IMG-LOGO
Daerah

Begini Langkah Melegalkan Panitia Zakat menjadi Amil Zakat

Ahad 2 Juni 2019 22:30 WIB
Bagikan:
Begini Langkah Melegalkan Panitia Zakat menjadi Amil Zakat
Dialog Seputar Zakat di PCNU Pringsewu
Pringsewu, NU Online
Sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengah masyarakat Indonesia jika di akhir bulan Ramadhan, pengurus masjid, mushala, ataupun majelis taklim membentuk sebuah kepanitiaan untuk menerima zakat fitrah dari masyarakat.

Kepanitiaan ini pada praktiknya melaksanakan kegiatan layaknya amil (petugas zakat) seperti mengambil, menerima, dan menyalurkan zakat yang diperoleh. Karena mereka merasa amil, mereka pun mengambil bagian asnaf amil dari pengumpulan zakat yang diperoleh.

Padahal yang dinamakan amil sendiri adalah orang atau sekelompok orang yang telah resmi ditunjuk pemerintah untuk mengelola zakat. Dalam hal ini, Indonesia telah memiliki Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang berhak mengelolanya.

"Jadi, panitia yang dibuat sukarela di masyarakat selama ini harus memiliki legalitas surat keputusan dari Baznas agar bisa menjadi amil," jelas Pengurus Baznas Kabupaten Pringsewu, Lampung KH Munawir saat memaparkan materi pada Dialog Seputar Zakat Ngaji Ahad (Jihad) Ramadhan di aula Gedung PCNU Kabupaten Pringsewu, Ahad (2/6).

Dalam pengelolaan zakat, Baznas juga sudah memiliki mitra yakni Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dikelola oleh ormas keagamaan di Indonesia seperti Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU). Sehingga lanjutnya, masyarakat juga bisa mengusulkan SK Amil kepada LAZISNU.

"Berdasarkan UU Nomor 23/2011 dan PMA Nomor 5 /2016, bahwa lembaga yang mengelola dana masyarakat harus berizin, sehingga tidak semua lembaga boleh melakukan penggalangan dan penyaluran dana masyarakat," jelasnya.

LAZISNU dalam PMA tersebut terangnya, mempunyai tugas membantu Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam mengumpulkan, mendistribusikan, dan mendayagunakan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Silahkan hubungi Baznas langsung atau usulkan susunan kepanitian ke LAZISNU Kabupaten Pringsewu untuk mendapatkan SK," jelasnya.

Legalitas amil ini sangat penting untuk pengelola zakat dan sedekah karena amil memiliki tugas berat yakni menerima dan menyalurkan amanah zakat dari muzakki. Jika amil tidak benar maka tanggungjawabnya bukan hanya di dunia kepada para muzakki tapi juga di akhirat.

"Jika seseorang berzakat kepada panitia yang belum legal, maka jika zakat tersebut tidak tersampaikan sesuai kaidah fikih, maka muzakki masih memiliki tanggung jawab berzakat. Namun jika menyalurkan zakat kepada amil resmi, maka jika pun zakat yang diberikan tidak tersampaikan maka muzakki sudah gugur kewajibannya. Amil lah yang bertanggungjawab," jelasnya. (Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Ahad 2 Juni 2019 23:59 WIB
Gus Ulil Paparkan Tiga Tingkatan Puasa menurut Kitab Ihya’
Gus Ulil Paparkan Tiga Tingkatan Puasa menurut Kitab Ihya’
Gus Ulil saat mengisi Lailatul Kopdar di Kajen
Pati, NU Online
Menurut kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, terdapat tiga tingkatan dalam berpuasa. Pertama, صوم العموم (puasa orang umum atau awam). Kedua, صوم الخصوص (puasa orang khusus). Ketiga, صوم خصوص الخصوص (puasa orang yang terkhusus).

KH Ulil Abshar Abdalla alias Gus Ulil memaparkan hal tersebut saat didaulat mengisi kopi darat Ngaji Ihya’ yang diberi nama Lailatul Kopdar di Masjid Saud Sultan Institut Pesantren Mathali’ul Falah Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, Sabtu (1/6/2019) malam. Acara ini diinisiasi Tim Aktivitas Ramadhan (TAR) kampus IPMAFA.

Menurut Gus Ulil, dalam kitab Ihya’ pembaca tak sekedar belajar tentang puasa. Namun, lebih kepada rahasia puasa (asrar al-shiyam). Dalam kitab tersebut dijelaskan adanya tiga tingkatan dalam puasa. صوم العموم itu puasanya orang-orang yang hanya menahan perut dari rasa lapar.

“Kedua, صوم الخصوص yaitu puasanya orang-orang yang mencegah seluruh anggota badannya dari maksiat. Ketiga, صوم خصوص الخصوص puasanya orang-orang yang bisa melepaskan diri dari ikatan-ikatan selain Allah. Yang terakhir ini tingkatannya para wali atau kekasih Allah,” terangnya.

Mempelajari kitab Ihya’, lanjut Gus Ulil, minimal membuat kita mengetahui adanya derajat ilmu yang sangat tinggi kendati kita sadar tidak bisa mencapai ke titik tersebut. Minimal kita bisa menjadi جاهل ويدري انه جاهل  (iso rumongso, lan ora romongso iso). Sadar bahwa dirinya masih bodoh. 

Menurut pria kelahiran Pati ini, keunggulan kitab Ihya’ antara lain adanya seorang ulama yang berkata, andaikata semua buku di dunia ini terbakar dan hanya satu kitab yang tertinggal yaitu Ihya’ Ulumuddin, maka itu cukup menjadi panduan hidup bagi kaum muslimin di dunia maupun di akhirat.

“Keunggulan dan keampuhan kitab Ihya’ ini dipuji banyak kalangan karena kitab ini merupakan kitab pertama yang mampu menjembatani antara ilmu thariqah dan ilmu syari’at secara damai,” ungkap Gus Ulil.

Keberhasilan Imam al-Ghazali dalam mengarang kitab Ihya’ menjadikan banyak kalangan menerima begitu mudah. Di antara faktor yang menjadikan keberhasilan Imam al-Ghazali adalah, pertama, bahwa ia merupakan ahli tasawuf yang memiliki nalar akademik sangat kuat dan kemampuan intelektual yang dahsyat.

“Tak hanya satu disiplin ilmu. Namun, di berbagai disiplin ilmu pengetahuan di mana para ulama terdahulu tidak memilikinya. Tak berlebihan jika sang guru, yakni Imam al-Haramain, menjuluki Imam al-Ghazali sebagai Bahrul Muthi’, atau samudera yang menenggelamkan,” tandasnya.

Kedua, lanjut Gus Ulil, Imam al-Ghazali memiliki kepribadian yang unik. Ia mempunyai pengalaman dramatis dan pernah pula mengalami krisis spiritual. Suatu ketika, Imam al-Ghazali merasa tidak percaya kepada siapapun.

“Sampai beliau berada di titik tidak bisa berbicara selama tiga bulan. Lalu, beliau memilih meninggalkan semua jabatan duniawi untuk kemudian menjadi sufi, bertapa kurang lebih 10 tahun. Di sela-sela uzlah inilah beliau menggarap kitab Ihya’,” pungkasnya. (Musthofa Asrori)

Ahad 2 Juni 2019 23:15 WIB
Lailatul Kopdar Ngaji Ihya’ di Kajen Sukses Digelar
Lailatul Kopdar Ngaji Ihya’ di Kajen Sukses Digelar
Suasana Lailatul Kopdar di Kajen
Pati, NU Online
Kopi darat (kopdar) Ngaji Ihya’ Ulumuddin yang digelar Tim Aktivitas Ramadhan (TAR) kampus Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) di Masjid Saud Sultan IPMAFA Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, Sabtu (1/6/2019) malam berlangsung khidmat sekaligus sukses.

Acara bertema Ibadah di Era Post-Truth yang diisi KH Ulil Abshar Abdalla alias Gus Ulil ini dalam rangka jeda ngaji rutinan Ihya’ Ulumuddin juz 1 selama Ramadhan yang diampu KH Umar Faruq. Kegiatan ini sekaligus menutup ngaji rutinan bulan puasa di kampus IPMAFA menjelang lebaran.

Pengajian tersebut berlangsung kurang lebih empat jam sejak dibuka pukul 20.00 WIB. Meskipun terasa begitu singkat bagi para peserta yang hadir. Konsep pengajian bukan hanya disampaikan secara monoton melalui ceramah saja. Akan tetapi, diikuti tanya jawab dari peserta yang hadir.

Antusiasme yang tinggi ditunjukan para mustami’ (pendengar) pengajian. Terlihat dari banyaknya jumlah peserta yang hadir sekitar 150 orang. Jumlah tersebut melebihi ekspektasi panitia. Hadir dalam acara tersebut para dosen IPMAFA, antara lain Jamal Ma’mur Asmani, Umdah el-Baroroh, dan para tokoh masyarakat.

“Inisiatif panitia mendatangkan Gus Ulil karena beliau dianggap mampu mendialogkan kandungan kitab Ihya’ dengan melintasi berbagai tradisi, peradaban, dan pemikiran. Bahkan, agama. Beliau memiliki bacaan dan referensi yang sangat kaya dan variatif,” tutur Kiai Umar Faruq dalam pembukaan kopdar.

Dalam paparannya, menantu Gus Mus ini menyampaikan beberapa poin penting. Pertama, keunggulan dan keampuhan kitab Ihya’ Ulumuddin sehingga dipuji banyak ulama karena kitab Ihya’ merupakan kitab pertama yang mampu menjadikan sejalan antara ilmu thariqah dan ilmu syari’at dengan damai.

Kedua, keberhasilan Imam al-Ghozali dalam mengarang kitab Ihya’ sehingga begitu mudah diterima banyak kalangan. Di tangan Imam al-Ghazali, tasawuf yang sulit menjadi mudah dipahami. Karena Imam al-Ghazali merupakan ahli tasawuf yang memiliki nalar akademik yang kuat dan kemampuan intelektual yang dahsyat dalam pelbagai disiplin ilmu pengetahuan di mana para ulama terdahulu tidak mempunyai akademis sekuat ulama kelahiran Thus, Khurasan, Persia ini.

“Ketiga, Pentingnya ngaji Ihya’ di era sekarang. Ngaji Ihya’ relevan saat ini karena kita hidup di era orang-orang yang lebih suka menampar orang lain dari pada diri sendiri. Adanya kitab Ihya’ mengajak kita introspeksi diri. Bukan malah mudah menampar orang lain,” papar suami Ienas Tsuroiya ini.

Inti kitab Ihya’, lanjut dia, adalah kitab dengan derajat ilmu yang sangat tinggi dan ditulis untuk orang yang menjalani ilmu suluk untuk mencapai keruhanian tingkat tinggi. “Meski begitu, kita bisa memelajarinya sesuai  kapasitas kita. Minimal kita bisa menjadi جاهل ويدري انه جاهل. Atau seperti kata filsuf Jawa Ki Ageng Suryo Mentaram dadio wong sing iso rumongso. Ojo dadi wong seng rumongso iso,” tandas Gus Ulil. (Ira Wahyuningsih/Musthofa Asrori)

Ahad 2 Juni 2019 23:0 WIB
ISNU Bojonegoro Minta Sarjana Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0
ISNU Bojonegoro Minta Sarjana Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0
Dialog ISNU Kanor Bojonegoro Hadapi Revolusi Industri 4.0
Bojonegoro, NU Online
Pengurus Wakil Cabang (PWC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro Provinsi Jawa Timur, benar-benar serius menghadapi revolusi industri 4.0. Badan Otonom (Banom) NU di Kecamatan Kanor itu menggelorakan semangat para sarjana agar menyiapkan skill dirinya masing-masing.

Melalui kegiatan dialog dengan mengusung tema Strategi Pembelajaran Pendidikan Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0 di Kantor Kecamatan Kanor, Bojonegoro, Sabtu (1/6) menghadirkan beberapa narasumber yang kompeten di bidangnya.

"Karena lembaga pendidikan merupakan wadah utama mencetak generasi Indonesia agar memiliki karakter dan kualitas sumber daya manusia yang unggul," kata Ketua PWC ISNU Kanor, Moch. Purwanto.

Purwanto menjelaskan, revolusi Industri 4.0 merupakan sebuah kepastian yang harus dihadapi di era sekarang ini. Sebagai kaum intelektual muda, PWC ISNU Kanor hadir memberikan semangat kepada para sarjana khususnya dan umumnya nahdliyin.

"Termasuk melalui kegiatan ini sebagai sarana silaturahim para sarjana, khususnya para akademisi dari guru atau tenaga pendidik sekolah-sekolah di wilayah Kecamatan Kanor," jelasnya. 

Dirinya berupaya membantu penyelenggaraan pendidikan bagi generasi muda, agar memiliki pola pikir maju dan berkarakter dalam rangka menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0.

Selain itu, kegiatan dialog merupakan upaya mencetak generasi yang berkharakter mulia, peduli, mandiri, cinta tanah air dan mampu beraksi positif bagi lingkungannya dan masyarakat pada umumnya. "Sehingga para sarjana menjadi generasi yang berkualitas dari segi intelektualitas maupun moralitas yang dapat berperan aktif dalam era Revolusi Industri 4.0 dalam rangka mendukung pembangunan nasional," tutur Lek Pur panggilan akrabnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Hanafi yang hadir menjadi narasumber mengungkapkan, saat ini pembelajaran di sekolah sudah dilakukan menggunakan teknologi mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0. 

"Baik dalam penyampaian materi di kelas, penugasan siswa, hingga pelaksanaan ujian. Bahkan beberapa sekolah telah menerapkan ujian dengan menggunakan handphone atau mobile," sebut Hanafi.

Miftahchul Huda, yang menjadi narasumber kedua menambahkan, generasi saat ini harus siap dengan tantangan yang ada dalam revolusi industri 4.0. Dalam kajian ini harus dikenal beberapa hal, di antaranya Internet of Thing (IoT) dan big data

Pasalnya IoT merupakan teknologi yang menghubungkan internet dengan benda-benda yang ada di sekitar kita, yang mana benda-benda tersebut dapat saling berinteraksi dan terhubung, sehingga terbentuk suatu sistem yang terhubung di internet.

"Kalau Big Data (Mahadata) adalah kumpulan data berupa teks, gambar, suara, streaming, dan sebagainya yang terhimpun dari aktivitas pengguna internet. Kedua istilah ini berkaitan erat dengan perkembangan revolusi industry 4.0," paparnya.

Perwakilan PC ISNU Bojonegoro, Ustadz Sholikin menambahkan, sejatinya Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah istilah, yang sebenarnya aktifitasnya sudah kita jalani selama ini. 

"Yang terpenting adalah sarjana mampu menyikapi dengan positif terhadap segala hal yang berkaitan dengan aktualisasi perkembangan revolusi industri 4.0, utamanya terhadap program-program pendidikan dan pembelajaran terhadap kaum muda Indonesia," pungkasnya. (M  Yazid/Muiz)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG