Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Perbedaan Ulama dengan 'U-baru' Menurut Gus Yusuf

Perbedaan Ulama dengan 'U-baru' Menurut Gus Yusuf
KH Yusuf Chudlori (Foto: Ist.)
KH Yusuf Chudlori (Foto: Ist.)

Jakarta, NU Online
Khadimul Ma'had Asrama Pelajar Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengatakan bahwa seseorang yang dinamakan ulama adalah ia yang memandang manusia lain dengan kasih sayang.

"Ulama-ulama kita itu tidak cuma alim, tetapi juga betul-betul arif. Mengetahui persoalan umat. Hukum itu tidak hanya halal-haram, hitam-putih, tetapi juga harus dilandasi dengan Yanduru Ilan Naas bi Ainirrahmah (melihat manusia dengan pandangan kasih sayang)," katanya menjelaskan perbedaan antara ulama dengan 'u-baru' yang saat ini banyak bermunculan.

Gus Yusuf menambahkan bahwa seorang ulama tidak hanya sekedar alim dan pintar, namun juga harus mampu memandang umat dengan kasih sayang. Tidak gampang menghukumi segala sesuatu dengan terburu-buru dan sesuai keinginannya sendiri.

"Hukum itu tujuannya apa? Untuk melindungi umat. Maka harus dengan tatapan-tatapan kasih sayang. Coba kalau kiainya marah-marah. 'Oh.. haram itu, neraka'. Maka umat tidak akan mendekat kepada ulama. Itulah ulama yang harus kita ikuti," tegasnya melalui akun Instagram-nya, Sabtu (25/5).

Gus Yusuf pun memberi contoh dengan sebuah kisah sosok kiai sekaligus seorang wali yang mampu dengan arif dan bijak menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh umat. Adalah Kiai Abdul Jalil, Tulung Agung yang mampu menyadarkan seorang perempuan penjaja harga diri alias pelacur.

Suatu hari Kiai Jalil didatangi perempuan yang baru saja ditinggal suaminya meninggal. Perempuan ini memiliki empat orang anak yang harus ia nafkahi. Oleh karenanya, ia datang ke Kiai Jalil untuk meminta doa agar dagangannya laris untuk menghidupi anak-anaknya.

"Pekerjaanmu apa?" tanya Kiai Jalil kepada perempuan tersebut yang tak mau memberi tahu pekerjaannya. Intinya ia minta didoakan oleh Kiai Jalil agar dagangannya laris.

Walaupun Kiai Jalil sebenarnya sudah tahu dengan profesi perempuan tersebut, namun ia tidak serta merta menyalahkan, mengharam-haramkan dan mengusirnya dari kediamannya. Ia malah mendoakan agar dagangan si perempuan tersebut laris.

"Baiklah, saya doakan nanti diamini ya? Allahumma laris," kata Kiai Jali yang diamini oleh si perempuan dengan penuh keyakinan.

Setelah seminggu berlalu, si perempuan ini kembali lagi kepada Kiai Jalil sambil menangis. Ia meminta Kiai Jalil untuk mencabut doanya. Pasalnya, ia sudah tidak sanggup lagi melayani lelaki hidung belang yang tanpa henti datang bergantian minta untuk dilayani. Dan akhirnya, pelacur ini pun bertaubat dan meninggalkan pekerjaan yang dilarang agama tersebut.

Inilah hikmah dari kearifan dan kebijaksanaan dari sosok yang benar-benar ulama. Berbeda dengan zaman saat ini di mana mulai bermunculan orang yang tiba-tiba mengaku ulama dengan mengedepankan kemampuan berbicara dan tampilan busana, namun minim kemampuan dalam agama. (Muhammad Faizin)

BNI Mobile