IMG-LOGO
Fragmen

Sejarah Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama

Sabtu 25 Mei 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Sejarah Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama
Sejak kapan bidang kesehatan menjadi perhatian Nahdlatul Ulama? Bagi sebagian orang, mungkin pertanyaan tersebut akan dijawab dengan mantap, yaitu belum lama. Paling juga belasan tahun yaitu sejak ada Lembaga Kesehatan NU. 

Namun, kenyataannya tidak demikian. Berdasarkan data tertulis yang ditemukan, beberapa cabang NU pada tahun 1930-an telah mendirikan semacam layanan kesehatan untuk masyarakat. Cabang-cabang NU tersebut adalah Serang, Jombang, dan Bandung. 

Dari tiga cabang tersebut, yang ditemukan datanya, NU serang terbilang paling tua yaitu tahun 1934. Mereka mendirikan layanan kesehatan dalam bentuk klinik. Bahkan mereka memiliki dua klinik. 

Namun sayangnya, layanan kesehatan tersebut hanya berlangsung dua tahun, berarti hingga tahun 1936, sebab dokter di dua klinik tersebut dialihtugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Kabar tentang dua klinik itu dilaporkan Cabang NU Serang pada Muktamar NU sebelas yang berlangsung di Banjarmasin pada tahun 1933. Namun, sayang sekali karena dokter itu klinik dipindahtugaskan ke daerah Kalimantan, sehingga dua klinik itu berhenti. 

Dari laporan itu, sepertinya Cabang NU serang hanya menyediakan tempat untuk klinik, sementara dokter yang bertugas adalah orang pribumi yang bekerja di pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Serang. 

Singkatan dari Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama. Lembaga ini bertugas menjalankan kebijakan NU di bidang ke sehatan, seperti menangani rumah saklt dan balai kesehatan yang ada di ling kungan NU. 

Kesehatan NU dalam Bentuk Lembaga
Lembaga ini dibentuk sebagai hasil Muktamar NU di Donohudan (2004) yang memutuskan pembubaran Lembaga Sosial Mabarrot (LSM). LKNU dalam hal ini mengambil alih tugas penanganan masalah kesehatan. Sementara masalah sosial ditangani oleh Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU). Nama LKNU adalah hasil keputusan Muktamar NU ke32 di Makassar untuk mengganti nama Lembaga Pelayanan Kesehatan NU (LPKNU) yang ada sebelumnya. 

LKNU menjalankan sejumlah program yang secara langsung bersentuhan dengan masyarakat, seperti penanganan masalah tuberkolosis, malaria, dan HIV/ AIDS, serta mensosialisasikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di pesantren. Klinik Avicenna yang berada di Gedung PBNU, Jakarta, secara Iangsung dikelola LKNU. Selain itu, lembaga ini mengoordinasikan berbagai rumah sakit milik NU yang ada di daerah agar bisa berkembang dengan baik. 

Sampai saat ini, ada dua orang yang menjabat sebagai Ketua LKNU, yaitu Dr. M. Syahrizal Syarif, M.P.H., Ph.D (20042010) dan Dr. dr. Imam Rasyidi, Sp.O.G. (k) On.K. (2010-sekarang). (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Ahad 19 Mei 2019 14:45 WIB
Pasukan Rakyat Jelata Kiai Wahid Hasyim
Pasukan Rakyat Jelata Kiai Wahid Hasyim
Masyarakat Indonesia pada 1942 sempat lega ketika Jepang yang mengaku saudara tua di Asia telah mengusir penjajahan Belanda di tanah air. Namun berjalannya waktu, mental dan karakter penjajah Jepang semakin terlihat. Mereka tidak jauh berbeda ketika memperlakukan rakyat semena-mena, melakukan pemaksaan, penangkapan, penyiksaan, penarikan hasil bumi secara paksa, dan lain-lain.

Perjuangan melawan pendudukan Jepang bagi santri dan ulama pesantren tidak kalah sulit. Apalagi ketika salah satu guru para ulama di Jawa, KH Hasyim Asy’ari ditangkap Jepang karena tuduhan mengada-ada. Kontak fisik dan senjata kerap terjadi, diplomasi dan perundingan terus dilakukan, sembari melakukan riyadhoh-rohani untuk meminta kekuatan, perlindungan, pertolongan Yang Maha Kuasa.

Dari jalan cukup panjang dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan Jepang, KH Wahid Hasyim dalam banyak kesempatan seringkali menjelaskan isi ramalan Ronggowarsito tentang Joyoboyo, bahwa Jepang hanya seumur jagung dalam menduduki Indonesia. (KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, 2001)

Kepercayaan tersebut ditegaskan oleh Kiai Wahid Hasyim harus menjadi dorongan untuk berjuang. Ayah Gus Dur tersebut mengatakan, “Namun, diinsyafkan kepada masyarakat bahwa perjuangan hendaklah jangan disandarkan pada ramalan-ramalan. Perjuangan itu harus disandarkan kepada penyusunan kekuatan lahir dan batin, pengorganisasian, dan tawakkal kepada Allah SWT.”

Dalam upaya menggerakkan masyarakat melakukan perlawanan itu, Kiai Wahid Hasyim kerap mengunjungi daerah-daerah. Di Jakarta Kiai Wahid bekerja sama dengan tokoh-tokoh nasional, kalangan pemuda, dan rakyat jelata. Di daerah-daerah, beliau mempunyai anak buah dari kalangan supir truk, bengkel mobil, kondektur kereta api, dan pedagang keliling untuk melakukan tugas-tugas penghubung. Selain itu, hubungan, jaringan, dan koneksi dengan dunia pesantren tambah diperkuat. Konsolidasi tak biasa dari ‘Pasukan Rakyat Jelata’.

Suatu hari, seorang Pemuda Ansor Jakarta bernama Fatoni memberitahukan kepada KH Saifuddin Zuhri bahwa seorang petani bernama Husin minta berjumpa dengan KH Wahid Hasyim. Akhirnya kedua orang ini bertemu dan cukup lama mengadakan pembicaraan. Setelah petani itu pergi, Kiai Wahid memberitahukan kepada Kiai Saifuddin Zuhri bahwa petani tersebut tak lain adalah Tan Malaka, orang terkemuka dalam memimpin gerakan di bawah tanah melawan Jepang, guru Adam Malik dan Chaerul Saleh. (KH Saifuddin Zuhri, 2001: 274)

“Ente jangan lupa, Nabi kita Muhammad SAW pernah mengatakan, Al-Harbu Khid’ah, bahwa peperangan selamanya penuh dengan tipu muslihat.” Pernyataan tersebut dikatakan oleh KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) ketika membincang strategi perjuangan menghadapi penjajah Nippon atau Jepang dengan Konsul Nahdlatul Ulama wilayah Kedu, KH Saifuddin Zuhri pada tahun 1943.

Al-Harbu Khid’ah diungkapkan oleh Kiai Wahid karena bangsa Indonesia saat itu dalam kondisi peperangan melawan penjajah. Kondisi ini diperhatikan betul oleh para kiai pesantren untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kungkungan kolonialisme, bukan tipu muslihat dalam artian negatif.

Dalam obrolan ringan ditemani seduhan teh hangat di tengah panasnya peperangan, Kiai Wahid Hasyim mengeluarkan sebuah tas dan memberikan isinya kepada Kiai Zuhri. Awalnya Kiai Saifuddin Zuhri terheran dengan sesuatu yang dibungkus oleh plastik tersebut dan diberikan kepadanya.

Setiap kali dipanggil Kiai Wahid di kediamannya, Kiai Zuhri memang dipersiapkan menerima komando. Tidak jarang Kiai Zuhri harus berkeliling mengunjungi tokoh-tokoh kiai dan pemuda di Karesidenan Kedu (Purworejo, Temanggung, Wonosobo, Kebumen, Kabupaten dan Kota Magelang) untuk menyampaikan pesan perjuangan Kiai Wahid Hasyim.

Dalam perjuangan penuh liku-liku menghadapi Jepang, pada tahun 1945, Indonesia berhasil memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H. Seluruh pergerakan nasional dari santri, tokoh nasionalis, dan rakyat tidak terlepas dari bimbingan kiai-kiai pesantren terutama KH Hasyim Asy’ari. Namun, proklamasi kemerdekaan bukan akhir dari perjuangan karena Indonesia masih harus berjuang menghadapi agresi militer Belanda II dan para pemberontak. (Fathoni)
Sabtu 18 Mei 2019 13:45 WIB
Ada Masjid Tiban di Jombang, Ini Kisahnya
Ada Masjid Tiban di Jombang, Ini Kisahnya
Masjid Tiban di Jombang, Jawa Timur
Jombang, NU Online
Masjid Manaazilul Akhiroh yang berada di Dusun Jambon, Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai masjid tiban atau masjid yang muncul tiba-tiba. Nama Manaazilul Akhiroh diberikan oleh Kiai Farhan, keturunan dari Kebokicak.

Menurut Kepala Desa Dapurkejambon Subbatul Alimi, cerita masjid tiban ini berawal saat Kiai Nur Khotib menantu Kebokicak punya rutinan shalat Jumat di Masjid Sunan Ampel Surabaya. 

Suatu hari Kiai Nur Khotib ini telat tiba di Surabaya. Setelah shalat Jumat, Kiai Nur Khotib didatangi seorang ulama dan menasihati Kiai Nur Khotib untuk Jumat selanjutnya tidak perlu lagi datang ke Surabaya hanya untuk shalat Jumat. Tapi diminta mendirikan shalat Jumat di Jombang saja.

Saat Kiai Nur Khotib kembali ke Jombang, hal ajaib terjadi. Kiai Nur Khotib melihat tidak jauh dari rumahnya ada bangunan mirip masjid yang berdinding bambu sudah berdiri dengan gagah. Kabar adanya masjid baru ini tersebar kemana-mana lewat cerita dari warga satu ke yang lain lalu meluas ke berbagai daerah.

"Kiai Muhtar ini asalnya dari Desa Banyuarang, Jombang. Kiai Muhtar punya anak namanya Nur Khotib, punya anak namanya Ali, lalu lahir Baniyyah punya putra bernama Kiai Umar, lalu Kiai Idris, kemudian Kiai Hasyim. Dari Kiai Hasyim ini menurunkan Kiai Abdul Fattah yang menikah dengan Nyai Musyarofah binti KH Bisri Syansuri," bebernya, Jumat (17/5).

Dalam versi sejarah lain, seperti silsilah keturunan yang tertulis di makam Kiai Usman Tambakberas. Kiai Muhtar tidak memiliki putra bernama Kiai Nur Khotib seperti yang dipaparkan Alimi. Namun dari Kiai Muhtar langsung ke Ali hingga sampai Kiai Abdul Fattah, pendiri Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum Tambakberas.

Ia melanjutkan, dari pasangan KH Abdul Fattah-Nyai Musyarofah menurunkan Nyai Nafisah (istri KHMA Sahal Mahfudz), Nyai Khuriyah (istri KH M Djamaluddin Ahmad) dan Rais Syuriah PCNU Jombang saat ini KH Abdul Natsir Fattah. Dari Nyai Khuriyah ini menurunkan Ketua Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) PBNU saat ini KH Abdul Ghaffar Rozin.

"Di Jombang kiai yang paham silsilah ini yaitu Pengasuh Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum KH M Djamaluddin Ahmad. Silakan sowan ke sana," ujar Alimi.

Masjid Manaazilul Akhiroh pertama kali direnovasi pada 1967, sejak dibangun perkiraan pada abad 18 lalu. Dan renovasi kedua tahun 2019 ini. Meskipun bangunannya dirombak total, tapi beberapa bagian yang masih asli. Seperti kubah, menara dan batu pijakan untuk naik ke masjid masih dijaga karena keasliannya.

Masjid ini kubahnya persegi empat bertingkat dan di ruang utamanya menjulang empat pilar berwarna keemasan. Di bagian depan bangunan ibadat itu bermihrab dua, yang sisi selatan (kiri) sebagai tempat imam salat dan yang sebelah utara (kanan) untuk tempat khatib Shalat Jumat. Di teras masjid itu tampak bedug besar tersangga dua kayu.

"Khusus pilar empat di tengah masjid itu didatangkan dari Sendang Made yang berada di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang," ungkap Alimin.

Menurut penututuran Alimi, lokasi pembangunan masjid tersebut merupakan tanah milik Jaka Tulus alias Kebokicak. Cerita itu berawal saat Kebo kicak bertemu Mbah Muhtar di Desa Banyuarang. Kebokicak saat itu terkenal akan kesaktiannya. Setelah bertemu Kiai Muhtar, Kebokicak mengajak adu kesaktian. Saat itu pertarungan dimenangkan Kiai Muhtar dan Kebokicak pun pulang ke rumahnya.

Setelah pertarungan sengit itu, Kebokicak jatuh sakit cukup parah dan yang bisa mengobati hanya Kiai Muhtar. Lalu Kebokicak datang ke pedepokan Kiai Muhtar dan minta diakui sebagai murid dan belajar syariat Islam. 

Setelah menuntut ilmu ke Kiai Muhtar, ternyata Kebokicak tidak mau pulang lagi ke rumah karena merasa betah. Namun karena diminta Kiai Muhtar terus menurus, akhirnya Kebokicak mau pulang asalkan putra dari Kiai Muhtar yang bernama Nur Khotib dinikahkan dengan putrinya bernama Pandan Manuri, anak dari Kebokicak dan Pandan kuning.

"Kiai Nur Khotib ikut pulang bersama Kebokicak dan mensyiarkan Islam di Jombang bagian utara. Pusatnya di Dapurkejambon ini," ujar pria yang masih keturunan Kebokicak ini.

Hingga saat ini, masjid tua tersebut masih menjadi pusat kajian agama Islam dan sentral kegiatan keagamaan warga sekitar. Untuk pengelolaannya dibuat secara kolektif, dari keturunan Kebokicak dan masyarakat setempat. Agenda rutinan seperti tahlilan, shalawatan, ngaji Al-Qur'an, dan peringatan hari besar Islam masih terus diselenggarakan di masjid tersebut.

Tidak jauh dari masjid, tepatnya bagian utara masjid berdiri megah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kebokicak. Madrasah ini telah banyak melahirkan generasi Islami yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits. Selain itu, masjid dan madrasah ini menjadi simbol bahwa syiar Islam yang diwarisi para leluhur ini masih dipegang teguh oleh keturunannya.

"Madrasah ini dikelola keluarga besar kita secara swasta. Kita ingin ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Madrasah ini satu kesatuan dengan masjid. Karena peserta didiknya diajarkan shalat berjamaah di masjid," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz

Jumat 17 Mei 2019 16:0 WIB
Sejarah Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama
Sejarah Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama
Bagi para ulama NU, ta’lif dan nasyr bukan barang baru. Keseharian mereka berkaitan langsung dengan konten yang diprodukis dari ta’lif dan nasyr itu, yaitu kitab kuning. Bahkan, tak sedikit para kiai yang melakukan ta’lif dan nasyr tersebut, yaitu mengarang sebuah kitab dan mencetaknya. 

Namun, secara kelembagaan, ta’lif dan nasyr baru dibentuk pada masa awal kepemimpinan ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurut Ensiklopedia NU, keberadaan LTNNU merupakan rekomendasi muktamar NU ke-27 di Situbondo pada 1984. 

Tujuan awal keberadan lembaga ini adalah untuk melakukan sosialisasi keputusan-ketutusan muktamar, terutama menyangkut khittah 1926. Menurut Kepala Perpustakaan NU Syatiri Ahmad, muktamar tersebut merekomendasikan lembaga itu karena para kiai kesulitan menemukan hasil-hasil muktamar sebelumnya. Mereka khawatir buah karya musyawarah para kiai yang dilakukan puluhan tahun tersebut punah. 

Selain itu, rekomendasi lembaga tersebut adalah untuk sosialisasi keputusan yang waktu itu sangat penting, perubahan status NU dari partai politik kembali ke ormas keagamaan. Sebagaimana diketahui pada muktamar tersebut, NU menyatakan secara resmi menjadi ormas keagamaan sebagaimana awal didirikan. Sebab, sejak tahun 1952, yaitu pada Muktamar Palembang memutuskan menjadi partai politik. Status tersebut mulai berakhir pada tahun 1987. Kemudian total secara organisasi tahun 1984. Keputusan lain yang perlu disosialisaasikan waktu itu adalah NU menyatakan menerima Pancasila sebagai asas tunggal.  

Karya dan Pengurus LTNNU
Lembaga ini pernah menerjemahkan kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi Banten, menerbitkan buku-buku keputusan resmi PBNU seperti hasil muktamar dan musyawarah nasional alim ulama dan konferensi besar NU serta menerbitkan sejumlah buku biografi tokoh-tokoh NU. 

Di antara tokoh yang pernah diteritkan adalah Berzikir Menyiasaru Angin, sebuah biografi tentang perjalanan hidup tokoh NU dari Sumatera Utara KH Zainul Arifin. 

Lembaga ini juga pernah melakukan penelitian sejarah masuknya NU di Lombok, Sulawesi Selatan, Sumatera, dan lain-lain.

Lembaga ini juga pernah menerbitkan Warta NU sebagai media komunikasi dan sosialisasi kebijkan PBNU kepada masyarakat. Kemudian berhenti dan sekarang dilanjutkan dengan menerbitkan majalah Risalah Nahdlatul Ulama yang terbit tiap bulan. 

Memasuki era digital, LTNNU pada 2003 meluncurkan situs resmi yang dikelola dari gedung PBNU yaitu NU Online. Situs tersebut tetap bertahan dan berkembang hingga sekarang. Bahkan menjadi situs nomor satu dalam layanan keislaman Ahlussunah wal Jamaah. 

Kanal di situs tersebut, tidak hanya memberitakan kegiatan-kegiatan resmi NU, tapi juga pesantren, kiai, santri, dan para pengurus NU. Di samping itu juga memuat buah pikiran dari pembaca serta mengapresiasi seni dan budaya melalui kanal cerpen dan puisi. Namun, situs tersebut lebih memperkuat konten keislaman yang dikemas dengan gaya populer dan ringan. 

Beberapa orang yang pernah menjadi Ketua LTNNU adalah H Ichwan Syam (1984-1994), Choirul Anam (1994-1999), Abdul Mun’im DZ (1999-2010), Sulton Fathoni (2010-2015), Juri Ardiantoro (2015-2016). Karena Juri terpilih menjadi ketua PBNU, ia digantikan Hari Usmayadi (2016-sekarang).

Penerbitan Sejak NU berdiri
Meski secara lembaga baru dibentuk pada tahun 1984, aktivitas penerbitan telah berlangsung sejak awal NU berdiri. Pada tahun 1930-an, NU mendirikan sebuah majalah yaitu Swara Nahdlatoel Oelama (SNO). Majalah tersebut terbit dengan menggunakan huruf Arab pegon dan berbahasa Jawa. Isinya lebih banyak mengupas masalah-masalah keagamaan yang berkembang saat itu. Misalnya membahas ulang keputusan-keputusan muktamar NU yang telah berlangsung serta menjawab pertanyaan yang diajukan pembaca.  

Kemudian ketika NU mulai berkembang ke luar Jawa, majalah tersebut berubah menjadi Berita Nahdlatoel Oelama. Kali ini, kecuali hadits dan ayat Al-Qur’an, serta qaul-qaul ulama, majalah itu menggunakan huruf Latin dan dengan bahasa Melayu. Pada waktu bersamaan, NU juga memiliki majalah lain yaitu Oetoesan Nahdlatoel Oelama. 

Penerbitan makin berkembang ketika NU memiliki lembaga yang menangani khusus satu bidang, misalnya pendidikan yaitu Ma’arif. Pada awal dibentuk, lembaga tersebut dipimpin KH Wahid Hasyim. Ia menerbitkan sebuah majalah bernama Soeloeh Nahdlatoel Oelama (1941).

Ketika cabang-cabang NU makin berkembang di berbagai daerah, di antara mereka ada pula yang mengupayakan majalah seperti PCNU Surabaya yang memiliki Kemoedi NU dan Tasikmalaya yang memiliki Al-Mawaidz. 

Tak ketinggalan, badan otonom NU waktu itu, Ansor Nahdltoel Oelama juga menerbitkan majalahnya yaitu Soeara Ansor NU.

Salah satu aktivitas yang terkait dengan ta’lif wan nasyr bisa dilihat dalam catatan KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren 

“Karena tertarik pada jurnalistik ala Berita NU aku berusaha untuk bisa menulis di dalamnya. Beberapa kali tulisanku tak bisa dimuat, tetapi akhirnya salah satu karanganku dimuat setelah mendapat petunjuk-petunjuk seperlunya dari KH Mahfudz Shiddiq selaku pemimpin umu/pemimpin redaksi Berita NU. Tulisanku yang pertama, Islam dan Persatuan. (Abdullah Alawi)          

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG