IMG-LOGO
Nasional

Kiai Said Prihatin Ramadhan Ada yang Bertindak Anarkis

Kamis 23 Mei 2019 17:50 WIB
Bagikan:
Kiai Said Prihatin Ramadhan Ada yang Bertindak Anarkis
KH Said Aqil Siroj berceramah dalam Bukber di PBNU, Rabu (23/5)

Jakarta, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Peringatan Nuzulul Qur'an dan Buka Puasa Bersama di Pelataran Masjid Annahdlah Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, Kamis (23/5) petang ini.

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa para santri dan warga NU di berbagai daerah dan pesantren di Indonesia, meramaikan bulan suci Ramadhan dengan khusyuk dan aktif pengajian, termasuk pengajian kitab kuning.

Kiai Said menyebutkan di salah satu pesantren di Cirebon, Jawa Barat, ada santri yang telah mengkhatamkan pengajian kitab kuning sebanyak lima jilid. Sementara di Jakarta, umat Islam yang mengaku membela Islam, justru melakukan aksi demonstrasi yang berujung dan diwarnai dengan tindakan anarkis, hinga menimbulkan kerugian.

Fenomena ini mengundang keprihatinan PBNU. Pasalnya, bulan suci Ramadhan yang seharusnya diisi dengan usaha-usaha untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, sementara ada pihak yang melakukan sebaliknya.

Kiai Said menjelaskan dengan peristiwa tersebut, semangat beragama dan berbangsa warga NU sudah tepat.

Kiai Said juga mengkritisi maraknya ustadz-ustadz dadakan. Para ustadz yang aslinya berprofesi sebagai artis, dengan alasan hijrah lalu mengubah penampilan dengan dandanan islami. Satu dua ayat yang mereka kuasai, lalu dijadikan keberanian menyatakan diri sebagai ustadz.

Hal ini sangat berbeda dengan tradisi NU, di mana seorang kiai atau ustadz, akan lebih dulu menempa diri dengan beragam pengetahuan keagamaan, sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengaji.

Selain warga dan pengurus NU, buka puasa tersebut juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin, dan sejumlah menteri serta pejabat. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Kamis 23 Mei 2019 22:15 WIB
Redam Konflik, Gubernur Jatim Gelar Silaturahmi di Sampang
Redam Konflik, Gubernur Jatim Gelar Silaturahmi di Sampang
Khofifah Indar Parawansa di Mapolres Sampang.
Sampang, NU Online
Gubernur Jawa Timur menggelar silaturahmi dengan para ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat di Sampang. Hal tersebut sebagai solusi meredam terjadinya konflik. Solusi ini juga berlaku di kawasan manapun di seluruh Jatim.

“Kami menyilaturahmikan pikiran kami, menyilaturahmikan hati kami, menyilaturahmikan bagaimana bersama-sama kita membangun kehidupan yang harmoni, saling berseiring, proses saling menjaga dan menghormati di antara ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan,” kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Kapolda Jatim dan Pangdam V/Brawijaya serta para ulama di Kantor Mapolres Sampang, Kamis (23/5).

Menurutnya, silaturahmi bisa menyambungkan kesepahaman, persepsi dan pikiran antara pemerintah, Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat. “Sebab kesepahaman melahirkan saling mempercayai,” ujar Khofifah.

Menurut perempuan yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU tersebut, dengan silaturahmi diharapkan para kiai bisa mempersambungkan kesepakatan dalam merawat umat dalam kehidupan masyarakat.

“Keinginan pemerintah bersilaturahmi untuk menata kehidupan masyarakat yang baik, menata kehidupan keagamaan yang baik, serta kehidupan kebangsaan kenegaraan yang baik,” terangnya.

Di sela kunjungannya, Khofifah menyerahkan sepenuhnya kepada Kapolda Jatim beserta jajarannya terkait kasus pembakaran Kantor Mapolsek Tambelangan, Sampang.

Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen (Pol) Luki Hermawan tidak menginginkan kejadian pembakaran Mapolsek Tambelangan, Sampang terulang kembali. Kepala daerah hingga tokoh agama di Sampang diminta untuk bergandeng tangan mencari solusi agar tidak terjadi kasus serupa. 

“Terima kasih kepada tokoh-tokoh agama, ulama, pemuda yang ada di Sampang. Kami difasilitasi Ibu Gubernur dengan Pak Pangdam, kami bisa bertatap muka terkait dengan kejadian semalam,” katanya.

Berdasarkan hasil rapat yang dilakukan dengan para ulama, pihaknya telah mendapatkan kesepakatan terkait kasus di Mapolsek Tambelangan Sampang untuk tidak berkembang lagi dan tidak menjalar ke wilayah Madura atau ke seluruh Jatim. 

Untuk penanganannya, Kapolda Jatim akan melakukan sesuai prosedur dan akan menarik kasus tersebut ke Polda Jatim. Kasus tersebut, saat ini sedang didalami. Pelakunya nanti akan diproses secara hukum yang berlaku. 

Dirinya berharap agar masyarakat Sampang bisa menjaga keguyuban yang selama ini sudah terjalin baik. “Mudah-mudahan kejadian yang kemarin ini tidak terulang lagi, dan bisa menahan diri dan bisa berkomunikasi, bersilaturahmi apabila ada hal-hal bisa dipecahkan dengan cara silaturahmi atau cangkrukan. Sehingga bisa dipecahkan permasalahan tersebut,” jelasnya. 

Menurutnya, diperkirakan kejadian ini terjadi karena adanya berita hoaks yang menginformasikan ada sejumlah tokoh Madura ditahan di Jakarta. 

“Alhamdulillah di Jakarta, Bu Gubernur sudah dapat masukan di sana (Polda Metro Jaya), masyarakat Jawa Timur tidak ada yang terkena atau terjaring oleh Polda Metro Jaya,” imbuhnya. 

Seusai melakukan silaturahmi, gubernur bersama Kapolda Jatim dan Pangdam V/Brawijaya meninjau langsung kondisi Kantor Mapolsek Tambelangan Sampang. (Ibnu Nawawi)

Kamis 23 Mei 2019 21:45 WIB
Enam Rencana Strategis Rakor Pendidikan Diniyah dan Pesantren
Enam Rencana Strategis Rakor Pendidikan Diniyah dan Pesantren
Rakor Rencana Strategis Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.
Yogyakarta, NU Online
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Imam Safe'i mengingatkan enam hal penting untuk merumuskan rencana strategis pendidikan diniyah dan pondok pesantren. Keenam hal itu antara lain pembangunan karakter, pengembangan informasi teknologi, pendidikan kader ulama, layanan masyarakat kurang beruntung, dan pengembangan akademik serta 'branding' pesantren. 

Imam Safe'i menjelaskan hal tersebut saat membuka Rapat Koordinasi Rencana Strategis Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Program Pendidikan Islam 2020-2024, Rabu (22/5) malam di Yogyakarta. 

Menurut Safe'i, pesantren harus memiliki karakter kuat. "Dengan karakter yang kuat, pesantren akan melahirkan alumni yang mumpuni dan menjadi tokoh nasional," katanya. 

Selain itu, pengembangan IT di era 4.0 menurutnya juga tak kalah penting. Juga pengembangan kader ulama. "Tiap provinsi harus ada Mahad Aly meskipun kecil, karena ini merupakan keterwakilan pendidikan pesantren," urainya. 

Sementara layanan pendidikan untuk masyarakat yang kurang beruntung menurut Safe'i bisa dicontohkan dengan membangun pesantren di wilayah perbatasan. "Semua berangkat dari semangat ingin menjangkau yang tidak terlayani dan melayani yang tidak terjangkau," imbuhnya. 

Terkait pengembangan akademik, Safe'i menilai banyak santri yang sebenarnya memiliki potensi untuk melanjutan pendidikan tinggi. "Bahkan sebenarnya mereka mampu bersaing di beberapa fakultas bergengsi di kampus negeri," paparnya. 

Terakhir, Safe'i menilai pendidikan unggul adalah yang punya kekhasan. "Jika kekhasan sudah dimiliki maka trademark pesantren akan muncul, di sinilah perlu 'membranding' pesantren," pungkasnya.

Sebelumnya selaku tuan rumah, Kakanwil Edhi Gunawan menyampaikan ucapan selamat datang di Yogyakarta. "Yogyakarta adalah kota dengan banyak predikat, seperti kota pelajar, budaya, pendidikan dan sebagainya," ujar Kakanwil.

Selain itu, imbuhnya, Yogyakarta dikenal sebagai City of Tolerance. "Meski demikian kami tidak boleh terlena karena ada saja tantangan yang dihadapi," sambung Kakanwil. Terlebih media sosial yang sangat masif sekali sehingga peristiwa yang terjadi di Yogyakarta dapat cepat sekali mencuat sebagai isu nasional, lanjutnya. 

Selain Safe'i dan Edhi Gunawan, hadir pula Kabag Perencanan Sekretariat Ditjen Pendis Ridwan, Kabid Pendidikan Agama Islam dan Keagamaan Islam Kemenag DIY Masrudin dan 70 peserta. Mereka terdiri dari kepala bidang, kepala seksi, dan perencana yang mengampu pendidikan diniyah dan pesantren seluruh Indonesia.

Kegiatan yang dihelat di Grand Quality Hotel Yogyakarta ini berlangsung hingga Jumat (24/5) besok. (Bramma Aji Putra/Ibnu Nawawi)

Kamis 23 Mei 2019 21:30 WIB
Dosen Muda NU Paparkan Awal Mula Islam Radikal di Zaman Rasulullah
Dosen Muda NU Paparkan Awal Mula Islam Radikal di Zaman Rasulullah
Diskusi 'Membedah Pergerakan Islam Radikal di Indonesia' di Unusia Bogor, Kamis (23/5)
Bogor, NU Online
Pengurus Komisariat PMII Unusia Kampus B Rayon Fakultas Agama Islam (FAI) kembali melaksanakan agenda rutina diskusi di Pendopo Unusia Parung Bogor, Kamis (23/5) petang. Acara ini dirangkai dengan buka puasa bersama.

Diskusi bertema Membedah Pergerakan Islam Radikal di Indonesia menghadirikan narasumber aktivis media yang juga dosen muda NU, Fathoni Ahmad. Fathoni memaparkan bahwa munculnya pergerakan Islam radikal di Indonesia awal mulanya terjadi karena mereka didoktrin dengan doktrin agama.

"Semisal, jihad fisabilillah, iming-iming surga dan kenikmatan-kenikmatannya. Dan, muncullah mereka yang berideologi radikal itu," ujar Fathoni.

Mereka, lanjut Fathoni, seakan-seakan sangat mengerti agama. Tetapi, sebenarnya pemahaman tentang agama itu dangkal. Mereka memahami agama secara tekstual dan parsial saja.

"Dan setelah itu, mereka di kasih pemahamahan bahwa seakan-akan tidak percaya dengan pemerintahan dan terjadilah benturan antara mereka dan pemerintahan. Alhasil, muncullah teroris," lanjutnya.

Fathoni juga menceritakan embrio-embrio radikal itu sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw. Waktu itu, Rasulullah Saw dan para sahabat sedang berbincang ringan di emperan masjid. Tiba-tiba datanglah orang tanpa sopan santun melewati Rasulullah SAW dan para sahabat tanpa menyapa langsung masuk masjid, lalu orang tersebut melaksanakan shalat.

"Ciri-ciri mereka adalah berpakaian cingkrang dan dadanya besar seperti dada perempuan. Golongan mereka mulai menyebar pada era kekhalifahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karomallahu Wajhah, yang dinamakan kelompok Khawarij," papar Fathoni.

Fathoni membeberkan pergerakan teroris itu terbagi menjadi tiga level, yaitu, Salafi, Jihadi dan Takfiri. Salafi adalah mereka yang menyebarkan dakwah radikal di majelis-majelis, masjid dan kampus. Mereka nonpolitik. Sementara Jihadi adalah mereka yang bergerak siap jihad atau siap mati. Sedangkan Takfiri adalah mereka yang mengganggap selain golongannya adalah kafir dan wajib dibunuh.

Fathoni berpesan agar mereka memegang teguh paham Islam moderat, tidak seperti mereka yang mempunyai idelogi radikal. "Terkhusus teman-teman (pergerakan) harus lebih  bisa memahami sosiologis dan psikologis masyarakat, sehingga Islam bisa dipahami. Tantangan luar bisa bagi kita, akhlaq dan adab yang harus diperkuat," pungkasnya. (Muhammad Asna Maulana/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG