IMG-LOGO
Daerah

Syawalan di Pekalongan Identik dengan Lopis

Senin 10 Juni 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Syawalan di Pekalongan Identik dengan Lopis
Ust. Adi Sijadi saat memasak lopis raksasa tahun 2018
Pekalongan, NU Online
Syawalan di Kota Pekalongan tinggal beberapa hari lagi, tepatnya Rabu (12/6). Suatu momen yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Hari itu suasana di Kelurahan Krapyak Kecamatan Pekalongan Utara tempat diselenggarakannya 'pesta lopis' akan penuh sesak oleh ribuan masyarakat untuk merayakannya.

Bahkan suasana syawalan lebih heboh dan ramai dibanding lebaran itu sendiri. Masyarakat dari berbagai penjuru berbondong bondong sejak subuh menuju ke satu titik, yakni Kelurahan Krapyak (dulu ada dua kelurahan yakni Krapyak Lor dan Krapyak idul) untuk menikmati hidangan warga yang sengaja disuguhkan oleh tuan rumah.

Tradisi syawalan yang rutin dilakukan oleh masyarakat di wilayah Kelurahan Krapyak menurut Aktivis Ansor Krapyak Adi Sujadi sudah berlangsung sejak ratusan silam, yakni sekitar tahun 1885. "Orang yang pertama kali memelopori perayaan syawalan adalah KH Abdullah Sirodj, ulama Krapyak yang masih keturunan Tumenggung Bahurekso, salah satu Senopati Kerajaan Mataram di Pekalongan," ujarnya.

Dijelaskan, menurut Ustadz Abdurrochim Umar, salah seorang cucu Kiai Abdullah Sirodj, awalnya KH Abdullah Sirodj rutin melaksanakan puasa Syawal, yaitu sehari setelah lebaran pertama atau tanggal 2 hingga 7 syawal. Puasa ini kemudian diikuti oleh sebagian masyarakat di sekitar krapyak. 

"Tradisi puasa setelah lebaran ini kemudian diketahui oleh masyarakat di luar Krapyak, sehingga meskipun hari raya, mereka tidak berkunjung atau bersilaturahmi ke sana demi menghormati masyarakat Krapyak yang masih melanjutkan ibadah puasa Syawal," tandasnya.

Aktivis Ansor yang biasa dipanggil Ustadz Adi ini menjelaskan, pada 1855 Kiai Abdullah Sirodj mendirikan sebuah organisasi bernama Warroqotul Islam. Organisasi ini bertujuan menggembleng para pemuda baik jasmani maupun rohani sebagai upaya persiapan melawan kompeni Belanda.

"Baru berjalan beberapa bulan, organisasi yang memiliki anggota 160 pemuda ini telah tercium oleh mata-mata Belanda, sehingga kemudian kompeni Belanda berniat menangkap Kiai Abdullah Sirodj hidup atau mati," ungkapnya.

Mengingat organisasi Warroqotul Islam ini belum begitu kuat, salah seorang santrinya kemudian mengusulkan agar Kiai Abdullah Sirodj meninggalkan Pekalongan dan hijrah ke daerah Payaman Magelang.

Menurut Ustadz Adi, yang menjadi khas dalam tradisi syawalan di Krapyak Pekalongan adalah disajikannya makanan berupa lopis, semacam kudapan yang terbuat dari ketan. Mengapa yang dibuat pada waktu syawalan adalah lopis bukan ketupat, hal ini sebagai tanda yang membedakan antara tanggal 1 Syawal dengan 8 Syawal.

"Kalau tanggal 1 Syawal ya tentu sebagian besar orang akan memasak ketupat. Nah sebagai pembeda maka masyarakat Krapyak membuat lopis," ungkapnya.

Lalu mengapa dulu Kiai Abdullah Sirodj memilih lopis sebagai simbol dalam acara syawalan ini? Menurut Kiai Haji Zainudin Ismail, tokoh masyarakat Krapyak, lopis yang terbuat dari bahan dasar beras ketan memiliki daya rekat yang kuat, sehingga makanan ini diibaratkan sebagai lambang persatuan warga.

"Dulu waktu Presiden Bung Karno datang dalam rapat Akbar di lapangan Kebon Rodjo tahun 1950, beliau berpesan agar rakyat Pekalongan bersatu seperti lopis, sehingga kemudian setiap syawalan kita selalu memotong lopis," pungkasnya. (Muiz)
Bagikan:
Senin 10 Juni 2019 23:0 WIB
Halal Bi Halal Karya Cerdas Ulama Indonesia
Halal Bi Halal Karya Cerdas Ulama Indonesia
Rais PCNU Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani
Cirebon, NU Online
Setelah Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia tak lupa menggelar kegiatan Halal Bi Halal sebagai sarana maaf-maafan.

"Halal bi halal karya cerdas Ulama Indonesia," ujar Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Indonesia (PCNU) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat KH Wawan Arwani Amin saat memberikan ceramah pada halal bi halal Desa Keduanan, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Ahad (9/6).

Kiai Wawan menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut menjalin silaturahim. Pertemuan tersebut juga menghasilkan pertukaran pikiran. "Silatul afkar, tukar pikiran. Ada diskusi ilmiahnya," ujarnya.

Dari pertukaran pikiran itu, kata Kiai Wawan, supaya berlanjut pada silatul a'mal, penerapan amalan ajaran Islam. Begitulah hebatnya ulama Indonesia, jelasnya, dalam memahami ajaran Islam luar biasa. "Jadi, tidak harus ada di Arabnya," tandasnya.

Pengasuh Pesantren Nur Arwani, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat itu mengungkapkan bahwa meskipun hal tersebut tidak dilakukan Nabi, tetapi bukan berarti dilarang. "Tidak serta merta dilarang semua hal yang tidak diawali Nabi," katanya.

Mengutip Imam Syafi'i, Kiai Wawan menyebut bahwa tidak semua yang bid'ah itu sesat, buruk, dan masuk neraka. Pasalnya, Nabi beberapa kali membolehkan bahkan memuji perilaku tersebut.

Setidaknya, Kiai Wawan mencontohkan tiga hal. Pertama shalat sunah wudlu. Shalat itu diawali oleh Sahabat Bilal bin Rabah. Saat duduk-duduk bareng Nabi Muhammad SAW, Nabi bercerita mendengar suara langkah sandal Bilal di surga saat memandang ke langit.

Lalu, Nabi pun bertanya ke Sahabat Bilal terkait amal ibadah apa yang istiqamah ia lakukan. Bilal pun mengaku tidak punya amal apapun. Namun, ia mengungkapkan bahwa ia sayang jika wudlu tak dilanjutkan dengan shalat. "Kalau yang dilakukan sahabat Nabi itu salah pasti dilarang. Nyatanya, Nabi berkomentar dengan memujinya. 'Baik, banget'," jelasnya.

Selain itu, Nabi juga mengapresiasi seorang imam Masjid Quba yang selalu membaca surat Al-Ikhlas setiap rakaat kedua di saat para sahabat lainnya mengadu ke Nabi.

Imam masjid tersebut menjelaskan kepada Nabi bahwa ia senang dengan surat tersebut karena banyak menyebut asma-asma Allah sehingga mengantarkannya masuk surga. Di samping itu, sahabat juga makan daging dhab, sejenis biawak yang hanya bisa hidup di darat. Meski Nabi tidak memakan daging tersebut, Nabi juga tidak melarangnya. (Syakir NF/Muiz)
Senin 10 Juni 2019 22:0 WIB
Setelah Ramadhan Salurkan Donasi, LAZISNU Lasem Gelar Lebaran Bareng Yatim
Setelah Ramadhan Salurkan Donasi, LAZISNU Lasem Gelar Lebaran Bareng Yatim
Kegiatan santunan LAZISNU Lasem, Jateng
Rembang, NU Online
Setelah bulan Ramadhan kemarin Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Lasem, Jawa Tengah menyalurkan donasi untuk pelajar di lingkungan LP Ma'arif NU. Pada Idul Fitri ini akan menggelar lebaran bersama dengan Yatim Piatu dan masyarakat miskin.

Ketua PC LAZISNU Lasem, Abdullah kepada NU Online, Senin (10/6)  mengatakan, sebagai langkah awal pada bulan Ramadhan kemarin pihaknya telah menyalurkan donasi kepada pelajar di bawah naungan LP Ma'arif NU. "Setelah penyaluran donas kepada anak pelajar, pada lebaran ini kami akan menggelar halal bi halal bersama anak yatim piatu dan masyarakat miskin di Lasem," ujarnya.

Dikatakan, berbagi antar sesama dan keberkahan adalah representasi dari kehidupan sosial keagamaan di Nusantara yang sudah turun temurun sejak dulu. Oleh karena itu pihaknya akan terus berusaha untuk terlibat dalam membantu masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan melalui LAZISNU.

"Kami juga menerima zakat, infaq, dan sedekah yang kemudian akan kami sampaikan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan guna menunjang kesejahteraan hidup mereka," jelas Abdullah.

Ia mengungkapkan bahwa tahap pertama penyaluran sudah tersampaikan di bulan Ramadhan kemarin. untuk waktu dekat ini pihaknya akan mengadakan evaluasi kemudian pada program selanjutnya akan mengundang masyarakat kurang mampu dan anak yatim dalam kegiatan lebaran bersama.  

"Program lebaran bersama anak yatim dan masyarakat miskin diharapkan  dapat lebih mendekatkan dengan umat, berbagi keberkahan, dan menciptakan kebahagiaan bagi semua. Adapun bantuan yang akan diberikan dapat berupa santunan anak yatim, bingkisan lebaran, dan bentuk lainnya," paparnya.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lasem KH Solahuddin Fatawi mengapresiasi terhadap kegiatan tahap pertama penyaluran yang dilakukan LAZISNU Lasem pada bulan Ramadhan kemarin. "Kami turut bergembira terhadap apa yang telah dilakukan LAZISNU Lasem dalam menyampaikan amanat penyaluran Zakat, Infaq, dan Sedekah pada bulan Ramadhan kemarin," ujarnya. 

Kami meyakini, lanjutnya, bahwa keberkahan akan selalu menyelimuti Lembaga penyaluran ini mengingat NU sendiri selalu didoakan oleh para ulama dan kiai. 

"Saya berharap LAZISNU Lasem lebih giat lagi dalam menggali dan menghimpun donasi baik dari para muzakki, aghniya, maupun perusahaan-perusahaan melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Sehingga LAZISNU bisa lebih banyak membantu masyarakat di Lasem," pungkasnya. (Misbah/Muiz)

 
Senin 10 Juni 2019 21:0 WIB
Kearifan Lokal Itu Bernama Ziarah Kubur
Kearifan Lokal Itu Bernama Ziarah Kubur
Jember, NU Online
Menjelang dan usai Idul Fitri, suasana pesarean atau makam leluhur kian ramai didatangi keluarga. Yang hadir tidak hanya kalangan tua, juga tidak sedikit mereka dari kalangan muda bahkan anak-anak.

“Kalau dalam istilah Jawa, ziarah kubur itu agar mereka tidak kepaten obor,” kata Rijal Mumazziq Z, Ahad (9/6).

Karenanya, orang Jawa menyarankan agar menzarahi pusara leluhur baik  orang tua, kakek, buyut, dan seterusnya. “Agar tahu asal dan jati diri,” jelasnya. 

Bulan perziarahan biasanya digelar pada Sya'ban, atau dalam kalender Jawa disebut Ruwah. “Konon, Ruwah berasal dari istilah arwah, jamaknya ruh,” ungkapnya.

Di bulan Ruwah, menjelang Ramadhan atau Sasi Poso, digelar tradisi Nyadran alias Sadran atau ziarah ke makam leluhur. “Yakni mendoakan arwah mereka sekaligus membersihkan pusaranya. Soal pusara alias makam, orang Jawa memang tidak bisa dipisahkan dari perkara ini,” kata Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah atau Inaifas, Kecong, Jember, Jawa Timur tersebut..

Soal makam leluhur, orang Jawa memang sensitif. “Di antara sebab musabab Perang Jawa adalah saat kompeni membangun jalan yang bakal melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro,” jelasnya. 

Provokasi terselubung dari kompeni ini jelas penghinaan. Demikian pula para korban pembangunan Waduk Kedungombo di tahun 1980-an. “Mereka enggan direlokasi karena, di antara alasannya, tidak mau berpisah dengan makam para leluhurnya,” katanya.

Ke manapun dan di manapun hidup, manakala pulang ke kampung kelahiran, seorang Jawa bisa langsung menziarahi pusara orangtua dan leluhurnya. “Semacam terjadi prinsip boomerang bahwa semakin keras dan jauh dilempar, semakin cepat berbalik,” paparnya. 

Bahkan, di antara yang dicurhatkan para eksil yang berdiaspora di Eropa pasca 1965, adalah kerinduan terhadap keluarga serta makam leluhurnya.

Kondisi ini juga dialami kalangan santri. “Makam guru menjadi penanda identitas asal keilmuan dan awal pembentukan karakter,” tandasnya. 

Sehingga, jika ada santri lalu hilang identitas kesantriannya, biasanya salah satu faktornya tidak pernah menziarahi pusara guru-gurunya. “Ibarat pasir, dia menjauh dari magnet lalu kehilangan daya tarik. Semakin menjauh, semakin melayang kena hempasan angin,” katanya member tamsil.

Oleh sebab itu kalau tetap ingin berada di poros yang telah digariskan oleh para guru, Rijal menyarankan jangan pernah lupa mengirim mereka, dan pilih waktu terbaik menziarahi pusaranya. “Mendekat dengan magnet kita, mendekat dengan cahaya, biar tidak kepaten obor,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG