IMG-LOGO
Daerah

Ramadhan Bulan yang Tepat untuk Tingkatkan Kualitas Ibadah

Sabtu 1 Juni 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Ramadhan Bulan yang Tepat untuk Tingkatkan Kualitas Ibadah
Kegiatan Bukber dengan tokoh lintas agama
Sumedang, NU Online
Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sumedang, Jawa Barat, Fachryzal Fauzi mengatakan, bulan Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.  Beberapa kegiatan yang telah disusun menurutnya adalah semata untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, terutama di bulan ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini.

"Yang menarik di sini selain  kegiatan tarling, bagi-bagi takjil dan sebagainya adalah kegiatan buka bersama lintas agama yang secara simbolik diwakili saudara-saudara kita dari Gereja  Kristen Pasundan (GKP) sebanyak  enam  orang.  Meski  baru secara  simbolik namun yang terpenting upaya kita untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa," Jelasnya Jumat (31/5).

Dijelaskan, jelang akhir ramadhan kader IPNU dan IPPNU mengisi Ramadhan 1440 Hijriyah dengan beragam kegiatan bermanfaat. Di antaranya buka bersama dengan tokoh lintas agama, bagi takjil gratis, dan tarawih keliling.

"Kami ingin kegiatan buka bersama ini tidak sekedar kumpul dan makan-makan bersama. Akan tetapi lebih dari itu yakni makna kebersamaan, apalagi kami juga menghadirkan perwakilan tokoh lintas agama," jelasnya.

Sementara  perwakilan dari  GKP Hari Darmawan mengaku senang bisa bertemu dengan pengurus IPNU-IPPNU. Menurut dia, Indonesia dilandasi dengan Pancasila dan UUD 1945.

"Saya bersyukur hari ini bersama teman boleh duduk di sini kami melihat satu momen perlu kumpul bersama. Kedua, merasa keterpanggilan hati nurani negara kita pluralisme, persatuan, dan negara betul dilandasi Pancasila dan UUD 1945," ujar Hari

Ia mengaku ada rasa persaudaraan, persatuan, dan kemanusiaan. IPNU-IPPNU juga berpikir untuk kemajuan bangsa dan negara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

"Kami bersyukur diterima pengurus IPNU-IPPNU, kami menegaskan bahwa kita bersaudara komitmen Pancasila pedoman kita bersama dan ini merupakan suatu kesempatan baik bisa interaksi dengan saudara saya. Negara Indonesia ditakdirkan menjadi saudara dalam bingkai kebinekaan, pluralisme, dan persaudaraan," jelasnya.

Selain angota IPNU-IPPNU  Sumedang, acara tersebut juga dihadiri Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang H Sa'dulloh, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumedang  Didi Suhrowardi, Hj Rifdah Farnidah dan Komisioner Bawaslu Sumedang Haidar Usman. (Fathul Arif/Muiz)
Bagikan:
Sabtu 1 Juni 2019 23:0 WIB
Makna Hari Kelahiran Pancasila Bagi PMII Lampung
Makna Hari Kelahiran Pancasila Bagi PMII Lampung
Ketua IKA PMII Lampung Tengah, H Muhyidin Thohir
Lampung Tengah, NU Online
Hari ini Sabtu (1/6) terasa sangat istimewa bagi semua kalangan bangsa Indonesia, karena memperingati Hari lahirnya Pancasila, 1 Juni 2019. Banyak makna yang terkandung di dalamnya, seperti di sampaikan Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII), Kabupaten Lampung Tengah, H Muhyidin Thohir. 

Baginya, makna peringatan Hari Lahir Pancasila yang hampir bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri ini, mampu merekatkan persaudaraan antar anak bangsa. Pancasila sebagai dasar negara harus dipertahankan oleh seluruh lapisan warga negara Indonesia, karena dengan Pancasila semuanya bisa hidup nyaman di negara yang bernama Indonesia tercinta ini.

"Apalagi dengan ajaran para pendiri Republik ini (founding fathers) yang di mana salah satu yang sudah diajarkan dengan sikap saling menghormati sesama, tepat seperti Nahdhatul Ulama yang mengajarkan sikap tasamuh, tawasut, tawazun, dan i'tidal serta amar ma'ruf nahi munkar," jelas alumni Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung ini.

Dikatakan, sebentar lagi umat Islam di Indonesia dan dunia akan merayakan Idul Fitri, momen yang sangat tepat, di mana semua umat muslim merayakan kemenangan, setelah berperang melawan hal–hal yang buruk. 

"Saling memaafkan dari yang muda ke yang tua, semuanya bersuka cita demi sebuah kedamaian, saling bercanda, saling bercengkrama, bersilaturahim, tepat dengan makna butir kelahiran Pancasila, menjaga persatuan dan kesatuan," jelas mantan Ketua PC GP Ansor Kabupaten Lampung Tengah ini.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris PC IKA PMII Kabupaten Lampung Timur, Fuad Asy'ari, memaknai Pancasila bukan sekedar upacara tidak hanya seremonial saja, akan tetapi di era saat ini yang begitu terbukanya alam demokrasi.

"Maka di balik kebebasan tersebut jangan sampai ada tindakan menolak sistem berlaku, mulai dari menolak sistem bernegara, menolak bekerjasama dengan penganut agama lain, dan saudara yang seagama yang berbeda pandangan," beber alumni Pascasarjana IAIN Kota Metro ini.

Dijelaskan, lima butir Pancasila yang tertuang itu merupakan  semangat yang menjadi titik temu terhadap kemajemukan bangsa Indonesia seperti cita-cita para founding fathers pada saat merumuskan dasar Negara ini, yakni ingin agar Negara Indonesia di jaga bersama karena Pancasila sudah final. (Akhmad Syarief Kurniawan/Muiz).  
Sabtu 1 Juni 2019 22:0 WIB
Desa Pegayaman dan Kultur Islam yang Solid
Desa Pegayaman dan Kultur Islam yang Solid

Buleleng, NU Online
Pegayaman adalah sebuah desa Muslim yang terletak di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Sembilan puluh persen dari total penduduk Pegayaman yang mencapai sekitar 6.700 warga adalah Muslim. Menjadi umat minoritas dalam skala regional (Bali), tidak membuat Muslim Pegayaman, risih, apalagi takut.

“Sebab, di sini budaya saling menghormati dijunjung tinggi. Diantara kami kerap saling berbagi,” tukas Bendahara Pimpinan Cabang (PC) Pergunu Buleleng, Ketut Muhammad Qosim sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Jumat (31/5).

Namun posisi minoritas diakui Qasim juga ada positifnya. Yaitu terjaganya kebersamaan yang solid. Bahkan ketika di tempat lain, umat Islam mulai ‘kendur’ beribadah lantaran terbentur  dengan kegiatan persiapan menghadapi lebaran, muslim di Pegayaman justru ‘solid’.

Di Pegayaman hanya terdapat sebuah masjid, namanya Safinatussalam. Dia adalah satu-satunya masjid di desa seluas 15,84 kilometer persegi itu. Di masjid itu pula, para lelaki melaksanakan shalat taraweh.  Tidak seperti di tempat lain, di masjd itu shalat taraweh biasa dilaksanakan pukul 22.00 yang dilanjutkan dengan tadarus hingga menjelang imsak.

“Itu karena gantian dengan ibu-ibu untuk jaga rumah. Jadi para ibu hanya taraweh di mushalla-mushalla yang ada. Usai ibu-ibu shalat taraweh,  gantian kaum lelaki yang berangkat ke masjid,” jelasnya.

Jalinan persudaraan antara Muslim Pegayaman den non Muslim di desa tetangga sangat kuat. Ketika lebaran tiba atau hari besar non Muslm tiba, kedua ‘suku’ itu saling berkirim makanan.

“Tradisi itu biasa disebut ngejot. Jadi kami dan mereka saling berkirim makanan,” lanjut Qosim yang juga Sekretaris BPD Pegayaman itu.

Kultur NU juga kuat, mewarnai sejumlah tradisi kehidupan sehari-hari di Pegayaman, termasuk aktifitas di sektor  pertanian. Misalnya, dalam tradisi mapag toya (mengalirkan sumber air besar ke parit-parit  untuk irigasi sawah), para petani  Hindu melakukan ritual dengan cara khas agama mereka.

“Tapi kami di Pegayaman,  melakukan mapag toya dengan membaca ramai-ramai abda’u (aqidatul awam), lalu bersantap makan ketupat,” jelas Qosim. (Red: Aryudi AR).

Sabtu 1 Juni 2019 21:0 WIB
1.680 Anggota Banser Jateng Disiapkan di 336 Posko Mudik 2019
1.680 Anggota Banser Jateng Disiapkan di 336 Posko Mudik 2019
Ilustrasi (Ist.)

Semarang, NU Online
Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Jawa Tengah mendirikan Posko Mudik 2019 yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di daerah tersebut. Sebanyak 336 posko didirikan dengan melibatkan 1.680 personel yang beroperasi 24 jam.

Para personel yang diterjunkan pada Posko Mudik Banser 2019 ini, memiliki keahlian di bidangnya, di antaranya Balantas (Banser Lalulintas) dan Bagana (Banser Tanggap Bencana).

"Kami membantu masyarakat selama arus mudik dan arus balik, agar perjalanan ke kampung halaman aman dan selamat," ujar Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sholahudin Aly atau Gus Sholah, di Semarang, Sabtu (1/6).

Sejumlah fasilitas yang disiapkan di Posko Mudik tersebut di antaranya parkir yang aman, tempat istirahat, tempat shalat, pijat gratis, toilet, P3K, dan informasi jalur mudik serta jalur alternatif.


Foto: Salah satu titik Posko

"Lokasi posko, berada di jalur-jalur utama arus mudik 2019, baik di wilayah jalur pantura, jalur selatan, dan jalur tengah," tambahnya tentang posko yang berlangsung mulai H-7 hingga H+7 lebaran.

"Kami apresiasi anggota Ansor Banser yang rela meluangkan waktu di libur lebarannya untuk mendarma baktikan pada masyarakat yang sedang mudik," ungkapnya.

Sementara Kasatkorwil Banser Jawa Tengah, Muchtar Makmun, menyatakan selain posko mudik, jajaran Banser juga menyediakan posko patroli yang ditempatkan di titik-titik rawan kecelakaan, rawan kejahatan, dan kemacetan.

"Posko patroli ini bertugas membantu pertolongan pertama jika ada kecelakaan, serta koordinasi dengan Polisi lalu lintas dan Dinas Perhubungan kabupaten/kota setempat jika ada gangguan lalu lintas. Banser siap membantu aparat hukum jika dibutuhkan," tegas pria yang biasa dipanggil Naga Bonar ini.

Ketika pemudik membutuhkan informasi maupun menemukan berbagai kendala di perjalanan, Banser Jateng juga telah menyiapkan nomor telepon yang dapat dihubungi untuk meminta bantuan.

“Misalnya ban mobil kempes, salah jalan, kehabisan bahan bakar, kita sudah menyiapkan call center. Yaitu +62 813-3446-3455 (Mucktar Makmun), +62 856-0068-1204 (Nuris), +62 812-4124-187 (Gus Shidqon), email ansorcybermedia@gmail.com, twitter @ansorcybermedia, Instagram @pwansorjateng, Facebook @GP Ansor Jateng,” jelasnya.

Berikut data lengkap Posko Mudik Banser 2019, yang tersebar di tiga jalur utama pemudik:


Jalur Pantura:
1. Kab. Brebes 19 Posko
2. Kota Tegal 5 Posko
3. Kab. Tegal 10 Posko
4. Kab. Pemalang 14 Posko
5. Kota Pekalongan 5 Posko
6. Kab. Pekalongan 10 Posko
7. Kab. Batang 20 Posko
8. Kab. Kendal 14 Posko
9. Kota Semarang 9 Posko
10. Kab. Demak 6 Posko
11. Kab. Kudus 1 Posko
12. Kab. Pati 1 Posko
13. Kab. Jepara 2 Posko
14. Kab. Rembang 10 Posko

Jalur Tengah:
1. Kab. Banyumas 49 Posko
2. Kab. Purbalingga 19 Posko
3. Kab. Banjarnegara 10 Posko
4. Kab. Wonosobo 13 Posko
5. Kab. Temanggung 7 Posko
6. Kab. Magelang 4 Posko
7. Kota Salatiga 4 Posko
8. Kab. Semarang 15 Posko
9. Kab. Boyolali 4 Posko
10. Kab. Grobogan 4 Posko
11. Kab. Blora 1 Posko

Jalur Selatan:
1. Kab. Cilacap 16 Posko
2. Kab. Kebumen 16 Posko
3. Kab. Purworejo 12 Posko
4. Kab. Klaten 15 Posko
5. Kab. Sukoharjo 7 Posko
6. Kota Surakarta 2 Posko
7. Kab. Karanganyar 6 Posko
8. Kab. Sragen 2 Posko
9. Kab. Wonogiri 4 Posko

Naga Bonar menambahkan, sebagai bentuk perhatian pada kader di daerah, Satkorwil Banser Jateng juga menggelar lomba Posko Mudik Banser 2019. Nantinya akan diambil posko terbaik dari masing-masing karesidenan.

“Untuk lomba, penilaian dasar adalah tiap posko personel yang bertugas wajib mengenakan seragam Banser dan Balantas, peluit, lampu peringatan lalulintas, dan bendera,” katanya. (Red: Muhammad Faizin)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG