalah bagian dari kesenangan syahwati yang telah digambarkan Allah pada Surat Ali Imran. Di sinilah letak akar sesungguhnya dari sebuah perang antarbenua, perang antarbangsa, perang antaretnis, perang antaragama yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban masa lalu, kini dan mungkin yang akan datang.

Padahal, semua agama langit mengajarkan akan hidup damai, melarang saling membunuh. Islam salah satu agama langit melalui perutusan Nabi Muhammad Saw ke bumi, tidak lain hanyalah pengejawantahan dari sifat-sifat Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Dengan kata lain bumi dan segala macam isinya harus dikelola dengan tidak mengabaikan sifat-sifat Allah tersebut. Karena, Allah adalah poros dan inti kedamaian, sedangkan Nabi Muhammad merupakan utusan Allah untuk mewujudkan sifat kerahmanan dan kerahiman Allah dalam realitas dunia ini.

Agama Islam melalui  puasa ramadhan yang setiap tahun kita laksanakan waantashumu khailullakum inkuntum ta’lamun. (Dan berpuasa itu lebih baik jika kamu mengetahuinya). Ayat tersebut sesungguhnya dapat memberikan efek positif dalam keberlangsungan hidup manusia yang damai dan aman. Mengapa? Karena puncak dari spritualitas ibadah puasa sejatinya tidak hanya sekedar menggapai ketakwaan di alam khayal, akan tetapi ketakwaan harus mampu dihadirkan di tengah-tengah demi menyapa ramainya lalu lintas manusia dengan segalah godaan duniawinya. Keseriusan melaksanaan puasa Ramadahan dengan segala kegunaan serta fadhilahnya di ujung pelaksanaannya itu kita mendapatkan gelar ketakwaan, sebuah predikat yang tidak bisu, tidak kosong melainkan memiliki muatan bagi pelaku ibadah puasa Ramadhan itu sendiri.

Ketakwaan dalam Trilogi Syeh Siti Jenar dijelaskan adalah buah dari 'Insan Kamil'. Manusia paripurna akan selalu menghadirkan perilaku kesantunan, kesopanan, kezuhudan dari tarikan kepentingan duniawiah, dan tentunya dalam setiap lakunya selalu men-tajalli-kan serta men-takhalli-kan sifat-sifat Allah. Puasa adalah sebuah pembelajaran nyata untuk men-tajalli-kan Allah dengan segala sifat-Nya.

Oleh karena itu semakin tinggi derajat spritualitas yang hendak digapai dalam ajaran puasa, sejatinya memiliki kekuatan yang seimbang pula dalam merespons dinamika hidup yang timpang. Puasa akan menjadi sia-sia jika setelah pelaksanaannya tidak mampu memberikan efek yang positif dan bermakna dalam bangunan relasi sosial antarsesama dengan penuh harmonis, damai dan aman.

Hal itu karena puasa dapat membunuh sifat rakus manusia. Kerakusan adalah akar konflik yang tak berkesudahan. Puasa membatasi ruang kerakusan agar makan dan minum tidak berlebihan. Jika makan dan minum berlebihan maka sudah pasti kita akan terjatuh pada situasi yang disebut oleh Allah berada pada alam fujuur, alam kehinaan, alam kesengsaraan, alam kekacauan, alam ketidakdamaian. Sebagai Muslim yang taat serta patuh harus mampu menghindari konflik dan pertikaian untuk mewujudkan bumi Indonesia dengan aman, damai serta harmonis di tengah keragaman agama. 

Penulis adalah Ketua PW GP Ansor Maluku Utara. Tulisan ini disampaikan dalam 'Renungan Ramadhan' yang dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara bekerjasama dengan RRI Ternate, 11 Mei 2019.


Rabu 22 Mei 2019 5:0 WIB
Urgensi Puasa bagi Bangsa Indonesia
Urgensi Puasa bagi Bangsa Indonesia
Oleh: Nanang Qosim

Dalam sejarah manusia di muka bumi ini, puasa diakui memiliki peran dan fungsi yang sangat signifikan dalam membentuk kepribadian manusia yang baik. Ini terbukti dengan banyaknya tokoh dunia yang merupakan figur-figur manusia yang selalu melakukan aktivitas berpuasa dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja, mereka semua adalah para Nabi Allah yang kita muliakan. Mereka semua tidak lain adalah contoh-contoh  teladan dari kalangan agamawan yang terlatih di dalam melaksanakan ritual puasa tersebut. 

Pun, puasa sangatlah diperlukan oleh seorang manusia dalam rangka melatih ketahanan fisik guna menghadapi penderitaan yang selalu saja menyertai kehidupannya. Karena dengan berpuasa seseorang akan terbiasa menghadapi cobaan hidup seperti menghadapi keterbatasan yang kerap menjadi fenomena yang sering kita alami.  Bahkan, puasa dapat mengajarkan kepada manusia untuk selalu bersikap empati terhadap penderitaan yang diderita oleh sesama manusia. Puasa juga mendorong manusia untuk rela berbagi antar sesama umat manusia. 

Di negeri ini (Indonesia) yang setiap tahunnya kedatangan Ramadhan dan sebagian besar pemimpin dan rakyatnya adalah beragama Islam, tentunya mereka semua turut berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan keagamaan di bulan Ramadhan ini. Oleh sebab itu, dengan banyaknya penduduk di negeri ini yang berpuasa, sejatinya bangsa ini akan mampu menghasilkan para pemimpin yang berkualitas dan juga rakyat yang kuat di dalam mengemban tugas sehari-hari. 

Sudah waktunya dengan berpuasa bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang besar dan kompetitif di dunia intenasional. Karena tanpa kita sadari, dengan berpuasa bangsa ini sedang mengingatkan dirinya sebagai bangsa yang ber-Tuhan seperti yang sudah tertulis di dalam sila pertama Pancasila "Ketuhanan Yang Maha Esa".  Yang berarti percaya kepada Tuhan bermakna bahwa kita selalu merasakan bahwa sikap, tindakan, batin yang ada di relung jiwa yang paling dalam selalu berada dalam pengawasan Tuhan Yang Maha Tahu. Larangan makan dan minum di siang hari tanpa harus diawasi oleh siapa pun membuat kita tumbuh sebagai bangsa yang jujur, yang bisa dipercaya dan yang selalu siap berbuat baik. 

Menjadi Lebih Maju

Dengan berpuasa bangsa Indonesia akan lebih maju dalam mengembangkan kepribadian yang baik. Sebagaimana terlihat, kepribadian tersebut terbentuk dengan latihan merasakan rasa lapar dan haus yang pada dasarnya kita sedang melatih untuk prihatin, dan yang pada gilirannya akan mengembangkan wawasan sosial, kepedulian sosial dan sikap empati bagi sesama manusia. Puasa juga melatih bangsa ini untuk memiliki wawasan yang tidak sesempit diri dan kelompok. Puasa melihatkan kita bahwa di sekitar kita ada kehidupan yang layaknya mendapat perhatian. Suatu kesadaran yang sangat penting bagi kita sebagai satu bangsa.
 
Puasa yang juga melandasi kita untuk saling membantu satu sama lain, sehingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan diwujudkan secara riil di negeri ini. Falsafah hidup Bhinneka Tunggal Ika akan dapat diwujudkan apabila kita mau saling mengenal, saling prihatin, saling mengetahui dan merasakan nasib satu sama lain. Dengan cara ini maka nilai kebangsaan kita akan muncul dengan sendirinya. Namun, terlebih dulu nilai kebangsaan tersebut harus terbentuk bila seseorang ingin memberi lebih banyak dari orang lain, ingin berkorban lebih dari orang lain, ingin memberi lebih banyak dari yang diterimanya. 

Baik buruknya sebuah negara dapat dilihat dari hubungan yang terjadi antara sesama anggota masyarakatnya. Bila masyarakat secara umum cenderung untuk sedikit berbuat dan banyak menuntut, banyak menuntut tidak mau memberi, maka negara tersebut cenderung menjadi lemah dan kacau. 

Bangsa menjadi lemah karena tidak mempunyai tabungan, tidak mempunyai cadangan bila terjadi krisis. Begitu pun menjadi lemah tatkala elemen bangsa cenderung mementingkan diri sendiri. Maka, dengan berpuasa, bangsa Indonesia dapat membentuk anggota masyarakat yang siap berkorban dan tidak banyak menuntut kepada negara namun selalu berusaha memberi lebih banyak dari yang mereka terima. Bangsa dengan mentalitas seperti ini akan berubah menjadi bangsa yang maju, karena memiliki sumber daya yang luas. Akhirnya, bangsa ini akan menjadi bangsa yang kaya, dan tidak ada rakyat yang hidup dalam kekurangan.

Demikian pula, bangsa ini  akan lemah apabila antar elemen bangsanya saling terkam-menerkam, mencari kesalahan yang lain dan saling menjatuhkan, sehingga roda pembangunan menjadi terhenti. Bangsa yang berpuasa akan menciptakan anggota masyarakat yang selalu berusaha mencari kebaikan dan melihat segi positif anggota masyarakat lainnya. 

Oleh karena itu, di sinilah fungsi dan peran puasa yang bisa mengajarkan kita untuk saling membantu yang lemah. Puasa pun mengajarkan kita untuk bersikap ikhlas tidak terlalu menghitung-hitung kelebihan dan prestasi kita, lebih jauh lagi kita diajarkan lewat nilai-nilai puasa untuk menutupi kelebihan dan prestasi diri. Dengan kualitas kepribadian bangsa seperti ini maka bangsa Indonesia diharapkan mampu menjelma menjadi bangsa yang kuat dan sejahtera. Amin.

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Prodi PAI UIN Walisongo Semarang, Pengurus ISNU Kabupaten Demak, Jawa Tengah. 


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG