::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Analisis Kata 'Alaika' pada Doa Gus Mus, Alluhumma Alaika bi Indonesia

Jumat, 31 Mei 2019 19:37 Opini

Bagikan

Analisis Kata 'Alaika' pada Doa Gus Mus, Alluhumma Alaika bi Indonesia
Oleh Halimi Zuhdy

Kosa Kata dalam Bahasa Arab memiliki makna yang sangat banyak. Demikian juga perubahan setiap katanya, derevasinya, serta memiliki sinonim (taraduf) dan antonim (tadhad) yang sangat kaya, walau menurut Ibnu Jinni tidak ada sinonim dalam Bahasa Arab, namun kekayaan kata itulah yang menjadikan bahasa Arab sangat indah.

Bahasa Arab memiliki 12.302.912 kosa kata. Bahasa Inggris 600.000 kosa kata. Sedangkan bahasa lainnya jauh di bawahnya. Maka, kurang elok, bila hanya menghakimi satu kata dengan satu makna, kecuali ada keterangan tentangnya.

Dalam Bahasa Arab satu kosa kata, bisa memiliki banyak arti. Tidak hanya kata, namun huruf yang berada dalam setiap kata memiliki konotasi yang terkait dengan lainnya, seperti “sin” yang berkonotasi kepada rahasia atau bisikan, seperti sir (rahasia), sihr (sihir, samar), sarir (ranjang, penuh rahasia), hams (bisikan), waswas (bisikan, gangguan) dan kata lainnya yang terdapat huruf “sin”.

Huruf “kha” berkonotasi dengan segala yang mengerikan, menjijikkan, ditakuti, atau tidak disukai, seperti al-khinzir (babi), al-khauf (ketakutan), al-khizyu (kehinaan), al-khalaah (pencabulan), al-khiyanah (penghianatan) dan kosa kata lainnya.

Bagaimana dengan huruf “ain” yang kemudian menjadi “‘ala” dan ditambah dhamir muttashil (bersambung) dengan huruf “ka”, menjadi “‘alaika”. Ini yang menjadi kajian analisis bahasa ke-35 karena selain ramai di media sosial beberapa jam yang lalu, sampai tulisan ini hadir pun masih hangat, yaitu doa Mustasyar PBNU KH Musthofa Bisri (Gus Mus) yang di dalamnya terdapat kata “‘alaika”.

Berasal dari doa yang dipanjatkan oleh KH Musthafa Bisri yang mendapatkan komentar ustadz Umar Hamdan Karrar adalah  “Allumma ‘alaika bi Indonesia” dan beberapa redaksi lainnya yang di dalamya ada kalimat “‘alaika” adalah “‘alaika bi aimmati Indonesia” “‘alaika bi ulama Indonesia,” “‘alaika bi zu‘ama Indonesia,” “‘alaika bi sya‘bi Indonesia.”

Komentar, sanggahan, kritikan atau apalah namanya dari ustadz Umar Hamdan Karra pada kalimat “Masya Allah pinter banget orang ini ya, sampai Indonesia didoakan ‘Allumma ‘alaika bi Indonesia,’ Hei.. Tau nggak anda apa arti doa itu? Arti doa itu ‘Ya Allah, Hancurkan lah Indonesia,’ sanggahan inilah yang kemudian mendapatkan respon dari berbagai netizen dan menjadi viral saat ini.

Mari kita coba analisa dari huruf pertamanya “‘ain”. “‘Ain” adalah huruf ke-18 dari huruf Hijaiyah yang berada di tenggorokan. Huruf ini disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu “‘Ain sin qaf,” dan “kaf ha ya ‘ain shad.” Sedangkan yang bersambung dengan huruf lain sangat banyak.

Huruf ini berkonotasi dengan sesuatu yang tinggi, kemuliaan, dan keagungan; ‘ali (tinggi), ‘alam (semesta), ‘alim (pintar, alim), dan lainnya. Ada 19 kata “‘alaikum” dalam Al-Qur’an, 9 “‘alaihim dan hi,” dan terdapat 17 kata “‘alaina.” Hasil pencarian penulis dilakukan dengan menggunkan Al-Bahits fil Qur’an.

Bila huruf “ ‘ain” bersambung dengan huruf “la dan alif”, “‘ala” (عَلى), maka memiliki beberapa makna, yaitu; 1) al-isti’la’ (الاستعلاء), yang bermakna di atas, 2) al-mushahabah, yang bermakna bersama, menemani (ma‘a), 3) al-mujawazah, yang bermakna melampaui, melebihi, atau bermakna “‘an”, 4) at-ta’lil, yang bermakna penjelasan atau bermakna “alif lam, li”, 5) ad-dharfiyah, yang bermakna kondisi, situasi, tempat atau bermakna “fi”, 6) al-muwafaqah, bermakna “min”, 7) muwafaqah ba’, 8) al-istidrak, 9) kadang sebagai tambahan (zaidah), dan selain makna di atas, ada beberapa ulama yang memberikan arti lain.

Makna huruf “‘ala” saja memiliki arti yang berbeda-beda. Bagaimana jika huruf jarr “‘ala” tersebut disambung dengan dhamir muttashil “ka”/kamu, menjadi “‘alaika” (عليك. Maka dengan kata ini “‘alaika” memiliki makna yang berbeda pula.

“‘Alaika bi” dalam Mu’jamul ‘Ain, dalam Kamus Ma’ani, dan beberapa kamus lainnya, adalah ism fi’il amar (kata benda yang bermakna perintah) yaitu bermakna “ilzam” (keharusan, kewajiban; seharusnya!), “istamsik” (berpegang teguhlan, peganglah dengan erat, teguhkan), terkadang bermakna “khudz” (ambillah).

Contoh yang bermakna “ilzamعليك بتقوى الله (‘alaika bi taqwallah, seharusnya engkau bertaqwa kepada Allah), عليك بالصبر (‘alaika bis shabri, engkau harus sabar), عليك بالاجتهاد (‘alaika bil ijtihad, engkau harus bersungguh-sungguh!). Contoh yang bermakna “khudzعليك به (‘alaika bihi, ambillah!), dan juga ada yang bermakna “tidak apa-apa, tidak masalah” seperti “la ‘alaika.”

Asal kata ini dari “‘ala” yang bermakna tinggi, dan sesuatu yang tinggi itu memiliki kekuasaan dan penguasaan, maka Allah disebut Rabbul a‘la, Tuhan yang maha tinggi. Kepada yang berada di bawahnya, ia menyuruh atau memerintah (amar), tapi bila ke atas disebut “memohon”, atau doa seperti “’alaikum bis shiyam,” wajib bagi kalian berpuasa karena itu perintah dari Yang Maha Tinggi kepada hamba.

Adapun, bila dari bawahan atau lebih rendah, dan menggunakan “alaika”, maka ia bermakna sebuah harapan besar, seperti “‘alaika an ta’khudzani ‘ala baitik,” Aku benar-benar mengharap kau bawa aku ke rumahmu. Kalau seorang bapak menyuruh anaknya, “alaika bi muraja’ati durusik,” kau harus mempelajari kembali pelajaranmu!

Mari kita melirik sedikit di Mu’jam Mukhtar As-Shahah; “‘alaika; ‘alaika Zaidan” (ambillah). ‘Ala adalah huruf khafid. Terkadang ia adalah “ism, fil'i, dan hurf”. (علا) alifnya diganti ya, menjadi “‘alaika” atau “‘alaihi”. Sebagian orang Arab tetap menggunakan alif tersebut; علاك و علاه

Dari beberapa makna “‘alaika” di atas, penulis tidak menemukan yang bermakna “hancurkan” sebagai redaksi Ustadz Umar Hamdan Karrar “Ya Allah, Hancurkan lah Indonesia”, kecuali redaksi tersebut terkait dan berhubungan dengan redaksi yang lainnya, misalnya “‘alaika an tudammira Indonesia”, Hancurkan Indonesia. Namun, bila hanya “‘alaika”, lebih banyak yang bermakna “ilzam, istamsik,” tidak ada khusus yang bermakna “inhar, inkisar, tafakkuk”, hancur.

Dengan demikian, persepsi Ustadz Umar Hamdan Karrar tersebut sangat dipaksakan, dan tidak sesuai dengan berbagai kaidah Bahasa Arab. Selain dipaksakan, juga tidak ada makna yang sesuai dengan beberapa kamus Bahasa Arab.

Namun demikian, kata “‘alaika” bisa memiliki makna berbeda sesuai dengan konteksnya. Sedangkan konteks dan redaksi doa yang dipanjatkan oleh Gus Mus tidak sedikit pun mengarah kepada harapan agar Indonesia hancur. Gus Mus memulai doanya dengan harapan agar para rakyat (kita sedoyo) dan para pemimpin di Indonesia mendapatkan taufiq dan hidayah dari Allah, kemudian kalimat “Allumma ‘alaika bi Indonesia Ya Allah” dan beberapa setelahnya; “‘alaika bi aimmati Indonesia,” “‘alaika bi ulama’i Indonesia,” “‘alaika bi zu’ama Indonesia,” “‘alaika bi Sya’bi Indonesia,” “Ya Ilahana, ya Karim.”

Dari siyaq (konteks) doa tersebut, sangat jauh bila diartikan dengan “hancurkan Indonesia” karena dari permulaan doa, kemudian “‘alaika” dan setelahnya “Ya Karim” tidak ada sedikit pun ditemukan redaksi yang bermakna “inkisar” dan lainnya.

Kajian konteks ini bisa dibaca dalam Ilmu Dalalah. Pemilihan diksi “‘alaika” memiliki arti yang bermacam-macam sesuai konteksnya. “‘alaika bi dzatid din,” pilihlah yang agamis. “‘Alaikumus salam,” Mudah-mudahan kau mendapatkan keselamatan, dan lainnya.

Maka, dapat belajar dari kata “‘alaika” yang berasal dari “‘ala, tinggi, atas”, dan “ka, kamu”, untuk menjadi “aly”, banyak belajar “ilmu” dengan ‘ain kasrah, akan menjadi “alim” menjadi fathah. Suatu saat “‘alaika bi ilm,” kamu harus tahu, maka “takun ‘aliman,” kamu akan menjadi alim.

Mudah-mudahan serpihan di atas bermanfaat. Mudah-mudahan setiap kalimat yang tertulis diridhai Allah. Harapan penulis, umat Islam selalu rukun, hormat kepada ulama. Bila terdapat redaksi yang tidak sesuai, kaji dengan baik, dan gunakan bahasa yang baik.


Penulis adalah khadim Pesantren Darun Nun. Ia juga guru Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang.