IMG-LOGO
Esai

Sensasi Shalat Tarawih Tercepat di Dunia

Jumat 31 Mei 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Sensasi Shalat Tarawih Tercepat di Dunia

Ahmad Rozali

Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam yang terletak di Desa Mantenan, Udanawu, Blitar akhir-akhir ini viral di media sosial karena Shalat Tarawihnya yang super cepat. Shalat Tarawih beserta witir yang berjumlah 23 rakaat di pondok yang diasuh oleh KH Muhammad Dhiyauddin Azzamzami ini hanya ditempuh dalam kurun waktu sepuluh menit.

Fenomena ini marak di media sosial karena keunikannya. Pasalnya shalat tarawih yang umum di kalangan NU dilakukan sebanyak 23 rakaat ini umumnya ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit atau lebih. Melihat fenomena itu, sejumlah televisi dan media cetak online membuat liputan mengenai fenomena ini. Konten itu lalu menjadi viral setelah diperbanyak oleh puluhan channel YouTube. Konon, Shalat Tarawih di pondok itu merupakan salah satu yang tercepat di dunia.


Penasaran akan hal itu, saya menyambangi pondok pesantren ini untuk merasakan sensasi Shalat Tarawih yang ramai diperbincangkan ini.

Pondok Mamba’ul Hikam ini sendiri terletak sekitar 22 kilometer dari pusat kota. Dari sana perjalanan ditempuh sekitar 30 menit dengan mengendarai roda dua. Jalan yang lengang setelah buka puasa membuat perjalanan sedikit lebih singkat dari yang diperkirakan oleh aplikasi peta digital.

Setibanya di kawasan pesantren, sebelum Azan Isya berkumandang, tampak ratusan warga telah mendatangi pesantren untuk bersiap melaksanakan shalat. Di kawasan pesantren, terdapat sebuah mushalla yang berukuran besar sekitar 500 meter persegi yang digunakan sebagai pusat peribadatan.

Namun tampaknya area itu masih kurang untuk menampung jamaah yang hadir. Sehingga para santri yang dibantu warga menggelar sejumlah terpal ukuran belasan meter untuk dijadikan alas shalat bagi jamaah yang tidak kebagian tempat di mushalla. Dari lokasi yang disiapkan, baik di mushalla maupun lokasi ekstra, kawasan kira-kira cukup untuk menampung 400-an jamaah.

Sembari para santri dan warga sedang sibuk menyiapkan tempat shalat, di bagian halaman lain yang agak jauh dari mushalla, puluhan anak kecil usia sekolah dasar asik membunyikan petasan. Suara ledakan dari ‘mercon’ bersauhatan membuat telinga pekak. Namun ratusan warga yang di sana tampak sudah biasa dengan suara bising petasan itu. Bahkan puluhan suara petasan terus meledak saat pimpinan pesantren, Kiai Muhammad Dhiyauddin Azzamzami membacakan kitab Kifayatul Akhyar. Menariknya, sang kiai terus saja membacakan kitab itu lengkap beserta makna dan penjelasannya tanpa sedikitpun tampak terganggu oleh suara petasan.


Azan Isya yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Bersamaan dengan itu, sang kiai mengakhiri bacaan kitabnya dan bersiap memimpin Shalat Isya dan Tarawih. Para jamaahpun juga terlihat memenuhi posisi kosong di depannya dalam shaf. Sebagian orang yang tak kebagian shalat di mushalla menempati terpal panjang berwarna biru yang disediakan panitia di halaman mushalla.

Shalat Cepat

Kiai Muhammad Dhiyauddin Azzamzami memimpin langsung Shalat Tarawih pada malam 26 Ramadhan kali ini. Sensasi shalat cepat sebenarnya telah terasa setelah azan rampung dikumandangkan. Kulihat beberapa jamaah di kanan kiriku menunaikan dua rakaat Shalat Qobliyah Isya (shalat sunnah sebelum shalat Isya) lebih cepat dariku. Aku merasa, shalat sunnah ini seperti pemanasan menuju shalat tarawih yang konon sangat cepat itu.

Benar saja, saat Shalat Isya dimulai, bacaan Al-Fatihah dan surat pendeknya cenderung lebih cepat dari yang biasa kuikuti di masjid lain. Kecepatan makin terasa saat mengerjakan rukun shalat lain setelah Al-Fatihah. Bagian ruku’, tuma’ninah, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahhud akhir dan salam berlangsung jauh lebih cepat dari rata-rata.


Kecepatan bacaan Al-Fatihah berlipat saat Shalat Tarawih dimulai. Lepas Al-Fatihah, sang imam hanya membaca satu potong surat pendek dari Al-Qur’an seperti ‘Yaasin’, ‘Alif Lam Mim’, Alif Lam Ro’, dan potongan surat sejenis. Rukun shalat lain juga dilakukan dengan begitu cepat.

Dalam shalat di rakaat-rakaat pertama, saya keteteran mengikuti ritme shalat yang super cepat ini. Saya baru bisa menyesuaikan diri dengan irama gerakan imam dan jamaah yang lain setelah shalat ketiga. Dari penunjuk waktu yang kusiapkan, 20 rakaat Shalat Tarawih dan tiga rakaat Shalat Witir rampung dalam waktu 10 menit 48 detik.

Ternyata, shalat kilat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga. Sebagian warga mengaku ikut Shalat Tarawih di sini karena waktu tempuhnya yang cepat. Rahmad (42) misalnya mengaku setiap malam ikut Shalat Tarawih di pondok Mamba’ul Hikam. Selain karena jarak rumahnya yang berdekatan dengan pesantren, tapi alasan lainnya karena shalatnya cepat. “Enak (Shalat Tarawih di sini) karena cepat,” katanya. Para santripun mengaku senang dengan shalat yang cepat ini. “Sudah biasa di sini, shalatnya cepat gini,” kata salah seorang santri usai shalat.

Usai shalat rampung digelar, puji-pujianpun berkumandang. Lantunan shalawat pada Nabi Muhammad SAW dinyanyikan dengan iringan bedug dan kentongan. Nampak dua anak kecil usia sekolah dasar memukul-mukul bedug dan kentongan mengikuti irama shalawat yang dibaca dan diikuti semua jamaah. Rangkaian Shalat Tarawih, Shalat Witir, doa setelah Shalat Tarawih dan puji-pujian beserta shalawatan selesai sekitar jam 19.15 WIB atau sekitar 1 jam lebih dari waktu Isya di kawasan Blitar. 

Bolehkah Shalat Cepat?

Sebenarnya tak ada masalah dengan shalat cepat. Sebab, selama syarat dan rukun shalat terpenuhi dengan baik, maka shalat apapun hukumnya sah secara fiqh, baik shalat cepat maupun lambat. Adapun soal diterima atau tidak oleh Allah SWT, itu hak prerogratif Allah untuk menerima atau sebaliknya.

Memang, seringkali shalat cepat dikhawatirkan mengabaikan salah satu rukun dari sejumlah shalat. Namun, pada dasarnya pengabaian terhadap bagian dari rukun shalat itu bukan disebabkan cepat atau lambatnya shalat.

Di dalam shalat sendiri, rukun (fardlu) yang bersifat qauliyah atau pengucapan, antara lain takbiratul ihram, pembacaan Surat Al-Fatihah, tasyahud dan shalawat dalam tasyahud, serta salam. Sementara yang lain hukumnya sunnah yang tidak menyebabkan batalnya shalat. 

NU Online pernah memuat ulasan Abdurrohim, seorang alumni Pondok Pesantren Mamba'us Salam al-Islami Bangkalan Madura yang mengupas kajian fiqih dalam melaksanakan shalat dengan cepat. Rinciannya sebagai berikut: 

1. Niat dan Takbir

Takbiratul Ihram dilakukan bersamaan dengan niat di dalam hati. Keduanya merupakan bagian daripada rukun shalat. Lafadz takbiratul Ihram adalah Allahu Akbar (الله أكبر) atau Allahul Akbar (الله الأكبر). Dua lafadz takbir ini diperbolehkan, kecuali oleh Imam Malik, sehingga ulama menyarankan agar hanya menggunakan lafadz "Allahu Akbar", untuk menghindari khilaf ulama.

Niat di dalam hati. Adapun melafadzkan niat dihukumi sunnah agar lisan bisa membantu hati dalam menghadirkan niat. Niat shalat wajib hanya perlu memenuhi 3 unsur, yaitu: (1). Qashdul fi'il (menyengaja suatu perbuatan) seperti lafadh Ushalli (sengaja aku shalat...); (2). Ta'yin (menentukan jenis shalat), seperti Dhuhur, 'Asar, dan lain-lain; dan (3) Fardliyyah (menyatakan kefardluannya), seperti lafadz 'Fardlan'.

Sedangkan shalat sunnah (kecuali sunnah muthlaq) hanya perlu memenuhi 2 unsur, yaitu Qashdul Fi'li dan Ta'yin. Misalnya shalat tarawih, maka niatnya cukup dengan lafadh "sengaja aku shalat tarawih" atau "sengaja aku shalat qiyam ramadlan", sudah mencukupi.

2. Membaca Surah Al-Fatihah

Membaca surah al-Fatihah hukumnya wajib, tidak bisa ditinggalkan. Dalam hadits shahih dijelaskan "لا صَلاَة إِلاَّ بِفَاتِحَة الكِتابِ (Tidak shalat kecuali dengan surah Al-Fatihah)". Dalam hal ini, diperlukan kemahiran membaca cepat dengan tetap menjaga makhrijul huruf dan tajwidnya. Bila mampu, boleh saja membaca dengan satu kali nafas atau washol seluruhnya selama tidak mengubah makna.

Membaca surah Al-Qur'an setelah al-Fatihah hukumnya sunnah. Bila ditinggalkan maka tidak disunnahkan sujud sahwi. Oleh karena, Imam hendaknya tetap membaca surah walaupun pendek, bahkan walaupun satu ayat.

Sedangkan bagi makmum, sering kali tidak memiliki cukup waktu membaca surah Al-Fatihah bila menunggu imam selesai. Oleh karena itu, makmum hendaknya bisa memperkirakan lama bacaan surah Imam atau membaca al-Fatihah bersamaan dengan Imam, atau pada pertengahan bacaan Al-Fatihah imam lalu disambung kembali saat selesai mengucapkan amin. 

3. Ruku', I'tidal, Sujud dan Duduk di antara Dua Sujud

Yang terpenting dari rukun-rukun shalat diatas adalah thuma'ninah. Thuma'niah adalah berhenti sejenak setelah bergerak, lamanya sekadar membaca tasbih (Subhanallah). Kira-kira 1 detik atau tidak sampai 1 detik.Bacaan dalam ruku', i'tidal, sujud dan duduk diantara dua sujud hukumnya sunnah, sehingga bisa ditinggalkan. Namun shalat cepat, bacaan tersebut sangat mencukupi untuk membacanya sehingga sebaiknya tidak ditinggalkan.

4. Tasyahud 

Tasyahud akhir hukumnya wajib, sehingga tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan tasyahhud awal bagi shalat yang lebih dari 2 raka'at hukumnya sunnah,  sehingga bisa saja ditinggalkan, tetapi disunnahkan sujud sahwi, baik ditinggalkan karena lupa maupun sengaja. Tasyahhud dibaca secara sir (lirih) berdasarkan ijma' kaum muslimin.  Karena Shalat Tarawih dikerjakan dengan dua raka'at satu kali salam, artinya hanya ada tasyahhud akhir.

5. Shalawat Kepada Nabi Saw

Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw setelah tasyahhud akhir hukumnya wajib, sehingga tidak sah shalat seseorang apabila meninggalkan shalawat. Sedangkan shalawat kepada keluarga Nabi tidak wajib dalam madzhab Syafi'i, namun hukumnya sunnah menurut pendapat yang shahih serta masyhur. Sebagian ulama Syafi'i mengatakan tetap wajib.

6. Salam

Salam dalam rangka keluar dari shalat termasuk bagian daripada rukun/fardlu shalat. Bila ditinggalkan maka tidak sah shalat seseorang. Salam yang sempurna menggunakan lafadh Assalamu'alaikum wa Rahmatullah السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ke kanan satu kali dan ke kiri satu kali. Salam yang wajib hanya satu kali, sedangkan salam kedua hukumnya sunnah sehingga bila ditinggalkan tidak akan merusak shalat.


Penulis adalah editor NU Online


Terkait:

Tarawih Cepat, Mengapa Tidak?

Bacaan Tahiyat Ringkas untuk Tarawih


Bagikan:
Jumat 31 Mei 2019 17:0 WIB
Godin dan Kenakalan Puasa Orang Sunda
Godin dan Kenakalan Puasa Orang Sunda
ilustrasi: utility-share.blogspot.com
Oleh Abdullah Alawi 

Bahasa Sunda telah menyumbangkan satu kata kepada umat Islam Indonesia yaitu ngabuburit. Kata ini telah menasional, bahkan sering diperbincangkan di acara televisi dan radio, diungkapkan di media sosial. Istilah ini, tentu saja tidak ada di Arab Saudi dan negara-negara lain. 

Namun, ada satu kata lagi yang agak populer di kalangan urang Sunda, khususnya anak-anak mudanya, yaitu kata atau istilah godin. Sebagaimana ngabuburit, istilah ini hanya populer setahun sekali, yaitu saat puasa di bulan Ramadhan. 

Kata ini tidak saya temukan di kamus bahasa Sunda yang disusun R. A. Danadibrata. Kamus tersebut, menurut Ajip Rosidi memiliki entri yang cukup banyak, sekitar 40-50 ribu kata. Kamus tersebut disusun sejak lama oleh penulisnya, tapi upaya penerbitannya sekitar tahun 80-an, gagal dan baru berhasil sekitar tahun 2000-an. Sang penulis datang ke berbagai tempat penutur bahasa Sunda untuk mengumpulkannya. Namun, godin tidak termasuk. 

Mungkin godin dianggap istilah yang muncul belakangan sehingga penyusunnya tidak mengenal kata itu. Namun, sedari saya kecil, akhir tahun 80-an, kata itu sudah populer di Sukabumi. Dan ternyata digunakan pula di Bogor, Bandung, Cianjur, dan lain-lain. 

Di dalam Ensiklopedia Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi yang disusun Ajip Rosidi dan kawan-kawan juga tidak ditemukan kata itu. Padahal ensiklopedia tersebut diterbitkan tahun 2000-an. 

Ada dua kemungkinan penyebabnya, karena tim penulis tidak menemukan istilah itu. Kedua, karena memang tidak layak masuk sebagai entri. Meski demikian, kata itu tetap saja ada, dan selalu ada peminatnya.   

Karena tidak ada penjelasan di dua buku tersebut, akhirnya saya menggunakan penjelasan manasuka. Saya mengira, kata tersebut berasal dari bahasa Arab yang terjalin dalam lafal niat puasa. Niat yang diajarkan guru ngaji dan orang tua tersebut adalah Nawaitu shauma ghadin an adai fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati fardhal lillahi ta’ala…. 

Dalam kalimat tersebut ada, ghadin yang berarti esok hari karena niat tersebut dibacakan sejak akhir tarawih malam harinya. Namun ternyata, makn itua “diselewengkan” secara semena-mena. Di Sunda artinya menjadi berbuka puasa. Dan yang lebih mengherankan, berbuka sebelum waktu maghrib. Ini artinya buka puasa ilegal. Penyelewengan berlapis-lapis. 

Siapa pelaku yang menggunakan istilah dengan menukil dari kalimat bahasa asing secara sembarangan ini? Tentu saja saya tidak tahu wong kamus dan ensiklopedia saja tidak memuatnya. 

Tapi baiklah, saya menggunakan dugaan-dugaan dengan teknik kemungkinan lagi. Mungkin kata itu sebetulnya untuk mendeskripsikan anak kecil yang berbuka puasa sebelum maghrib. Hal itu dilakukan karena di dalam bahasa Sunda tak punya istilah berbuka puasa ilegal. Mungkin awalnya tak sengaja, tapi kemudian jadi kebiasaan dan akhirnya kesepakatan. Sayangnya kesepakatan dimanfaatkan orang-orang dewasa. 

Dulu, ketika saya kecil, orang dewasa yang melakukan godin adalah aib. Mereka akan menjadi perbincangan tetangga dan disindir ajengan pada pengajian kuliah subuh. Karena itulah, biasanya godin dilakukan secara gerilya atau sembunyi-sembunyi. Bisa di hutan, di tepi sungai yang sunyi, di dangau sawah yang terpencil karena kalau di rumah akan dimarahi keluarga.

Namun, sekarang godin kerap dilakukan orang dewasa secara terbuka tanpa rasa malu. Dan dilakukan secara berjamaah. 


Penulis adalah asli pituin Sunda, kelahiran Sukabumi

Jumat 31 Mei 2019 10:0 WIB
Memaknai Puasa dan Mudik yang Tak Biasa
Memaknai Puasa dan Mudik yang Tak Biasa
Oleh Muhammad Ghufron

Setiap tahun umat Islam akan kembali bersua dengan dua bulan penuh makna dalam tradisi Islam, Ramadan dan Syawal. Dua bulan tersebut secara bergandengan dihayati oleh umat Islam sebagai manifestasi rasa bersyukur dan momentum mengevaluasi diri.

Ramadhan dihayati sebagai bulan penuh momentum ekspresi rasa bersyukur atas segala karunia yang telah tuhan limpahkan. Hal yang paling substansial dari rasa bersyukur itu ialah  menahan segala kehendak ego, dan hasrat pukau terhadap gemerlap duniawi. Itulah wujud ejawantah implementasi dimensi vertikal (hablun minallah) yang harus menjejak dalam wilayah praksis. 

Selama bulan itu pula, umat Islam di seluruh penjuru dunia akan kembali menyambut kedatangannya dengan gegap-gempita. Tak terkecuali di Indonesia. Sebagai agama mayoritas yang hidup dalam lingkungan yang begitu kompleks, eksistensi bulan Ramadan mendapat atensi penuh bagi umat Islam. Kedatangannya pun disambut sebagai penanda keberkahan, rahmat, dan ladang menyemai kebaikan.

Dunia hiburan di tanah air yang semula sesak dengan narasi-narasi romantisme, dan hasrat mengejar kesenangan temporal berubah seketika menjadi tontonan bertemakan islami. Produksi perfilman seolah berusaha melepaskan diri dari jeratan belenggu narasi-narasi jamuran menuju narasi spiritual-religius. Hal itu bisa kita lihat dalam setiap tayangan acara televisi selama bulan Ramadhan. 

Tak hanya itu, album-album religi selama bulan Ramadhan mulai menyeruak mewarnai jagat permusikan di tanah air. Para musisi yang sebelumnya gandrung berada di dapur rekaman hanya melahirkan lagu-lagu yang berkelindan dengan rasa, mulai banting setir mengerahkan kelihaian suaranya demi mencapai estetika yang bertendensi pada nuansa rohani. Seolah bulan Ramadhan bak panggung ritus yang menampilkan ekspresi ketaatan iman seseorang. 

Pada titik inilah profanitas bermetamorfosis menjadi sakralitas. Yang sebelumnya terlampau sibuk mengejar urusan duniawi, seketika memarkir kendaraan duniawinya menuju penghambaan yang hakiki pada tuhan-Nya. Di sebagian masjid-masjid kita mendapati segelintir orang yang berusaha menampik sejenak terhadap riuh persoalan materi dengan menggantinya mengevaluasi diri lewat kontemplasi di ruang sunyi. Inilah gerakan konkrit yang pernah diajarkan Rasulullah Muhammad ketika berkhalwat di Gua Hira.

Melakukan khalwati bukan berarti menarik diri dari realitas sosial. Justru dengannya segala riuh dan sumpek dalam kegiatan praksis kita teratasi. Aksi dan kontemplasi keduanya merupakan relasi yang tidak dapat dipisahkan. Inilah yang dalam terminologi Abdul Hadi WM disebut sebagai Aktivisme dan Pasivisme merupakan keterkaitan yang selalu menjejak dalam dinamika kehidupan manusia.

Bulan Ramadan kali ini dimana kedua aktivitas di atas menemukan momentumnya. Ibadah puasa yang dijalani umat Islam bukan hanya dimaknai sekedar melakukan ritus menabung pahala. Lebih dari itu, dalam makna yang cukup substansial puasa mempunyai korelasi sosial yang relevan bagi kondisi umat manusia modern. 

Puasa dan Mudik Sepanjang Masa.
Kita lihat di tahun 2019, gemuruh hangat pemilu yang telah usai digelar tak ubahnya menjadi semacam pagelaran teater yang menampilkan karakter-karakter antagonis. Politisi, kiai, dan masyarakat awam pun seolah terjebak dalam kawah hitam ujaran kebencian dan caci maki. Mereka seolah memajalkan spirit  kebinnekaan yang telah menjadi penyangga pemersatu negeri ini. 

Keberagaman di negeri ini tak lagi mampu disikapi secara arif. Akibatnya yang terjadi justru penyeragaman dengan cara menjustifikasi halal-haram sebagai instrumen melegitimasi suatu masalah. Pada titik ini, umat manusia baik dari kalangan non-muslim harus betul-betul melakukan ritual puasa dan tradisi mudik sepanjang masa sebagai instrumen terwujudnya negara yang berdaulat. 

Puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar dalam tempo yang telah ditetapkan. Lebih dari itu, kita harus betul-betul memaknai dan menyikapi puasa lebih dari sekedar yang sifatnya berbau fisikal. Dengan demikian, puasa secara holistik juga merupakan ritual kesalehan sosial yang harus diimplementasikan dalam setiap gerak langkah kita. 

Segala gerak badan, sorot mata, dan getaran hati sepenuhnya merupakan anugerah tuhan yang wajib kita syukuri. Wujud syukur itu bisa kita ekspresikan lewat memuasai segala tingkah laku dan ego yang terkesan kurang baik. Terutama memuasai mulut untuk menahan diri dari ujaran-ujaran kebencian dan melakukan propaganda atas nama agama. Itulah ejawantah dari keindahan makna puasa yang sesungguhnya.

Terlepas dari hal tersebut, dimensi makna memuasai juga harus kita implementasikan dalam ranah kebangsaan. Sebab adakalanya negeri yang plural ini harus menahan segala bentuk ketimpangan-ketimpangan yang terjadi selama ini di segala poros dinamika kehidupan berbangsa kita. Oleh karena itu, memarkir kendaraan duniawi merupakan sesuatu yang niscaya yang harus dilakukan bagi setiap warga negara Indonesia.

Memarkir kendaraan duniawi berarti tidak melakukan aktivitas yang berlebihan terhadap segala hal yang berbau materi. Tamak, rakus, dan kikir merupakan tungku api yang kapan saja bisa melahap sikap welas asih kita kepada sesama. Disinilah penting kiranya praktik mudik dijadikan sebagai instrumen mengembalikan sikap kemanusiaan kita. Orang-orang yang berusaha mudik sebenarnya telah kembali ke rahim sang ibu (kampung halaman). Tempat dimana Allah meniupkan ruh pertama kalinya bagi manusia. 

Maka ketika ruh sudah ditiupkan segala apa yang diperoleh ketika merantau bukan dijadikan sebagai ornamen pamer kesuksesan. Melainkan berusaha melebur dalam suatu komunitas masyarakat. Berbagi kebersamaan dengan memberikan segala apa yang kita peroleh di tanah rantau, baik materi maupun ilmu merupakan suatu bentuk inti ketulusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Itulah makna tradisi mudik yang sesungguhnya. 

Dengan demikian secara tidak langsung ritual puasa dan tradisi mudik yang kita jalani sesungguhnya telah berusaha mengembalikan fitrah kita. Disitulah kita akan menemukan jati diri kita yang sesungguhnya. Jati diri bukanlah produk artifisial yang hanya bisa diperoleh dengan keangkuhan dan kesombongan, melainkan dengan sikap ketulusan dan kasih sayang kepada sesama. Suatu sikap kemanusiaan yang adiluhung untuk diimplementasikan dalam suatu komunitas sosial. 

Apabila seseorang telah menemukan hakikat jati dirinya, maka orang tersebut ibarat pohon jati yang kokoh dihempas angin. Ia tak akan koyak hidup di tengah-tengah perbedaan ideologi, agama, ras, dan budaya. Sebab ia telah memberikan ruang teduh yang bisa dijadikan modal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mampu mengayomi yang lemah dan memberikan uluran tangan bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Hal ini akan berimplikasi pada sebuah tatanan Ukhuwah Insaniyah. Inilah konsep Islam Rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya.

Akhirnya, makna ibadah puasa dan tradisi mudik  merupakan dua jalinan  yang saling berkait-kelindan menjadi semacam ikhtiar untuk meningkatkan taraf kemanusiaan kita. Secara eksplisit keduanya mengandung makna menahan dan kembali. Puasa bermakna menahan segala ego kita untuk sebuah transformasi diri. Sedangkan mudik telah berusaha mengembalikan diri kita ke jalan yang fitri. Dengan demikian ritual puasa dan tradisi merupakan perjalanan agung umat Islam yang harus dijalani sepanjang masa. Begitu.


Penulis adalah Nahdliyin yang Mengabdikan diri sebagai Arsiparis PP. Annuqayah daerah Lubangsa, Guluk-guluk, Sumenep. Sekaligus Pemangku Adat Literasi di Komunitas Menulis Pasra (Kompas)













Jumat 31 Mei 2019 4:0 WIB
Pesona Bulan Suci Ramadhan di Negeri Syam
Pesona Bulan Suci Ramadhan di Negeri Syam
Oleh: Muhammad Iqbal Muzakki

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling di nanti kehadirannya. Layaknya seorang pembawa kabar gembira yang di nanti semua orang, bulan Ramadhan juga membawa segudang kebaikan serta kebahagiaan bagi umat Islam seantero jagat raya. Adalah bulan dalam ladang kebaikan, bulan dalam siang malamnya untaian kalam tuhan disenandungkan, bulan dalam penanda mukjizat utama sang pembawa risalah diturunkan, bulan dalam diam dan pulasnya dicatat suatu kebaikan. Kini tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki hari raya Idul Fitri. 

Semoga di sisa hari Ramadhan ini, sebelum bulan maghfirah dijemput oleh hari raya, kita bisa memanfaatkan peluang untuk mengumpulkan pundi-pundi amal ibadah kita yang masih jauh dari kata sempurna. Ya Rabb. 

Tinggal di negeri orang di saat budaya kumpul bersama keluarga berlangsung tentu menjadi momentum yang tersendiri bagi saya. Sedari kecil, semenjak 25 tahun roda kehidupan bergulir, hampir tidak pernah merasakan bulan suci Ramadhan jauh dari kehidupan keluarga meski hanya sepuluh hari terakhirnya lantaran ikut pengajian kilatan balagh Ramadhan di berbagai pondok pesantren. 

Namun tahun ini dan setengah windu ke depan, nampaknya saya akan merasakan euforia bulan suci Ramadhan sepaket dengan hari raya Idul Fitri hidup di negeri orang dan belum bisa bersua dengan keluarga. Menikmati masa-masa tarawih, berbuka, saur, ngabuburit bersama keluarga akan cuti dan libur panjang seiring berjalannya waktu dalam mengemban amanah dari orang tua tercinta. 

Ya, Suriah merupakan negara kuno yang sangat kaya akan sejarahnya. Dalam perjalanannya, terbukti dari banyaknya destinasi wisata dan tak sedikit peninggalan bangunan kuno di segala penjuru negeri ini. Mulai peninggalan zaman Yunani, Romawi kuno, kekaisaran Bizantium, benteng bosra, benteng Aleppo, makam nabi, makam sahabat nabi, tabiin, tabi'it tabi'in, para perawi hadits, para pengarang kitab, ribuan masjid kuno dengan menara menjulang yang syarat akan sejarah, hingga zaman nabi adam dengan ditandainya makam habil dan tempat penyembelihannya.

Bahkan kota Damaskus, ibu kota Suriah, sering disebut kota tertua di dunia karena tidak pernah terputus dari penghuni meskipun silih bergantinya kebudayaan yang dibawa oleh para penguasa kota tersebut. Menurut legenda, kota yang saya duduki saat ini didirikan oleh salah satu cucu Nabi Nuh. Namun bukti sejarah otentik tertua dari pendirian kota Damaskus baru terdapat dalam prasasti Ebla (3000 SM) dan prasasti Mesir (1500 SM) yang menyebut kota ini sebagai "Dimeshq". Tak terbayang, ternyata pengembaraanku kembali mengudara di negeri yang telah merekam jejak sejarah yang sangat luar biasa ini. 

Berbicara pengalaman perdana puasa di negeri orang tentu banyak sekali perbedaannya dibandingkan di negeri sendiri. Mulai perbedaan durasi waktu, cuaca, begitupula budaya dan nuansanya tak seperti di tanah air. Berbeda dengan tanah air maupun negara-negara di Eropa apalagi yang berada di dekat lingkat kutub Utara, negara-negara Arab kawasan timur tengah umumnya memiliki durasi puasa berbeda. Kurang lebih 15-16 jam durasi puasa. Di mulai waktu subuh 03:45 sampai maghrib pukul 17:45 waktu setempat. Lebih lama 2-3 jam dibanding dengan tanah air. Akibat bulan Ramadhan jatuh di musim panas maka durasi berpuasa menjadi lebih panjang. Bahkan di Norwegia dan Inggris puasa akan berdurasi masing-masing 18 dan 19 jam.

Aktivitas dan kegiatan terfavorit selama menjalani Ramadhan perdana di negeri Syam ini selain menghadiri pengajian berpindah dari satu masjid ke masjid lain ialah “tarling” atau tarawih keliling di masjid-masjid kuno. Mulanya penasaran dengan bacaan sang imam yang notabenenya terkenal bacaannya bagus. Tapi tidak tahu mengapa, rasa-rasanya keheranan dan melek akan masjid sekitar tiba-tiba muncul begitu saja saat memerhatikan bebatuan yang berabad-abad lalu ditumpuk rapi. Berbagai keunikan konstruksi masjid tua yang sederhana namun syarat akan historis. Nuansa dinasti Ayyubiyah selalu melekat di dinding-dindingnya. Seperti yang saya lihat di masjid Jami umawi, Rukniyaah, Hanabilah, Siraqah, Muhyiddin Ibnu Arabi, Abdul Ghani Annabulisi, Thowusiyah dll. Puji syukur Alhamdulillah, akibat rasa heran saya yang kian menjadi-jadi, sampai saat ini telah berhasil menaklukkan 17 masjid.

Dalam shalat tarawih para jamaah diberi kebebasan memilih masjid sesuai dengan pilihannya, karena ada dua pilihan yaitu shalat tarawih 20 raka’at atau 8 rakaat dengan durasi waktunya pun berbeda-beda ada yang 1 jam, bahkan sampai 2 jam. Atau bahkan bisa lebih. Sedangkan surat Al-Qur'an yang dibaca terkadang menghabiskan ½ juz, 1 juz, atau lebih. Selama tarling berjalan, saya baru menjumpai tarawih yang terlama di Damaskus yaitu masjid Zaid bin Tsabit mulai pukul 21:15 dan selesai pukul 23.30.

Di kawasan Ruknuddin, terdapat masjid Halalat. Berada di dekat pasar Jumu'ah. Masjid ini merupakan masjid favorit masyarakat sekitar dan mahasiswa Indonesia. Selalu membludak. Di samping dekat dengan tempat tinggal para mahasiswa, durasi shalat tarawih yang sangat bersahabat ini menjadi daya tarik tersendiri.

Lain dari yang lain, ada hal menarik yang tak bisa luput dari pandangan saya. Terdapat sebagian masjid besar modern yang bersedia menayangkan lembaran demi lembaran surat Al-Qur'an dari sorotan sinar projektor ataupun TV LCD berukuran besar seperti masjid Shalahuddin Al Ayyubi, masjid Abu Nur, dan masjid Zaid bin Tsabit. Untuk masjid yang tidak tersedia, biasanya terpampang mushaf-mushaf Al-Qur'an berukuran besar yang ditempatkan di barisan awal. Hal ini tak lain untuk membantu para jamaah dalam menyimak bacaan sang imam. Dan hasilnya, sangat membantu sekali terlebih teruntuk jama'ah yang tidak hafal Al-Qur'an. Bagi saya pribadi, ini merupakan langkah tepat untuk mengurangi rasa kejemuan dan kekurangkonsentrasian dalam menjalankan ibadah tarawih khataman Al-Qur'an yang relatif lama dan capek.

Akhir kata, kegiatan-kegiatan Ramadhan di negeri Syam ini pada dasarnya ialah upaya pengalihan saya terhadap rasa rindu kepada tanah air, guru-guru, orang tua, sanak kerabat dan suasana pondok pesantren dulu. Wallahu A'lam. Semoga bermanfaat.


Damaskus, 25 Ramadhan 1440 H



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG