IMG-LOGO
Nasional

3 Tips Sehat Santap Opor Ayam saat Lebaran Menurut Kedokteran

Selasa 4 Juni 2019 20:0 WIB
Bagikan:
3 Tips Sehat Santap Opor Ayam saat Lebaran Menurut Kedokteran
Ilustrasi (via Pinterest)
Berkumpul dengan keluarga tentu menjadi salah satu agenda utama kebanyakan orang setiap lebaran tiba. Acara kumpul-kumpul semacam ini rasanya tidak lengkap tanpa makanan khas hari raya, seperti ketupat sayur, sambal goreng ati, opor ayam, sate, dan lain-lain. Tanpa disadari, sebagian besar makanan enak ini terbuat dari bahan-bahan kurang sehat seperti minyak yang terlalu banyak, lemak berlimpah, daging bertebaran, hingga santan kental dan tinggi kolesterol. 

Bagi sebagian orang, terutama anak muda, mengonsumsi aneka makanan sarat lemak jenuh ini tidak akan menimbulkan masalah serius, terutama dalam jangka pendek. Namun, bagi mereka yang sudah berumur, pilih-pilih makanan adalah hal wajib yang tidak bisa dihindari jika ingin aktivitas silaturahim tidak terganggu hanya disebabkan encok dan pegel linu. 

Diakui atau tidak, menghindari makanan enak ini saat hari raya adalah hal yang mustahil sedangkan menjaga kesehatan adalah kebutuhan wajib sehingga perlu strategi dan trik-trik sederhana dalam menyantap enaknya makanan lebaran ini tanpa khawatir kesehatan terganggu. Strategi ini secara ringkas disingkat menjadi 3K yaitu kenali, kontrol dan kompensasi. Mari kita bahas satu per satu.

Pertama, kenali. 

Pada tahap ini ada dua hal penting yang perlu diketahui, yaitu kenal diri sendiri dan kenal dengan makanan yang akan disantap. Mengenali diri sendiri berarti mengetahui ada di tingkat mana level kesehatan kita. Apakah pada risiko ringan-sedang (umur <40 tahun) sedang-berat (umur 40-60 tahun) ataupun berat (umur >60 th). 

Kita harus sadar potensi gangguan kesehatan pada pribadi kita masing-masing pribadi kita saat ini. Hal ini bisa diamati dari kondisi kesehatan dalam beberapa bulan terakhir, seperti apakah ada tanda-tanda ke arah darah tinggi, asam urat, kolesterol maupun yang lain atau malah justru sudah terdiagnosis demikian?.  Hal ini tentunya sangat berguna dalam menentukan makanan apa yang cocok bagi tubuh kita. 

Jika sudah kenal dengan diri sendiri selanjutnya adalah mengenali bahan makanan yang ingin disantap. Fungsinya untuk mengurangi makanan-makanan yang khas yang berdampak pada gangguan kesehatan pribadi masing-masing. Bebarapa makanan khas yang berhubungan dengan kondisi kesehatan tertentu adalah: 

a. Mengurangi makanan tinggi garam bagi penderita darah tinggi dan gangguan ginjal.

b. Mengurangi makanan berlemak, otak, jeroan dan sejenisnya bagi penderita kolesterol tinggi dan perlemakan hati.

c. Mengurangi biji-bijian seperti kacang goreng dan emping bagi penderita asam urat tinggi.


Kedua, kontrol.

Selain alergi dan tidak halal, sebenarnya tidak ada makanan yang benar-benar dilarang secara mutlak untuk dikonsumsi tubuh. Mengonsumsi makanan "berbahaya" dalam jumlah minimal dan terkendali masih ditoleransi dalam dunia medis. Yang sangat tidak diperbolehkan adalah jika cara konsumsi makanan ini menjadi terstruktur, sistematis, masif dan ugal-ugalan sehingga menimbulkan disease power atau kesempatan para penyakit untuk memberontak tubuh. 

Alangkah baiknya kita menyantap makanan saat hari raya dalam porsi yang sedang-sedang saja. Kurang lebih seperti dalam kita beragama, tidak ekstrim kanan dan tidjak juga ekstrim kiri. Sholat itu ibadah, tapi kalau sampai lupa anak istri itu toxic namanya. Sama seperti makan. Makan itu kebutuhan tapi apabila sampai sepuluh kali sehari itu ugal-ugalan namanya. 

Pada tahap kontrol ini 100% dibutuhkan kesadaran dari para pembaca sendiri dalam membatasi asupan makanan yang masuk sehingga tidak berlebihan. Sudah diperbolehkan makan sebaiknya tidak sampai kelewatan batas. 

Ketiga, kompensasi.

Dengan banyaknya bahan sumber penyakit yang masuk tubuh, maka diperlukan penyeimbang (balancer) berupa makanan dan aktivitas yang jauh lebih sehat dari biasanya. Oleh karena itu untuk mengimbangi konsumsi daging berlebih, selama lebaran, kita sebaiknya juga menaikkan frekwensi makan buah dan sayur. Tidak perlu buah-buah yang mahal, jeruk yang banyak di pasar sudah cukup untuk menambah antioksidan tubuh. Antioksidan ini selain berfungsi sebagai penambah daya tahan tubuh juga sebagai penggempur radikal bebas yang merusak pembuluh darah. 

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah konsumsi air putih. Setelah 1 bulan dihajar kolak dan dawet, sebaiknya kita tidak pernah kekurangan konsumsi air putih agar fungsi ginjal tetap bertahan baik dalam jangka waktu lama. Indikatornya apa sih dok? Gampang saja, jika air kencing anda sebening air itu tandanya air putih yang anda konsumsi cukup. Namun jika menguning atau bahkan menjadi pekat maka anda perlu hati-hati jangan sampai jatuh kepada kondisi dehidrasi. Kondisi dehidrasi dalam waktu dekat akan membuat anda letih lemah lesu lungset dan seterusnya, tapi dalam jangka panjang dapat memperpendek umur fungsi ginjal optimal. 

Selain kompenasai makanan, tambahan aktivitas fisik seperti jalan pagi atau jogging, senam dan bahkan badminton penting untuk diperhatikan juga. Hal ini berfungsi untuk mempercepat pembakaran kalori tubuh sehingga tidak banyak yang mengendap di perut sehingga bisa menjadikan perut buncit. 

Sebagai tambahan, bagi para penderita diabetes melitus disarankan tetap mengikuti protokol diet yang ada. Karena pada penderita diabetes melitus ini kadar gula dalam darah dapat berganti dengan cepat sehingga akan mempengaruhi fungsi-fungsi organ yang lain. 

Ringkasnya, prinsip "sak madya" atau "sekadarnya" ini sangat penting diterapkan dalam aktivitas "makan memakan" pada lebaran nanti. Pembersihan jiwa dan raga secara maksimal di bulan puasa sebaiknya menjadi pondasi bagus untuk menjaga kesehatan di 11 bulan berikutnya.


dr. Muchammad Zamroni, alumni Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan, Jawa Tengah

Tags:
Bagikan:
Selasa 4 Juni 2019 21:10 WIB
Menahan Amarah, Ciri Orang Bertakwa
Menahan Amarah, Ciri Orang Bertakwa
M. Quraish Shihab (istimewa)
Jakarta, NU Online
Pakar Tafsir Al-Qur’an Profesor Muhammad Quraish Shihab menyebut bahwa salah satu ciri orang-orang bertakwa salah satunya ialah mampu menahan amarah.

"Menahannya bukan berarti tidak marah dan bukan juga berarti tidak memaafkan. Tapi menahannya untuk berpikir," ujar Prof Quraish dikutip NU Online, Selasa (4/6) dalam program Mutiara Hati yang tayang di stasiun televisi SCTV.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Bayt Al-Qur’an ini, jika manusia sedang menahan amarah, usahakan jangan sampai terlihat air muka.

"Kalaupun terpaksa terlihat, maka jangan lidah ikut berucap. Kalau itu pun terpaksa, maka ucapkanlah yang baik," tutur penulis Kitab Tafsir Al-Misbah ini.

"Kalau terpaksa berucap tak baik, maka jangan melampau batas apalagi menggunakan tangan," sambungnya.

Prof Quraish juga menegaskan bahwa predikat takwa tak bisa dilepaskan dari ibadah puasa. Ia mengurai sejumlah catatan terkait puasa di bulan suci ramadhan. Menurutnya, secara umum ibadah puasa bertujuan untuk meraih takwa. Hal itu sesuai yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183.

“Takwa hakikatnya menghimpun segala macam kebijakan dan kebajikan,” ujarnya.

Terkait hakikat takwa tersebut, lanjut Prof Quraish, secara singkat dalam konteks ibadah, ibadah termasuk puasa bertujuan mengingatkan manusia akan dua hakikat yang harus dihayati dalam kehidupan ini.

Pertama, manusia adalah makhluk dwi dimensi yang terdiri dari jasad dan roh. Ibadah puasa dan semua ibadah hendaknya juga sebagai pengingat bahwa kita perlu memberi perhatian pada jasmani serta wajib mengasah dan mengasuh rohani.

Kedua, mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya sekarang dan di sini, di dunia. Tetapi hidup berlanjut hingga ke akhirat nanti. Dari sini dapat dikatakan, bahwa setiap kewajiban dan anjuran yang ditetapkan dalam konteks berpuasa punya makna yang mendalam dan mendapat perhatian.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian juga ialah melakukan intropeksi terhadap puasa yang telah seseorang lakukan kemarin. Apa kekurangannya untuk disempurnakan dan apa kebaikannya untuk ditingkatkan.

Salah satu yang hendaknya diingat oleh setiap yang berpuasa, menurutnya, dengan sukses berpuasa, dia sebenarnya telah sukses menghindarkan paksaan kebiasaan.

Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah ini juga menyebut bahwa puasa merupakan salah satu ibadah yang berusaha mewujudkan sifat-sifat Allah sesuai kadar dan kemampuan makhluk. Karena Allah tidak makan, tidak minum, tidak berpasangan, dan lain-lain. (Fathoni)
Selasa 4 Juni 2019 18:30 WIB
Pesan Idul Fitri Presiden Jokowi: Jaga Persatuan, Majukan Negeri
Pesan Idul Fitri Presiden Jokowi: Jaga Persatuan, Majukan Negeri
Presiden Joko Widodo (Setneg)
Jakarta, NU Online
Kebahagiaan menyelimuti hari kemenangan dalam momen Idul Fitri. Sebab itu Islam mengajarkan untuk berbagi kebahagiaan di hari yang fitri tersebut. Berbagai merupakan satu modal penting dalam membangun persatuan dan bersama-sama membangun negeri.

Pesan tersebut disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 H. Pesan tersebut disampaikan Presiden bersamaan ketika dirinya memantau para pemudik lebaran, Selasa (4/6).

“Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga. Mari jadikan momen Idul Fitri untuk kembali membangun dan mempererat persatuan kita,” ujar Jokowi.

Mantan Wali Kota Solo ini juga mengajak kepada seluruh bangsa Indonesia untuk bersama-sama membangun negeri berangkat dari semangat Idul Fitri.

“Dalam momen Idul Fitri ini juga, mari kita membangun bersama bangsa dan negara tercinta ini agar tercipta kemajuan negeri,” tuturnya.

Presiden Jokowi akan menggelar open house dan halal bihalal pada hari pertama Idul Fitri di Istana Negara. Open house dibagi dalam dua sesi, yaitu pukul 09.00 WIB hingga 10.00 WIB untuk pejabat negara dan pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB untuk masyarakat umum.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019. Ketetapan ini disampaikan selepas menggelar sidang itsbat di Jakarta yang digelar pada Senin (3/6) petang.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang memimpin sidang itsbat menjelaskan, posisi hilal yang berada di bawah ufuk dilihat dari seluruh penjuru tanah air, dengan tinggi minus 1 derajat 26 menit sampai dengan minus 0 derajat 6 menit.

Tim Falakiyah Kemenag di 105 titik seluruh wilayah tanah air dari Aceh hingga Papua, bekerja di bawah, juga melaporkan bahwa tidak satu pun di antara mereka yang berhasil melihat hilal.

Keputusan ini juga selaras dengan prediksi data hisab Lembaga Falakiyah PBNU untuk markaz Jakarta yang mengungkapkan, Senin hari ini konjungsi atau ijtima' terjadi pada pukul 17:01:42 WIB. Tinggi hilal minus 0 derajat 14 menit 57 detik.

Secara teoritis, hilal dalam posisi di bawah ufuk semacam ini sangat sukar terlihat. Dengan demikian, bulan Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga mengumumkan, awal bulan Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019. Ikhbar ini berdasarkan hasil obvervasi tim rukyat NU di berbagai daerah pada Senin (3/6) petang yang tak berhasil melihat hilal. (Fathoni)
Selasa 4 Juni 2019 18:15 WIB
PBNU Sampaikan Pesan Idul Fitri: Jadikan Masa Lalu sebagai Pelajaran
PBNU Sampaikan Pesan Idul Fitri: Jadikan Masa Lalu sebagai Pelajaran
Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menyampaikan selamat hari raya Idul Fitri kepada seluruh Muslimin dan Muslimat. Ditemui NU Online  di ruang kerjanya, kantor PBNU,  Selasa (4/6) petang dirinya memberikan ucapan dan nasihat.

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh. Bimunāsabati hulūli ‘iedil fitril mubārak sanata 1440 hijriyah, naqūlu lakum ja’alnallāhu lakum minal ‘āidin wal fāizin, taqabbalallāhu minna wa minkum ajma’in, kulla ‘āmin wa antum bikhair,” buka Kiai Said, dalam bahasa Arab.

Beliau melanjutkan dalam bahasa Indonesia. “Saya atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengucapkan: Selamat Idul Fitri MubaraK tahun 1440 Hijriyah. Semoga, amal ibadah puasa kita  dan semua ibadah selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah sebagai amal shālih, yang menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa kepada Allah. Dan semoga ke depan kita lebih berkualitas lagi, lebih bersemangat lagi dalam ibadah, dalam berbakti kepada agama, bangsa, dan negara,” harapnya.

Tak hanya itu. Kiai yang kerap kali diminta membimbing nonmuslim menjadi mualaf ini pun mengajak kita semua untuk ber-muqaarabah.

“Mari kita jadikan masa lalu sebagai pelajaran yang bisa dijadikan pijakan untuk semakin meningkatkan karakter kita, kepribadian kita di masa mendatang. Itu namanya: muraaqabah. Ke depan, harus lebih baik daripada yang sudah lewat. Kulla ‘āmin wa antum bikhair. Mohon maaf lahir batin. Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh,” pungkasnya. (Ahmad Naufa/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG