IMG-LOGO
Nasional

Berikut Ikhtiar LP Ma’arif NU Tingkatkan Mutu Pendidikan

Sabtu 25 Mei 2019 22:45 WIB
Bagikan:
Berikut Ikhtiar LP Ma’arif NU Tingkatkan Mutu Pendidikan
Surabaya, NU Online
Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia atau Inovasi telah meresmikan kerja sama dengan Pengurus Pusat (PP) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdatul Ulama (NU). Kebersamaan tersebut sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan dasar terutama dalam bidang literasi.

H Zainal Arifin Junaidi selaku Ketua PP LP Ma’arif NU mengungkapkan kesiapannya untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikan di berbagai daerah. “Kami siap bekerja sama dengan Inovasi melalui kemitraan dengan madrasah di Jawa Timur,” katanya, Sabtu (25/5). 

Seluruh ikhtiar tersebut sebagai upaya kian mendorong makin meningkatnya kualitas sekolah. “Dan nantinya akan dikembangkan di madrasah-madrasah lainnya di bawah organisasi LP Ma’arif NU di Indonesia,” ungkap Arjuna, sapaan akrabnya.

Totok Suprayitno, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud menjelaskan, sekolah yang ingin berkembang tidak perlu lagi terjebak dalam standar mutu yang telah ditetapkan. 

“Sekolah dan guru yang mau maju, kuncinya harus  berani berinovasi dan learning outcome yang bagus, berani out of the box dan berani berubah. Abaikan dulu fasilitas yang kurang memadai. Yang penting punya motivasi untuk lebih baik,” ungkap Totok.

Suyitno, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama sendiri sangat mendukung dan menyetujui opsi penggabungan modul literasi, numerasi dan inklusi yang disusun Inovasi ke dalam dalam Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB) guru madrasah. 

“Hal ini sejalan dengan tujuan program Kemenag di bidang pendidikan yakni mendorong peningkatan kualitas guru madrasah di Indonesia,” jelasnya.

Direktur Program Inovasi, Mark Heyward mengungkapkan bahwa program Inovasi memberikan kesempatan bermitra kepada LP Ma’arif NU sebagai upaya ikut berperan dalam peningkatan mutu pembelajaran di sekolah yang ada. 

“Inovasi bertujuan menemukan berbagai praktik baik atau cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa Indonesia. Dan kemitraan ini adalah kesempatan luar biasa bagi kami untuk mendukung upaya peningkatan mutu pendidikan Islam di bawah naungan organisasi LP Ma’arif NU,” terangnya.

Michelle Lowe, Counsellor for Governance and Human Development dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta, menyambut positif kerjasama ini. “Melalui kemitraan antara Inovasi dan LP Ma’arif NU, menciptakan program rintisan baru dalam rangka meningkatkan hasil literasi kelas awal di 30 madrasah di 3 kabupaten yakni Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Sumenep, dan Kabupaten Pasuruan,” jelasnya. 

Dalam pandangannya, ini sebagai kesempatan menarik. “Yakni ntuk mendukung upaya lokal dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam khususnya di Jawa Timur, dan sekolah-sekolah LP Ma’arif NU,” ungkapnya.

Tahun ini PP LP Ma’arif NU dalam kemitraannya dengan Inovasi telah melaksanakan program rintisan peningkatan kemampuan literasi kelas awal di 30 Madrasah Ibtidaiyah di Jawa Timur – tepatnya di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Sumenep, dan Kabupaten Pasuruan. 

Kegiatan bekerja langsung dengan guru, siswa, kepala sekolah dan komite sekolah. Program rintisan ini berupaya untuk mengatasi tantangan pembelajaran – termasuk tentang pemahaman guru terkait literasi dan pembelajaran kelas awal; keterampilan guru mengelola kelas; variasi penggunaan media; serta terkait peningkatan hasil belajar literasi siswa.

Sekilas Inovasi 
Inovasi untuk anak-anak sekolah Indonesia (Inovasi) adalah program kemitraan antara pemerintah Australia dan Indonesia dan bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat sekolah dasar. Bekerja secara langsung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama,

Inovasi berupaya memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa di berbagai sekolah di seluruh Indonesia, terutama dalam hal hasil pembelajaran literasi dan numerasi. Pelaksanaan program ini dilakukan di 17 kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur.

Untuk informasi lebih lanjut tentang program Inovasi, kunjungi situs webnya di www.inovasi.or.id atau kunjungi halaman Facebook: https://facebook.com/InovasiPendidikanAIP/. (Moh Kholidun/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Sabtu 25 Mei 2019 22:30 WIB
Santri Diharap Bisa Masuk Prodi Eksakta Kampus Unggulan
Santri Diharap Bisa Masuk Prodi Eksakta Kampus Unggulan

Jakarta, NU Online
Direktur Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Kementerian Agama, Imam Safei mengakui alumni pendidikan madrasah belum setara dengan alumni pendidikan umum. Menurutnya, alumni madrasah belum banyak ditemukan di jurusan jurusan strategis di perguruan tinggi negeri seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas MIPA, dan sebagainya.

Hal itu diakui Imam Syafei telah melahirkan inspirasi  untuk menggagas program beasiswa khusus bagi santri di berbagai pesantren di Indonesia. Program beasiswa santri yang dimulai pada 2005 ini, bertujuan untuk mendorong santri agar mau masuk di program studi disiplin ilmu lain selain agama Islam seperti Ekonomi, Kedokteran, IT, Fisika, Kimia, dan lain lain. 

"Sejak kemerdekaan Indonesia sampai hari ini orang-orang penting di negeri ini selalu lulusan UGM, UNES, ITB, IPB. Mana dari pendidikan kita, baru baru ini saja. Makanya waktu itu kami berfikir bagaimana agar anak-anak kita bisa mengambil posisi ini," katanya saat mengisi acara Tasyakuran, Bedah Buku dan Buka Puasa Bersama Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) di Gedung PBNU di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).

Ia terus mendorong agar santri atau siswa dari madrasah yang dibina Kemenag bisa masuk pada kampus-kampus umum unggulan. Sehingga lulusan pesantren atau madrasah tidak dipandang sebagai kelas dua setelah pendidikan umum.

"Dan untuk mensukseskan program ini kami juga kerjasama dengan IPB dan UIN Jakata," imbuhnya.

Syafei mengakui, tidak mudah santri masuk pada Fakultas Kedokteran atau  Eksakta yang lain. Sebab kadang pengajar di madrasah belum sesuai dengan mata pelajaran yang diajar. Misalnya guru Fisika berasal dari alumnus Ushuluddin, sehingga tidak nayambung.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Pergunu, Aris Adi Laksono, mengatakan selain perlu meningkatkan kualitas, guru juga harus belajar berwirausaha agar pengajaranya di madrasah semata mata pengabdian bukan untuk mencari penghasilan.

"Makanya di Pergunu ada program teacher preneur dengan harapan guru semakin sejahtera," ucapnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Dewan Pakar Pergunu yang juga Rektor Universitas Terbuka, Ojat Darojat, pegiat pendidikan asal Provinsi Jawa Timur, Hudiyono, Pengurus Pergunu, Ilyas Indra, Penulis Buku 'Manajemen Kemitraan' Romi Siswanto dan para pimpinan organisasi guru lain. (Abdul Rahman Ahdori/(Aryudi AR).




Sabtu 25 Mei 2019 21:30 WIB
Perbedaan Ulama dengan 'U-baru' Menurut Gus Yusuf
Perbedaan Ulama dengan 'U-baru' Menurut Gus Yusuf
KH Yusuf Chudlori (Foto: Ist.)

Jakarta, NU Online
Khadimul Ma'had Asrama Pelajar Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengatakan bahwa seseorang yang dinamakan ulama adalah ia yang memandang manusia lain dengan kasih sayang.

"Ulama-ulama kita itu tidak cuma alim, tetapi juga betul-betul arif. Mengetahui persoalan umat. Hukum itu tidak hanya halal-haram, hitam-putih, tetapi juga harus dilandasi dengan Yanduru Ilan Naas bi Ainirrahmah (melihat manusia dengan pandangan kasih sayang)," katanya menjelaskan perbedaan antara ulama dengan 'u-baru' yang saat ini banyak bermunculan.

Gus Yusuf menambahkan bahwa seorang ulama tidak hanya sekedar alim dan pintar, namun juga harus mampu memandang umat dengan kasih sayang. Tidak gampang menghukumi segala sesuatu dengan terburu-buru dan sesuai keinginannya sendiri.

"Hukum itu tujuannya apa? Untuk melindungi umat. Maka harus dengan tatapan-tatapan kasih sayang. Coba kalau kiainya marah-marah. 'Oh.. haram itu, neraka'. Maka umat tidak akan mendekat kepada ulama. Itulah ulama yang harus kita ikuti," tegasnya melalui akun Instagram-nya, Sabtu (25/5).

Gus Yusuf pun memberi contoh dengan sebuah kisah sosok kiai sekaligus seorang wali yang mampu dengan arif dan bijak menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh umat. Adalah Kiai Abdul Jalil, Tulung Agung yang mampu menyadarkan seorang perempuan penjaja harga diri alias pelacur.

Suatu hari Kiai Jalil didatangi perempuan yang baru saja ditinggal suaminya meninggal. Perempuan ini memiliki empat orang anak yang harus ia nafkahi. Oleh karenanya, ia datang ke Kiai Jalil untuk meminta doa agar dagangannya laris untuk menghidupi anak-anaknya.

"Pekerjaanmu apa?" tanya Kiai Jalil kepada perempuan tersebut yang tak mau memberi tahu pekerjaannya. Intinya ia minta didoakan oleh Kiai Jalil agar dagangannya laris.

Walaupun Kiai Jalil sebenarnya sudah tahu dengan profesi perempuan tersebut, namun ia tidak serta merta menyalahkan, mengharam-haramkan dan mengusirnya dari kediamannya. Ia malah mendoakan agar dagangan si perempuan tersebut laris.

"Baiklah, saya doakan nanti diamini ya? Allahumma laris," kata Kiai Jali yang diamini oleh si perempuan dengan penuh keyakinan.

Setelah seminggu berlalu, si perempuan ini kembali lagi kepada Kiai Jalil sambil menangis. Ia meminta Kiai Jalil untuk mencabut doanya. Pasalnya, ia sudah tidak sanggup lagi melayani lelaki hidung belang yang tanpa henti datang bergantian minta untuk dilayani. Dan akhirnya, pelacur ini pun bertaubat dan meninggalkan pekerjaan yang dilarang agama tersebut.

Inilah hikmah dari kearifan dan kebijaksanaan dari sosok yang benar-benar ulama. Berbeda dengan zaman saat ini di mana mulai bermunculan orang yang tiba-tiba mengaku ulama dengan mengedepankan kemampuan berbicara dan tampilan busana, namun minim kemampuan dalam agama. (Muhammad Faizin)

Sabtu 25 Mei 2019 19:30 WIB
Foto Jokowi-Prabowo Berpelukan Kembali Ramai Ditanggapi Warganet
Foto Jokowi-Prabowo Berpelukan Kembali Ramai Ditanggapi Warganet
Foto Jokowi-Prabowo berpelukan pada pagelaran Asean Games 2018
Jakarta, NU Online
Foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpelukan dengan politisi Prabowo Subianto, kembali mendapat perhatian dari warganet. Hal itu terlihat dari tanggapan pengikut NU Online baik di laman Facebook dan Instagram sejak Jumat (24/5) malam. Komentar-komentar positif pun datang dari warganet. Bahkan melalui akun nuonline_id hingga Sabtu (25/5) petang ini, foto tersebut disukai oleh lebih dari sembilan ribu akun.

Pengguna Ig Muhammad Asep Al-zaid berkomentar "persahbatan bagai kepompong." Kemudian, Badruzeus Shava menulis komentar dengan hastag #DamailahIndonesiaku

"Subhanallah Alangkah indahnya persaudaraan," tulis azkiyahlaily.

Ada juga akun olichyusuf84 yang menulis, "Saatnya rakyat indonesia bersatu kembali, stop akun akun fake dari ke2 belah pihak yang saling menjelekan dan menyebarkan konten2 pemecah belah, insya alloh indonesia kembali bersatu."

Sementara @lailatuzzuhro berkomentar singkat, "setuju kakak." Pengguna adln_1505 menuliskan, "Adem, enak ngeliatnya."

Pengguna Ig bernama Riyan Aditya (riyan_aditya79) malah mengomentari orang yang ada di belakang Jokowi dan Prabowo dalam foto itu. "Itu yang pake Baju putih + kacamata dibelakang. Senyumnya bikin Slow banget dah,"

Seperti diketahui pose Jokowi dan Prabowo tersebut di antara banyak orang lain di sekitar mereka. Diketahui juga bahwa foto tersebut terjadi setelah keberhasilan pesilat Indonesia, Hanifan Yudani Kusumah di ajang Asian Games 2018.

Hanifan berhasil meraih medali emas setelah mengalahkan Thau Linh Nguyen pesilat asal Vietnam dengan skor 3-2 di Padepokan Pencak silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Rabu, 29 Agustus 2018. Setelah diberi bendera Indonesia, Hanifan berlari menuju bangku VVIP menghampiri Presiden RI Joko Widodo dan Prabowo Subianto untuk diberikan ucapan selamat.

Komentar pengguna facebook tak kalah meriahnya menangapi foto tersebut. Akun bernama Adi S M menuliskan, "bersaing tidak berarti harus saling bermusuhan..menang dan kalah adalah hal yang biasa dalam sebuah persaingan..
apapun keputusannya, kita tetap saudara setanah air, tanah air kita INDONESIA..musuh kita adalah para penyusup dan penghasut yang mempengaruhi kita untuk membuat NKRI terpecah belah.. nb: maaf kepanjangan."

Rekonsiliasi Lebih Utama

Upaya rekonsiliasi kedua kubu dan pendukung kedua kubu pascapemilu 2019, disuarakan oleh sejumlah tokoh. 
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) H Masnun Tahir mengatakan pemilihan umum 2019 sebagai pesta demokrasi. Sebagaimana pesta maka setelah berakhir tidak melahirkan dendam karena semuanya merasa bahagia.

Selain itu, pemilu seperti permainan di dunia, sehingga bersifat tidak kekal. Adapun yang kekal adalah persaudaraan dan persatuan. "Pemilu usai, harus disadari kembali bahwa ini permainan dunia, kemudian maklumi bahwa adanya perbedaan jangan merusak persatuan. Kemanusiaan, kebangsaan di atas segala-galanya," ujar Masnun, Selasa (21/5) malam.

Untuk itu, menurutnya sudah waktunya masyarakat Indonesia untuk kembali dan bersama-sama membangun bangun. "Sudah selesai (kubu-kubuan) 01 atau 02. Yang ada adalah 03 ‘Persatuan Indonesia,"ungkapnya.

Senada, Pengasuh Pesantren Al Amin Kediri, Jawa Timur, KH Anwar lskandar, meminta kepada masyarakat untuk kembali merajut persatuan dan kesatuan. Upaya itu harus dilakukan masyarakat Indonesia dengan tidak mengikuti hawa nafsu dan terbuai dengan suhu politik yang terus memanas. 

"Untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan, kita harus kembali ke ajaran Allah, kembali pada ajaran Rasulullah Saw yang benar jangan mengikuti hawa nafsu. Jangan mengikuti hawa nafsu jangan mengkuti politik hari ini," kata Kiai Anwar, Selasa (21/5) malam. 

Kemudian, Pengasuh Pesantren Sabilur Rosyad, Malang, Jawa Timur, KH Marzuqi Mustamar mengatakan masyarakat harus tetap menjaga situasi. Upaya itu dilakukan agar tidak ada peristiwa yang berdampak buruk terhadap hubungan antarbangsa. 

"Masyarakat Indonesia harus menjaga hubungan baik antaranak bangsa, apalagi jika masyarakat tersebut seiman dan seagama. Tidak baik sesama tetangga atau sesama hamba Allah saling membenci hanya karena persoalan duniawi," kata Kiai Marzuqi Mustamar. 

Rais Syuriyah PBNU, KH Ahmad Ishomuddin juga meminta semua pihak untuk mengutamakan perdamaian. "Prioritaskan rekonsiliasi demi persatuan Indonesia," tulis Gus Ishom. Segala persoalan yang berkaitan dengan Pemilihan Umum agar diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku. "Selesaikan segera setiap sengketa melalui proses hukum yang berlaku," katanya.

Prabowo Imbau Pendukungnya Maksimalkan Ibadah Ramadhan

Sementara itu, Prabowo Subianto juga meminta para pendukungnya yang pada 22 Mei melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung Bawaslu, Jakarta untuk menghindari tindakan-tindakan di luar hukum. Melalui video yang diunggah di akun Instagrarmnya, Prabowo menegaskan aksi-aksi demonstrasi atau unjuk rasa, walaupun dilakukan dengan damai, agar bisa segera diakhiri. Hal itu agar para pelaku aksi dapat istirahat dan sahur, dan melanjutkan ibadah pada hari-hari berikutnya.

Karena itu, dirinya memohon agar para pelaku aksi kembali ke tempat istirahat mereka masing-masing. Para demonstrasn kiranya dapat menghindari setiap tindakan di luar hukum. Kemudian, selalu mengalah dan selalu patuh kepada ketentuan hukum yang berlaku. "Ini adalah imbauan saya," kata Prabowo.

Prabowo juga meminta para pelaku aksi dan semua pendukungnya untuk memperayai pemimpin-pemimpin mereka. Penyelesaian atas indikasi kecurangan dalam Pemilu 2019, kata Prabowo, sedang diperjuangkan melalui semua jalur-jalur hukum dan konstitusional. "Kita harus ingat kepentingan rakyat banyak. Untuk itu saya mohon Saudara-saudara untuk tenang, bersikap sabar," lanjutnya. (Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG