IMG-LOGO
Daerah

Rahasia Basmalah dan Angka 19 dalam Al-Quran

Jumat 24 Mei 2019 10:30 WIB
Bagikan:
Rahasia Basmalah dan Angka 19 dalam Al-Quran
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur

Jombang, NU Online

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar membongkar rahasia angka 19 dan Basmalah di dalam Al-Quran. Rahasia tersebut berangkat dari penelitian Dr Rasyad Khalifah dari Amerika Serikat.

Dr Rasyad Khalifah, cendikiawan Mesir yang tinggal di Amerika telah mengadakan riset terhadap Al-Quran dengan menggunakan komputer yang canggih, untuk menghitung jumlah kata-kata, kalimat bahkan huruf yang terdapat dalam Al-Quran. Hasil risetnya kemudian menghasilkan Buku Miracle of The Quran

“Sering saya sampaikan, Al-Quran diawali 'bismillah'. Lalu apa rahasianya?, dan ternyata jumlah huruf 'bismillah' itu ada 19 huruf yaitu Ba, Sin, Mim, Alif, Lam, Lam, Ha, Alif, Lam, Ra, Ha, Mim, Nun, Alif, Lam, Ra, Ha, Ya dan Mim. Ternyata angka 19 ini berkaitan dengan banyak hal di Al-Quran. Ini penelitian Dr Rasyad Khalifah dari Amerika Serikat,” jelasnya saat mengisi Nuzulul Qur'an di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Kamis (23/5).

Perdebatan tentang Basmalah apakah ikut surat atau tidak masih terjadi hingga kini. Namun Kiai Marzuki mengingatkan bahwa saat sahabat menulis Al-Quran semasa hidup nabi, tulisan Basmalah tetap ada.

“Saat itu nabi berpesan jangan tulis sesuatu selain dari Al-Quran, sahabat melakukan hal itu. Tapi tulisan Basmalah masih ada. Jika Basmalah bukan bagian dari surat maka pasti dihilangkan. Sahabat sangat manut,” ungkap Kiai Marzuki.

Dikatakannya, peneliti menghitung huruf-huruf tertentu yang ada dalam Al-Qur’an, kemudian jumlah huruf-huruf tersebut dibagi atau bisa juga dikalikan dengan angka 19 tadi. Semisal, jumlah surat dalam Al-Qur’an ada 114, angka ini bisa didapat dari 19 x 6. Atau 114 dibagikan 19 hasilnya 6.

Jumlah Basmalah yang terdapat pada awal setiap surah dalam Al-Qur’an ada 113. Dikurangi surat At-Taubah yang tidak memakai Basmalah. Namun setelah diteliti, didalam surah An-Naml di jumpai dua Basmalah, yaitu satu pada awal surah dan satu lagi pada ayat 30. Sehingga kesemua Basmalah dalam Al-Qur’an tetap 114.

“Kata 'Allah' dalam Al-Qur’an ada 2698, jumlah ini didapat dari 19 x 142. Dan kata 'Rahman' dalam Al-Qur’an selain yang ada pada kata Basmalah ada 57, sama dengan 19 x 3. Kata 'Rahim' dalam Al-Qur’an selain yang ada pada Basmalah, ada 114, 19 x 6 ketemu 114,” tambah Kiai Marzuki.

Penemuan lainnya terkait angka 19 terdapat pada surat Al-Qalam yang dimulai dengan huruf 'nun', ternyata huruf 'nun' yang ada dalam surat tersebut berjumlah 133 dan 19 x 7 ketemu 133. Atau dibalik, 133 : 19 hasilnya 7.

Surat Yasin yang dimulai dengan huruf 'ya' dan 'sin', ternyata huruf-huruf 'ya' dan 'sin' yang ada dalam surat ini berjumlah 285 dan 285 : 19 = 15. Surat Asy-Syura yang dimulai dengan huruf 'ain', 'sin' dan 'qaf' yang ada dalam surah tersebut ada 209 dan 19 x 11 sama dengan 209.

Surah Ar-Ra'du yang dimulai dengan huruf 'alif', 'lam', 'mim' dan 'ra', ternyata huruf-huruf 'alif', 'lam', 'mim' dan 'ra' yang ada dalam surah tersebut ada 1501 dan 1501 dibagi 19 sama dengan 79. Surah 'qaf' yang dimulai dengan huruf 'qaf', ternyata huruf 'qaf' yang terdapat dalam surah tersebut ada 57 dan 19 dikali 3 sama dengan 57. Dibagi atau dikali dengan 19 akan ketemu hasilnya.

“Begitu juga surat Thaha yang dimulai dengan huruf 'Tha' dan 'ha', ternyata huruf 'tha' dan 'ha' yang ada didalam surah tersebut berjumlah 342 dan ini bisa didapat dari 19 dikali 18,” beber Kiai asal Malang ini.

Hasil ini menurut Kiai Marzuki sebagai bukti keotentikan Al-Qur'an. Karena, seandainya ada ayat-ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat lain, maka tentu perkalian-perkalian tersebut akan menjadi kacau. 

Dan pada waktu itu Nabi Muhammad belum punya teknologi secanggih saat ini. Sehingga secara logika saat sulit sekali ada manusia yang bisa mengarang kitab suci dengan hitungan sedetail ini.

“Agar tidak terjadi kesesatan pikir, maka guru ngaji Al-Quran harus dari Ahlussunnah Wal Jama'ah. Karena kalau syiah kurang pas, mereka menolak sebagian sahabat. Padahal sahabat punya sumbangsih besar pada Islam. Begitu juga kalau Wahabi, kurang cocok karena mereka menolak Ahlul Bait. Banyak ajaran nabi yang turun lewat Ahlul Bait. Ikut lah ulama diantara keduanya. Biar tidak menerima sebagian dan menolak sebagian,” tandasnya Kiai Marzuki. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)

Tags:
Bagikan:
Jumat 24 Mei 2019 23:30 WIB
Bupati Pekalongan: Bumikan Al-Qur'an Sebagai Spirit Pembangunan
Bupati Pekalongan: Bumikan Al-Qur'an Sebagai Spirit Pembangunan
Bupati Pekalongan, H Asif Kholbihi
Pekalongan, NU Online
Bupati Pekalongan, Jawa Tengah, H Asif Kholbihi mengatakan, Peringatan Nuzulul Qur'an diharapkan jadi momentum membumikan Al-Qur'an di Kabupaten Pekalongan agar menjadi spirit pembangunan di Kota Santri. 

"Tanpa nilai spiritualitas, pembangunan akan bersifat kosong, tidak akan mampu menghantarkan masyarakatnya untuk selamat di dunia dan akhirat," jelasnya saat memberikan kata sambutan pada Peringatan Nuzulul Qur'an di Masjid Al-Muhtarom, Kajen Kabupaten Pekalongan, Selasa (22/5) malam.

Dijelaskan, untuk membumikan Al-Qur'an, Pemkab Pekalongan telah melakukan sejumlah ikhtiar, di antaranya meluncurkan Kampung Qur'an di Desa Proto, Kecamatan Kedungwuni, peluncuran metode pembelajaran Al-Qur'an, yakni metode Muqri’ Yanbu’a, dan menerapkan jam belajar dan mengaji usai shalat Maghrib hingga Isa', serta terus menerus melakukan kajian-kajian dengan melibatkan ulama-ulama di Kabupaten Pekalongan.
 
“Pada tanggal 24 Oktober 2018 kita luncurkan Kampung Qur'an di Desa Proto, Kecamatan Kedungwuni. Ini diharapkan kajian-kajian tentang Al-Qur'an minimal tentang tilawatil Qur'an bisa dikembangkan, lebih memasyarakat kembali, agar lebih melengkapi kajian-kajian Islam secara insklusif oleh ustadz/kiai di pesantren dan madrasah," tandasnya.

Dirinya juga menyaksikan peluncuran salah satu metodologi membaca Al-Qur'an yang diinisiasi oleh seorang ahli Qur'an Indonesia, bagaimana cara membaca Al-Qur'an secara cepat dan benar agar pertama bisa memahami ilmu Qur'an dari segi paling awal, yakni tajwid dan membacanya, dan diharapkan bisa meningkat ke ilmu tafsirnya. 

"Karena Qur'an ini tidak bisa dipahami secara sembarangan. Yang penting kita akan terus menerus melakukan kajian-kajian agar Al-Qur'an ini bisa berkembang dengan baik, dengan mengajak diskusi ulama-ulama muda di Kabupaten Pekalongan,” papar Bupati.

Disebutkan Asif, Kabupaten Pekalongan kaya sekali dengan orang-orang cerdik pandai di bidang agama, dan ini warisan nenek moyang. Menurutnya, berdasarkan penelitian yang ada, agama Islam ternyata sudah masuk sejak zaman sahabat. Kabupaten Pekalongan, lanjut Bupati, adalah salah satu kabupaten yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa bagian utara. Bahkan, menurut Gus Dur yang pernah melakukan napak tilas di Pekalongan, Islam masuk ke Kabupaten Pekalongan jauh sebelum Wali Songo.

“Masyarakat Kabupaten Pekalongan sudah memeluk Islam sejak lama. Sebagai generasi panjang yang sudah mewarisi kultur budaya keislaman yang sudah lama, kita perlu melakukan pembaharuan di tingkat paradigma maupun gerakan agar masyarakat Islam Kabupaten Pekalongan tidak mudah goyah," jelas bupati yang pernah mendapatkan gelar Santri of The Year 2018. 

Kepada NU Online, Kamis (23/5) Bupati mengatakan, ada pertanyaan, orang Islam tapi tidak mengerti Qur'an bagaimana?. Ini menjadi tantangan kita semua, melalui forum-forum, peringatan-peringatan, dan kajian-kajian dengan melibatkan seluruh pihak di Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.

Bupati meyakini jika ajaran-ajaran Qur'an bisa diaktualisasi, apalagi menyangkut relasi antara pemimpin dengan yang dipimpin, maka konsep baldatun tayyibatun warabbun ghafur bisa terwujud.

“Membangun itu harus punya landasan spiritualitas. Ketika kita membangun peradaban dan menafikan aspek spiritualitas, maka pembangunan ini akan bersifat kosong, tidak mempunyai kekuatan untuk menghantarkan masyarakat mencapai keselamatan di dunia dan akhirat," pungkasnya. (Muiz)
Jumat 24 Mei 2019 22:30 WIB
Peduli Palestina, PMII Jember Galang Dana dan Baca Shalawat Asygil
Peduli Palestina, PMII Jember  Galang Dana dan Baca Shalawat Asygil
PMII Rayon Persiapan Tarbiyah Komisariat INAIFAS, Kencong berpose bersama di sela-sela penggalangan dana

Jember, NU Online
Derita rakyat Palestina yang tak kunjung berakhir akibat nafsu serakah Israel, mendapat simpati dari mahasiswa yang tergabung dalam PMII Rayon Persiapan Tarbiyah Komisariat INAIFAS (Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyah) Kencong, Jember Jawa Timur. Simpati itu dituangkan dalam bentuk penggalangan dana dan pembacaan shalawat asygil di depan alun-alun Kencong, Kamis (23/5).

Menurut  Ketua  Umum PMII Rayon Persiapan Tarbiyah Komisariat INAIFAS, Gandys Nanda Indriawan, apa yang dilakukan Israel terhadap rakyat Pelestina sungguh biadab, di luar perikemanusiaan. Nyawa rakyat Palestina tidak ada harganya di mata mereka. Anehnya, negara-negara yang tergabung dalm Liga Arab, hanya bisa mengutuk Israel tanpa tindakan yang nyata. Akhirnya kekejaman Israel semakin menjadi-jadi, dan tak pernah berakhir.

“Kalau dana kami salurkan lewat Pengurus Cabang PMII. Sedangkan doa (shalawat asygil), kami langsung mengadu kepada Allah, semoga Israel segera dihancurkan, sehancur-hancurnya,” tuturnya kepada NU Online di Kencong, Jumat (24/5).

Sementara itu, Ketua Bidang Kaderisasi PMII Rayon Persiapan Tarbiyah Komisariat INAIFAS, Sinta Bella menegaskan, negara-negara Islam mesti bersatu untuk membantu Palestina dan menghadang Israel. Bantuan tersebut tidak hanya dari sisi pengucuran dana, tapi juga loby internasional untuk menghentikan tindakan busuk Isarel.

“Harus bersatu, wajib bersatu untuk membantu Palestina. Itu penjajahan sudah kasat mata,” jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris PC PMII Kabupaten Jember, Abd. Latif Azzam menukas, pihaknya memang menginstruksikan kepada seluruh komisariat (9) dan rayon PMII (22) untuk melakukan penggalangan dana selama sepekan.

“Sabtu  besok (25/5) masa penggalangan dana berakhir,” ujarnya.

Mahassiwa Fakultas Ushuluddin IAIN Jember itu menyatakan bahwa ide penggalangan dana untuk Palestina tersebut  berangkat dari keprihatinannya melihat kekejaman Israel membombardir rakyat Pelestina, bahkan tak sedikit anak-anak yang tak berdosa ikut terbunuh.

“Seharusnya bulan Ramadhan mereka tenang, aman, tapi di situ tak ada waktu tanpa desingan peluru,” pungkasnya (Aryudi AR).

Jumat 24 Mei 2019 22:0 WIB
Bupati Pekalongan: Marbot Masjid Tugas Sangat Mulia
Bupati Pekalongan: Marbot Masjid Tugas Sangat Mulia
Bupati Pekalongan, H Asif Kholbihi (kanan)
Pekalongan, NU Online
Bupati Pekalongan Jawa Tengah Asip Kholbihi menggelar buka bersama (bukber) dengan marbot masjid se-Kabupaten Pekalongan di Aula Lantai I Setda, Kamis (23/5) kemarin petang. Dalam kesempatan ini, pemda memberikan bantuan untuk marbot masjid sebesar Rp1 juta dari anggaran APBD Tahun Anggaran 2019.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengatakan, marbot masjid adalah tugas yang sangat mulia. Dirinya berpesan agar marbot masjid di Kabupaten Pekalongan bisa menjaga kebersihan dan kesucian masjid, serta meramaikan masjid di Kota Santri. 

"Saya berpesan kepada para marbot untuk selalu menjaga kesucian, kebersihan dan keindahan masjid, agar jamaah merasa nyaman dalam beribadah dan bertaqarub kepada Allah SWT.

Bupati pun menekankan agar manusia ridho dengan takdir yang diberikan Allah SWT menjadi marbot masjid. “Dengan bulan Ramadhan ini semoga kita semua diberkati, barakah rezekinya, shaleh dan shalehah anak-anaknya,” harap Bupati.
 
Dikatakan, Pemkab Pekalongan dari APBD Tahun Anggaran 2019 memberikan bantuan untuk seluruh marbot masjid di Kabupaten Pekalongan masing-masing sebesar Rp1 juta. Tujuan pemberian bantuan ini, lanjut Bupati, sebagai bentuk rasa terima kasih pemerintah kepada para marbot masjid supaya menjaga kebersihan dan kesucian masjid, serta meramaikan masjid.

Bupati dalam kesempatan itu juga meminta doa agar semua penyelenggara pemerintah di Kabupaten Pekalongan diberi kekuatan lahir batin untuk melaksanakan amanah, yakni untuk menghadirkan program-program yang bisa memberi manfaat di dunia dan akhirat, serta bisa mensejahterakan masyarakat Kabupaten Pekalongan.

Kepada NU Online, Bupati yang pernah mendapat penghargaan sebagai Santri of The Year 2018 menjelaskan, dari ratusan marbot masjid yang menerima tali asih dari pemkab 80% lebih adalah marbot yang mengurus masjid NU.

Kegiatan bukber marbot dengan Bupati ini diikuti ratusan marbot di Kota Santri. Kegiatan ini di antaranya diikuti oleh Sekda Mukaromah Syakoer, sejumlah kepala OPD, dan unsur Forkompinda, di antaranya Dandim 0710 Pekalongan Letkol Inf Arfan Johan Wihananto. (Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG