IMG-LOGO
Nasional

Kiai Ma'ruf Amin Bimbing Syahadat Presenter Tio Nugroho

Senin 3 Juni 2019 6:30 WIB
Bagikan:
Kiai Ma'ruf Amin Bimbing Syahadat Presenter Tio Nugroho
Prosesi ikrar dua kalimat syahadat. (Foto: INews.id)

Jakarta, NU Online
Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin membimbing prosesi masuk Islam presenter olahraga, Imanuel Bagus Aditio Nugroho atau yang lebih dikenal dengan Tio Nugroho. Pengucapan dua kalimat syahadat dilakukan di kediaman Kiai Ma'ruf di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6) sore.

Saat menuntun pembacaan syahadat, Kiai Ma'ruf sebelumnya memastikan bahwa Tio melakukan prosesi ini dengan kesadaran penuh dan atas kemauan sendiri. "Apakah (Saudara) siap mengucapkan kalimat syahadat untuk masuk Islam?" tanya Kiai Ma'ruf seperti dalam video yang ditayangkan INews, Ahad petang.

Tio yang saat itu dalam posisi berjabat tangan dengan Kiai Ma'ruf segera menjawab "siap" sembari menganggukkan kepala.

Kiai Ma'ruf lantas bertanya perihal apakah ada keterpaksaan atau tekanan dalam keputusannya jadi mualaf. Tio menjawab dengan tegas "tidak ada".

"Alhamdulillah," ucap Rais Aam PBNU periode 2015-2018 itu.

Selanjutnya Kiai Ma'ruf membimbing Tio mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat sepotong demi sepotong, berikut terjemahannya.

Selepas pembacaan dua kalimat syahadat, Tio mencium tangan Kiai Ma'ruf hingga beberapa detik. Kiai Ma'ruf lalu memungkasi prosesi masuk Islam ini dengan memanjatkan doa. Tampak Tio sesenggukkan dan berkali-kali menyeka air matanya.

Tio terpanggil masuk Islam lantaran merinding mendengar kumandang azan pada suatu subuh sepulang kerja. Mendengar cerita tersebut, Kiai Ma’ruf mengaku berbahagia. Menurutnya, ini merupakan hidayah dari Allah kepada hamba-Nya. (Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Senin 3 Juni 2019 22:0 WIB
Membangun Kembali Masjid dan Mushala dari Uang Kembalian
Membangun Kembali Masjid dan Mushala dari Uang Kembalian
Jakarta, NU Care
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah, NU Care-Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) serta Alfamidi merealisasikan program Bedah Rumah Ibadah (Berubah). Kegiatan berupa merenovasi masjid atau mushalla di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia.

Berubah merupakan program NU Care-LAZISNU di bulan Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri, guna mewujudkan keindahan dan kenyamanan rumah ibadah.

“Berubah adalah satu dari sembilan program Ramadhan NU Care-LAZISNU tahun ini. Tujuannya mewujudkan rumah ibadah indah dan nyaman untuk digunakan jamaah masjid atau mushola,” kata Achmad Sudrajat, Senin (3/6).

Program Berubah kali ini, lanjut Ketua NU Care-LAZISNUtersebut bersinergi dengan Alfamidi yang merupakan dari hasil donasi uang kembalian.

“Jadi uang kembalian yang didonasikan konsumen Alfamart terkumpul dan disalurkan ke NU Care-LAZISNU untuk dikelola menjadi program bedah rumah ibadah,” jelasnya. 

Pada saat yang sama, dirinya mengucapkan banyak terima kasih kepada Alfamidi. “Karena sudah memercayakan NU Care-LAZISNU untuk mengelola donasi konsumen,” ungkap Ajat, sapaan akrabnya.

Adapun realisasi program Berubah dilaksanakan di masjid dan mushalla yang tersebar di 12 kabupaten maupun kota.

“Alhamdulillah, kami realisasikan di Pati, Bogor, Karawang, Jombang, Cilacap, Demak, Gresik, Banyumas, Jepara, Cirebon, Jakarta, sampai ke Kabupaten Pesisir Selatan di Sumatera Barat,” paparnya.

Dirinya menuturkan, bahwa sudah menjadi tradisi di Nusantara ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Muslim berbondong dan gotong royong mendatangi dan membersihkan masjid karena akan digunakan Shalat Id.

“Sudah menjadi tradisi masyarakat Muslim di Nusantara sebelum pelaksanaan Shalat Id melakukan bersih-bersih masjid, mengecat, semua dilakukan secara gotong-royong,” katanya. 

Semua berubah menjadi baru dan hati jadi suci, jiwa kembali fitri. “Semua jadi baru, termasuk masjidnya kita bersama-sama renovasi jadi baru kembali lewat program Bedah Rumah Ibadah atau Berubah,” tutur Ajat.

Salah satu penerima manfaat program ini, imam Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq di Desa Karangturi Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas, Syeful Mukarom, menyampaikan terima kasih kepada NU Care-LAZISNU dan Alfamidi atas bantuan renovasi di masjid tersebut.

“Terima kasih. Bantuannya sangat bermanfaat bagi jamaah masjid di sini. Semoga mendapat berkah dari Allah, amin,” ucapnya. (Wahyu Noerhadi/Ibnu Nawawi)

Senin 3 Juni 2019 20:25 WIB
Maafkan Mereka yang Berbuat Jahat Meski Sulit
Maafkan Mereka yang Berbuat Jahat Meski Sulit
Jakarta, NU Online
Ulama Tafsir Indonesia, Profesor Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa tidak mudah menghadapi segala sesuatu dengan lapang dada. Apalagi memaafkan dan berbuat baik kepada mereka yang melakukan kejahatan.

"Kendati tidak mudah, bukan berarti tidak bisa dilakukan," ucap Prof Quraish dikutip NU Online, Senin (3/6) dalam program Mutiara Hati yang rutin tayang di stasiun televisi SCTV selama Ramadhan.

Ada dua kiat yang dibeberkan Quraish Shihab agar bisa memaafkan orang lain yang telah berbuat jahat. Pertama, tanamkanlah pencerahan pikiran dan hati agar menyadari bahwa yang bersalah adalah manusia seperti kita.

"Selanjutnya, sadarilah bahwa sebuah kesalahan terjadi karena dorongan nafsu yang muncul dari dalam diri pelaku atau dorongan luar. Jika demikian, kecamlah dorongan buruk itu, namun bukan pelakunya. Karena dia hanya korban," jelas pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) ini.

Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah ini menjelaskan, sebenarnya ada tingkatan yang lebih tinggi daripada sekadar memberi dan meminta maaf (dijelaskan di bagian akhir tulisan ini).

Hal tersebut akan terlihat jelas ketika seseorang memahami apa itu istilah maaf. Kata maaf  berasal dari Al-Qur’an al-afwu yang berarti menghapus, karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya.

Menurutnya, bukan memaafkan namanya jika masih tersisa bekas luka di hati dan jika masih ada dendam yang membara dalam hatinya. Boleh jadi ketika itu apa yang dilakukannya baru sampai pada tahap menahan amarah.

“Artinya, jika manusia mampu berusaha menghilangkan segala noda atau bekas luka di hatinya, maka dia baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain atas kesalahannya,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Bayt Al-Qur’an ini.

Oleh karena itu, imbuhnya, syariat secara prinsip mengajarkan bahwa seseorang yang memohon maaf atas kesalahnnya kepada orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya.

“Kalau berupa materi, maka materinya dikembalikan, dan kalau bukan materi, maka kesalahan yang dilakukan itu dijelaskan kepada yang dimohonkan maafnya,” terang Prof Quraish.

Keterangan tersebut, lanjutnya, juga menjadi syarat bertaubat seorang hamba kepada Tuhannya. Taubat menuntut penyesalan yang mendalam atas segala salah, khilaf, dan dosa yang diperbuat seorang hamba.

“Esensi taubat juga bukan hanya satu arah saja, yakni hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengubah perilaku sosialnya di tengah masyarakat menjadi laku yang positif,” tandasnya. (Fathoni)
Senin 3 Juni 2019 19:0 WIB
Istikmal, Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1440 H Rabu 5 Juni
Istikmal, Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1440 H Rabu 5 Juni
Lukman Hakim Saifuddin. (Foto: Kemenag)
Jakarta, NU Online
Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019. Ketetapan ini disampaikan selepas menggelar sidang itsbat di Jakarta yang digelar pada Senin (3/6) petang.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang memimpin sidang itsbat menjelaskan, posisi hilal yang berada di bawah ufuk dilihat dari seluruh penjuru tanah air, dengan tinggi minus 1 derajat 26 menit sampai dengan minus 0 derajat 6 menit.

Tim falakiyah Kemenag di 105 titik seluruh wilayah tanah air dari Aceh hingga Papua, bekerja di bawah, juga melaporkan bahwa tidak satu pun di antara mereka yang berhasil melihat hilal. 

Keputusan ini juga selaras dengan prediksi data hisab Lembaga Falakiyah PBNU untuk markaz Jakarta yang mengungkapkan, Senin hari ini konjungsi atau ijtima' terjadi pada pukul 17:01:42 WIB. Tinggi hilal minus 0 derajat 14 menit 57 detik. Secara teoritis, hilal dalam posisi di bawah ufuk semacam ini sangat sukar terlihat.

Dengan demikian, bulan Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal), dan umat Islam masih harus berpuasa satu hari lagi, Selasa (4/6) esok.

Sidang itsbat diikuti para utusan ormas Islam, pimpinan pondok pesantren, ahli astronomi, delegasi negara-negara sahabat, dan anggota DPR RI. 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga mengumumkan, awal bulan Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019. Ikhbar ini berdasarkan hasil obvervasi para tim rukyat NU di berbagai daerah pada Senin (3/6) petang, yang tak berhasil melihat hilal.

Ikhbar PBNU tertuang dalam surat bernomor 3547/C.I.34/06/2019 yang ditandatangani Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini.

PBNU juga mengimbau umat Islam, khususnya warga NU, untuk menyempurnakan puasa yang tinggal satu hari lagi, dan merayakan hari raya Idul Fitri pada tanggal 5 Juni 2019. “Selamat merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1440 H, dengan penuh suka cita. Mohon maaf lahir dan batin,” tulis surat tersebut. (Mahbib)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG