IMG-LOGO
Nasional
HALAQAH RAMADHAN PERGUNU

Kiai Asep Saifuddin Chalim Ungkap Rahasia Keberhasilan Pesantren yang Diasuhnya

Ahad 26 Mei 2019 20:45 WIB
Bagikan:
Kiai Asep Saifuddin Chalim Ungkap Rahasia Keberhasilan Pesantren yang Diasuhnya
Kiai Asep Saifuddin Chalim pada Halaqah Ramadhan Pergunu, Sabtu (25/5)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim mengaku sangat berminat untuk menularkan kualitas dari lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Dia mengatakan tidak bisa membuka cabang, tetapi bisa melakukan sharing dan penerapan, sehingga pola yang sudah diterapkan di Amanatul Ummah dan Institut Saifuddin Chalim dapat dilaksanakan di mana-mana.

Dalam jumlah calon peserta didik, menurut Kiai Asep untuk tahun ajaran baru ini hanya menampung 700 siswa untuk tingkat SMP. Orang melihat 700 adalah angka yang kecil untuk dalam kontesk murid baru. Tetapi, dari sisi bisnis, jumlah tersebut setara dengan modal untuk mendirikan dua buah SPBU.

"Kami memiliki moto, Sekolah, unggul, mutu, dan berakhlakul karimah, terjangkau oleh lapisan masyarakat yang berminat," katanya pada kegiatan Halaqah Ramadhan Pergunu di Gedung PBNU Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).

Sementara dari sisi prestasi sebagai keluaran atas kualitas dilihat dari lulusannya terserap di banyak perguruan tinggi unggulan. Tak kurang ada 50 alumni setiap tahunnya yang diterima di jurusan kedokteran. Dan, sedikitnya 100 siswa diterima luar negeri dengan beasiswa seperti ke Eropa dan Timur Tengah.

Untuk tingkat perguruan tinggi, saat ini Institut Saifuddin Chalim telah memiliki jurusan S1 dan S2. Dan tahun menargetkan membuka jurusan S3. "Ini semua untuk peningkatan kualitas, idealisme kita berjuang untuk tujuan akhirnya yaitu melindungi NKRI," kata Kiai Asep.

(Baca: Ketum Pergunu Ingatkan Tugas Guru NU Menyebarkan Moderasi)
(Baca: Halaqah Pergunu Kuatkan Kewirausahaan dan Peran Pemersatu Bangsa)

Melindungi Indonesia harus dimulai dengan kualitas pendidikan para guru NU maupun sekolah-sekolah di mana para guru NU mengajar. Sebab, jika NU tidak berhasil mengimbangi pendidikan yang dikelola oleh kelompok radikal, sementara kelompok radikal begitu massif merebut perhatian masyarakat, Kiai Asep khawatir Indonesia sama keadaannya dengan Yaman, Syiria, Afganisatan, Irak dan negara-negara Timur Tengah lainnya yang dipenuhi peperangan atas nama Islam.

Menjadi keyakinan bersama-sama, bahwa peningkatan dan pembuktian kualitas pendidikan Pergunu menjadi modal selain idealisme menerapkan pemahaman moderat. Lagipula, lanjut Kiai Asep, jika Pergunu mampu membuktikan kualitas maka tidak usah gusar jika sekolah-sekolah di daerah tidak mendapatkan Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah.

Kementerian Agama, kata dia, idealnya dapat menganggarkan dana bantuan operasional madrasah. Dengan anggaran yang rasional dan sesuai ketentuan yang berlaku, dana bantuan tersebut menjadi dukungan bagi madrasah. "Tetapi juga kita melalui lembaga pendidikan melakukan upaya keras kemandirian. Itu pasti," tegasnya.

Kiai Asep meminta para guru Pergunu agar jangan mudah putus asa atau mudah mengeluh, karena akan berkutat di satu titik saja. Kiai Asep mendorong agar Pergunu dapat berpikir dan mampu menunjukkan apa yang bisa diupayakan. Ia mencontohkan langkah tersebut dilakukan di Institut Saifuddin Chalim.

"Terus meningkatkan kualitas, akreditasi semua tahun ini kita upayakan B, tahun depannya A. Karena kalau tidak begitu, tidak mungkin (lembaga pendidikan kita) dijual di luar negeri," katanya. 

Halaqah Ramadhan Pergunu dirangkai dengan diskusi dan bedah buku Manajemen Kemitraan, dan diakhiri buka puasa bersama. Bedah buku sebagai bekal kemandirian guru-guru NU melalui bidang kewirausahaan. Selain oleh guru-guru NU di DKI Jakarta, halaqah juga diikuti para guru NU dari Bandung, Bogor, Tasikmalaya, dan Banten. Hadir juga perwakilan dari organisasi profesi guru lainnya.

Adapun para pembicara yang hadir selain Ketua Umum Pergunu, KH Asep Saifuddin Chalim; adalah penulis buku Manajemen Kemitraan, Romi Siswanto; Direktur Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama, Imam Safei; Dewan Pakar Pergunu yang juga Rektor Universitas Terbuka, Ojat Darojat; pegiat pendidikan asal Jawa Timur, Hudiyono; Pengurus Pergunu, Ilyas Indra. 

Halaqah diadakan untuk membekali guru-guru NU dalam penguatan program Guru NU Pemersatu Bangsa dan jiwa kewirausahaan guru atau Teacherpreneur(Kendi Setiawan)
Bagikan:
Ahad 26 Mei 2019 19:25 WIB
Tingkat Tertinggi Ibadah Para Pecinta
Tingkat Tertinggi Ibadah Para Pecinta
Jakarta, NU Online
Tidak sekali-kali manusia diciptakan tak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Tentu ibadah masing-masing orang memiliki tingkatannya.

Ketua Bidang Seni dan Budaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Habiburrahman el-Syirazi menyampaikan ada tiga tingkatan ibadah manusia kepada Allah Swt. Tingkatan ibadah pertama adalah tingkatan ibadah budak yang ibadahnya karena takut ancaman.

"Orang yang beribadah seperti budak, maksudnya beribadah karena takut karena diancam," katanya saat mengisi ceramah buka bersama di kediaman Wakil Ketua Umum MUI H Zainut Tauhid Saadi, Pancoran, Jakarta Selatan, Ahad (26/5).

Selanjutnya tingkatan ibadahnya para pedagang. Mereka yang berada di tingkatan ini kerap kali mempertimbangkan untung ruginya melaksanakan suatu ibadah.

"Melakukan aktivitas melihat untung ruginya. Seringkali melihat fadlail dan untung-untungannya," jelas pria yang pernah mondok di Pondok Pesantren Mranggen, Demak, Jawa Tengah itu.

Sementara tingkatan tertinggi adalah level ibadahnya para pecinta. Mereka yang berada di tingkatan ini, kata penulis novel-novel bertema cinta itu, tidak lagi menimbang untung dan rugi dalam ibadahnya, tidak pula terpaksa karena takut dengan ancaman-Nya.

Ibadah orang-orang demikian didasarkan atas kecintaannya kepada Allah swt. "Ini ibadahnya al-ahrar, orang-orang merdeka. Walladzina amanu aysaddu hubban lillah," jelasnya.

Karenanya, menurut pria yang akrab disapa Kang Abik itu, cinta punya posisi yang mulia dalam Islam. "Cinta di dalam Islam menempati posisi yang sangat mulia," ujarnya.

Sementara itu dalam sambutannya, Zainut mengingatkan agar dalam sepuluh hari terakhir Ramadjan ini kita meningkatkan ibadah agar mendapatkan pahala yang dijanjikan oleh Allah Swt, yakni lailatul qadar.

"Lebih menggiatkan amaliah ibadah kita, yang wajib mahdlah maupun amaliah yang sunah," kata pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) itu. 

Kegiatan ini dihadiri oleh A'wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdullah Syarwani, Nyai Hj Chuzaemah Tahido Yanggo, kader IPNU dan IPPNU di wilayah Jakarta. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Ahad 26 Mei 2019 18:25 WIB
HALAQAH RAMADHAN PERGUNU
Ketum Pergunu Ingatkan Tugas Guru NU Menyebarkan Moderasi
Ketum Pergunu Ingatkan Tugas Guru NU Menyebarkan Moderasi
Ketua Pergunu, KH Asep Saifudin Chalim.

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), KH Asep Syaifuddin Chalim kembali mengingatkan tanggung jawab para guru NU yakni mengawal Indonesia. Tugas ini semakin nyata jika melihat peristiwa dan kondisi sosial politik masyarakat yang tercermin dalam aksi demonstrasi 21-22 Mei 2019 di Jakarta.

Pengasuh Pesantren Amanatul Umah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur itu menegaskan, lewat kejadian demonstrasi yang diwarnaik kerusuhan, menandakan adanya paham ekstremisme yang masih menjangkiti dan dianut sebagian unsur bangsa. Untuk mengantisipasi, menghilangkan dan mencegah hal serupa, Pergunu harus giat dan terus melakukan doktrinasi moderasi beragama dan berbangsa.

"Pergunu harus melakukan kombinasi moderasi, ketika negara kita dikuasai oleh kelompok ekstrem maka kita harus mendominasi kelompok moderat," kata Kiai Asep pada Halaqah Ramadhan Pergunu di Gedung PBNU Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).

Indonesia, kata Kiai Asep, harus mampu mencegah lahirnya paham ektremisme, baik ektrem kiri maupun kanan. Kelompok eksrem kanan seperti Islam radikal, tak kalah membahayakannya dengan kelompok ekstrem kiri. Ia menyebut salah satu kekuatan ekstrem kiri dalam perjalanan sejarah bangsa adala kelompok sosialis yang pada tahun 1960-an, kekuatannya luar biasa. 

"Kita memiliki kewajiban dominasi sekarang, untuk menyebarkan paham moderat di mana-mana, maka Indonesia akan menjadi baik," ujarnya. 

Paham moderat, lanjut Kiai Asep, tidaklah keliru dianut para guru. Guru harus tawasuth. Hal itu untuk mencegah kemungkinan masuknya kelompok ekstrem kanan yang dewasa ini sebenarnya mulai terasa. Penting sekali pencegahan oleh guru-guru NU agar kelompok ekstrem kanan tidak memasuki pintu masuk-pintu masuk bangsa yakni dunia pendidikan. 

Kiai Asep mengatakan beberapa sekolah melalui Rohis banyak dikuasai penganut ekstrem kanan. Hal itu harus diwaspadai sebab kelompok tersebut memiliki idealisme dan cita-cita yang berlawanan dengan kelompok moderat.

"Kita tidak paham cita-cita mereka, tapi kita wajib melakukan dominasi yang sesuai idealisme kita yakni Islam moderat. Dengan keyakinan itu, menjadi modal terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil dan makmur, penuh kedamaiaan. Itulah idealisme kita," ungkapnya. 

Halaqah Ramadhan Pergunu dirangkai dengan diskusi dan bedah buku Manajemen Kemitraan, sebagai bekal kemandirian guru-guru NU melalui bidang kewirausahaan. Selain oleh guru-guru NU di DKI Jakarta, halaqah juga diikuti para guru NU dari Bandung, Bogor, Tasikmalaya, dan Banten. Hadir juga perwakilan dari organisasi profesi guru lainnya.

Adapun para pembicara yang hadir selain Ketua Umum Pergunu, KH Asep Saifuddin Chalim; adalah penulis buku Manajemen Kemitraan, Romi Siswanto; Direktur Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama, Imam Safei; Dewan Pakar Pergunu yang juga Rektor Universitas Terbuka, Ojat Darojat; pegiat pendidikan asal Jawa Timur, Hudiyono; Pengurus Pergunu, Ilyas Indra. (Kendi Setiawan)


Ahad 26 Mei 2019 16:45 WIB
HALAQAH RAMADHAN PERGUNU
Halaqah Guru NU Kuatkan Kewirausahaan dan Peran Pemersatu Bangsa
Halaqah Guru NU Kuatkan Kewirausahaan dan Peran Pemersatu Bangsa
Wakil Ketua Pergunu, Aris Adi Laksono

Jakarta, NU Online

Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) menggelar Halaqah Ramadhan dirangkai dengan Tasyakuran, Bedah Buku dan Buka Puasa Bersama di Gedung PBNU di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).

Wakil Ketua Pergunu, Aris Adi Laksono mengatakan halaqah diadakan untuk silaturahim sekaligus penguatan bagi guru-guru NU. Menurut Aris, guru memiliki posisi sangat strategis dengan ruang intim antara murid dengan guru, kemudian antara murid dengan orang tua untuk mewariskan ideologi kebangsaan, ajaran Islam ramah.

"Apalagi dalam Sarasehan Kebangsaan Pergunu yang digelar di Lampung beberapa waktu lalu, salah satu rekomendasinya adalah Pergunu menggagas Guru Pemersatu Bangsa," kata Aris.

Guru Pemersatu Bangsa, kata Aris juga menguatkan Pergunu di seluruh Indonesia, tidak hanya terpusat hanya di Pulau Jawa. Itu sebabnya, dalam dua kegiatan seperti Rakernas, Pergunu memilih tempat NTB dan Lampung.

Keterlibatan Pergunu di berbagai daerah semakin dibuktikan. Saat ini kepengurusan Pergunu telah ada di seluruh Indonesia. Selain itu, dari kegiatan pengiriman guru-guru NU yang bekerjasama dengan Kementerian Agama melalui Bina Kawasan pada tahun 2017-2018, di mana para relawan mengajar di daerah perbatasan, guru-guru NU yang ditugaskan turut melakukan beragam kegiatan pengabdian masyarakat.

"Relawan Pergunu melalui program Bina Kawasan yang ditugaskan ke Papua, misalnya, mereka ikut membina majelis taklim, menggerakan kegiatan kepemudaan," terangnya.

Aktivitas mereka selama bertugas juga diberitakan di media masa, sehingga dapat memacu guru lainnya serta berdampak pada daerah tempat bertugas. Untuk itu, Pergunu tengah mendorong 20 guru yang terlibat di program Bina Kawasan untuk mempublikasikan dalam bentuk catatan.

Selain pembinaan kebangsaan melalui Guru Pemersatu Bangsa, hasil Sarasehan Nasional Pergunu di Lampung juga menekankan pentingnya kewirausahaan bagi para guru melalui gerakan Teacherpreneur. Gerakan tersebut sebagai usaha peningkatan kesejahteraan dalam ekonomi anggota Pergunu. Gerakan ini dibangun atas kesadaran pemberdayaan komunitas berbasis ekonomi kerakyatan dan kearifan lokal dengan muatan media digital.

"Jika guru-guru NU mampu mewujudkan kemandiriannya, mereka akan lebih ikhlas dalam tugas pengabdian mencerdaskan kehidupan bangsa," lanjutnya.

Untuk itu, sangat tepat halaqah menghadirkan pembahasan entreprenuership, sebagai tema utama.

Selain oleh guru-guru NU di DKI Jakarta, halaqah juga diikuti para guru NU dari Bandung, Bogor, Tasikmalaya, dan Banten. Hadir juga perwakilan dari organisasi profesi guru lainnya.

Sementara para pembicara yang hadir adalah Ketua Umum Pergunu, KH Asep Saifuddin Chalim; penulis buku Manajemen Kemitraan, Romi Siswanto; Direktur Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama, Imam Safei; Dewan Pakar Pergunu yang juga Rektor Universitas Terbuka, Ojat Darojat; pegiat pendidikan asal Jawa Timur, Hudiyono; Pengurus Pergunu, Ilyas Indra. (Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG