IMG-LOGO
Humor

Panjat Syukur

Jumat 24 Mei 2019 18:30 WIB
Bagikan:
Panjat Syukur
Ilustrasi (Ist.)
Pada kegiatan buka puasa bersama di Pondok Pesantren Al Muayyad Mangkuyudan Solo, belum lama ini (19/5), Nyai Sinta Nuriyah Wahid, istri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berkisah tentang kenangannya dengan Gus Dur.

Suatu ketika Nyai Sinta berpidato. Layaknya orang berpidato, diawali dengan kalimat ajakan untuk memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan.

"Marilah kita panjatkan syukur..., " kata Nyai Sinta.

Usai acara ia pun diperingatkan oleh Gus Dur. "Ngapain kamu mau memanjatkan syukur?" tanya Gus Dur.

"Lho kenapa?"

"Kan, Syukur bisa manjat sendiri, ngapain kamu mau memanjatkan dia. Gitu aja kok repot!" jawab Gus Dur . (Ajie Najmuddin/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Selasa 21 Mei 2019 15:15 WIB
Berkunjung ke RS Jiwa Pasca-Pilpres
Berkunjung ke RS Jiwa Pasca-Pilpres
Ilustrasi humor
Setelah beberapa hari sejak dilakukan pemungutan suara untuk pemilihan presiden (pilpres) dan calon legislatif, penyelenggara Pemilu telah berhasil melakukan rekapitulasi final.

Sesuai prediksi medis, tidak sedikit caleg dan pendukung pasangan calon presiden dan wapres yang mengalami gangguan jiwa.

Pada suatu hari, calon presiden tak terpilih alias gagal mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa. Rupanya ia ingin tahu detail dari prediksi medis tersebut karena dalam rumah sakit itu yang banyak tak lain ialah para pendukungnya.

Begitu ia masuk ke rumah sakit (RS) jiwa tersebut, semua pasien di dalam mengangkat tangan untuk memberi hormat kepadanya.

Kemudian, ia berjalan terus di sepanjang lorong RS. Akhirnya ia berhenti di depan seorang pria karena dia sendiri yang tidak memberi hormat.

Ia pun berucap sembari berteriak, "Hai, mengapa kamu tidak memberi hormat kepadaku?"

"Maaf Pak, saya juru rawat, bukan orang gila," katanya. (Ahmad)
Senin 20 Mei 2019 21:0 WIB
Azan Berkumandang Pukul Sepuluh Pagi
Azan Berkumandang Pukul Sepuluh Pagi
Orang-orang hampir sekampung tumpah-ruah ke masjid jami di kampung itu. Mereka datang dengan membawa kemarahan dan siap memaki. Di antara mereka bahkan ada yang membawa senjata tajam dan pentungan siap hantam seperti hendak menghadapi maling motor tetangga. 

Pasalnya mereka mendengar kumandang azan melalui pengeras suara. Padahal waktu baru pukul 10.00. Shalat dzuhur masih jauh. Shalat subuh juga telah jauh berlalu, tidak alasan secuil pun untuk dikatakan terlambat. Sementara shalat sunat dhuha, dimana pun tak perlu kumandang azan.

Mereka datang ke masjid itu dengan tergesa supaya tidak ketinggalan momentum. Malah ada yang setengah berlari. Laki perempuan, tua-muda berhamburan.  

Sementara azan terus berkumandang sebagaimana biasanya seperti tak ada persoalan sama sekali. 

"Lha ini kenapa ada azan jam sepuluh pagi?" tanya salah seorang sambil merebut mikropon muazin. 

"Kamu mimpi ya?" tanya yang lain sebelum mendapat jawaban muazin.

"Ini bisa jadi aliran sesat!" tegas yang lain.

"Iya, ini aliran sesat!"

"Kamu sekarang ikut aliran sesat!"
 
"Kafir!" seru seseorang sambil mengangkat pentungan. 

Padahal mereka tahu muazin itu adalah tetangganya sendiri. Sangat mengenalnya. Muazin itu tiap hari mengumandangkan azan dan kadang menjadi imam shalat. Pekerjaan sehari-harinya sebagaimana mereka sendiri, bertani.  

"Kamu sekarang ikut aliran sesat?" tanya salah seorang yang paling tua di antara mereka. Nadanya tidak sekeras orang-orang sebelumnya.

"Lha justru saya mau bertanya kepada kalian semua. Apakah kalian ikut aliran sesat? Saya azan setiap waktu shalat mulai dhuhur, ashar, maghrib, isya sampai subuh, kalian tidak ada yang datang. Lalu kenapa azan pukul sepuluh kalian datang? Jadi, yang sesat siapa?" (Abdullah Alawi)

Senin 20 Mei 2019 16:30 WIB
Kisah tentang Uang THR
Kisah tentang Uang THR
Ilustrasi humor
Hari raya adalah hari bahagia dan berbagi kebahagiaan bersama keluarga. Hari raya tidak akan lengkap tanpa adanya tunjangan hari raya atau THR.

THR inilah salah satunya yang diharapkan Romlah, istri Romli. Ia kerap menanyakan THR kapan turun kepada suaminya yang bekerja di sebuah kantor.

“Pak, kapan dapat THR dari kantor?” tanya Romlah.

“Kemarin kan udah bapak kasih ke ibu,” kata Romli.

“Oh, yang kemarin itu.. Terus kalau uang yang dilaci bapak itu apa?” Romlah lagi.

“Yang mana?” tanya Romli.

“Dalam amplop coklat yang diselipkan di buku, dalam laci paling bawah,” ucap Romlah.

“Ohh itu.. Itu uang sial,” kata Romli.

“Kok uang sial sih Pak?” tanya sang istri.

“Iya, emang uang sial. Sudah disembunyikan masih ketahuan juga,” jawab Romli ketus. (Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG