IMG-LOGO
Trending Now:
Opini

Suap Bukan Tradisi Pesantren

Kamis 30 Mei 2019 15:30 WIB
Bagikan:
Suap Bukan Tradisi Pesantren
Oleh: Iksan Kamil Sahri

Di pesantren terdapat sebuah tradisi di mana seorang tamu memberikan uang kepada kiai atau ustadz. Tradisi ini sudah berlangsung sangat lama. Awal mula tradisi tersebut bersamaan dengan penyebaran Islam di Nusantara.

Para penyebar agama Islam (kiai) yang tidak mendapat gaji dari pemerintah karena menyebarkan agama Islam ataupun mendidik anak-anak masyarakat, mendapatkan simpati dari penduduk sekitar. Hal itu dibuktikan dengan membukakan mereka tanah baru, membantu mendirikan rumah sederhana bagi kiai dan mushalla atau masjid tempat syiar dilakukan. Tidak berhenti sampai di situ, serta memberikan hasil tanah mereka berupa beras, ubi-ubian, dan palawija agar dapat dinikmati oleh kiai dan keluarganya (Iksan, 2018). Tujuannya adalah agar para kiai terus dapat mengembangkan dakwah serta mendidik anak-anak penduduk sekitar.

Lambat laun, setelah masa uang kertas diperkenalkan dan Indonesia mengadopsi sistem ini, maka para penduduk mulai beralih dari tradisi memberi beras, ubi-ubian dan palawija menjadi memberi uang sebagai ganti atas semua itu. Cara pemberiannya juga mempunyai kode etik tersendiri, yaitu, uang dipegang oleh tamu dengan menggunakan jempol, jari  telunjuk dan jari tengah tangan sebelah kanan. Dan diberikan saat bersalaman dengan cara membungkukkan badan atau mencium tangan kiai. Setelah itu tamu yang kebanyakan berasal dari penduduk sekitar atau dari kalangan alumni, berjalan mundur bergerak menjauh untuk beberapa langkah.

Tradisi ini pada umumnya di pulau Jawa disebut sowan dan di Madura disebut sebagai cabis. Peristiwanya disebut pisowanan dan cabisan. Semuanya dilakukan secara sukarela serta tidak menjanjikan apapun. Biasanya dalam tradisi tersebut para tamu minta agar didoakan atau agar mendapatkan berkah dari sang kiai.

Menguji Alibi Kejadian Mutaakhir
Lalu bagaimana dalam konteks sejumlah kejadian mutaakhir yakni banyaknya tokoh yang mengemukakan bahwa tradisi itu dilakukan kepada kiai dan dipersoalkan sejumlah kalangan, termasuk dijadikan alibi di pengadilan. Kasus terbaru adalah salah seorang ketua umum partai yang tertangkap tangan karena kedapatan menerima suap dari pejabat di Jawa Timur. 

Dalam alibinya, pengacara tersangka menolak jika itu dikatakan suap tapi dianggap sebagai bisyarah. Masih menurut sang pengacara, bisyarah ini adalah tradisi yang ada di pesantren (23/5). Bisyarah yang disebut pengacara berasal dari tradisi sowan yang saya sebutkan di atas.

Dalam pandangan penulis, ini dapat dilihat dari dua hal. Pertama, selain sebagai tokoh agama, kiai di Indonesia juga berfungsi cultural broker atau broker kebudayaan (Getzz, 1960). Sebagai broker kebudayaan, kiai memang menjadi jembatan penghubung antara dua kelas sosial di masyarakat yaitu kelas elit dan kelas masyarakat kebanyakan.

Dalam konteks ini maka wajar jika kiai kemudian banyak didekati pemain-pemain politik menjelang pemilihan umum. Biasanya para kiai ini dijadikan sebagai penarik suara (vote getter) walaupun akhir-akhir ini banyak juga kiai yang juga memanfaatkan hal ini untuk terjun sendiri ke medan politik praktis, banyak yang berhasil tapi tidak sedikit yang gagal. Dalam konteks ini, posisi pemberian uang tidak masuk dalam istilah culturalal broker karena ia tidak bekerja dalam bidang budaya, tapi dalam bidang jual beli jabatan sehingga ini adalah murni transaksi jabatan berdasarkan kedekatan politik.

Sehingga jika pun ini ditarik dalam cara berpikir Geertz, maka hal tersebut lebih tepat disebut sebagai political broker karena posisinya sebagai ketua partai, maupun jabatan politis lainnya. Dengan memberikan uang, maka pihak penyuap berharap agar tersangka dapat mempengaruhi keputusan kementerian atau jajaran di bawahnya untuk kepentingan penyuap. Jadi, terdakwa di sini tidak dilihat karena dia sebagai cucu seorang kiai besar tapi sebagai ketua partai politik. 

Kedua, pemberian pisowanan biasanya dilakukan dalam kapasitas seorang santri ke kiainya atau masyarakat ke kiainya serta dilakukan tanpa menjanjikan apa-apa kala memberi. Dalam konteks kedua ini, maka tersangka bukanlah kiai dalam arti sebagai pengsuh pesantren serta tidak dalam kapasitas sebagai kiai yang menerima pisowanan untuk kepentingan dakwah.

Sehingga melihat dari dua hal di atas, maka alibi pengacara terangka bahwa apa yang diterima sebagai tradisi pesantren tidak dapat dibenarkan dan harus dianggap sebagai alibi kacau agar terhindar dari jerat hukum. Kasus yang menimpa sejumlah pejabat publik adalah murni kasus suap dan tidak berhubungan dengan tradisi pesantren yang disebutkan di atas.

Adalah Ketua Lembaga Penelitian Al-Fithrah College, Surabaya dan Pengurus Lakpesdam PWNU Jawa Timur.

Bagikan:
Rabu 29 Mei 2019 15:0 WIB
Mudik ke Ibu Pertiwi
Mudik ke Ibu Pertiwi
Ilustrasi (Ist.)

Oleh: Murdianto An Nawie

Pada 5 atau 6 Juni 2019 mendatang, Bulan Syawal 1440 Hijriyah telah tiba. Umat Islam di seluruh penjuru dunia akan merayakan Idul Fitri. Di Indonesia, Perayaan Idul Fitri sebagai hari raya keagamaan bisa jadi menjadi yang paling masif. Pasalnya ada ritual tahunan penting jelang Idul Fitri ini yakni Mudik.

Mudik berarti pulang ke kampung halaman setelah seseorang  pergi ke rantau. Bagi sang pemudik, bertemu sanak famili di rumah di saat Idul Fitri tentu sebuah momentum yang amat langka. Sehingga tidak mengherankan jika Idul Fitri juga sekaligus disebut sebagai momentun reuni sosial yang bersifat masif.

Di beberapa belahan di dunia lainnya, tradisi mudik ke kampung halaman juga menandai hampir seluruh perayaan besar keagamaan dan tradisi besar tertentu. Misalnya bagi etnis Tionghoa baik di China daratan atau di tempat lain, Imlek menjadi waktu yang tepat bagi seseorang untuk kembali ke kampung halaman. Juga di Turki, Idul Adha adalah waktu di mana orang berduyun-duyun kembali mengingat dan kembali ke kampung halaman. Kampung halaman berarti “Ibu Pertiwi” tempat terlahir dan dibesarkan seorang manusia.

Kampung halaman atau sering disimbolkan sebagai Ibu Pertiwi bagi seorang manusia tentu memiliki arti mendalam. Seorang muslim yang baik tentu menjadikan ibu seakan menjadi satu-satunya manusia yang harus dihormati dan tak boleh disakiti. “Surga di bawah telapak kaki ibu” begitu bunyi sebuah hadist masyhur. Ibu dan kampung halaman adalah kenangan pertama saat manusia lahir dan dibesarkan dengan kasih-sayang, pelajaran, dan teguran.

Mudik, sesungguhnya tidak lain adalah kerinduan pada ibu, baik ibu dalam artian orang yang melahirkan kita maupun ibu pertiwi. Kampung halamanlah yang menempa kita menjadi manusia dewasa. Kerinduan adalah cinta yang tertunda di mana orang telah siap memberikan apapun yang dipunyai untuk yang dicintainya yakni Ibu Pertiwi.

Mudik adalah keriduan yang mendalam, ditandai kecintaan kepada sesama manusia terutama bagi orang tua, saudara, sahabat yang kita layani penuh cinta di kampung halaman. Oleh karena itu, salah satu bagian penting dari perayaan Idul Fitri adalah orang saling memberi dan menerima maaf atas segala tindakan yang salah dan merugikan orang lain. Dalam konteks mudik tentu adalah orang tua, sanak saudara, dan sahabat-sahabat lama. Lebih dari itu, perayaan ini untuk menghubungkan dan menyegarkan kembali hubungan silaturahmi antar individu, walau tidak didasari selalu pada motif “pengakuan salah”.

Para antropolog atau pakar kebudayaan menyebut momentum mudik  menjadi semacam jembatan antara lahir dan batin, di mana rasa adalah suatu istilah yang sangat kompleks didalam unsur keagamaan seorang muslim di Jawa. Dalam momentum ini manusia Jawa memiliki semacam kemampuan untuk merasa, atau dalam pengertian non fisik, yakni ungkapan-ungkapan halus yang bersifat batiniyah. Fenomena ini muncul karena berhubungan erat dengan tradisi sufi dan mistik Jawa yang telah berkembang sebelum Islam masuk.

Jembatan lahir batin antara masa kini, masa lalu dan masa depan ini salah satunya adalah menggunakan kesempatan mudik untuk memperkuat tradisi berziarah, ke makam para leluhur, para guru dan ulama di kampung halaman. Dalam tradisi ini kita dapat bertawassul, mendoakan mereka yang telah meninggal, sekaligus menggali inspirasi dari perjuangan yang telah mereka torehkan dalam mendidik dan membesarkan generasi masa depan.

Dimensi ini sesungguhnya adalah implementasi dari qaidah al muhafadhatu ala al-qadimis shalih, dimana spirit perubahan haruslah bersumbu pada aktivitas mengingat dan belajar dari masa lalu yang baik, sekaligus melakukan kreativitas yang lebih bermanfaat.

Mudik, adalah kembali pada ibu pertiwi. Tempat kita di lahirkan. Petandanya bisa jadi adalah dengan aktivitas tabur bunga dan membacakan doa di pusara makam para leluhur, orang tua dan guru kita. Dan tentu ini merupakan tindakan mulia,

Disebutkan dalam kitab Ianat at-Thalibin juz II halaman 142, sebuah hadist riwayat Hakim dari Abu Hurairah yang artinya: “Siapa ziarah ke makam orang tuanya setiap hari jumat, Allah pasti mengampuni dosa-dosanya dan mencatatnya sebagai bakti dia kepada orang tuanya”.

Meskipun kita tak bisa mengunjungi pusara makamnya setiap Jumat. Setidaknya kita telah melakukannya secara rutin saat menjelang lebaran. Selamat mudik, selamat kembali berkunjung ke Ibu Pertiwi. Semoga disegarkan kembali iman kita, disegarkan kembali kecintaan kita kepada negeri ini.

Penulis adalah Dosen Program Pascasarjana INSURI Ponorogo, Aktif di Jaringan Gusdurian

Rabu 29 Mei 2019 10:30 WIB
Persiapan Mudik ke Surga
Persiapan Mudik ke Surga
Ilustrasi (Ist.)
Oleh: Syakir NF

Waktu memang terasa begitu cepat berlalu. Tetiba saja lebaran sudah tinggal lagi seminggu. Masyarakat yang bermigrasi ke berbagai belahan daerah tengah menyiapkan perbekalan dan pengepakan barang apa saja yang akan dibawa pulang ke tanah kelahiran, lengkap dengan segala macam buah tangan. Beberapa di antaranya bahkan ada yang tengah berangkat atau bahkan telah tiba di kampung halaman.

Beragam cara dilakukan untuk tiba di lingkungan yang pernah mereka rasakan di masa lalu untuk beberapa bulan atau bahkan berbilang tahun ditinggalkan. Ada yang terbang menggunakan pesawat, meski cara ini semakin turun mengingat harga tiketnya yang berada di ketinggian pesawat saat sudah tinggal landas, dalam artian tak terjangkau.

Ada juga yang menggunakan kereta. Bagi yang jarak tempuhnya cukup lama dan punya uang lebih, bisa memilih kereta dengan fasilitas tidur lengkap. Di antara mereka juga ada yang memilih bus umum atau travel. Terkadang, kaula muda ingin mendapatkan pengalamannya touring menaiki sepeda motor bersama rekanannya dalam satu organisasi atau satu kampung untuk sampai tiba di kediaman masa kecilnya.

Pilihan-pilihan tersebut tentu disesuaikan dengan kebutuhan, kenyamanan, dan kocek masing-masing. Semua itu dilakukan demi satu tujuan, dapat terus menjaga hubungan persaudaraan dengan kawan-kawan, tetangga, dan handai taulan yang telah mengisi hari-harinya dengan saling memohon dan membuka pintu maaf satu sama lain.

Lebih dari itu, mereka juga dapat kembali merasakan air yang selama itu digunakan untuk minum dan kebutuhan hidup lainnya, mengkhidmati kembali atmosfer yang sempat hilang dari peredarannya, menikmati lagi masakan emak yang selalu juara ketimbang makanan yang disajikan hotel bintang lima, dan beragam hal lainnya.

Sebetulnya, mudik lebaran mengajarkan kita untuk mudik yang sesungguhnya, yakni pulang ke surga-Nya. Sebagaimana yang kita tahu, ayah dan ibu kita bersama, Nabi Adam AS. dan Siti Hawa, adalah dua manusia yang pada asalnya hidup di surga. Namun pada akhirnya diturunkan oleh Allah SWT ke bumi.

Hal tersebut Allah SWT kisahkan dalam Al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 35-36. Dalam ayat tersebut, Nabi yang berjuluk ayah manusia dan istrinya itu diperintah oleh Allah SWT untuk tetap tinggal di surga dengan syarat ‘berpuasa’ dari satu pohon tertentu.

Banyak riwayat yang menyebutkan jenis pohon tersebut, mengingat Al-Qur’an tidak secara spesifik menyebutkannya. Imam Jalaluddin al-Suyuthi, misalnya, dalam Tafsir al-Jalalain menyebut pohon tersebut sebagai biji gandum, anggur, atau lainnya. Al-Sadiyu dari Abdullah bin Abbas, Said bin Jabir, al-Sya’bi, Ju’dah bin Hubairah, dan Muhammad bin Qais sebagaimana dikutip oleh al-Imam al-Hafidz Muhammad ibn Ismail ibn Katsir al-Dimasyqi dalam kitabnya,Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, juga menyebutnya sebagai anggur dan masih banyak lainnya. Tetapi yang pasti, keduanya pada akhirnya makan sesuatu dari pohon tersebut karena hasutan iblis sehingga membuat mereka terusir dari surga ke bumi.

Oleh karena itu, untuk kembali ke sana, mestinya juga kita mulai dengan puasa. Puasa dari hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Hal tersebut sebagai bekal yang cukup agar selamat sampai Firdaus, tidak malah melenceng ke jurang Jahanam.

Maka Ramadhan betul-betul menjadi momentum introspeksi diri, evaluasi segala macam tingkah laku negatif untuk segera diganti dengan kegiatan positif dengan tingkat kuantitas dan level kualitas yang naik pada posisi berikutnya. Amal ibadah menjadi satu-satunya bekal yang dapat dibawa untuk mencapai tujuan bersama.

Bahkan, alangkah lebih baiknya pulang kampung membawa oleh-oleh. Saat kita masih dalam keadaan prima, tentu mesti memperbanyak berdoa untuk orang tua, guru, saudara, dan rekanan kita yang sudah lebih dahulu menghadap-Nya. Doa itu menjadi oleh-oleh bagi mereka kelak ketika sua. Sebab, kata Nabi, ada tiga hal pahala yang tidak terputus. Doa menjadi salah satunya, selain ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah.

Kita mudik juga untuk memohon maaf. Pun mudik ke surga, kita perlu mendapat maaf dari pemiliknya. Karenanya, kita harus memperbanyak membaca istighfar sebagai sarana kita memohon kepada-Nya. Saban usai shalat, kita perlu lagi melatih untuk terbiasa beristighfar lebih dahulu. Tidak selesai salam terus langsung pergi begitu saja.

Hal yang tak kalah penting lagi adalah memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pasalnya, hanya Nabi terakhir itulah yang dapat memberikan syafaat kepada kita kelak di hari kiamat nanti, terlebih bagi kita yang ‘sangat amat jarang sekali’ berpuasa dan membaca Al-Qur’an.

Ya, dua hal itu juga dapat menyafaati kita sebagaimana hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Umar RA yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Ithaf Ahlil Islam bi Khushusiyyatis Shiyam, bahwa “Puasa dan Al-Qur’an dapat memberikan syafaat bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: duh Tuhan, Engkau telah mencegahnya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka syafaatkanku padanya, sementara Al-Qur’an berkata: wahai Tuhan, Engkau telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka syafaatkanlah aku padanya. Maka keduanya pun menyafaati.” (H.R. Ahmad, al-Thabrani, al-Hakim, dan  al-Baihaqi).

Sudahkah anda persiapkan bekal mudik ke surga?

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, berkhidmat di Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama.
Rabu 29 Mei 2019 1:45 WIB
Meraih Malam Lailatul Qadar
Meraih Malam Lailatul Qadar
Oleh : Nanang Qosim 

Tahukah Anda tentang kisah seribu satu malam? Dongeng yang sangat spektakuler dan mengagumkan dari jazirah Arab itu, dengan kisah-kisah yang sangat menarik membuat hati penuh ketakjuban atau mungkin ketakpercayaan terhadap kisah seribu satu malam yang memiliki beberapa versi bahasa. Terlepas dari itu, ada yang diambil dari hikmah kisah seribu satu malam yang terkenal itu ialah selalu menghidupkan malam-malam.

Menghidupkan malam (ihya’ul lail) merupakan suatu anjuran Rasulullah Saw bagi kaum Muslimin, terutama di bulan Ramadan, khususnya di malam sepuluh terakhirnya. Sebab, di antara sepuluh malam tersebut ada satu malam yang sangat fenomenal, yaitu malam Lailatul Qadar.

Mengapa dinamakan malam Lailatul Qadar? Karena dia merupakan salah satu dari malam-malam yang istimewa di bulan Ramadan. Suatu malam yang penuh berkah mempunyai nilai lebih baik dari seribu bulan. Selain itu, pada malam tersebut Al-Qur'an al-Karim diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. Sebagaimana firman Allah Swt, "Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya Al-Qur'an diturunkan, untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan beberapa keterangan yang jelas yang merupakan petunjuk dari pemisah antara yang haq dan yang batil." (Al-Baqarah: 185).

Malam Indah 

Inilah malam yang terindah dari setiap bulan-bulan Ramadhan setiap tahunnya yang selalu ditunggu-tunggu dengan penuh pengharapan oleh setiap kaum Muslimin karena kedatangannya tiada satu pun manusia yang tahu kapan waktunya secara pasti. Namun, Rasulullah Saw memberikan petunjuk kepada umatnya untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar bahwa beliau bersabda, "Carilah dengan segala daya upaya malam Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh yang terakhir di bulan Ramadhan." (HR. Bukhari).

Dengan  berlandaskan hadits di atas, hendaknya setiap kaum Muslimin mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Lalu apa yang harus kita lakukan di malam Lailatul Qadar?

Pertama, memperbanyak untaian doa, pengampunan, permaafan, dan kesejahteraan kepada Allah Swt. Hal ini berdasarkan pada hadits yang diceritakan dari Aisyah ra, "Aku berkata, ’Ya Rasulullah! Apa pendapatmu bila aku menjumpai Lailatul Qadar. Apa yang aku ucapkan di dalamnya? Beliau menjawab, ‘Ucapkanlah doa, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Engkau menyukai pengampunan. Maka ampunilah aku." (Riwayat lima ahli hadits).

Kedua, i’tikaf yaitu berdiam di dalam masjid atau mushala dengan niat untuk beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan cara tertentu sebagaimana telah diatur oleh syariat, guna menghidupkan malam agar mendapatkan malam Lailatul Qadar. I’tikaf merupakan kegemaran Rasulullah Saw sampai menjelang wafatnya, sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah ra. Dari Aisyah, "Rasulullah Saw melakukan i’tikaf pada sepuluh hari-hari akhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal dunia." (HR. Bukhari dan Muslim).

I’tikaf tentunya bukan sekadar berdiam diri saja di masjid atau mushala. I’tikaf adalah suatu upaya yang dikerjakan untuk memperbanyak ibadah dan berbagai kegiatan positif lainnya. Itulah perbuatan yang paling baik yang dilakukan oleh kaum Muslimin dalam mengisi sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan. Jadi, bukan hanya semata-mata berdiam diri tanpa melakukan aktivitas apa pun.

Ketiga, membaca Al-Qur'an. Bahwasanya Al-Qur'an diturunkan pada malam Lailatul Qadar yang mana dahulu malaikat mengiringi parade diturunkannya kitab suci Al-Qur'an secara global dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qadr: 1-5).

Dalam membaca Al-Qur'an hendaknya dibaca dengan penuh pengagungan dan renungan karena Allah Swt memberikan pemahaman kepada makhluk-Nya melalui huruf-huruf dan suara-suara yang terkandung di dalam Al-Qur'an. Sebaiknya sebelum membaca Al-Qur'an seseorang dalam keadaan berwudlu dan bersikap sopan.

Keempat, memperbanyak ibadah. Bahwa seseorang yang beramal ibadah di malam Lailatul Qadar itu akan mendapatkan ganjaran nilainya lebih baik dari seribu bulan bahkan akan diampuni dosa-dosanya yang lalu, sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa melakukan ibadah pada malam Lailatul Qadar atas dasar keimanan dan keikhlasan maka diampunilah dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari).

Kelima, setiap kaum Muslimin hendaknya memiliki tekad dan bekerjakeras untuk menyambut malam yang penuh kesejahteraan dan persiapan-persiapan yang disunahkan. Menurut Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali, pada malam yang diduga kuat Lailatul Qadar turun maka disunahkan untuk bersih-bersih diri, memakai wangi-wangian, dan memakai pakaian yang bagus. Dalam hadits dhaif riwayat Ibnu Abi Ashim diterangkan bahwa Rasulullah Saw, mandi antara waktu magrib dan isya pada sepuluh hari terakhir (Syarifuddin, 2003).

Allah yang Tahu

Demikianlah apa yang harus kita lakukan dalam menyambut datangnya malam Lailatul Qadar. Namun, mengenai kapan diturunkannya Lailatul Qadar ini, kiranya hanya Allah Swt yang mutlak tahu, ia datang dengan penuh gaib, rahasia, dan penuh misteri bagi manusia.

Hikmah dari kerahasiaannya tiada lain supaya kaum Muslimin tiada henti-hentinya mencari akan kehadirannya, mengingat bahwa sebentar lagi bulan Ramadan yang penuh rahmat, barokah, ampunan ini akan berlalu dan tidak bisa memastikan umur kita akan sampai pada bulan Ramadhan di tahun mendatang. Maka, selagi ada kesempatan diberi hidup dan kesehatan hendaknya memanfaatkan momentum untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan atau sekitar delapan puluh tiga tahun. Sungguh sangat jarang umat Rasulullah Saw yang berumur mencapai delapan puluh tiga tahun dalam masa aktif hidupnya.

Petunjuk dari Ulama

Maka, untuk mendapatinya para ulama memberikan petunjuk sebagai tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar, apakah tanda-tanda itu dapat dilihat oleh orang yang mendapatkannya atau tidak. Yaitu, pertama, orang yang mendapati malam qadar  itu melihat bahwa alam terang benderang, walau di tempat yang gelap gulita.
Kedua, orang yang mendapati malam qadar mendengar salam dan tutur kata malaikat serta diperkenankan doanya. Ketiga, malam itu makhluk rohani bertaburan di  alam dunia. Maka siapa yang beribadah pada malam itu, bersinarlah cahaya rohaniah itu pada diri mereka karena mereka didampingi oleh malaikat adapun setan-setan pada menjauhi mereka.

Keempat, matahari terbit pagi harinya dengan bentuk yang putih bersih bagai bulan purnama dan sinarnya tidak keras tetapi lembut sampai siang hari, sedangkan udara nyaman dan segar. Kelima, dianjurkan bagi siapa yang mendapati malam qadar, agar menyembunyikan, bahkan supaya terus beribadah dan berdoa dengan penuh ikhlas dan khusuk terutama mohon keselamatan akhiratnya lebih banyak daripada dunianya.

Dari tanda-tanda tersebut yang terpenting adalah kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan anugerah malam Lailatul Qadar. Namun, bagi yang tidak mendapatinya, jangan pesimistis karena semua ibadah yang dilakukan dengan iman dan ikhlas, akan dibalas oleh Allah Swt yang berlipat ganda pahalanya. Maka, marilah bersiap-siap menggapai Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keyakinan. 

Penulis adalah Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Kabupaten Demak, Pengajar di Pesantren Darul Falah Besongo, Semarang, Jawa Tengah.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG