IMG-LOGO
Daerah

Lesbumi Bangkitkan Bahasa Asli Pekalongan Sebagai Identitas Daerah

Senin 10 Juni 2019 18:0 WIB
Bagikan:
Lesbumi Bangkitkan Bahasa Asli Pekalongan Sebagai Identitas Daerah
Bupati Pekalongan, H Asif Kholbihi (baju putih)
Pekalongan, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah Eko Ahmadi berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan serius untuk membangun tidak hanya infrastruktur fisik saja, akan tetapi juga infrastruktur budaya untuk meningkatkan karakter kebudayaan di Kabupaten Pekalongan.  

“Untuk bahasa, kita ingin mengembalikan bahasa asli Pekalongan sebagai identitas orang Pekalongan," ujarnya saat menggelar halal bi halal bersama 30 komunitas klub motor di bawah naungan Lesbumi dengan nama bikers bumi santri yang merupakan wadah para klub bikers yang ada di Kabupaten Pekalongan, Ahad (9/6).

Dikatakan, tanpa adanya bahasa Pekalongan kita nanti tidak ada identitas Pekalongannya, masa orang Pekalongan untuk komunikasi sehari-hari memakai bahasa indonesia, harusnya orang Pekalongan ngomongnya pakai bahasa Pekalongan. 

"Seperti bahasa daerah lain yang terus dilestarikan. Itu merupakan kearifan lokal yang akan membentuk karakter masyarakatnya supaya menjadi jiwa-jiwa yang sesuai para leluhur untuk menjadi manusia yang seutuhnya," papar Gus Eko pangggilan akrabnya.

Bupati Pekalongan H Asif Kholbihi menerangkan, di Kabupaten Pekalongan ada 3 wilayah yang memunculkan kerangka budaya yang beraneka ragam, ada wilayah pantai atau pesisir yang budayanya dipengaruhi oleh imigran dari negara lain, ada juga wilayah tengah kawasan sawah dan ladang untuk budaya lokal, dan juga wilayah atas atau pegunungan untuk akulturasi budaya.

"Wilayah Kabupaten Pekalongan sendiri sebenarnya kaya akan kesenian seperti kuntulan, kuda lumping, rebana berbagai variasi, dan berbagai seni tari," jelasnya. 

Dikatakan, dengan adanya Lesbumi, diharapkan bisa untuk menyatukan dan menguatkan subtansi budaya yang ada untuk tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam.

“Budaya dikembangkan untuk memupuk rasa saling menghargai dan rasa persatuan. Bagi saya budaya ini merupakan modal untuk pembangunan, karena jika membangun infrastruktur tanpa memperhatikan budaya nanti akan menghasilkan program yang egoistik, lain halnya dengan menggandeng budaya akan lebih arif dan lebih bijaksana,” ucap Bupati Asip.

Dijelaskan Eko, ke depan Lesbumi juga akan silaturahim ke para anggota dewan yang terpilih untuk mereview kembali apa yang pernah disampaikan dalam audiensi, tentang strategi kebudayaan dan program kebudayaan. "Semoga ke depan tidak hanya sekedar even saja tetapi ada juga pelatihan seperti literasi budaya, kemah budaya, sinematografi, dan  dokumentasi budaya audio visual tentang kebudayaan Pekalongan sehingga bisa menjawab tantangan zaman.

Dalam acara tersebut hadir selain Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi dan juga Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan serta penampilan dari sanggar binaan yang berupa angklung, tari sintren santri dari sanggar mekar budaya Bojong dan tari sintren klasik dari sanggar windu aji Doro. (Muiz)
Bagikan:
Senin 10 Juni 2019 23:0 WIB
Halal Bi Halal Karya Cerdas Ulama Indonesia
Halal Bi Halal Karya Cerdas Ulama Indonesia
Rais PCNU Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani
Cirebon, NU Online
Setelah Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia tak lupa menggelar kegiatan Halal Bi Halal sebagai sarana maaf-maafan.

"Halal bi halal karya cerdas Ulama Indonesia," ujar Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Indonesia (PCNU) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat KH Wawan Arwani Amin saat memberikan ceramah pada halal bi halal Desa Keduanan, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Ahad (9/6).

Kiai Wawan menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut menjalin silaturahim. Pertemuan tersebut juga menghasilkan pertukaran pikiran. "Silatul afkar, tukar pikiran. Ada diskusi ilmiahnya," ujarnya.

Dari pertukaran pikiran itu, kata Kiai Wawan, supaya berlanjut pada silatul a'mal, penerapan amalan ajaran Islam. Begitulah hebatnya ulama Indonesia, jelasnya, dalam memahami ajaran Islam luar biasa. "Jadi, tidak harus ada di Arabnya," tandasnya.

Pengasuh Pesantren Nur Arwani, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat itu mengungkapkan bahwa meskipun hal tersebut tidak dilakukan Nabi, tetapi bukan berarti dilarang. "Tidak serta merta dilarang semua hal yang tidak diawali Nabi," katanya.

Mengutip Imam Syafi'i, Kiai Wawan menyebut bahwa tidak semua yang bid'ah itu sesat, buruk, dan masuk neraka. Pasalnya, Nabi beberapa kali membolehkan bahkan memuji perilaku tersebut.

Setidaknya, Kiai Wawan mencontohkan tiga hal. Pertama shalat sunah wudlu. Shalat itu diawali oleh Sahabat Bilal bin Rabah. Saat duduk-duduk bareng Nabi Muhammad SAW, Nabi bercerita mendengar suara langkah sandal Bilal di surga saat memandang ke langit.

Lalu, Nabi pun bertanya ke Sahabat Bilal terkait amal ibadah apa yang istiqamah ia lakukan. Bilal pun mengaku tidak punya amal apapun. Namun, ia mengungkapkan bahwa ia sayang jika wudlu tak dilanjutkan dengan shalat. "Kalau yang dilakukan sahabat Nabi itu salah pasti dilarang. Nyatanya, Nabi berkomentar dengan memujinya. 'Baik, banget'," jelasnya.

Selain itu, Nabi juga mengapresiasi seorang imam Masjid Quba yang selalu membaca surat Al-Ikhlas setiap rakaat kedua di saat para sahabat lainnya mengadu ke Nabi.

Imam masjid tersebut menjelaskan kepada Nabi bahwa ia senang dengan surat tersebut karena banyak menyebut asma-asma Allah sehingga mengantarkannya masuk surga. Di samping itu, sahabat juga makan daging dhab, sejenis biawak yang hanya bisa hidup di darat. Meski Nabi tidak memakan daging tersebut, Nabi juga tidak melarangnya. (Syakir NF/Muiz)
Senin 10 Juni 2019 22:0 WIB
Setelah Ramadhan Salurkan Donasi, LAZISNU Lasem Gelar Lebaran Bareng Yatim
Setelah Ramadhan Salurkan Donasi, LAZISNU Lasem Gelar Lebaran Bareng Yatim
Kegiatan santunan LAZISNU Lasem, Jateng
Rembang, NU Online
Setelah bulan Ramadhan kemarin Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Lasem, Jawa Tengah menyalurkan donasi untuk pelajar di lingkungan LP Ma'arif NU. Pada Idul Fitri ini akan menggelar lebaran bersama dengan Yatim Piatu dan masyarakat miskin.

Ketua PC LAZISNU Lasem, Abdullah kepada NU Online, Senin (10/6)  mengatakan, sebagai langkah awal pada bulan Ramadhan kemarin pihaknya telah menyalurkan donasi kepada pelajar di bawah naungan LP Ma'arif NU. "Setelah penyaluran donas kepada anak pelajar, pada lebaran ini kami akan menggelar halal bi halal bersama anak yatim piatu dan masyarakat miskin di Lasem," ujarnya.

Dikatakan, berbagi antar sesama dan keberkahan adalah representasi dari kehidupan sosial keagamaan di Nusantara yang sudah turun temurun sejak dulu. Oleh karena itu pihaknya akan terus berusaha untuk terlibat dalam membantu masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan melalui LAZISNU.

"Kami juga menerima zakat, infaq, dan sedekah yang kemudian akan kami sampaikan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan guna menunjang kesejahteraan hidup mereka," jelas Abdullah.

Ia mengungkapkan bahwa tahap pertama penyaluran sudah tersampaikan di bulan Ramadhan kemarin. untuk waktu dekat ini pihaknya akan mengadakan evaluasi kemudian pada program selanjutnya akan mengundang masyarakat kurang mampu dan anak yatim dalam kegiatan lebaran bersama.  

"Program lebaran bersama anak yatim dan masyarakat miskin diharapkan  dapat lebih mendekatkan dengan umat, berbagi keberkahan, dan menciptakan kebahagiaan bagi semua. Adapun bantuan yang akan diberikan dapat berupa santunan anak yatim, bingkisan lebaran, dan bentuk lainnya," paparnya.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lasem KH Solahuddin Fatawi mengapresiasi terhadap kegiatan tahap pertama penyaluran yang dilakukan LAZISNU Lasem pada bulan Ramadhan kemarin. "Kami turut bergembira terhadap apa yang telah dilakukan LAZISNU Lasem dalam menyampaikan amanat penyaluran Zakat, Infaq, dan Sedekah pada bulan Ramadhan kemarin," ujarnya. 

Kami meyakini, lanjutnya, bahwa keberkahan akan selalu menyelimuti Lembaga penyaluran ini mengingat NU sendiri selalu didoakan oleh para ulama dan kiai. 

"Saya berharap LAZISNU Lasem lebih giat lagi dalam menggali dan menghimpun donasi baik dari para muzakki, aghniya, maupun perusahaan-perusahaan melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Sehingga LAZISNU bisa lebih banyak membantu masyarakat di Lasem," pungkasnya. (Misbah/Muiz)

 
Senin 10 Juni 2019 21:0 WIB
Kearifan Lokal Itu Bernama Ziarah Kubur
Kearifan Lokal Itu Bernama Ziarah Kubur
Jember, NU Online
Menjelang dan usai Idul Fitri, suasana pesarean atau makam leluhur kian ramai didatangi keluarga. Yang hadir tidak hanya kalangan tua, juga tidak sedikit mereka dari kalangan muda bahkan anak-anak.

“Kalau dalam istilah Jawa, ziarah kubur itu agar mereka tidak kepaten obor,” kata Rijal Mumazziq Z, Ahad (9/6).

Karenanya, orang Jawa menyarankan agar menzarahi pusara leluhur baik  orang tua, kakek, buyut, dan seterusnya. “Agar tahu asal dan jati diri,” jelasnya. 

Bulan perziarahan biasanya digelar pada Sya'ban, atau dalam kalender Jawa disebut Ruwah. “Konon, Ruwah berasal dari istilah arwah, jamaknya ruh,” ungkapnya.

Di bulan Ruwah, menjelang Ramadhan atau Sasi Poso, digelar tradisi Nyadran alias Sadran atau ziarah ke makam leluhur. “Yakni mendoakan arwah mereka sekaligus membersihkan pusaranya. Soal pusara alias makam, orang Jawa memang tidak bisa dipisahkan dari perkara ini,” kata Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah atau Inaifas, Kecong, Jember, Jawa Timur tersebut..

Soal makam leluhur, orang Jawa memang sensitif. “Di antara sebab musabab Perang Jawa adalah saat kompeni membangun jalan yang bakal melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro,” jelasnya. 

Provokasi terselubung dari kompeni ini jelas penghinaan. Demikian pula para korban pembangunan Waduk Kedungombo di tahun 1980-an. “Mereka enggan direlokasi karena, di antara alasannya, tidak mau berpisah dengan makam para leluhurnya,” katanya.

Ke manapun dan di manapun hidup, manakala pulang ke kampung kelahiran, seorang Jawa bisa langsung menziarahi pusara orangtua dan leluhurnya. “Semacam terjadi prinsip boomerang bahwa semakin keras dan jauh dilempar, semakin cepat berbalik,” paparnya. 

Bahkan, di antara yang dicurhatkan para eksil yang berdiaspora di Eropa pasca 1965, adalah kerinduan terhadap keluarga serta makam leluhurnya.

Kondisi ini juga dialami kalangan santri. “Makam guru menjadi penanda identitas asal keilmuan dan awal pembentukan karakter,” tandasnya. 

Sehingga, jika ada santri lalu hilang identitas kesantriannya, biasanya salah satu faktornya tidak pernah menziarahi pusara guru-gurunya. “Ibarat pasir, dia menjauh dari magnet lalu kehilangan daya tarik. Semakin menjauh, semakin melayang kena hempasan angin,” katanya member tamsil.

Oleh sebab itu kalau tetap ingin berada di poros yang telah digariskan oleh para guru, Rijal menyarankan jangan pernah lupa mengirim mereka, dan pilih waktu terbaik menziarahi pusaranya. “Mendekat dengan magnet kita, mendekat dengan cahaya, biar tidak kepaten obor,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG