IMG-LOGO
Nasional

Kemnaker Terus Perbaiki Tata Kelola Pelindungan Pekerja Migran

Ahad 26 Mei 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Kemnaker Terus Perbaiki Tata Kelola Pelindungan Pekerja Migran
Dirjen Binapenta dan PKK, Maruli A Hasoloan
Jakarta, NU Online
Kementerian Ketenagakerjaan memiliki komitmen kuat melindungi kepentingan Calon Pekerja Migran Indonesia atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan keluarganya dalam rangka mewujudkan terjaminnya pemenuhan hak PMI baik sebelum bekerja, selama bekerja maupun setelah bekerja.

Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Maruli A Hasoloan, untuk menuntaskan permasalahan atau isu pekerja migran dan dinamis,  dibutuhkan sinergi antara Pemerintah dengan pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk di dalamnya masyarakat media massa dan Civil Society Organization (CSO).

"Berbagai langkah telah dilakukan pemerintah untuk  perbaikan sistem tata kelola PMI  di dalam maupun luar negeri, " kata Dirjen Maruli di Jakarta, Jumat (24/5).

Acara sarasehan bertajuk Peningkatan Peran Media dan CSO dalam Mempromosikan Penempatan dan Pelindungan PMI dihadiri oleh Karo Hukum Budiman, Direktur Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN) Eva Trisiana dan Kepala Biro Hukum Kemnaker Budiman. Turut hadir pembicara Savitri dari Jaringan Buruh Migran Indonesia, Direktur Eksekutif Padma Indonesia, Gabriel dan Jurnalis Kompas Mediana.

Untuk melindungi dan melayani pekerja migran di dalam dan luar negeri pemerintah telah melakukan kerja sana serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa negara,  termasuk penyediaan jaminan sosial bagi PMI. 

"Pelindungan pekerja migran lainnya yakni kerja sama melalui uji coba sistem penempatan satu kanal (one channel) untuk melindungi pekerja migran dari berbagai eksploitasi yang merugikan," katanya.

Saat ini, one channel baru diterapkan di Arab Saudi. "Sekarang sedang kita usahakan digunakan di semua negara (penempatan PMI)," katanya.

Sedangkan pelindungan bagi pekerja migran di dalam negeri diantara melalui program Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) dan Desa Migran Produktif (Desmigratif).

Direktur PTKLN Eva Trisiana menambahkan Pemerintah Indonesia dan Jepang rencananya akan segera menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) di bidang penempatan tenaga kerja yang memiliki keterampilan spesifik atau Specified Skilled Worker (SSW) dalam waktu dekat ini.

"Per 1 April 2019 Pemerintah Jepang telah mengeluarkan kebijakan baru untuk regulasi keimigrasiannya, berupa adanya residential status yang baru, yaitu Specified Skilled Worker (SSW) bagi TKA yg akan bekerja ke Jepang, " katanya. 

Eva menegaskan Jepang membuka kesempatan kerja bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) di bawah skema SSW di 14 sektor dengan jumlah kebutuhan tenaga kerja sekita 345 ribu orang selama lima tahun. 

Menurut Eva, kesempatan kerja ini dibuka mengingat Jepang saat ini dan beberapa tahun ke depan dalam kondisi aging society, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dengan usia produktif, Jepang harus merekruit TKA. (Red: Kendi Setiawan)
Bagikan:
Ahad 26 Mei 2019 20:45 WIB
HALAQAH RAMADHAN PERGUNU
Kiai Asep Saifuddin Chalim Ungkap Rahasia Keberhasilan Pesantren yang Diasuhnya
Kiai Asep Saifuddin Chalim Ungkap Rahasia Keberhasilan Pesantren yang Diasuhnya
Kiai Asep Saifuddin Chalim pada Halaqah Ramadhan Pergunu, Sabtu (25/5)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim mengaku sangat berminat untuk menularkan kualitas dari lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Dia mengatakan tidak bisa membuka cabang, tetapi bisa melakukan sharing dan penerapan, sehingga pola yang sudah diterapkan di Amanatul Ummah dan Institut Saifuddin Chalim dapat dilaksanakan di mana-mana.

Dalam jumlah calon peserta didik, menurut Kiai Asep untuk tahun ajaran baru ini hanya menampung 700 siswa untuk tingkat SMP. Orang melihat 700 adalah angka yang kecil untuk dalam kontesk murid baru. Tetapi, dari sisi bisnis, jumlah tersebut setara dengan modal untuk mendirikan dua buah SPBU.

"Kami memiliki moto, Sekolah, unggul, mutu, dan berakhlakul karimah, terjangkau oleh lapisan masyarakat yang berminat," katanya pada kegiatan Halaqah Ramadhan Pergunu di Gedung PBNU Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).

Sementara dari sisi prestasi sebagai keluaran atas kualitas dilihat dari lulusannya terserap di banyak perguruan tinggi unggulan. Tak kurang ada 50 alumni setiap tahunnya yang diterima di jurusan kedokteran. Dan, sedikitnya 100 siswa diterima luar negeri dengan beasiswa seperti ke Eropa dan Timur Tengah.

Untuk tingkat perguruan tinggi, saat ini Institut Saifuddin Chalim telah memiliki jurusan S1 dan S2. Dan tahun menargetkan membuka jurusan S3. "Ini semua untuk peningkatan kualitas, idealisme kita berjuang untuk tujuan akhirnya yaitu melindungi NKRI," kata Kiai Asep.

(Baca: Ketum Pergunu Ingatkan Tugas Guru NU Menyebarkan Moderasi)
(Baca: Halaqah Pergunu Kuatkan Kewirausahaan dan Peran Pemersatu Bangsa)

Melindungi Indonesia harus dimulai dengan kualitas pendidikan para guru NU maupun sekolah-sekolah di mana para guru NU mengajar. Sebab, jika NU tidak berhasil mengimbangi pendidikan yang dikelola oleh kelompok radikal, sementara kelompok radikal begitu massif merebut perhatian masyarakat, Kiai Asep khawatir Indonesia sama keadaannya dengan Yaman, Syiria, Afganisatan, Irak dan negara-negara Timur Tengah lainnya yang dipenuhi peperangan atas nama Islam.

Menjadi keyakinan bersama-sama, bahwa peningkatan dan pembuktian kualitas pendidikan Pergunu menjadi modal selain idealisme menerapkan pemahaman moderat. Lagipula, lanjut Kiai Asep, jika Pergunu mampu membuktikan kualitas maka tidak usah gusar jika sekolah-sekolah di daerah tidak mendapatkan Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah.

Kementerian Agama, kata dia, idealnya dapat menganggarkan dana bantuan operasional madrasah. Dengan anggaran yang rasional dan sesuai ketentuan yang berlaku, dana bantuan tersebut menjadi dukungan bagi madrasah. "Tetapi juga kita melalui lembaga pendidikan melakukan upaya keras kemandirian. Itu pasti," tegasnya.

Kiai Asep meminta para guru Pergunu agar jangan mudah putus asa atau mudah mengeluh, karena akan berkutat di satu titik saja. Kiai Asep mendorong agar Pergunu dapat berpikir dan mampu menunjukkan apa yang bisa diupayakan. Ia mencontohkan langkah tersebut dilakukan di Institut Saifuddin Chalim.

"Terus meningkatkan kualitas, akreditasi semua tahun ini kita upayakan B, tahun depannya A. Karena kalau tidak begitu, tidak mungkin (lembaga pendidikan kita) dijual di luar negeri," katanya. 

Halaqah Ramadhan Pergunu dirangkai dengan diskusi dan bedah buku Manajemen Kemitraan, dan diakhiri buka puasa bersama. Bedah buku sebagai bekal kemandirian guru-guru NU melalui bidang kewirausahaan. Selain oleh guru-guru NU di DKI Jakarta, halaqah juga diikuti para guru NU dari Bandung, Bogor, Tasikmalaya, dan Banten. Hadir juga perwakilan dari organisasi profesi guru lainnya.

Adapun para pembicara yang hadir selain Ketua Umum Pergunu, KH Asep Saifuddin Chalim; adalah penulis buku Manajemen Kemitraan, Romi Siswanto; Direktur Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama, Imam Safei; Dewan Pakar Pergunu yang juga Rektor Universitas Terbuka, Ojat Darojat; pegiat pendidikan asal Jawa Timur, Hudiyono; Pengurus Pergunu, Ilyas Indra. 

Halaqah diadakan untuk membekali guru-guru NU dalam penguatan program Guru NU Pemersatu Bangsa dan jiwa kewirausahaan guru atau Teacherpreneur(Kendi Setiawan)
Ahad 26 Mei 2019 19:25 WIB
Tingkat Tertinggi Ibadah Para Pecinta
Tingkat Tertinggi Ibadah Para Pecinta
Jakarta, NU Online
Tidak sekali-kali manusia diciptakan tak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Tentu ibadah masing-masing orang memiliki tingkatannya.

Ketua Bidang Seni dan Budaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Habiburrahman el-Syirazi menyampaikan ada tiga tingkatan ibadah manusia kepada Allah Swt. Tingkatan ibadah pertama adalah tingkatan ibadah budak yang ibadahnya karena takut ancaman.

"Orang yang beribadah seperti budak, maksudnya beribadah karena takut karena diancam," katanya saat mengisi ceramah buka bersama di kediaman Wakil Ketua Umum MUI H Zainut Tauhid Saadi, Pancoran, Jakarta Selatan, Ahad (26/5).

Selanjutnya tingkatan ibadahnya para pedagang. Mereka yang berada di tingkatan ini kerap kali mempertimbangkan untung ruginya melaksanakan suatu ibadah.

"Melakukan aktivitas melihat untung ruginya. Seringkali melihat fadlail dan untung-untungannya," jelas pria yang pernah mondok di Pondok Pesantren Mranggen, Demak, Jawa Tengah itu.

Sementara tingkatan tertinggi adalah level ibadahnya para pecinta. Mereka yang berada di tingkatan ini, kata penulis novel-novel bertema cinta itu, tidak lagi menimbang untung dan rugi dalam ibadahnya, tidak pula terpaksa karena takut dengan ancaman-Nya.

Ibadah orang-orang demikian didasarkan atas kecintaannya kepada Allah swt. "Ini ibadahnya al-ahrar, orang-orang merdeka. Walladzina amanu aysaddu hubban lillah," jelasnya.

Karenanya, menurut pria yang akrab disapa Kang Abik itu, cinta punya posisi yang mulia dalam Islam. "Cinta di dalam Islam menempati posisi yang sangat mulia," ujarnya.

Sementara itu dalam sambutannya, Zainut mengingatkan agar dalam sepuluh hari terakhir Ramadjan ini kita meningkatkan ibadah agar mendapatkan pahala yang dijanjikan oleh Allah Swt, yakni lailatul qadar.

"Lebih menggiatkan amaliah ibadah kita, yang wajib mahdlah maupun amaliah yang sunah," kata pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) itu. 

Kegiatan ini dihadiri oleh A'wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdullah Syarwani, Nyai Hj Chuzaemah Tahido Yanggo, kader IPNU dan IPPNU di wilayah Jakarta. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Ahad 26 Mei 2019 18:25 WIB
HALAQAH RAMADHAN PERGUNU
Ketum Pergunu Ingatkan Tugas Guru NU Menyebarkan Moderasi
Ketum Pergunu Ingatkan Tugas Guru NU Menyebarkan Moderasi
Ketua Pergunu, KH Asep Saifudin Chalim.

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), KH Asep Syaifuddin Chalim kembali mengingatkan tanggung jawab para guru NU yakni mengawal Indonesia. Tugas ini semakin nyata jika melihat peristiwa dan kondisi sosial politik masyarakat yang tercermin dalam aksi demonstrasi 21-22 Mei 2019 di Jakarta.

Pengasuh Pesantren Amanatul Umah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur itu menegaskan, lewat kejadian demonstrasi yang diwarnaik kerusuhan, menandakan adanya paham ekstremisme yang masih menjangkiti dan dianut sebagian unsur bangsa. Untuk mengantisipasi, menghilangkan dan mencegah hal serupa, Pergunu harus giat dan terus melakukan doktrinasi moderasi beragama dan berbangsa.

"Pergunu harus melakukan kombinasi moderasi, ketika negara kita dikuasai oleh kelompok ekstrem maka kita harus mendominasi kelompok moderat," kata Kiai Asep pada Halaqah Ramadhan Pergunu di Gedung PBNU Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).

Indonesia, kata Kiai Asep, harus mampu mencegah lahirnya paham ektremisme, baik ektrem kiri maupun kanan. Kelompok eksrem kanan seperti Islam radikal, tak kalah membahayakannya dengan kelompok ekstrem kiri. Ia menyebut salah satu kekuatan ekstrem kiri dalam perjalanan sejarah bangsa adala kelompok sosialis yang pada tahun 1960-an, kekuatannya luar biasa. 

"Kita memiliki kewajiban dominasi sekarang, untuk menyebarkan paham moderat di mana-mana, maka Indonesia akan menjadi baik," ujarnya. 

Paham moderat, lanjut Kiai Asep, tidaklah keliru dianut para guru. Guru harus tawasuth. Hal itu untuk mencegah kemungkinan masuknya kelompok ekstrem kanan yang dewasa ini sebenarnya mulai terasa. Penting sekali pencegahan oleh guru-guru NU agar kelompok ekstrem kanan tidak memasuki pintu masuk-pintu masuk bangsa yakni dunia pendidikan. 

Kiai Asep mengatakan beberapa sekolah melalui Rohis banyak dikuasai penganut ekstrem kanan. Hal itu harus diwaspadai sebab kelompok tersebut memiliki idealisme dan cita-cita yang berlawanan dengan kelompok moderat.

"Kita tidak paham cita-cita mereka, tapi kita wajib melakukan dominasi yang sesuai idealisme kita yakni Islam moderat. Dengan keyakinan itu, menjadi modal terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil dan makmur, penuh kedamaiaan. Itulah idealisme kita," ungkapnya. 

Halaqah Ramadhan Pergunu dirangkai dengan diskusi dan bedah buku Manajemen Kemitraan, sebagai bekal kemandirian guru-guru NU melalui bidang kewirausahaan. Selain oleh guru-guru NU di DKI Jakarta, halaqah juga diikuti para guru NU dari Bandung, Bogor, Tasikmalaya, dan Banten. Hadir juga perwakilan dari organisasi profesi guru lainnya.

Adapun para pembicara yang hadir selain Ketua Umum Pergunu, KH Asep Saifuddin Chalim; adalah penulis buku Manajemen Kemitraan, Romi Siswanto; Direktur Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama, Imam Safei; Dewan Pakar Pergunu yang juga Rektor Universitas Terbuka, Ojat Darojat; pegiat pendidikan asal Jawa Timur, Hudiyono; Pengurus Pergunu, Ilyas Indra. (Kendi Setiawan)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG