IMG-LOGO
Esai

Gaya Puasa Urang Sunda (Bagian I)

Jumat 24 Mei 2019 19:0 WIB
Bagikan:
Gaya Puasa Urang Sunda (Bagian I)
Oleh Warsa Suwarsa

Tidak dapat dipungkiri, akulturasi antara tradisi yang telah lama berkembang di masyarakat dengan Islam merupakan realitas di dalam kehidupan masyarakat di Nusantara. Kata puasa tetap dipertahankan dan mampu mempertahankan dirinya sebagai pengganti kata Shaum. Selama bulan puasa itu juga, tradisi-tradisi bersama kebiasannya terus bertahan dan mengalami perkembangan dari generasi ke generasi baik disadari atau tidak oleh masyarakat. Kenyataan ini menunjukkan, betapa akomodatifnya antara Islam dengan Budaya. Pribumisasi Islam di Nusantara sebagaimana pandangan Gus Dur bukan isapan jempol.

Dalam tulisan ini, akan dipaparkan beberapa tradisi dan kebiasaan yang masih dipertahankan oleh masyarakat  di Tatar Pasundan selama bulan puasa. Tradisi ini terus-menerus mampu bertahan meskipun zaman dan milieu telah memasuki era Revolusi Industri 4.0. Hal tersebut memberikan indikasi kepada kita, bahwa tradisi dan kebiasaan yang telah lama berkembang di masyarakat kemudian memadukan dirinya dengan Islam sama sekali tidak akan tersentuh oleh kemajuan zaman. Justru sebaliknya, tradisi dan kebiasaan itu semakin berkembang dengan varian dan coraknya sendiri. Masyarakat Sunda memang telah sejak lama mengaplikasikan pribahasa “Kudu Miindung Ka Waktu jeung Mibapa Ka Jaman”,  manusia harus dapat beradaptasi dengan jaman yang sedang dialaminya.

Nyubuh, Ngabeubeurang, dan Ngabuburit
Tiga istilah di atas sudah tidak asing di masayarakat Sunda karena istilah-istilah tersebut merupakan term Kasundaan. Nyubuh merupakan kebiasaan selama bulan puasa, masyarakat melakukan kegiatan berjalan-jalan, menikmati sejuknya udara pagi, atau sekadar berjongkok di pinggir jalan. Kegiatan tersebut dilakukan setelah menunaikan sholat Subuh sampai matahari akan terbit atau wanci carangcang tihang (Bahasa Sunda).

Harus diakui, di bulan lain juga aktivitas seperti ini dilakukan oleh masyarakat tetapi sebutan Nyubuh hanya berlaku selama bulan puasa saja. Misalnya, seseorang melakukan kegiatan jalan santai pagi hari di bulan Syawal, kegiatan ini tidak akan dikatakan nyubuh. Selain bulan puasa, masayarakat Sunda akan memberikan pertanyaan dengan kalimat: “Keur naon, rebun-rebun geus ngukur jalan?”  Sedang apa, pagi-pagi sudah mengukur jalanan?.

Di masyarakat Sunda juga dikenal istilah ngabeubeurang yaitu masyarakat mengerjakan kegiatan setelah menunaikan sholat dzuhur di bulan puasa. Para ibu menyiapkan penganan di dapur saja akan mengatakan: “Keur olah jeung usukan-asakan, itung-itung ngabeubeurang wé!” (Sedang memasak makanan, anggap saja sedang ngabeubeurang). Tadarusan atau membaca al-Quran setelah sholat dzuhur saja oleh masyarakat akan disebut ngabeubeurang. “Dasar jalma soléh kyai mah, ngabeubeurangna ogé kucara ngaji!” (Dasar orang soleh, ngabeubeurangnya juga dengan cara mengaji). Selain bulan puasa, istilah ngabeubeurang tidak akan digunakan oleh masyarakat Sunda. 

Kegiatan yang biasa dilakukan oleh anak-anak selama mangsa beurang (siang) ini di antaranya rebahan atau tiduran di mesjid. Kegiatan anak-anak dan para remaja seperti ini mau tidak mau harus tetap dipertahankan. Mesjid memang bukan merupakan tempat untuk tidur, tetapi tradisi rebahan dan tidur di mesjid selama bulan puasa memiliki kekhasan yang berbeda jika dibandingkan dengan bulan lain. Cara para Wali Songo mendakwahkan Islam di Nusantara ini salah satunya adalah dengan menggali kekhasan yang bersumber dari masyarakat Nusantara kemudian dipertemukan atau dipersentuhkan dengan inti ajaran Islam.

Tradisi yang paling popular dan telah digunakan oleh seluruh masyarakat Islam di Indonesia yaitu ngabuburit. Saat ini, istilah ini tidak hanya menjadi milik masyarakat Sunda saja, di berbagai pelosok Nusantara kegiatan yang diselenggarakan menjelang buka puasa sudah tentu disebut ngabuburit. Masyarakat Sunda telah mengenal istilah ini sejak ajaran Islam (puasa) dilakukan di Tatar Pasundan. Istilah ngabuburit merupakan kata berimbuhan dari kata dasar burit (Sore), lebih tepat dalam tradisi Sunda disebut Wanci tunggang gunung (Waktu saat matahari akan tenggelam). Dan sudah pasti, istilah ngabuburit hanya akan ditemukan di bulan puasa. Meskipun kegiatan dilakukan oleh masyarakat Sunda di waktu sore, jika dilakukan bukan di bulan puasa, tidak akan disebut ngabuburit. 

Apa arti dan makna sore bagi masyarakat? Sama sekali tidak memiliki arti penting karena sore merupakan hal yang lumrah dan telah terbiasa (habitual action). Sore hari menjadi lebih bermakna dan penting ketika terjadi akulturasi antara tradisi Sunda (ngabuburit) dengan puasa (ajaran Islam). Ngabuburit menjadi sebuah harapan akan segeranya umat Islam menyambut buka puasa dipenuhi dengan suka cita. Makna penting dari ngabuburit selama bulan puasa yaitu penyambutan buka puasa penuh dengan suka cita. Siapapun tidak akan menemui, masyarakat melakukan aktivitas ngabuburit dengan penuh duka lara. Sudah tentu hal ini sejalan dengan hadits Rosulullah tentang dua kebahagiaan yang akan ditemui oleh orang yang berpuasa, salah satunya bahagia ketika berbuka.


Penulis adalah guru MTs Riyadlul Jannah, Cikundul

Bagikan:
Ahad 19 Mei 2019 21:30 WIB
Ustadz Baru dan Peringatan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Ustadz Baru dan Peringatan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Oleh R. Ahmad Nur Kholis 

Belakangan ini ada fenomena adanya orang yang mengaku sebagai ahli agama secara tiba-tiba. Hanya karena mengaku telah berhijrah dan mengetahui beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan artinya saja sudah berani mendakwahkan diri dan didakwahkan sebagai ustadz. 

Dan lebih aneh lagi mereka secara langsung ataupun tidak, mengaku dan merasa paling islami. Hal ini dikarenakan mereka memiliki semangat beragama yang tinggi (euphoria beragama) namun pemahaman agamanya sedikit.

Adanya terjemah Al-Qur’an atau kitab yang lain, adalah suatu yang memberikan kemudahan untuk mengetahui suatu ajaran agama. Akan tetapi untuk mengantarkan seseorang menjadi ahli agama adalah suatu hal yang sangat jauh sekali.

Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari mengatakan dalam kitabnya Adabul Alim wal Muta’allim bahwa  “(Hendaknya) seorang yang belajar agama mencari seorang guru yang memiliki pemahan syariat yang komprehensip. Yakni ulama yang kredibel dan diakui keulamaannya pada zamannya, telah melakukan banyak pembahasan dan berpengalaman yang luas. Bukan mengambil ilmu dari orang yang hanya belajar dari terjemahan saja dan tidak pernah berguru kepada seorang guru yang terpercaya.”

Kiai Hasyim lalu mengutip pernyataan Imam Syafi’i yang mengatakan: “Barangsiapa memahami agama hanya dari buku-buku saja, maka ia sebenarnya telah menghilangkan hukum agama (itu sendiri).”

Sebelum semua itu, Kiai Hasyim menekankan dalam kitab tersebut bahwa: “Seyogyanya orang yang hendak belajar agama untuk memikirkan (secara matang) terlebih dahulu dan beristikharah kepada Allah mengenai kepada siapa orang ia akan belajar. Kepada siapa ia akan mendapatkan teladan akhlaq yang baik. Hendaknya pula bahwa guru itu adalah orang yang keahliannya terpercaya, memiliki rasa kasih sayang yang nyata (kepada ummatnya), jelas muru’ah nya, masyhur sebagai orang yang senantiasa menjaga diri, serta baik dalam mengajar dan memiliki pemahaman agama yang baik pula.”

Di masa di Indonesia ini sekarang banyak bermunculan ustadz dadakan dan merasa paling islami, rasanya petuah Kiai Hasyim Asy’ari ini layak untuk kita renungi dan amalkan. Kita juga lalu menjadi mengerti mengapa sekarang ini banyak para ustadz yang tiba-tiba saja muncul tak tau dari mana asalnya ia mengambil ilmu, sejurus kemudian mereka hanya memprovokasi masyarakat untuk kepentingan tertentu.

Semoga masyarakat semakin sadar dan kembali ke pangkuan ulama yang benar-benar ulama.


Penulis adalah Nahdliyin, tinggal di Malang, Jawa Timur

Jumat 17 Mei 2019 20:30 WIB
Ingat HS, Ingat Abdurrahman bin Muljam
Ingat HS, Ingat Abdurrahman bin Muljam
Oleh Abdullah Alawi 

Pada beberapa kesempatan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kerap menceritakan tentang perilaku seseorang yang hafal Al-Qur’an, tapi tidak memahaminya. Ia mencontohkan, pada zaman Nabi Muhammad, setelah perang Hunain, umat Islam mendapat harta rampasan (ghanimah). Namun, saat itu Nabi Muhammad membaginya dengan cara tidak biasa. Para sahabat senior tidak mendapat bagian. Hanya para muallaf (orang yang baru masuk Islam) yang mendapatkannya. 

Pembagian yang dilakukan Nabi tersebut, meski tidak dipahami sahabat, mereka memilih diam karena semua tahu itu perintah Allah subhanahu wata'ala. Nabi selalu dibimbing wahyu dalam tindakannya. 

Namun, tak dinyana, ada orang yang maju ke depan melakukan protes. Sahabat tersebut, perawakannya kurus, jenggot panjang, jidatnya hitam, namanya Dzil Khuwaisir. 

I’dil (berlaku adillah) ya Muhammad, bagi-bagi yang adil Muhammad,” begitu kira-kira protesnya.  

“Celakalah kamu. Yang saya lakukan itu diperintahkan Allah,” tegas Nabi Muhammad. 

Orang itu kemudian pergi. 

Nabi Muhammad mengatakan, nanti dari umatku ada orang seperti itu. Dia bisa membaca Al-Qur’an, tapi tidak tidak paham. Hanya di bibir dan tenggorokan. 

“Saya tidak termasuk mereka. Mereka tidak termasuk saya,” ungkap Nabi Muhammad.

Tahun 40 H Sayiydina Ali bi Abi Thalib dibunuh karena dianggap kafir. Pasalnya Ali dalam menjalankan pemerintahannya tidak dengan hukum Islam, tapi hukum musyawarah. Sang pembunuh menggunakan ayat “wa man lam yahkum bi ma anzalallahu fahuwa kafirun” sebagai sandaran perbuatannya.
 
Ironisnya, pembunuhan itu terjadi pada bulan puasa saat seharusnya, pada siang hari, makan dan minum saja tidak dilakukan, apalagi membunuh. 

Siapakah pembunuh itu? Ia bukan oleh orang kafir, melainkan orang Muslim, namanya Abdurrahman bin Muljam At-Tamimi, dari suku Tamimi. Pembunuh itu ahli tahajud, puasa, dan penghafal Al-Qur’an. Ia adalah orang yang memahami ayat Al-Qur’an dengan cara salah. Sayidina Ali, sahabat dan sekaligus menantu Nabi Muhammad yang termasuk kalangan pertama memeluk Islam, dianggap kafir karena dianggap tidak menggunakan hukum Allah berdasarkan ayat Al-Qur’an. Darah pun terkucur.  

***
Nuansa politik Indonesia pasca pemilihan umum masih mewarnai meski di bulan Ramadhan. Mungkin benar apa yang dikatakan seorang kawan saya, Ramadhan ya Ramadhan, masalah politik lain lagi. Puasa ya puasa, tensi meraih kekuasaan dengan berbagai cara tak perlu turun sebab keduanya tidak berhubungan.   

Kita menyaksikan, satu pihak mengklaim menemukan bukti bahwa pihak lain melakukan kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Karenanya, menurut pihak yang mengklaim tersebut, pihak yang curang itu harus didiskualifikasi. Di sisi lain, mereka memiliki punya data sendiri tentang jumlah suara yang mereka raih. 

Lalu, selentingan kabar, jika klaim mereka tak diindahkan, people power pun konon akan dilakukan. Mereka tidak main-main, aski massa di Bawaslu seminggu lalu sudah dimulai. Saya tidak hadir pada aksi massa itu. Namun, tiba-tiba seorang pemuda berusia 25 tahun menjadi terkenal di media sosial. Dia berinisial HS. Isunya sendiri bahkan saya sendiri tidak tahu. HS justru mendapat liputan dari banyak media. Pasalnya, pada aksi massa tersebut, HS mengancam akan memenggal kepala presiden. 

Mari kita periksa kata tersebut melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia. Karena kamus dalam bentuk cetak saya tidak punya, maka beralihlah ke daring. Begini:   

Penggal: potong; kerat; tebas: -- saja leher pembunuh itu; 2 n bagian dari buku (kutipan cerita dan sebagainya);

Penggal adalah kata benda sementara memenggal kata kerja. Mari kita buka KBBI daring lagi:

Memenggal/me•meng•gal/ v 1 memotong; mengerat; 2 menetak (kepala); 3 membagi (kata, kalimat, berita, dan sebagainya);~ leher ki menghilangkan kesempatan orang untuk mendapatkan penghidupan; ~ lidah ki memutus orang berkata-kata; memotong pembicaraan orang;

Jadi, jika dia mengatakan hal itu, secara tersurat memang jelas pemuda tersebut ingin memenggal, memisahkan sesuatu dari sesuatu yang lainnya. Kalau yang dipisahkan itu sepotong bambu mungkin tak masalah. Pasalnya yang akan dipenggal itu adalah kepala seseorang. Dan kepala itu tiada lain adalah kepala negara. Bayangkan kepala! 

Sebagaimana kasus-kasus lain, seseorang yang tidak terkenal itu menghiasi media sosial. Para warganet ingin mengetahui seluk-beluk kehidupannya. Mulai pekerjaannya, pendidikannya, hingga kehidupan pribadi dan ibadahnya. Muncullah dalam suatu media daring ada berita yang menyebutkan bahwa dia adalah seorang yang rajin shalat. 

Kok bisa? Ya bisa saja. orang yang membunuh Ali bin Abi Thalib juga adalah seorang yang ahli ibadah. Bahkan ada yang bilang dia hafal Al-Qur’an. Kok bisa? Ya, bisa karena bacaan tersebut tidak meresap di dalam dirinya. Dalam ungkapan lain, dia adalah seorang yang hafalannya sampai kepada tenggorokan. Bukankah shalat itu seharusnya mencegah perbuatan keji dan munkar?


Penulis adalah Nahdliyin tinggal di Bandung

Rabu 8 Mei 2019 3:30 WIB
RAMADHAN BERKAH
Ramadhan, Pasar Pengajian Pesantren
Ramadhan, Pasar Pengajian Pesantren
Naji pasaran Ramadhan di Lirboyo
Oleh Syakir NF

Memang, Ramadhan merupakan bulan libur bagi para santri dari kegiatan yang sudah terjadwal dalam kurikulum pesantren. Tapi hal demikian tidak berarti mereka lepas dari kegiatan pengajian. Justru, Ramadhan menjadi wadah mereka untuk lebih giat menggali pundi-pundi pengetahuan dari banyak kiai. Mereka menyibukkan diri dengan kegiatan pengajian dari selepas sahur hingga hendak sahur lagi.

Para santri ini dibebaskan oleh pihak pesantren untuk mengaji apa, kepada siapa, dan di pesantren mana. Maka tak aneh jika ada migrasi santri dari pondok a ke pondok b, dan seterusnya. Santri Buntet, Cirebon, Jawa Barat, misalnya, menghabiskan masa Ramadhannya di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Hal tersebut sudah lumrah. Begitupun santri pondok lainnya yang pindah ke pondok yang tidak sedang mereka tinggali. Hal demikian dilakukan guna menambah jejaring sanad keilmuan, di samping menambah rekanan baru dan merasakan lingkungan baru di pondok lain.

Pengajian khusus bulan Ramadhan ini disebut pasanan atau posonan. Penamaan tersebut didasarkan pada kata puasa yang diberi akhiran an, puasanan, lalu berubah menjadi pasanan atau posonan. Ada pula yang menyebutnya pasaran. Istilah ini disebut sebagai sebuah metode pengajaran kitab kuning dengan kiai membacakan dan menjelaskan isinya, sedangkan santri hanya menyimak dan mencatatkan makna-maknanya. Artinya, santri tersebut tidak turut aktif berbicara. Metode demikian dikenal sebagai teacher centered. Metode demikian disebut juga metode bandungan. Akan tetapi, istilah pasaran juga ada yang mengartikannya seperti pasar mengingat para kiai membuka pengajian dan para santri bebas menentukan pilihannya, tidak terpaku pada kurikulum yang sudah ditentukan.

Pilihan mereka dijatuhkan karena dua alasan setidaknya. Pertama, santri ingin mengaji kitab yang belum pernah atau ingin mendalami kitab yang dibaca oleh kiai tertentu. Para kiai memang pada umumnya membaca kitab yang tidak biasa dibacakan atau tercantum dalam kurikulum.

Kedua, santri ingin mengaji tidak melihat kitabnya, tetapi dengan alasan ingin mengaji kepada kiai atau pesantrennya. Tidak peduli kitabnya apa, meski kitab tersebut sudah pernah ia pelajari sebelumnya. Umumnya, alasan kedua ini diterapkan oleh para santri yang ingin mengaji kepada kiai sepuh demi mengalap berkahnya. Ada pula yang karena ketokohan kiai tersebut sehingga dikenal luas oleh masyarakat. Terkadang, santri juga melihat sosok kiai yang dikenal pengetahuannya luas dan penjelasannya lugas. Hal demikian pernah dilakukan oleh KH Saifuddin Zuhri pada masa kecilnya dulu saat dikirim oleh ayahnya untuk mengaji di Pesantren Karangsari asuhan pamannya, KH Dimyati. Meskipun kitab yang dipelajari di sana sudah pernah ia dalami, yakni kitab Safinat al-Naja dan kitab al-Ajurumiyah, tetapi hal tersebut tidak menyurutkannya untuk belajar mengaji di pondok tersebut. Kiai Saifuddin sebelumnya pernah mengaji kitab Safinah secara sorogan kepada Kiai Hudori pada Ramadhan sebelumnya.

Adapun pilihan kitab para kiai beragam. Penulis melihat adanya kesukaan para kiai pada bidang kajian tertentu. Ada pula kiai yang saban tahun membaca satu kitab tertentu saja. Di Buntet, misalnya, saya menemui setidaknya tiga kiai yang membaca kitab yang sama di setiap tahunnya. KH Muhammad Abbas Fuad Hasyim, misalnya, yang setiap tahun membaca kitab Tafsir al-Jalalain melanjutkan pengajian yang dilakukan oleh kakaknya KH Luthfi el-Hakim. Sebelumnya, dibacakan oleh ayahnya, yakni KH Fuad Hasyim. Kiai Fuad melanjutkan guru sekaligus mertuanya, yakni KH Mustahdi Abbas. Kitab yang sama, Tafsir al-Jalalain, juga dibaca oleh KH Baidlowi Yusuf.

Di samping itu, guru penulis juga KH Muhadditsir Rifa'i saban tahun membaca kitab Tafsir Yasin selain mengajarkan Al-Qur'an qiraat sab'ah. Kiai Hadis, sapaan akrabnya, membaca kitab Tafsir Yasin karena melanjutkan ayahandanya, KH Abdullah Syifa Akyas.

Namun pada umumnya, para kiai membaca kitab berbeda-beda di setiap tahunnya. Atau jika sama pun dengan beberapa tahun sebelumnya.

Pengajian Ramadhan hanya dilaksanakan selama kurang dari sebulan. Umumnya, pengajian tersebut dimulai pada hari pertama Ramadhan hingga pertengahan atau sampai tanggal 20-an. Oleh karena itu, sesaat sebelum berpamitan kepada Kiai Dimyati, Kiai Saifuddin Zuhri mendapat wejangan dari pamannya itu.

"Kau cuma sebulan di sini, yaitu selama bulan Ramadhan, buat orang-orang yang menuntut ilmu itu belum berarti apa-apa," kata Kiai Haji Dimyati sebagaimana ditulis oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren.

Pesantren Daring (Online)

Di era digital saat ini, masyarakat santri tak perlu bingung jika sedang sibuk dengan berbagai kewajibannya, tetapi ingin mengikuti pengajian Ramadhan sesuai dengan keinginan. Hal tersebut bisa ditunaikan dengan mengaji daring (online). Tak sedikit kiai yang membuka pengajian secara daring, baik melalui Facebook maupun Youtube.

Dosen penulis, KH Ulil Abshar Abdalla, sudah di tahun ketiga ini mengampu kitab Ihya Ulumiddin. Di tahun ini, selain kitab tersebut, ia juga membaca dua kitab lain, yakni Himayat al-Kana'is fi al-Islam (Menjaga Gereja Menurut Islam), keluaran Kementerian Waqaf Mesir dan Watsiqat al-Ukhuwwah al-Insaniyyah (Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan), dokumen bersejarah yang ditandatangani oleh Syaikh al-Azhar dan Paus Fransiskus pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri juga membuka pengajian daring di pesantrennya. Melalui akun Youtube-nya, Gus Mus Channel, ia membaca kitab-kitab karya Imam al-Ghazali. Dua tahun lalu, mertua Gus Ulil itu membaca kitab Bidayatul Hidayah. Tahun ini, kiai yang juga dikenal sebagai budayawan ini membaca karya al-Ghazali yang lain, yakni Kimyaus Sa'adah.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj juga membuka pengajian daringnya di Facebook Teras Kiai Said. Ramadhan kali ini, Kiai Said membaca kitab Qasidatul Burdah saban bakda Subuh.

Keragaman kitab yang dikaji secara daring juga memberi kesempatan luas bagi para santri yang hendak mengaji di tengah kesibukannya. Meskipun tidak dapat mengikutinya secara langsung, mereka dapat mengikuti siaran tundanya dengan video yang sudah diunggah.

Kamu ngaji di mana?

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG