IMG-LOGO
Esai

Puasa Kelas Anak-anak

Kamis 30 Mei 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Puasa Kelas Anak-anak
Oleh Abdullah Alawi 

Mahbub Djunaidi, penulis kawakan yang berjuluk pendekar pena, dalam satu artikelnya pernah menulis tentang puasa anak-anak kecil di zaman penjajahan Belanda. Pada waktu menjelang Lebaran, anak-anak liburan sekolah. 
 
“Beresoknya, beduk puasa berdentam-dentam. Lepas sahur, anak-anak senewen itu masuk keluar kampung menabuh kaleng rombeng, kemudian duduk berjuntai di batang belimbing hingga lohor, sesudah itu tidur telungkup menekan perut keras-keras ke ubin langgar hingga hampir maghrib. Jika saat berbuka puasa tiba, mereka nyaris menelan seluruh isi bumi. Tapi ini tidak berlangsung lama, sembahyang tarawih subuh, yang mereka lakukan sambil sekali dua menyikut rusuk temannya,” tulisnya pada Bulan Puasa Anak-Anak Sekolah.

Pada zaman Jepang juga ada kebijakan serupa pada bulan puasa. Dan gaya puasa anak-anak tidak berubah. Mahbub Djunaidi menulis demikian:

"Sesudah menyanyikan lagu kebangsaan Kimigayo dan Seikerei itu berhamburan ke luar kelas bagai kelereng tumpah dari dosnya. Seperti biasa, esok hari beduk puasa berdentam-dentam, dan seperti biasa mereka bergolek-golek di lantai langgar. Satu dua juga yang diam-diam menggigit mangga muda di belakang kakus."

Poin dari esai Mahbub itu sebetulnya membandingkan anak-anak zaman penjajahan dan zaman kemerdekaan. Jika zaman penjajahan anak-anak tumbuh kurus dan pendek, zaman kemerdekaan lebih gemuk dan jangkung. Zaman penjajahan sedikit yang sekolah, sementara zaman kemerdekaan lebih banyak murid dari bangkunya. 

Pada zaman kemerdekaan pula anak-anak punya kesempatan untuk melakukan berbagai hal. Dan kesempatan itu jangan disia-siakan, harus belajar keras, meskipun di bulan puasa.

”Anak-anak, sesuai panggilan zaman, kamu dipersiapkan untuk berjalan-jalan dari planet ke planet, atau menyuruk jauh ke dalam perut bumi. Karena itu, kamu musti belajar keras, tak terkecuali di bulan puasa. Satu hari terlewat berarti rugi dua puluh lima tahun.”

Kelas Kanak-anak
Di artikel Mahbub yang mengupas zaman Belanda dan Jepang, menggambarkan bagaimana anak-anak berpuasa. Ada dua hal yang menarik dari ungkapannya. “Jika saat berbuka puasa tiba, mereka nyaris menelan seluruh isi bumi.” 

Sebagaimana di tulisan-tulisannya yang lain, Mahbub Djunaidi selalu mampu membuahkan metafora yang khas. Dan itu memang kelihaiannya. Jika tidak begitu, bukan Mahbub namanya. 

Namun, lebih dari itu, menurut hemat saya, Mahbub ingin mengatakan bahwa puasa sebetulnya bukan memindahkan jadwal atau menunda makan. Sehingga ketika bertemu maghrib seperti balas dendam. 

Nah, dari sisi ini, sebetulnya siapa pun yang berwatak demikian dalam berpuasa, dia seperti anak-anak. Derajat puasanya masih kanak-kanak. Hanya lapar saja yang didapat.  

Kedua, tentang keisengan anak-anak. Hal itu diungkapkan Mahbub pada zaman Jepang, “yaitu Satu dua juga yang diam-diam menggigit mangga muda di belakang kakus.”

Dengan ungkapan tersebut Mahbub Djunaidi menyampaikan sifat kanak-kanak yang tidak memahami artinya puasa. Bagi anak-anak seolah-olah diam-diam makan mangga tidak diketahui siapa pun. Padahal tentu saja Allah mengetahuinya. 

Nah, dengan demikian, yang diam-diam membatalkan puasa seperti itu, berapa pun umurnya, dia sebenarnya anak-anak. 


Penulis adalah Nahdliyin, tinggal di Bandung  

Bagikan:
Kamis 30 Mei 2019 4:0 WIB
OBITUARI
Wafatnya 'Imam Ghazali Indonesia': Mengenang KH Muhammad Tolchah Hasan
Wafatnya 'Imam Ghazali Indonesia': Mengenang KH Muhammad Tolchah Hasan
KH Tolchah Hasan (annur.net)
Oleh Imron Rosyadi Hamid

Suatu malam saya bertanya kepada istri, "Kenapa beli kitab sebanyak ini?" sambil melihat puluhan kitab dengan hardcover hijau tua yang baru datang dengan beberapa judul: Mukhtashar fii Ulumiddin, Al Ghunyatuth -Thalibin, Al Fathur Rabbany karya As Syech Abdul Qadir Al Jaylani yang menumpuk di ruang tengah.

Istri saya menjawab, "Satu set untuk saya, satu set yang lain untuk (dihadiahkan ke) Kiai Tolchah."

Seingat saya ini bukan yang pertama. Beberapa tahun sebelumnya waktu ke Kairo, saya pernah mengantar istri keliling ke toko kitab di dekat kampus Al Azhar. Tujuannya sama: mencarikan kitab-kitab pesanan Kiai Toclhah Hasan tentang fiqih dari empat madzhab (madzahibul arba'ah). Bahkan musim haji 2018 lalu, kepada istri saya, KH Tolchah juga memesan kitab Quutul Qulub karya Abu Tholib Al Maky.

Model interaksi keilmuan semacam inlahi yang sering dilakukan istri saya dengan Kiai Toclhah Hasan baik sebagai kerabat maupun pengurus di Yayasan Al-Maarif Singosari dengan menjadikan Kiai Toclhah Hasan sebagai 'jujugan' utama dalam berkonsultasi ketika menemukan persoalan organisasi, pendidikan di lingkungan Al-Maarif dan pesantren hingga urusan pemilihan kitab tafsir Al Ibriz karya KH Bisri Mustofa yang akan diajarkan istri kepada jamaah ibu-ibu di Masjid Besar Hizbullah Singosari.

Kiai Toclhah memang pribadi yang lengkap, seorang organisatoris andal (memulai menjadi aktivis Ansor hingga menjadi pimpinan PBNU), memiliki kemampuan akademik dalam disiplin ilmu umum (pendiri dan rektor Unisma), serta kealiman dan penguasaan literatur keisIaman yang luas. Gus Dur bahkan pernah menyebut KH Toclhah Hasan sebagai 'Imam Ghazali-nya Indonesia'. Maka tak heran ketika KH Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI keempat, KH Toclhah Hasan diangkat sebagai Menteri Agama.

Saya sendiri punya banyak pengalaman pribadi dengan Kiai Tolchah dalam banyak hal termasuk mengaji rutin kitab Rowa'iul Bayan Tafsiir Ayatul Ahkam karangan Muhammad Ali as Ashobuny kepada beliau di kediaman di Singosari. Di luar urusan mengaji, sejak saya aktif di Ansor PAC Singosari hingga Cabang Kabupaten Malang, punya pengalaman ketika saya ditunjuk menjadi ketua panitia Harlah Ansor ke-69.

Kala itu saya diminta untuk membuat buku Tak Lekang Ditelan Zaman. Buku itu tentang sejarah kepengurusan GP Ansor Kabupaten Malang sejak berdiri hingga kepemimpinan Sahabatt Hanief, saat saya menjadi Sekretaris Cabang.

Maka KH Toclhah menjadi salah satu sesepuh yang kami sowani karena beliau mantan Ketua PC Ansor di awal tahun 1960-an. Salah satu cerita beliau yang sangat menarik adalah: hampir semua ranting di tingkat desa atau dusun di Kabupaten Malang pernah beliau kunjungi. 

Ketika Haul Gus Dur tahun 2013 , saya diminta keluarga Ciganjur untuk menjadi narahubung KH Toclhah Hasan untuk memberikan ceramah dan testimoni tentang Almarhum KH Abdurrahman Wahid. Ketika selesai acara, saya menyaksikan Kiai Toclhah menolak diberi bisyarah oleh panitia. Beliau begitu hormat kepada Almarhum Gus Dur dan merasa sebagai keluarga besarnya.

Sewaktu persiapan Harlah Ansor tahun 2012 di Solo yang akan dibuka Presiden SBY, saya pernah diminta Sahabat Nusron Wahid untuk mengantar sowan kepada KH Tolchah Hasan di rumah beliau di Cibubur. Tetapi waktu itu KH Toclhah Hasan bersamaan dengan agenda lain, sehingga tidak bisa hadir dalam pemberian penghargaan sebagai sesepuh di Harlah Ansor ke-78 di Solo.

Di tahun-tahun terakhir ketika KH Toclhah Hasan memilih untuk menetap di Singosari setidaknya ada dua pengalaman di bidang keorganisasian yang patut diteladani Warga NU: beliau 'menolak' dicalonkan menjadi pucuk pimpinan organisasi. Pertama ketika saya menyaksikan KH Hasyim Muzadi sowan kepada Kiai Toclhah Hasan agar bersedia dicalonkan sebagai Rais Aam dalam rangka persiapan Muktamar NU Jombang. Kiai Toclhah ngendikan (mengatakan) tidak bersedia karena faktor usia.

Kedua, ketika saya mengantar Pak LBP dan Mbak Yenny Wahid ke Singosari untuk sebuah diskusi kemungkinan Kiai Tolchah Hasan bersedia menjadi Ketum MUI, beliau juga menjawab tidak bersedia karena faktor usia. 

Sebelum saya berangkat ke Tiongkok untuk melanjutkan studi S3, Kiai Toclhah sempat memberikan wejangan kepada saya tentang kemajuan China yang perlu dipelajari. Bahkan dalam berbagai kesempatan pulang ke Indonesia, ketika bertemu beliau, KH Tolchah sering mengenalkan saya kepada beberapa orang sebagai pengurus NU Tiongkok. 

Beberapa minggu lalu saya mendengar berita dari istri: Kiai Toclhah masuk RS dan memberikan update kabar perkembangan kesehatan beliau dari waktu ke waktu. Rabu, 29 Mei 2019, saya menerima kabar tentang wafatnya tokoh dan kiai anutan kita semua, KH M Tolchah Hasan, 'Imam Ghozali-nya Indonesia'.

Kullu man 'alaiha faan, wayabqa wajhurabbika dzul jalaali wa al ikraam

Sugeng tindak, Pak Kiai....

(Imron Rosyadi Hamid, Rais Syuriyah PCINU Tiongkok).

Jumat 24 Mei 2019 19:0 WIB
Gaya Puasa Urang Sunda (Bagian I)
Gaya Puasa Urang Sunda (Bagian I)
Oleh Warsa Suwarsa

Tidak dapat dipungkiri, akulturasi antara tradisi yang telah lama berkembang di masyarakat dengan Islam merupakan realitas di dalam kehidupan masyarakat di Nusantara. Kata puasa tetap dipertahankan dan mampu mempertahankan dirinya sebagai pengganti kata Shaum. Selama bulan puasa itu juga, tradisi-tradisi bersama kebiasannya terus bertahan dan mengalami perkembangan dari generasi ke generasi baik disadari atau tidak oleh masyarakat. Kenyataan ini menunjukkan, betapa akomodatifnya antara Islam dengan Budaya. Pribumisasi Islam di Nusantara sebagaimana pandangan Gus Dur bukan isapan jempol.

Dalam tulisan ini, akan dipaparkan beberapa tradisi dan kebiasaan yang masih dipertahankan oleh masyarakat  di Tatar Pasundan selama bulan puasa. Tradisi ini terus-menerus mampu bertahan meskipun zaman dan milieu telah memasuki era Revolusi Industri 4.0. Hal tersebut memberikan indikasi kepada kita, bahwa tradisi dan kebiasaan yang telah lama berkembang di masyarakat kemudian memadukan dirinya dengan Islam sama sekali tidak akan tersentuh oleh kemajuan zaman. Justru sebaliknya, tradisi dan kebiasaan itu semakin berkembang dengan varian dan coraknya sendiri. Masyarakat Sunda memang telah sejak lama mengaplikasikan pribahasa “Kudu Miindung Ka Waktu jeung Mibapa Ka Jaman”,  manusia harus dapat beradaptasi dengan jaman yang sedang dialaminya.

Nyubuh, Ngabeubeurang, dan Ngabuburit
Tiga istilah di atas sudah tidak asing di masayarakat Sunda karena istilah-istilah tersebut merupakan term Kasundaan. Nyubuh merupakan kebiasaan selama bulan puasa, masyarakat melakukan kegiatan berjalan-jalan, menikmati sejuknya udara pagi, atau sekadar berjongkok di pinggir jalan. Kegiatan tersebut dilakukan setelah menunaikan sholat Subuh sampai matahari akan terbit atau wanci carangcang tihang (Bahasa Sunda).

Harus diakui, di bulan lain juga aktivitas seperti ini dilakukan oleh masyarakat tetapi sebutan Nyubuh hanya berlaku selama bulan puasa saja. Misalnya, seseorang melakukan kegiatan jalan santai pagi hari di bulan Syawal, kegiatan ini tidak akan dikatakan nyubuh. Selain bulan puasa, masayarakat Sunda akan memberikan pertanyaan dengan kalimat: “Keur naon, rebun-rebun geus ngukur jalan?”  Sedang apa, pagi-pagi sudah mengukur jalanan?.

Di masyarakat Sunda juga dikenal istilah ngabeubeurang yaitu masyarakat mengerjakan kegiatan setelah menunaikan sholat dzuhur di bulan puasa. Para ibu menyiapkan penganan di dapur saja akan mengatakan: “Keur olah jeung usukan-asakan, itung-itung ngabeubeurang wé!” (Sedang memasak makanan, anggap saja sedang ngabeubeurang). Tadarusan atau membaca al-Quran setelah sholat dzuhur saja oleh masyarakat akan disebut ngabeubeurang. “Dasar jalma soléh kyai mah, ngabeubeurangna ogé kucara ngaji!” (Dasar orang soleh, ngabeubeurangnya juga dengan cara mengaji). Selain bulan puasa, istilah ngabeubeurang tidak akan digunakan oleh masyarakat Sunda. 

Kegiatan yang biasa dilakukan oleh anak-anak selama mangsa beurang (siang) ini di antaranya rebahan atau tiduran di mesjid. Kegiatan anak-anak dan para remaja seperti ini mau tidak mau harus tetap dipertahankan. Mesjid memang bukan merupakan tempat untuk tidur, tetapi tradisi rebahan dan tidur di mesjid selama bulan puasa memiliki kekhasan yang berbeda jika dibandingkan dengan bulan lain. Cara para Wali Songo mendakwahkan Islam di Nusantara ini salah satunya adalah dengan menggali kekhasan yang bersumber dari masyarakat Nusantara kemudian dipertemukan atau dipersentuhkan dengan inti ajaran Islam.

Tradisi yang paling popular dan telah digunakan oleh seluruh masyarakat Islam di Indonesia yaitu ngabuburit. Saat ini, istilah ini tidak hanya menjadi milik masyarakat Sunda saja, di berbagai pelosok Nusantara kegiatan yang diselenggarakan menjelang buka puasa sudah tentu disebut ngabuburit. Masyarakat Sunda telah mengenal istilah ini sejak ajaran Islam (puasa) dilakukan di Tatar Pasundan. Istilah ngabuburit merupakan kata berimbuhan dari kata dasar burit (Sore), lebih tepat dalam tradisi Sunda disebut Wanci tunggang gunung (Waktu saat matahari akan tenggelam). Dan sudah pasti, istilah ngabuburit hanya akan ditemukan di bulan puasa. Meskipun kegiatan dilakukan oleh masyarakat Sunda di waktu sore, jika dilakukan bukan di bulan puasa, tidak akan disebut ngabuburit. 

Apa arti dan makna sore bagi masyarakat? Sama sekali tidak memiliki arti penting karena sore merupakan hal yang lumrah dan telah terbiasa (habitual action). Sore hari menjadi lebih bermakna dan penting ketika terjadi akulturasi antara tradisi Sunda (ngabuburit) dengan puasa (ajaran Islam). Ngabuburit menjadi sebuah harapan akan segeranya umat Islam menyambut buka puasa dipenuhi dengan suka cita. Makna penting dari ngabuburit selama bulan puasa yaitu penyambutan buka puasa penuh dengan suka cita. Siapapun tidak akan menemui, masyarakat melakukan aktivitas ngabuburit dengan penuh duka lara. Sudah tentu hal ini sejalan dengan hadits Rosulullah tentang dua kebahagiaan yang akan ditemui oleh orang yang berpuasa, salah satunya bahagia ketika berbuka.


Penulis adalah guru MTs Riyadlul Jannah, Cikundul

Ahad 19 Mei 2019 21:30 WIB
Ustadz Baru dan Peringatan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Ustadz Baru dan Peringatan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Oleh R. Ahmad Nur Kholis 

Belakangan ini ada fenomena adanya orang yang mengaku sebagai ahli agama secara tiba-tiba. Hanya karena mengaku telah berhijrah dan mengetahui beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan artinya saja sudah berani mendakwahkan diri dan didakwahkan sebagai ustadz. 

Dan lebih aneh lagi mereka secara langsung ataupun tidak, mengaku dan merasa paling islami. Hal ini dikarenakan mereka memiliki semangat beragama yang tinggi (euphoria beragama) namun pemahaman agamanya sedikit.

Adanya terjemah Al-Qur’an atau kitab yang lain, adalah suatu yang memberikan kemudahan untuk mengetahui suatu ajaran agama. Akan tetapi untuk mengantarkan seseorang menjadi ahli agama adalah suatu hal yang sangat jauh sekali.

Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari mengatakan dalam kitabnya Adabul Alim wal Muta’allim bahwa  “(Hendaknya) seorang yang belajar agama mencari seorang guru yang memiliki pemahan syariat yang komprehensip. Yakni ulama yang kredibel dan diakui keulamaannya pada zamannya, telah melakukan banyak pembahasan dan berpengalaman yang luas. Bukan mengambil ilmu dari orang yang hanya belajar dari terjemahan saja dan tidak pernah berguru kepada seorang guru yang terpercaya.”

Kiai Hasyim lalu mengutip pernyataan Imam Syafi’i yang mengatakan: “Barangsiapa memahami agama hanya dari buku-buku saja, maka ia sebenarnya telah menghilangkan hukum agama (itu sendiri).”

Sebelum semua itu, Kiai Hasyim menekankan dalam kitab tersebut bahwa: “Seyogyanya orang yang hendak belajar agama untuk memikirkan (secara matang) terlebih dahulu dan beristikharah kepada Allah mengenai kepada siapa orang ia akan belajar. Kepada siapa ia akan mendapatkan teladan akhlaq yang baik. Hendaknya pula bahwa guru itu adalah orang yang keahliannya terpercaya, memiliki rasa kasih sayang yang nyata (kepada ummatnya), jelas muru’ah nya, masyhur sebagai orang yang senantiasa menjaga diri, serta baik dalam mengajar dan memiliki pemahaman agama yang baik pula.”

Di masa di Indonesia ini sekarang banyak bermunculan ustadz dadakan dan merasa paling islami, rasanya petuah Kiai Hasyim Asy’ari ini layak untuk kita renungi dan amalkan. Kita juga lalu menjadi mengerti mengapa sekarang ini banyak para ustadz yang tiba-tiba saja muncul tak tau dari mana asalnya ia mengambil ilmu, sejurus kemudian mereka hanya memprovokasi masyarakat untuk kepentingan tertentu.

Semoga masyarakat semakin sadar dan kembali ke pangkuan ulama yang benar-benar ulama.


Penulis adalah Nahdliyin, tinggal di Malang, Jawa Timur

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG