::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Rahasia Basmalah dan Angka 19 dalam Al-Quran

Jumat, 24 Mei 2019 10:30 Daerah

Bagikan

Rahasia Basmalah dan Angka 19 dalam Al-Quran
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur

Jombang, NU Online

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar membongkar rahasia angka 19 dan Basmalah di dalam Al-Quran. Rahasia tersebut berangkat dari penelitian Dr Rasyad Khalifah dari Amerika Serikat.

Dr Rasyad Khalifah, cendikiawan Mesir yang tinggal di Amerika telah mengadakan riset terhadap Al-Quran dengan menggunakan komputer yang canggih, untuk menghitung jumlah kata-kata, kalimat bahkan huruf yang terdapat dalam Al-Quran. Hasil risetnya kemudian menghasilkan Buku Miracle of The Quran

“Sering saya sampaikan, Al-Quran diawali 'bismillah'. Lalu apa rahasianya?, dan ternyata jumlah huruf 'bismillah' itu ada 19 huruf yaitu Ba, Sin, Mim, Alif, Lam, Lam, Ha, Alif, Lam, Ra, Ha, Mim, Nun, Alif, Lam, Ra, Ha, Ya dan Mim. Ternyata angka 19 ini berkaitan dengan banyak hal di Al-Quran. Ini penelitian Dr Rasyad Khalifah dari Amerika Serikat,” jelasnya saat mengisi Nuzulul Qur'an di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Kamis (23/5).

Perdebatan tentang Basmalah apakah ikut surat atau tidak masih terjadi hingga kini. Namun Kiai Marzuki mengingatkan bahwa saat sahabat menulis Al-Quran semasa hidup nabi, tulisan Basmalah tetap ada.

“Saat itu nabi berpesan jangan tulis sesuatu selain dari Al-Quran, sahabat melakukan hal itu. Tapi tulisan Basmalah masih ada. Jika Basmalah bukan bagian dari surat maka pasti dihilangkan. Sahabat sangat manut,” ungkap Kiai Marzuki.

Dikatakannya, peneliti menghitung huruf-huruf tertentu yang ada dalam Al-Qur’an, kemudian jumlah huruf-huruf tersebut dibagi atau bisa juga dikalikan dengan angka 19 tadi. Semisal, jumlah surat dalam Al-Qur’an ada 114, angka ini bisa didapat dari 19 x 6. Atau 114 dibagikan 19 hasilnya 6.

Jumlah Basmalah yang terdapat pada awal setiap surah dalam Al-Qur’an ada 113. Dikurangi surat At-Taubah yang tidak memakai Basmalah. Namun setelah diteliti, didalam surah An-Naml di jumpai dua Basmalah, yaitu satu pada awal surah dan satu lagi pada ayat 30. Sehingga kesemua Basmalah dalam Al-Qur’an tetap 114.

“Kata 'Allah' dalam Al-Qur’an ada 2698, jumlah ini didapat dari 19 x 142. Dan kata 'Rahman' dalam Al-Qur’an selain yang ada pada kata Basmalah ada 57, sama dengan 19 x 3. Kata 'Rahim' dalam Al-Qur’an selain yang ada pada Basmalah, ada 114, 19 x 6 ketemu 114,” tambah Kiai Marzuki.

Penemuan lainnya terkait angka 19 terdapat pada surat Al-Qalam yang dimulai dengan huruf 'nun', ternyata huruf 'nun' yang ada dalam surat tersebut berjumlah 133 dan 19 x 7 ketemu 133. Atau dibalik, 133 : 19 hasilnya 7.

Surat Yasin yang dimulai dengan huruf 'ya' dan 'sin', ternyata huruf-huruf 'ya' dan 'sin' yang ada dalam surat ini berjumlah 285 dan 285 : 19 = 15. Surat Asy-Syura yang dimulai dengan huruf 'ain', 'sin' dan 'qaf' yang ada dalam surah tersebut ada 209 dan 19 x 11 sama dengan 209.

Surah Ar-Ra'du yang dimulai dengan huruf 'alif', 'lam', 'mim' dan 'ra', ternyata huruf-huruf 'alif', 'lam', 'mim' dan 'ra' yang ada dalam surah tersebut ada 1501 dan 1501 dibagi 19 sama dengan 79. Surah 'qaf' yang dimulai dengan huruf 'qaf', ternyata huruf 'qaf' yang terdapat dalam surah tersebut ada 57 dan 19 dikali 3 sama dengan 57. Dibagi atau dikali dengan 19 akan ketemu hasilnya.

“Begitu juga surat Thaha yang dimulai dengan huruf 'Tha' dan 'ha', ternyata huruf 'tha' dan 'ha' yang ada didalam surah tersebut berjumlah 342 dan ini bisa didapat dari 19 dikali 18,” beber Kiai asal Malang ini.

Hasil ini menurut Kiai Marzuki sebagai bukti keotentikan Al-Qur'an. Karena, seandainya ada ayat-ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat lain, maka tentu perkalian-perkalian tersebut akan menjadi kacau. 

Dan pada waktu itu Nabi Muhammad belum punya teknologi secanggih saat ini. Sehingga secara logika saat sulit sekali ada manusia yang bisa mengarang kitab suci dengan hitungan sedetail ini.

“Agar tidak terjadi kesesatan pikir, maka guru ngaji Al-Quran harus dari Ahlussunnah Wal Jama'ah. Karena kalau syiah kurang pas, mereka menolak sebagian sahabat. Padahal sahabat punya sumbangsih besar pada Islam. Begitu juga kalau Wahabi, kurang cocok karena mereka menolak Ahlul Bait. Banyak ajaran nabi yang turun lewat Ahlul Bait. Ikut lah ulama diantara keduanya. Biar tidak menerima sebagian dan menolak sebagian,” tandasnya Kiai Marzuki. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)