Muslim Myanmar Dilarang Tarawih, Warga Buddha Bagikan Bunga sebagai Aksi Solidaritas

Muslim Myanmar Dilarang Tarawih, Warga Buddha Bagikan Bunga sebagai Aksi Solidaritas
Para aktivis Buddha membagikan mawar putih di Masjid Myoma di Sagaing, Senin 27 Mei 2019 (Khin Hnin Wai / Myanmar Now)
Para aktivis Buddha membagikan mawar putih di Masjid Myoma di Sagaing, Senin 27 Mei 2019 (Khin Hnin Wai / Myanmar Now)
Naypyitaw, NU Online
Massa nasionalis garis keras sempat melarang umat Muslim di Myanmar yang akan menunaikan Shalat Tarawih. Insiden itu terjadi di South Dagon di pinggiran Yangon pada pertengahan Mei lalu. Dalam kejadian itu, ada 150 orang yang melarang Muslim Myanmar melaksanakan Shalat Tarawih. 

Sesuai dengan keterangan saksi mata, massa memasuki tiga surau dan rumah-rumah warga yang digunakan untuk Shalat Tarawih. Mereka memaksa agar shalat dihentikan. Alasan mereka, ‘Myanmar adalah negara Buddha.’ Massa juga merusak tempat wudhu. Tidak hanya itu, mereka juga memaksa pemuka Muslim di South Dagon untuk ‘menandatangani surat pernyataan untuk tak lagi melakukan salat tarawih’ sebelum meninggal tempat.

Atas kejadian itu, para aktivis Buddha mendatangi umat Muslim di South Dragon dan memberikan bunga mawar putih kepada mereka. Hal itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap umat Muslim Myanmar. Pembagian mawar merupakan simbol perdamaian, harmoni, dan solidaritas. Aksi aktivis Buddha itu terinspirasi seorang biksu yang sebelumnya datang ke kota itu dan memberi umat Muslim mawar putih setelah mereka selesai melaksanakan Shalat Tarawih.

"Saya ingin menunjukkan penghargaan kepada semua saudara-saudara Muslim atas kesabaran mereka (menghadapi milisi)... Ini juga pesan kepada milisi yang menentang langkah mereka dan pesan damai untuk semua warga lain," kata U Seintita, seorang petugas biara kepada media daring, Myanmar Now.

Aktivis Buddha lainnya, Khin Nyein Aye, mengaku mendukung acara pembagian mawar bagi umat Muslim yang dilarang Shalat Tarawih tersebut. Ia mengaku senang bisa ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. 

“Saya sangat senang acara ini diikuti oleh warga dari berbagai agama. Itu sebabnya saya mendukung acara ini," kata Khin Nyein Aye, dikutip laman BBC.

Sementara itu, salah seorang panitia acara pemberian mawar, Zar Chi Oo, mengatakan, pihaknya harus melakukan sesuatu untuk meredam aksi kekerasan itu. Baginya, Myanmar adalah negara multi-etnis. Oleh karena itu, pihaknya harus menunjukkan bahwa rakyat Myanmar mencintai perdamaian dan menentang semua konflik antarumat beragama.

Diketahui, ada sekitar 10.000 ribu Muslim yang tinggal di wilayah di South Dagon. Memang, pemerintah kota setempat disebut tidak mengizinkan umat Muslim mendirikan masjid di kota tersebut. Kendati demikian, pemerintah kota membolehkan warga Muslim menunaikan Shalat Tarawih secara berjamaah di rumah-rumah warga yang dijadikan sebagai surau. (Red: Muchlishon)
BNI Mobile