IMG-LOGO
Nasional

Akademisi: Pendidikan Indonesia Kehilangan Ihsan

Jumat 24 Mei 2019 11:0 WIB
Bagikan:
Akademisi: Pendidikan Indonesia Kehilangan Ihsan
Jakarta, NU Online
Pengamalan ajaran Islam di Indonesia saat ini lebih dominan aspek eksoteriknya, tetapi kehilangan hal-hal yang bersifat esoteris. Hal tersebut ditengarai karena pendidikan sekarang tidak mengenalkan ihsan sebagai suatu ajaran Islam yang penting.
 
"Yang dilupakan itu yang ihsannya itu," kata Oman Fathurahman, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saat Kajian Titik Temu Ke-47 di Gedung Graha STR, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (23/5).
 
Oman menjelaskan bahwa siswa di sekolah saat ini hanya mengkaji Islam dan iman saja sebagai objek pelajarannya. Akan tetapi, aspek ihsan sebagai satu bagian inti dalam ajaran Islam tidak mendapat tempat.
 
"Ada tidak siswa itu ditanya apa yang dimaksud dengan ihsan? Tidak ada," ujarnya dalam diskusi yang mengangkat tema Akar Spiritualitas Islam di Indonesia itu.
 
Padahal, jelas Oman, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan itu, tidak hanya Islam dan iman yang ditanyakan oleh malaikat Jibril a.s. yang menyamar sebagai orang laki-laki dan merapatkan lututnya dengan Nabi Muhammad saw. Jibril juga saat itu, katanya, menanyakan tentang ihsan.
 
"Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu dilihat oleh Allah. Kalau gak bisa, yakinlah Allah melihat kita," kata Oman mengartikan jawaban Rasulullah tentang makna ihsan yang ditanyakan oleh malaikat Jibril.
 
Artinya, lanjut Oman, tidak mungkin melakukan korupsi, berbuat jahat terhadap sesama, apalagi menghalalkan darah gegara agama. karena sebetulnya, di saat memahami hal tersebut, katanya, kita merasa bahwa esensi agama adalah merawat kebaikan akan selalu dilihat oleh Tuhan.
"Ini yang tidak diinternalisasikan. Apalagi oleh anak-anak milenial sekarang," ujar pria yang pernah mondok di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, tersebut.
 
Dalam konteks spiritualitas, menurut Oman, ihsan dimaknai secara lebih dalam. Mengutip dari kitab Ithaf al-Dzaki karya Syekh Ibrahim al-Kurani, ia menjelaskan bahwa definisi ihsan yang disebutkan di atas itu pengertian bagi orang umum.
 
"Kalau kamu sudah fana dari egoisme itu sendiri, kalau sudah tidak ada sifat basyariyah pada diri kamu, sifat ego kamu, pasti kamu melihat Tuhan di manapun, mau di Muslim, mau di non-Muslim," kata akademisi yang menamatkan studi doktoralnya di Jerman itu dalam diskusi yang digelar oleh Nurcholish Madjid Society (NCMS) tersebut.
 
Sebab, menurut ahli filologi itu, manusia dan alam secara keseluruhan itu serupaan atau bayangan Tuhan. Hal tersebut tidak bertentangan dengan ayat al-Qur'an, laysa kamitslihi syai`un. "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan mitsil-Nya Tuhan. Yang menyerupai serupaan Tuhan saja tidak ada, apalagi menyerupai Tuhan," jelasnya menerjemahkan kalimat tersebut.
 
Padahal, persoalan ihsan ini sebelumnya banyak ditulis oleh para ulama Nusantara di zaman dulu. "Teori islamisasi di Indonesia itu sebetulnya aspek spiritualnya. Karya-karya yang ditulis (para ulama Nusantara) itu yang menjelaskan tentang ihsan," pungkas staf ahli Menteri Agama itu.
 
Diskusi yang dipandu oleh Direktur NCMS Muhammad Wahyuni Nafis itu juga diisi oleh guru besar falsafah dan agama Universitas Paramadina sekaligus tokoh sastra sufistik Abdul Hadi WM. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Jumat 24 Mei 2019 23:0 WIB
Ikuti Green Sanlat Ramadhan LPBINU, Dapatkan Berbagai Manfaatnya
Ikuti Green Sanlat Ramadhan LPBINU, Dapatkan Berbagai Manfaatnya
Sekretaris LPBINU, Yayah Ruchyati.
Jakarta, NU Online
Membangun kesempurnaan akhlak manusia merupakan misi utama Rasulullah Saw. Dalam hal ini konsep akhlak tidak hanya menyangkut soal perilaku manusia dengan sesamanya, akan tetapi juga manusia dengan dirinya, dengan alam dan dengan Allah Swt.

Mengingat pentingnya tuntutan inheren manusia dengan lingkungan alam semesta Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) akan menggelar kegiatan pesantren kilat atau sanlat. Melalui Green Sanlat Ramadhan kegiatan ini mengajak para siswa Sekolah Dasar (SD) atau pelajar berumur 8-12 tahun.

"Green Sanlat Ramadhan yang bertemakan Cinta Agama, Cinta Negara, Cinta Lingkungan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman soal keislaman saja, akan tetapi juga akan dibekali bagaimana mencintai lingkungan dan mengajak anak-anak agar peduli terhadap lingkungan sejak dini," kata Seketaris LPBINU Yayah Ruchyati di Gedung PBNU, Jumat (24/5).

Yayah mengatakan sejumlah kegiatan yang termasuk di dalam rangkaian Sanlat di antaranya memberikan bimbingan memahami pokok-pokok Tauhid dan Akidah Islam, bimbingan memahami konsep Aswaja dan ke-NU-an, konsep toleransi antarumat beragama, membaca Al-Qur'an yang benar, bimbingan shalat wajib dan shalat sunah, dan juga akhlakul karimah kepada orangtua, guru, dan kepada teman.

"Nilai lebih ari mengikuti Sanlat ini adalah nantinya para peserta akan mendapat aneka bekal materi tentang akhlak kepada lingkungan, membuat produk daur ulang, mengelola lingkungan dengan metode ecobrick, dan bimbingan mengelola lingkungan dengan metode bijak menggunakan plastik, yang dibungkus dengan kemasan interaktif dan menyenangkan karena peserta yang disasar adalah anak-anak," imbuh Yayah.

Kegiatan Green Sanlat Ramadhan akan diselenggarakan selama dua hari pada 27-28 Mei, di Masjid Annahdlah Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164, Senen, Jakarta Pusat. Adapun pendaftaran dapat dilakukan dengan cara mengisi formulir di http://bit.ly/GreenSanlatLPBINU atau via telepon maupun pesan WhatsApp ke nomor Ai Rosita 0813 8107 7129/Anty 0857 9560 9500. (Anty Husnawati/Kendi Setiawan)



Jumat 24 Mei 2019 21:30 WIB
Kiai Jatim Doakan Agar Semua Pihak ‘Legowo’ atas Hasil Pemilu
Kiai Jatim Doakan Agar Semua Pihak ‘Legowo’ atas Hasil Pemilu
KH Marzuki Mustamar

Jombang, NU Online

Beberapa waktu terakhir kita menyaksikan maraknya aksi demonstrasi di Jakarta pascapengumuman KPU tentang hasil Pemilu yang memenang pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin atas Prabowo-Sandiaga. Rangkaian aksi unjuk rasa yang berujung anarkis sepanjang 21-23 Mei ini mendapat perhatian dari Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar.

Kiai Muarzuki Mustamar mengaku prihatin atas kerusuhan yang seharusnya tidak perlu terjadi itu. Dalam sebuah acara Peringatan Nuzulul Qur'an ia mendoakan agar semua kelompok menerima dengan lapang dada keputusan KPU atas Pemilu 2019.

“Semoga jembar dadanya. Semoga Indonesia aman,” kata Kiai Marzuki Mustamar di Masjid Jami' Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang, Kamis malam (23/5).

Ia tak ingin Indonesia mengalami situasi buruk yang tak diinginkan akibat aksi yang berujung pada kerusuhan tersebut. Kerusuhan yang terjadi harus segera diselesaikan karena menyebabkan korban jiwa, luka-luka dan korban kerugian yang jumlahnya sangat besar.

Menurutnya semua orang harus menjaga Indonesia dalam keadaan aman. Sementara itu, ia berpendapat bahwa seharusnya Pemilu menjadi media untuk mendukung terhadap keberadaan Indonesia lebih maju dan berkembang, bukan sebaliknya.

Adanya kerusuhan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, lanjutnya, hanya merusak tatanan kebangsaan yang sudah dibangun oleh semua kelompok termasuk para kiai dan tokoh bangsa lain.

Ia berharap, pihak-pihak yang sengaja membuat ketegangan dan membenturkan pemerintah dan rakyat segera insyaf. Indonesia yang penduduknya mencapai 269 juta perlu untuk dijaga dengan tetap memegang prinsip kerukunan dan keragaman, bukan justru dibenturkan antara satu dengan yang lainnya.  (Syamsul Arifin/Ahmad Rozali)


Jumat 24 Mei 2019 20:40 WIB
Kemendes Arahkan Program Sistem Cashless Payment ke Daerah Transmigrasi
Kemendes Arahkan Program Sistem Cashless Payment ke Daerah Transmigrasi
Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi
Yogyakarta, NU Online
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar Focus Group Discussion (FGD) pengembangan ekonomi kreatif atau digital untuk percepatan pengembangan pembangunan transmigrasi sebagai wujud restorasi transmigrasi di Ruang Auditorium Merapi, Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat (24/5).
 
Dalam FGD ini, Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi menyampaikan bahwa program transmigrasi menjadi salah satu solusi bagi perkembangan indonesia. Pasalnya, program transmigrasi telah memberikan kontribusi signifikan terutama untuk mengatasi problematika kependudukan dan problematika terkait kemiskinan.
 
"Wilayah transmigrasi saat ini sudah ada yang menjadi pusat-pusat pertumbuhan diluar Pulau Jawa. Kita sudah melihat bagaimana transmigrasi memberikan kontribusi bagi berdirnya dua provinsi, puluhan kabupaten, ratusan desa dan kecamatan. Jadi, dalam berbagai aspek, transmigrasi telah menjadi semacam ikon penting bagi pembangunan industri, bahkan menjadi inspirasi bagi negara tetangga untuk mengembangkan hal yang sama," kata Anwar saat membuka FGD.
 
Menurut Anwar, Kemendes PDTT telah membuat dan mengusulkan program revitalisasi perekonomian desa kawasan transmigrasi dan daerah tertinggal yang tujuannya agar semakin tumbuh dan berkembang perekonomiannya.
 
"Karena itu, kita mesti kawal secara bersama-sama. Asumsi yang kita bangun bahwa ada potensi dari pedesaan atau dari transmigrasi kalau kita bisa mengintervensi secara tepat. Maka, akan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terutama bagi pertumbuhan ekonomi bangsa indonesia. Saat ini, kita sudah mengidentifikasi menyangkut konektivitas atau hubungan antara wilayah transmigrasi, antar wilayah pedesaan, antar perdesaan dan perkotaan, antar pedesaan dengan pusat produksi," katanya.
 
Lebih lanjut Anwar mengatakan bahwa terkait pengembangan digital ekonomi, dirinya telah meninjau BUMDes dan pasar-pasar yang sudah dibantu dengan mengembangkan penggunaan Cashless Payment yaitu pemanfaatan alat pembayaran digital.
 
"Cashless ini ternyata mendapat respon masyarakat dengan baik. Sehingga, kedepan kita akan arahkan ke cashless. Penerapan cashless payment system ini, diharapkan dapat memperbaiki sistem pengelolaan manajemen keuangan ataupun data mining yang selama ini menjadi kelemahan menjadi lebih baik di desa-desa di wilayah kawasan transmigrasi," katanya.
 
Dalam FGD ini turut dihadiri Dirjen PK Trans M.Nurdin, Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu Kemendes PDTT, Aisyah Gamawati dan sejumlah jajaran dari Kemendes PDTT. Serta turut dihadiri pula para Akademisi dari sejumlah perguruan tinggi, platform dan dari sejumlah pihak terkait dalam mengembangkan wilayah transmigrasi.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG