IMG-LOGO
Nasional

Ketum PBNU Pimpin Shalat Ghaib untuk Ani Yudhoyono

Sabtu 1 Juni 2019 21:50 WIB
Bagikan:
Ketum PBNU Pimpin Shalat Ghaib untuk Ani Yudhoyono
Ketum PBNU pimpin shalat ghaib untuk almarhumah Ani Yudhoyono
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama sejumlah pimpinan PBNU serta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menggelar shalat ghaib atas meninggalnya istri presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono. Shalat ghaib diadakan di Masjid area Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Cipedak, Jagakarsa, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (1/6) seusai buka bersama.

"Saya Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengucapkan innalillahi wa innailaihi raji'un," kata Kiai Said selepas melaksanakan shalat ghaib.

Menurut Kiai Said, semasa menjalani perawatan, Ani Yudhoyono sabar dan tabah dalam menghadapi penyakit yang lama dideritanya. "Semoga semua amal shalihnya diterima oleh Allah dan segala kekhilafannya diampuni oleh-Nya, dan arwahnya diterima di sisi-Nya dalam surganya yang penuh nikmat dan rahmat itu," ucapnya.

Sebelumnya, Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin dan istri sempat menjenguk Ani Yudhoyono. Kunjungan itu disampaikan Kiai Ma'ruf melalui akun Instagramnya pada Jumat (31/5/2019).

"Bismillahirraahmanirrahiim. Hari ini saya bertolak ke Singapura untuk menjenguk Ibu Ani Yudhoyono yang sedang dirawat di rumah sakit National University Hospital (NUH). Ibu Ani adalah sosok yang kuat meskipun kini beliau tengah berjuang melawan penyakit kanker darah," tulis Kiai Ma'ruf.

Kiai Ma'ruf menyebut Ibu Ani sebagai sosok yang kuat. Dia pun mendoakan agar Ibu Ani segera diberi kesembuhan.

Sebagaimana diketahui, Ani Yudhoyono telah menjalani perawatan penyakit kanker darah yang dideritanya sejak Februari lalu di National University Hospital Singapura.

Kiai Said sendiri sempat menjenguk Ani Yudhoyono di National University Hospital Singapura pada Senin (18/3). Kiai Said yang saat itu datang bersama Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini dan Ketua PBNU Robikin Emhas disambut langsung SBY. 

Dalam kesempatan tersebut Kiai Said memimpin doa untuk kesembuhan Ibu Ani yang diamini oleh SBY dan rombongan PBNU. Kini, setelah beberapa bulan menjalani perawatan tersebut, Ani Yudhoyono menghembuskan nafas terakhir National University Hospital (NUH) Singapura. Sabtu (1/6) pukul 11.50 waktu Singapura. 

Sebelum dinyatakan meninggal, Ani sudah beberapa kali menjalani tindakan medis, salah satunya transplantasi sumsum tulang belakang yang didonorkan oleh adiknya, yakni Pramono Edhie Wibowo. Namun, operasi tersebut tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap kesembuhan Ani. Bahkan, Ani sempat mendapat perawatan intensif di ICU beberapa hari usai operasi.

Ani Yudhoyono yang memiliki nama asli Kristiani Herrawati ini lahir di Yogyakarta 6 Juli 1952. Ani adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Letnan Jendral (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dan Hj Sunarti Sri Hadiyah. Ani Yudhoyono menikah dengan SBY pada 30 Juli 1976. Saat itu, SBY baru saja dilantik menjadi Perwira TNI dan menjadi lulusan terbaik. (Husni Sahal/Muiz)
Bagikan:
Sabtu 1 Juni 2019 22:30 WIB
Yenny: Ani Yudhoyono Ibu Negara yang Tanggap Media Sosial
Yenny: Ani Yudhoyono Ibu Negara yang Tanggap Media Sosial
Jakarta, NU Online
Hj Zannuba Arifah Chafsoh atau Hj Yenny Wahid menyampaikan belasungkawa atas kepergian almarhumah Ani Yudhoyono pada Sabtu siang, 1 Juni 2019. Yenny memandang sosok Ani Yudhoyono sebagai perempuan Indonesia yang tanggap perubahan zaman di tengah kesibukannya sebagai ibu negara mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono.

Demikian disampaikan Hj Yenny kepada NU Online ketika mengenang almarhumah Ani Yudhoyono, Sabtu (1/6) sore.

“Bu Ani sosok yang pemberani. Ketika medsos baru mulai menjadi tren, ia tidak segan berinteraksi dengan jutaan followers-nya. Bahkan dengan mereka yang kadang berkomentar negatif, ia tetap sabar melayani,” kata Yenny, putri kedua alm KH Abdurrahman Wahid.

Yenny menyampaikan bahwa ia sekeluarga ikut berduka cita yang mendalam atas meninggalnya Ani Yudhoyono. Menurutnya, Ani Yudhoyono adalah sosok yang ramah, penuh perhatian, serta sangat berdedikasi terhadap keluarga.

“Sebagai istri, beliau setia mendampingi suami. Mulai dari daerah terpencil sampai ke istana, beliau selalu berada di samping pak SBY. Ia sosok yang tabah, kuat, mengayomi, memberikan sokongan moral dan menguatkan ketika SBY menghadapi dinamika suka dan duka dalam memimpin bangsa,” kata Yenny.

Ia menambahkan bahwa sosok keibuan Ani Yudhoyono tampak begitu kuat. Di keluarga, almarhumah Ani Yudhoyono bersikap ramah terhadap anak dan menantunya. Ia memperlakukan menantu sebagai anak sendiri. 

“Sebagai ibu, beliau sosok yang sangat mendukung dan melindungi putranya, dan menyayangi menantunya seperti anaknya sendiri. Kepada kami para staf pak SBY, beliau sangat perhatian dan akrab. Bu Ani menjadi tiang kokoh yang menyangga kesuksesan Pak SBY dalam memimpin bangsa ini selama dua periode,” kata Yenny.

Kami, kata Yenny, juga mendoakan agar SBY sekeluarga diberi ketabahan dalam menerima takdir Allah.

“Kita semua merasakan kehilangan yang mendalam atas berpulangnya Bu Ani. Semoga almarhumah diampuni semua kesalahannya, dilapangkan jalannya dan diberi tempat istimewa di sisi Allah SWT,” kata Yenny.

Sebagaimana diketahui, Ani Yudhoyono wafat di National University Hospital, Singapura. Ia wafat di saat perawatan penyakit kankernya. Ia lahir pada 6 Juli 1952. Ia wafat pada usia 66 tahun. Belasungkawa atas wafatnya berdatangan dari pelbagai pelbagai pihak. (Alhafiz K)
Sabtu 1 Juni 2019 21:15 WIB
KH Ahmad Siddiq, Sosok yang Menginspirasi UIN KHAS Jember
KH Ahmad Siddiq, Sosok yang Menginspirasi  UIN KHAS Jember
H Abdul Halim Soebahar, paling kiri (pegang mic)

Jember, NU Online
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Jember bakal mempunyai perguruan tinggi Islam dengan nama khas, yaitu Universitas Islam Negeri KH Ahmad Siddiq. Nama tersebut disingkat menjadi UIN KHAS Jember.

Menurut Ketua Tim Penyusun Naskah Akademik Pengusulan Nama Universitas Islam Negeri KH Ahmad Siddiq Jember, H Abdul Halim Soebahar,  pengusulan nama KH Ahmad Siddiq menjadi penting dan strategis sebagai ke-KHAS-an UIN Jember. Salah satu alasan yang ia kemukakan adalah karena beliau bukan hanya milik IAIN Jember, tapi termasuk pendiri kampus tersebut.

Juga, KH Ahmad Siddiq bukan hanya milik dan tokoh Nahdlatul Ulama karena pernah menjabat Rais ‘Aam PBNU, tapi lebih dari itu beliau adalah milik bersama, dan milik Indonesia. Sebab, pemikirannya tentang keislaman dan kebangsaan banyak menjadi rujukan para tokoh bangsa dan banyak menginspirasi generasi bangsa, dan masih relevan hingga saat ini.

“Dengan demikian, generasi terpelajar Indonesia diharapkan terinspirasi untuk lebih memahami pentingnya pengembangan Islam moderat di Indonesia,” tukasnya saat menjadi nara sumber dalam Focus Group Discussion, Peningkatan Kelembagaan Alih Status IAIN Menuju UIN di gedung baru IAIN Jember, Jumat (31/5).

Dalam pandangan Ketua MUI Jember tersebut, KH Ahmad Siddiq adalah sosok ulama yang  fenomenal. Salah satu acuannya adalah ketika beliau mampu meruntuhkan emosi dan argumen  banyak pihak yang menolak Pancasila sebagai asas tunggal. Momen itu terjadi ketika digelar Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama  di Situbondo (1983).

Saat itu KH Ahmad diminta menyampaikan prasaran tentang konsep penerimaan Pancasila sebagai azas organisasi. Lontaran pemikirannya yang menghentak justru di saat umat Islam, khususnya warga NU sedang terbuai dalam kegalauan sikap terhadap Pancasila. Bahkan  sempat muncul tudingan ekstrem bahwa Pancasila akan menggantikan agama di balik rencana gagasan azas tungal tersebut.

“Pada momen seperti itulah KH Ahmad tampil piawai. Argumentasinya dari sisi agama, politik maupun sejarah, sangat mendasar dan meyakinkan. Lontaran pemikirannya yang jernih dan segar ditopang oleh penampilannya yang kharismatik adalah nilai plus yang memungkinkan  KH Ahmad menaiki puncak kepemimpinan NU pada Muktamar setahun berikutnya,” urainya. (Aryudi AR).




Sabtu 1 Juni 2019 20:30 WIB
Grebeg Pancasila di Kota Blitar Dimeriahkan Pawai Lampion
Grebeg Pancasila di Kota Blitar Dimeriahkan Pawai Lampion
Blitar, NU Online
Setiap malam 1 Juni  dalam rangka menyambut hari lahirnya Pancasila, Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar, Jawa Timur mengadakan berbagai pagelaran. Salah satunya pawai lampion yang diberi tema Blitar Night. Acara berlangsung  Jumat malam  (31/5).

Puluhan kendaraan yang dihiasi dengan berbagai replika seperti burung garuda Pancasila, sang proklamator Bung Karno, ikon Kota Blitar berupa ikan koi mengelilingi dunia dan masih banyak lagi replika lainya.                  

Bagi kota dengan julukan Kota Patria ini, bulan Juni juga dikenal dengan Bulan Bung Karno. Sebab, Presiden RI pertama tersebut lahir 6 Juni dan wafat 21 Juni. Sang  Proklamator dimakamkan di Kota Blitar.

“Bulan Bung Karno di Kota Blitar selalu diwarnai dengan berbagai even budaya. Salah satu yang paling meriah sekaligus pembuka rangkaian acara di agenda tahunan ini adalah Grebeg Pancasila,” kata Santoso. 

Wakil Wali Kota Blitar ini mengungkapkan,  acara merupakan suatu kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahunnya. “Acara ini sendiri merupakan kegiatan awal dari serangkaian acara dalam agenda Bulan Bung Karno di Kota Blitar,” ungkapnya.

Dimulai sekitar pukul 15.30 WIB, rangkaian acara Grebeg Pancasila diawali tradisi Kirab Bedhol Pusaka. Kirab Pusaka ini sendiri merupakan pemindahan pusaka dari rumah dinas Wali Kota Blitar di Jl. Sudanco Supriyadi dan diarak dengan berjalan kaki menuju Kantor Pemerintah Kota Blitar.

“Benda pusaka tersebut merupakan peninggalan Bung Karno di Kota Blitar yang selama ini disimpan di Istana Gebang atau rumah kediaman keluarga beliau di Jl. Sultan Agung,” ungkapnya.  

Benda tersebut di antaranya tiga peti kayu berupa Teks Pancasila, Teks Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 serta Bendera Merah Putih. “Tak hanya itu, ada juga ukiran kayu burung garuda serta foto Bung Karno yang dibawa dalam kesempatan kirab kali ini,” jelasnya.

“Dan pada malam hari, Grebeg Pancasila dilanjutkan dengan upacara budaya, pawai lampion dan kirab gunungan limo berisikan hasil bumi yang dipusatkan di alun-alun Kota Blitar,” katanya. 

Gunungan ini lalu diarak menuju makam sang Proklamator yang berjarak sekitar 2.6 km dari pusat Kota Blitar. “Sedangkan sebagai penutup rangkaian acara, diadakan Kenduri Pancasila atau semacam selamatan yang dihadiri para pemuka lintas agama di area makam Bung Karno,” tegasnya.

“Acara ini digelar sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas apa yang telah dilakukan masyarakat dan para seniman di Kota Blitar,” ungkapnya.

Dimana memang bersama mereka, pihak pemerintah kota berjuang sejak 1998  lalu untuk menetapkan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. “Dan kini di Kota Blitar sendiri kami sering menyebutnya Bulan Pancasila,” jelas Santoso.

Beragam acara diselenggarakan selama Juni ini. tercatat terdapat 12 acara siap dihelat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Blitar. Dari mulai  Blitar Creative Fest, seminar nasional, ziarah kebangsaan, Proklamator Run dan lain sebagainya. (Imam Kusnin Ahmad/Ibnu Naawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG