IMG-LOGO
Nasional

Habib Luthfi Minta Pemerintah Tegas terhadap Perusuh

Senin 27 Mei 2019 15:30 WIB
Bagikan:
Habib Luthfi Minta Pemerintah Tegas terhadap Perusuh
Luhut di rumah Habib Luthfi Pekalongan
Pekalongan, NU Online
Rais 'Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya meminta kepada pemerintah harus bertindak tegas terhadap perusuh-perusuh dan juga jangan ragu-ragu menegakkan peraturan perundang-undangan.

"Pemerintah harus tegas,kalau ada yang sudah jelas-jelas melanggar aturan, diperingatkan tidak bisa, ya ditindak tegas,” tuturnya.

Pesan Habib Luthfi itu disampaikan kepada Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman RI Luhut Binsar Panjaitan saat dirinya melakukan kunjungan silaturahim ke kediaman Habib Luthfi bin Yahya, Ahad (26/5) siang di Pekalongan, Jawa Tengah.

Sejumlah tokoh turut dalam rombongan mendampingi silaturahim Luhut ke Habib Luthfi yakni anggota Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) yang juga mantan Menteri Luar Negeri dan Menko Kesra Alwi Shihab, Mantan Sekretaris Kabinet Andi Wijayanto, dan beberapa tokoh lainnya. Turut menyambut kedatangan Luhut dan rombongan, Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandy Sitepu dan Dandim 0710/Pekalongan Letkol Inf Arfan Johan Wihananto.

Dikatakan, dirinya beserta rombongan berkunjung ke Habib Luthfi yang juga Ketua Forum Ulama Sufi Dunia adalah dalam rangka silaturahim. “Sebagai teman, sudah lama (saya) nggak kemari. Kebetulan waktu sebelum Pilpres saya berjanji kemari, tapi gak jadi. Sekarang baru bisa,” kata Luhut.

“Beliau tadi berpesan tegas sekali. Kalau kita tidak tegas seperti itu, tentunya tegas disertai dengan kearifan, dan ini sudah pemerintah lakukan. Pemerintah akan tegas. Kalau ada yang sudah jelas-jelas melanggar aturan, diperingatkan tidak bisa, ya akan ditindak tegas,” tuturnya.

Luhut juga meminta kepada masyarakat untuk tetap tenang dan percaya bahwa pemerintah akan bekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. “Ini juga yang menjadi salah satu imbauan dari Habib Luthfi,” pungkasnya. (Muiz)
Bagikan:
Senin 27 Mei 2019 23:0 WIB
Menulis, Kunci Sukses Ulama Nusantara Dikenal Dunia
Menulis, Kunci Sukses Ulama Nusantara Dikenal Dunia
Jakarta, NU Online
Penulis Buku Islam Nusantara KH Ahmad Baso mengungkapkan alasan ulama-ulama Betawi bisa dikenal oleh dunia. Yakni karena menulis dan menelurkan sebuah karya, kemudian disebar sehingga dibaca oleh para muridnya yang berbeda negara. 

“Nah untuk mengetahui karya-karya ulama Nusantara yang menjadi guru di luar, kita harus mengoleksi kitab-kitab yang mereka tulis. Ini menjadi ikhtiar dalam melestarikan ajaran ulama Nusantara,” kata Penulis Buku Islam Nusantara KH Ahmad Baso, dalam Halaqoh Ulama Nusantara di Aula Serbaguna Masjid Jami’ Shodri Asshiddiq, Cakung, Jakarta Timur, pada Ahad (26/5).

Karena karya-karya ulama Nusantara terdahulu itulah, lanjut Kiai Baso, maka sesungguhnya ajaran Islam di negeri ini yang mengajarkan kesejukan dan kedamaian dalam beragama berhasil menjadi kiblat dunia. Bahkan menjadi penerangan Islam sedunia.

“Ini menjadi tantangan kita depan bagaimana mengembalikan marwah Islam Nusantara di negeri lain. Saya berharap melalui Majelis Ulama Indonesia atau Nahdlatul Ulama agar melakukan kerja sama dengan Raja Arab mengenai utusan ulama untuk mengajar Islam Nusantara dan menyebarkan ajaran ulama Nusantara,” jelasnya.

Dengan tegas, Kiai Baso menekankan bahwa ulama dalam negeri saat ini harus menjadi subjek, tidak lagi menjadi objek. 

“Kalau dikirim ke Arab hanya untuk belajar tidak ada gunanya itu. Kita harus bertugas untuk menerangi hatinya orang Arab seperti mengajari bagaimana halal bihalal dilakukan. Itu yang dilakukan Syaikh Nawawi Al-Bantani dengan menelurkan karya Nihayatuz-Zain dan diajarkan di sana,” pungkas Kiai Baso.

Pada Halaqoh Ulama Jakarta tersebut, hadir Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wathoniyah As-Shodriyah KH Ahmad Shodri, Pengurus MUI Jakarta Timur dan MUI se-Jakarta Timur, Pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DKI Jakarta, Muballigh Indonesia Bertauhid (MIB), Masyarakat Cinta Masjid (MCM), Aswaja Centre DKI Jakarta, Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), dan Pimpinan Pondok Pesantren se-DKI Jakarta.

Selain Kiai Ahmad Baso yang tampil sebagai narasumber, hadir pula narasumber lainnya yakni Aktivis NU Gus Rijal Mumazziq dan Sekjen IPI KH Abdul Fattah yang berbicara tentang pemberdayaan ekonomi umat berbasis pesantren. (Aru Elgete/Abdullah Alawi)

Senin 27 Mei 2019 22:30 WIB
Peserta Tadribud Duat wal Aimmat PBNU Diterima Pimpinan Al Azhar
Peserta Tadribud Duat wal Aimmat PBNU Diterima Pimpinan Al Azhar
Pertemuan Utusan PBNU dengan Wakil Rektor Al Azhar
Kairo, NU Online
Peserta program Tadribud Duat wal Aimmat PBNU di Universitas Al Azhar di terima secara khusus oleh pimpinan universitas tersebut di Komplek rektorat, Senin (27/5). Hadir dari PBNU, ketua rombongan KH Muhammad Nur Hayid (Gus Hayid) dan dari Al Azhar, Doktor Asyraf yang menjabat sebagai wakil rektor.

Pada pertemuan tersebut Gus Hayid menyampaikan terima kasih atas penerimaan dan juga kerjasama yang telah dijalin oleh ke dua lembaga yakni PBNU dan Universitas Al Azhar. Ia juga menyampaikan salam hormat dari segenap jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

"Kami sangat bersyukur dan berterimakasih atas kesempatan ini sekaligus kami berdoa dan berharap di masa yang akan datang, hubungan dan kerjasama dapat dijaga dan ditingkatkan agar lebih luas dan lebih baik lagi," katanya Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU ini.


Gus Hayid mengungkapkan, tantangan dakwah Islam Wasathiyah di era modern saat ini sungguh sangat luar biasa. Tanpa kerjasama berbagai pihak lanjutnya, tentu dakwah wasathiyah yang diajarkan Rasulullah akan mengalami berbagai kendala dan rintangan.

Oleh karenanya penting menjalin kerjasama yang lebih luas termasuk di bidang penguatan keilmuan antara Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) dan Al azhar. Hal ini bisa diwujudkan dalam bentuk pertukaran pelajar, para dosen dan juga peneliti.

Al Azhar dan Indonesia menurut Gus Hayid merupakan simpul penguat dan penggerak Islam Moderat. Al Azhar merupakan lembaga yang mendidik para pioneer pedakwah Islam Wasathiyah di kawasan Barat. Sedangkan Indonesia merupakan poros Timur yang dikomandani oleh NU sebagai ormas terbesar di dunia.

"Kalau dulu ada tulisan Antara Tanja dan Jakarta sebagai poros penguat gerakan kemerdekaan dan penguatan Islam di era kolonialisasi, sekarang di era modern dirubah Antara Kairo dan Jakarta. Simpul antara Jakarta dan Kairo sebagai representasi dari dua negara Islam yang mengemban amanah dakwah Islam Wasathiyah untuk menjaga dunia yang damai dan penuh dengan rahmat yang ditunjukkan oleh Nahdlatul Ulama dan Al Azhar," ungkapnya.

Sementara Doktor Asyraf merespon baik rencana penguatan lembaga di Timur dan di Barat ini. Ia pun memuji perkembangan Islam Wasathiyah di Indonesia sekaligus memuji akhlak yang ditunjukkan para santri di pesantren saat ia berkunjung ke Indonesia.

Beliau juga mengungkapkan kesiapan menjalin komunikasi dengan NU termasuk kesiapan saat nantinya diundang ke Indonesia dalam rangka memperkuat kerjasama.

"Penting meneladani akhlak Rasul dalam berdakwah. Karena saat ini banyak kelompok yang mengklaim merasa paling islami dan suci, paling mengamalkan Al-Qur'an namun akhlaknya tidak sama sekali mencontoh Rasulullah. Selain sebagai Rasul, Nabi Muhammad juga adalah dai yang patut dicontoh ucapannya dan akhlaknya," ungkapnya.

Di akhir pertemuan, dilakukan penyerahan cinderamata oleh Gus Hayid kepada Doktor Asyraf dan buku tentang profil Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Hadir pada pertemuan tersebut beberapa staff Al Azhar dan seluruh peserta Program Tadribud Duat wal Aimmat PBNU.

Program Tadribud Duat wal Aimmat sendiri adalah program yang merupakan kelanjutan dari pertemuan pimpinan kedua pihak sebagai wujud komitmen memperkuat hubungan kerjasama dalam penguatan dakwah Islam Wasathiyah untuk menciptakan dunia yang lebih beradab dan damai.

Berbagai kerjasama sedang dan akan diwujudkan oleh kedua lembaga. Selain program penguatan dai dan imam yang saat ini sedang dilaksanakan, kerjasama juga akan diwujudkan melalui pemberian beasiswa dan shortcourse berbagai keilmuan di antaranya ilmu bahasa Arab. Pada tahun 2020 akan ada 100 orang yang mengikuti program ini. (Red: Muhammad Faizin)
Senin 27 Mei 2019 22:0 WIB
Ulama-ulama Nusantara Banyak yang Jadi Guru di Arab Saudi
Ulama-ulama Nusantara Banyak yang Jadi Guru di Arab Saudi
Jakarta, NU Online 
Guru Junaid Al-Batawi bersama Syekh Nawawi Al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi ketika di Tanah Arab pernah bekerja sama untuk membuat percetakan. Hal itu dilakukan untuk menyebar karya-karyanya mengenai Islam di Nusantara. 

“Itulah yang membuat Islam kita dikenal. Orang-orang Arab butuh Islam seperti kita. Maka para ulama-ulama itu tampil sebagai guru di Syam, Arab, Makkah, dan Yaman,” kata Penulis Buku Islam Nusantara KH Ahmad Baso dalam Halaqoh Ulama Jakarta di Masjid Jami’ Shodri Asshiddiq, Cakung, Jakarta Timur, pada Ahad (26/5).

Menurutnya, orang Arab sangat membutuhkan ilmu dari ulama Betawi karena serasa minum madu. Ulama-ulama Betawi terdahulu benar-benar menjadi gurunya orang Arab. Ilmu yang diajarkan adalah tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

“Tapi sekarang kok malah terbalik? Justru kita yang hanya menjadi murid di sana. Malah sekarang hanya menjadi tenaga kerja saja,” kata Kiai Baso.

Dalam konstelasi pergumulan agama-agama, lanjutnya, Arab Saudi telah melarang ulama-ulama radikal untuk tampil menyebar ajaran yang provokatif. Karena itu, maka sudah saatnya ulama-ulama negeri ini, khususnya di Betawi, untuk tampil di neger-negeri yang sering dilanda konflik.

“Kita bisa saja berdialog dengan Raja Arab soal mengirim guru-guru untuk mengajar di sana. Jadi, perbincangan dengan Raja Arab tidak hanya melulu mengenai penambahan kuota haji saja,” kata Kiai Baso.

Namun, ia mengajak kepada ulama Betawi untuk terlebih dulu menulis dan berkarya sebagaimana ulama-ulama Nusantara terdahulu. Hal itu agar ajaran-ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dari Indonesia dapat diadopsi oleh negeri yang dilanda konflik.

“Kiai Soleh Darat menulis kitab Syarhul Hikam Mriki, dibaca orang Arab. Hebatnya ulama jaman dulu, artinya kalau anda ingin belajar Hikam atau belajar Islam ya mriki (bahasa jawa: ke sini),” pungkas Kiai Baso, dengan gaya bicara yang khas, disambut gemuruh tawa hadirin.

Pada Halaqoh Ulama Jakarta tersebut, hadir Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wathoniyah As-Shodriyah KH Ahmad Shodri, Pengurus MUI Jakarta Timur dan MUI se-Jakarta Timur, Pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DKI Jakarta, Muballigh Indonesia Bertauhid (MIB), Masyarakat Cinta Masjid (MCM), Aswaja Centre DKI Jakarta, Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), dan Pimpinan Pondok Pesantren se-DKI Jakarta.

Selain Kiai Ahmad Baso yang tampil sebagai narasumber, hadir pula narasumber lainnya yakni Aktivis NU Gus Rijal Mumazziq dan Sekjen IPI KH Abdul Fattah yang berbicara tentang pemberdayaan ekonomi umat berbasis pesantren. (Aru Elgete/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG