IMG-LOGO
Daerah

Sejumlah Kalangan di Jateng Bahas Wajah Pendididikan Usai Pemilu

Sabtu 25 Mei 2019 22:15 WIB
Bagikan:
Sejumlah Kalangan di Jateng Bahas Wajah Pendididikan Usai Pemilu
Fokus group discussion PW IPNU Jateng.
Semarang, NU Online
Siapa saja menyadari bahwa pendidikan adalah investasi paling menentukan bagi masa depan sebuah bangsa. Karenanya memberikan perhatian kepada sektor ini sangat penting.

Berangkat dari hal tersebut, Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Tengah (Jateng) menyelenggarakan fokus group discussion (FGD) dengan topik Menerawang Wajah Pendidikan Indonesia Pascapemilu 2019.

Kegiatan menghadirkan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU di Semarang sebagai peserta, dan mendatangkan sejumlah narasumber membahas masalah ini di Merak Room Hotel Muria Semarang, Sabtu (25/5).

Salah seorang narasumber, Muh Zen Adv dalam paparannya mengungkapkan, bahwa pendidikan adalah sektor penting yang harus dikawal oleh semua kalangan, khususnya pengurus PW IPNU Jateng. “Karena bagaimanapun input kader berasal dari sana,” kata anggota Komisi E DPRD Jateng tersebut.

Dirinya juga merasa prihatin atas maraknya forum organisasi di tingkat sekolah. “Utamanya organisasi berkedok keagamaan namun dalam praktiknya malah menjadi sarana pengembangan nilai radikalisme dan mengebiri nilai keagamaan dan Pancasila,” tegas Ketua Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI) tersebut.

Ke depannya, pemerintahan di tingkat manapun harus punya komitmen politik yang tinggi atas keberhasilan dan pengembangan pendidikan. “Jika mereka abai, maka SDM masyarakatnya akan rendah,” ujarnya. 

Sebagai solusi, Muh Zen menyampaikan kepada peserta FGD untuk tidak tinggal diam. “Masyarakat bisa mengawal dengan memantau berapa persen sih alokasi dana Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Daerah untuk pendidikan,” tegasnya.

Pihaknya juga sampaikan bahwa DPRD Jateng telah menetapkan peraturan daerah atau Perda terkait pendidikan. “Harapan kami ke depan tidak ada lagi dikotomi antara pendidikan formal maupun non formal,” pungkasnya. 

Forum ini menghadirkan pula H Tino Indra Wardono selaku Ketua DPD KNPI Jawa Tengah, Wakil Sekretaris PWNU Jateng, H Iman Fadhilah, serta H M Faojin selaku praktisi pendidikan sekaligus Ketua PW Pergunu Jateng. 

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka membuka wacana dan menelaah potensi perubahan haluan kebijakan pendidikan, utamanya jika melihat hasil pemilu 2019. 

Tampak bergabung utusan dari UIN Walisongo, Unnes, Unwahas, PC IPNU Kota Semarang. (A Halim Solkan/Ibnu Nawawi

Bagikan:
Sabtu 25 Mei 2019 22:0 WIB
Dua Peranan Desa yang Diabaikan
Dua Peranan Desa yang Diabaikan

Banyuwangi, NU Online
Jurnalis Tempo Ika Ningtyas menilai ada dua peranan utama desa yang tidak disadari oleh kebanyakan masyarakat. Pertama sebagai penyokong utama pangan bagi masyarakat luas. Kedua pemasok utama tenaga kerja di berbagai perusahaan.

Penilaian itu disampaikannya saat mengisi rangkaian acara Pesantren Jurnalisme Warga di Kampoeng Batara, Desa Papring, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (25/5).

"Bagaimana jadinya peranan desa dikesampingkan dari dua hal itu ?" tanyanya di hadapan puluhan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Banyuwangi.

Masih banyak hal positif dan penting ditulis dari desa. Mulai dari;  bagaimana masyarakat desa masih menjunjung hidup gotong royong, bagaimana antar masyarakat desa masih menjunjung nilai-nilai toleransi dalam setiap perilaku kesehariannya, dan masih banyak hal positif lain yang penting untuk ditulis.

Kenyatannya, saat ini masyarakat sedikit sekali menemukan informasi tulis ataupun video tentang kejadian atau perkembangan setiap desa.

"Bisa jadi, berita kemajuan desa menjadi oasis di tengah-tengah hingar bingar pemberitaan tentang perkotaan, politik, gaya hidup bermerk, konsumerisme, dan lain-lain. Yang menjadi pusat penulisan informasi berita," jelas Ika.

Akibatnya kebanyakan masyarakat menganggap desa terbelakang, SDM rendah, tidak maju alias kolot, dan masih banyak anggapan negatif lainnya.

"Maka kita kumpulkan teman-teman untuk belajar bareng bagaimana menulis tentang kampung. Ada banyak materi penting yang nantinya kita siapkan. Dan nanti malam panitia juga siapkan film dokumenter tentang salah satu desa yang penting dikaji bersama. Dan besok kita akan praktik menulis langsung," harap Ika.

Salah satu peserta Usman Afandi menjelaskan dirinya mengikuti kegiatan tersebut untuk mendapatkan ilmu baru tentang tulis-menulis berita dengan baik.

"Apalagi ini berkaitan dengan teknik bagaimana cara menuliskan kampung halaman atau desa yang menjadi tempat tinggal. Karena setiap desa memiliki keunikan tersendiri. Dan saya tertarik," tutur Ketua PAC IPNU Tegaldlimo itu. (M. Sholeh Kurniawan/Aryudi AR).

Sabtu 25 Mei 2019 21:0 WIB
Pada Sepuluh Terakhir Ramadhan, Perbanyak Ibadah dan Perkuat Ukhuwah
Pada Sepuluh Terakhir Ramadhan, Perbanyak Ibadah dan Perkuat Ukhuwah
Peringatan Nuzulul Qur'an dan pemberian santunan yatim.
Sumenep, NU Online
Ada hal yang harus terus diikhtiarkan di ujung Ramadhan, tepatnya 10 hari terakhir. Salah satunya dengan meningkatkan intensitas ibadah mahdlah, juga menjaga persatuan.

Penegasan ini disampaikan KH Syafiuddin pada peringatan Nuzulul Qur’an di Desa Talaga, Ganding, Sumenep, Jawa Timur. 

“Saya berpesan kepada umat Islam, bahwa di sisa 10 hari terakhir bulan puasa harus lebih ditingkatkan lagi nilai ibadahnya, salah satunya beriktikaf di masjid,” katanya, Jumat (24/5). 

Dengan ikhtiar tersebut akan membuat catatan amal di bulan Ramadhan semakin banyak dan berkah. “Juga yang tidak kalah penting adalah memperkuat persatuan sesama kaum Mulimin atau ukhuwah islamiyah dan kebersamaan dalam kemanusiaan yakni ukhuwah basyariyah,” terangnya.

Dalam pandangannya, menjaga persatuan umat menjadi hal penting bagi semua kalangan, utamanya warga NU atau nahdliyin. “Apalagi akhir-akhir ini marak ujaran kebencian, beredarnya berita bohong sehingga menyebabkan timbulnya perpecahan antar umat Islam. Tabayyun atau klarifikasilah sebelum mempercayai segala informasi,” sergahnya.

Peringatan Nuzulul Qur’an ini diselenggarakan Formas (Forum Remaja Masjid As-Shafrowi) Desa Talaga Kecamatan Ganding bekerja sama dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama setempat. Sebelum pengajian juga diisi dengan pemberian santunan bagi anak yatim.

Suhairi As-Ariy selaku ketua Formas sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung suksesnya acara ini. “Terutama kepada masyarakat sekitar yang sangat luar biasa memberi dukungan kepada kami, sehingga acara ini terselenggara dengan sukses dan meriah,” tuturnya.

Menurutnya, sambutan masyarakat sekitar di luar perkiraan panitia. "Hal ini di luar dugaan kami, mengingat Formas merupakan organisasi yang berdiri sekitar beberapa hari lalu," jelasnya.

Melihat suksesnya acara tersebut, Formas bertekad menjadikan kegiatan ini sebagai agenda tahunan. “Sehingga menjadi motivasi untuk tetap kompak dan isikamah,” pungkasnya. (M Khotib/Ibnu Nawawi)

Sabtu 25 Mei 2019 20:30 WIB
Kawal RTRW, PMII Jember Gelar Sekolah Tata Ruang
Kawal RTRW, PMII Jember Gelar Sekolah Tata Ruang

Jember, NU Online
Komitmen PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jember untuk menolak eksploitasi tambang, laik diapresiasi. Terbukti, organisasi kemahasiswaan sayap NU ini, menyeleggarakan Sekolah Tata Tuang. Tujuannya adalah untuk membentuk kader yang tangguh dan inten dalam mengkaji dan mengawal RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) Kabupaten Jember.

“Kami ingin mempunyai kader atau tim yang benar-benar piawai dalam mengkaji dan mengawal RTRW. Sebab jika tidak dikawal, bisa saja RTRW itu hanya tinggal berupa file yang tak berguna,” tukas Sekretaris PC PMII Jember, Abd. Latif Azzam kepada NU Online di sela-sela penutupan Sekolah Tata Tuang di Taman Baca, Patrang, Jember, Jawa Timur, Sabtu (25/5).

Menurut Latif, untuk memastikan Jember aman dari ancaman eksploitasi tambang, maka RTRW yang sudah tidak memberi peluang adanya eksploitasi tambang itu harus dikawal, bahkan kalau perlu dikaji untuk melihat celah yang mungkin bisa digunakan oleh investor untuk menambang.

“PMII bersama masyarakat akan terus bersinergi untuk menolak tambang sampai kapanpun. Sebab eksploitasi tambang lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya,” urainya.

Pemuda asal Pamekasan Madura itu juga mengajak segenap elemen masyarakat untuk terus memantau perkembangan di lapangan. Sebab bisa saja terjadi, tiba-tiba rekomendasi eksploitasi tambang turun seperti yang pernah terjadi beberapa bulan lalu.

“Kendati akhirnya rekom itu dicabut, namun ketegangan sempat terjadi di masyarakat, khususnya antara yang pro dan kontra tambang,” jelas mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Jember itu.

Sekolah Tata Ruang tersebut diikuti oleh 15 kader PMII. Selama 3 hari mereka dicekoki dengan kajian RTRW yang disampaikan oleh pemateri andal.

Persyaratan untuk menjadi peserta adalah minimal semester 4, membuat essai dengan tema Konflik Agraria dan Skema Tata Ruang Jember, atau Penataan Ruang Berbasis Antropologi Ekonomi. Dan persyaratan lain adalah peserta wajib membawa 1 kilogram beras.

“Acara itu ‘kan dilaksanakan tiga hari. Jadi beras itu untuk buka puasa dan sahur,” jelas Latif. (Aryudi AR).

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG