IMG-LOGO
Daerah

Empat Motivasi yang Hendaknya Ada Saat Ziarah Kubur

Senin 10 Juni 2019 19:0 WIB
Bagikan:
Empat Motivasi yang Hendaknya Ada Saat Ziarah Kubur
Surabaya, NU Online
Bagi KH Ma’ruf Khozin, kaum Muslimin hendaknya memiliki dorongan yang kuat ketika melukan ziarah kubur. Bukan semata mengikuti tren atau kegandrungan di masyarakat, namun ada landasan kuat yang mengiringi.

“Menurut Imam As-Subkti, ziaran kubur ada empat macam,” kata Ketua Pengurus Wilayah Aswaja NU Center Jawa Timur ini, Senin (10/6).

Penegasan ini disampaikannya ketika melakukan ziarah ke pesarean atau makam para pendahulu Pondok Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur. 

“Kiai Nurul Huda Jazuli sering berkirim fatihah dan tawassul dengan menyebut di antara Mbah Kiai Yahuda di atas bukit Pacitan dan putranya, Mbah Kiai Mesir di Trenggalek,” ungkapnya.

Menurutnya, dari Mbah Kiai Yahuda inilah lahir beberapa kiai pesantren. Selain Pesantren Ploso, juga Pondok Pesantren Jampes Kediri, dengan sosok ulama yang popular bernama Syekh Ihsan Jampes yang tidak lain adalah pensyarah kitab Imam Ghazali bernama Siraj Ath-Thalibin.

Dalam pandangan KH Ma’ruf Khozin, kala ziaran ke makam hendaknya dilandasi sejumlah motivasi. Pertama adalah untuk sekadar melihat kubur. “Yakni agar ingat mati,” jelas alumni Pesantren Ploso tersebut.

Sedangkan yang kedua hendaknya ada motivasi untuk mendoakan ahli kubur. “Hal ini sebagaimana Nabi Muhmaad SAW yang juga pernah mendoakan untuk penghuni makam Baqi,” urainya. Jenis motivasi kedua ini dianjurkan untuk setiap mayit yang Muslim, lanjutnya.

Adapun motivasi mengapa melakukan ziarah kubur untuk mencari berkah dari Allah. 

Kia Ma’ruf Khozin tidak menampik kalau ada pandangan dari Assarmasaji dari kalangan Madzhab Maliki yang mengatakan bid’ah jika melakukan ziarah kubur ke selain makam para Nabi. “Namun pendapat ini perlu ditinjau ulang,” sergahnya.

Sedangkan motivasi keempat ziarah karena ada ikatan seperti keluarga dan sejenisnya.

Mengutip pandangan dari kitab Faidl Al-Qadir, bahwa Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata ulama beda pendapat dalam hal melakukan perjalanan ke selain Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha, seperti ziarah ke ulama baik yang hidup atau sudah wafat, dan ke tempat utama dengan tujuan mencari berkah dari Allah serta shalat di tempat tersebut

“Pendapat yang sahih menurut Imam Haramain dan ulama lain dari madzhab Syafi'I, hal tersebut adalah tidak haram,” tegasnya.

Sedangkan dalam kitab Fathul Bari syarah Sahih al-Bukhari disebutkan bahwa ziarah dengan tujuan tabarruk ini memang dulunya ada sebagian yang menghukumi haram. Namun saat ini lebih parah ada yang menghukumi syirik.

"Benarkah demikian? Tidak benar. Sebab kami meyakini semua keberkahan adalah dari Allah,” pungkasnya sembari mengutip hadits riwayat Imam Bukhari. (Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Senin 10 Juni 2019 23:0 WIB
Halal Bi Halal Karya Cerdas Ulama Indonesia
Halal Bi Halal Karya Cerdas Ulama Indonesia
Rais PCNU Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani
Cirebon, NU Online
Setelah Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia tak lupa menggelar kegiatan Halal Bi Halal sebagai sarana maaf-maafan.

"Halal bi halal karya cerdas Ulama Indonesia," ujar Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Indonesia (PCNU) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat KH Wawan Arwani Amin saat memberikan ceramah pada halal bi halal Desa Keduanan, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Ahad (9/6).

Kiai Wawan menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut menjalin silaturahim. Pertemuan tersebut juga menghasilkan pertukaran pikiran. "Silatul afkar, tukar pikiran. Ada diskusi ilmiahnya," ujarnya.

Dari pertukaran pikiran itu, kata Kiai Wawan, supaya berlanjut pada silatul a'mal, penerapan amalan ajaran Islam. Begitulah hebatnya ulama Indonesia, jelasnya, dalam memahami ajaran Islam luar biasa. "Jadi, tidak harus ada di Arabnya," tandasnya.

Pengasuh Pesantren Nur Arwani, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat itu mengungkapkan bahwa meskipun hal tersebut tidak dilakukan Nabi, tetapi bukan berarti dilarang. "Tidak serta merta dilarang semua hal yang tidak diawali Nabi," katanya.

Mengutip Imam Syafi'i, Kiai Wawan menyebut bahwa tidak semua yang bid'ah itu sesat, buruk, dan masuk neraka. Pasalnya, Nabi beberapa kali membolehkan bahkan memuji perilaku tersebut.

Setidaknya, Kiai Wawan mencontohkan tiga hal. Pertama shalat sunah wudlu. Shalat itu diawali oleh Sahabat Bilal bin Rabah. Saat duduk-duduk bareng Nabi Muhammad SAW, Nabi bercerita mendengar suara langkah sandal Bilal di surga saat memandang ke langit.

Lalu, Nabi pun bertanya ke Sahabat Bilal terkait amal ibadah apa yang istiqamah ia lakukan. Bilal pun mengaku tidak punya amal apapun. Namun, ia mengungkapkan bahwa ia sayang jika wudlu tak dilanjutkan dengan shalat. "Kalau yang dilakukan sahabat Nabi itu salah pasti dilarang. Nyatanya, Nabi berkomentar dengan memujinya. 'Baik, banget'," jelasnya.

Selain itu, Nabi juga mengapresiasi seorang imam Masjid Quba yang selalu membaca surat Al-Ikhlas setiap rakaat kedua di saat para sahabat lainnya mengadu ke Nabi.

Imam masjid tersebut menjelaskan kepada Nabi bahwa ia senang dengan surat tersebut karena banyak menyebut asma-asma Allah sehingga mengantarkannya masuk surga. Di samping itu, sahabat juga makan daging dhab, sejenis biawak yang hanya bisa hidup di darat. Meski Nabi tidak memakan daging tersebut, Nabi juga tidak melarangnya. (Syakir NF/Muiz)
Senin 10 Juni 2019 22:0 WIB
Setelah Ramadhan Salurkan Donasi, LAZISNU Lasem Gelar Lebaran Bareng Yatim
Setelah Ramadhan Salurkan Donasi, LAZISNU Lasem Gelar Lebaran Bareng Yatim
Kegiatan santunan LAZISNU Lasem, Jateng
Rembang, NU Online
Setelah bulan Ramadhan kemarin Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Lasem, Jawa Tengah menyalurkan donasi untuk pelajar di lingkungan LP Ma'arif NU. Pada Idul Fitri ini akan menggelar lebaran bersama dengan Yatim Piatu dan masyarakat miskin.

Ketua PC LAZISNU Lasem, Abdullah kepada NU Online, Senin (10/6)  mengatakan, sebagai langkah awal pada bulan Ramadhan kemarin pihaknya telah menyalurkan donasi kepada pelajar di bawah naungan LP Ma'arif NU. "Setelah penyaluran donas kepada anak pelajar, pada lebaran ini kami akan menggelar halal bi halal bersama anak yatim piatu dan masyarakat miskin di Lasem," ujarnya.

Dikatakan, berbagi antar sesama dan keberkahan adalah representasi dari kehidupan sosial keagamaan di Nusantara yang sudah turun temurun sejak dulu. Oleh karena itu pihaknya akan terus berusaha untuk terlibat dalam membantu masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan melalui LAZISNU.

"Kami juga menerima zakat, infaq, dan sedekah yang kemudian akan kami sampaikan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan guna menunjang kesejahteraan hidup mereka," jelas Abdullah.

Ia mengungkapkan bahwa tahap pertama penyaluran sudah tersampaikan di bulan Ramadhan kemarin. untuk waktu dekat ini pihaknya akan mengadakan evaluasi kemudian pada program selanjutnya akan mengundang masyarakat kurang mampu dan anak yatim dalam kegiatan lebaran bersama.  

"Program lebaran bersama anak yatim dan masyarakat miskin diharapkan  dapat lebih mendekatkan dengan umat, berbagi keberkahan, dan menciptakan kebahagiaan bagi semua. Adapun bantuan yang akan diberikan dapat berupa santunan anak yatim, bingkisan lebaran, dan bentuk lainnya," paparnya.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lasem KH Solahuddin Fatawi mengapresiasi terhadap kegiatan tahap pertama penyaluran yang dilakukan LAZISNU Lasem pada bulan Ramadhan kemarin. "Kami turut bergembira terhadap apa yang telah dilakukan LAZISNU Lasem dalam menyampaikan amanat penyaluran Zakat, Infaq, dan Sedekah pada bulan Ramadhan kemarin," ujarnya. 

Kami meyakini, lanjutnya, bahwa keberkahan akan selalu menyelimuti Lembaga penyaluran ini mengingat NU sendiri selalu didoakan oleh para ulama dan kiai. 

"Saya berharap LAZISNU Lasem lebih giat lagi dalam menggali dan menghimpun donasi baik dari para muzakki, aghniya, maupun perusahaan-perusahaan melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Sehingga LAZISNU bisa lebih banyak membantu masyarakat di Lasem," pungkasnya. (Misbah/Muiz)

 
Senin 10 Juni 2019 21:0 WIB
Kearifan Lokal Itu Bernama Ziarah Kubur
Kearifan Lokal Itu Bernama Ziarah Kubur
Jember, NU Online
Menjelang dan usai Idul Fitri, suasana pesarean atau makam leluhur kian ramai didatangi keluarga. Yang hadir tidak hanya kalangan tua, juga tidak sedikit mereka dari kalangan muda bahkan anak-anak.

“Kalau dalam istilah Jawa, ziarah kubur itu agar mereka tidak kepaten obor,” kata Rijal Mumazziq Z, Ahad (9/6).

Karenanya, orang Jawa menyarankan agar menzarahi pusara leluhur baik  orang tua, kakek, buyut, dan seterusnya. “Agar tahu asal dan jati diri,” jelasnya. 

Bulan perziarahan biasanya digelar pada Sya'ban, atau dalam kalender Jawa disebut Ruwah. “Konon, Ruwah berasal dari istilah arwah, jamaknya ruh,” ungkapnya.

Di bulan Ruwah, menjelang Ramadhan atau Sasi Poso, digelar tradisi Nyadran alias Sadran atau ziarah ke makam leluhur. “Yakni mendoakan arwah mereka sekaligus membersihkan pusaranya. Soal pusara alias makam, orang Jawa memang tidak bisa dipisahkan dari perkara ini,” kata Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah atau Inaifas, Kecong, Jember, Jawa Timur tersebut..

Soal makam leluhur, orang Jawa memang sensitif. “Di antara sebab musabab Perang Jawa adalah saat kompeni membangun jalan yang bakal melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro,” jelasnya. 

Provokasi terselubung dari kompeni ini jelas penghinaan. Demikian pula para korban pembangunan Waduk Kedungombo di tahun 1980-an. “Mereka enggan direlokasi karena, di antara alasannya, tidak mau berpisah dengan makam para leluhurnya,” katanya.

Ke manapun dan di manapun hidup, manakala pulang ke kampung kelahiran, seorang Jawa bisa langsung menziarahi pusara orangtua dan leluhurnya. “Semacam terjadi prinsip boomerang bahwa semakin keras dan jauh dilempar, semakin cepat berbalik,” paparnya. 

Bahkan, di antara yang dicurhatkan para eksil yang berdiaspora di Eropa pasca 1965, adalah kerinduan terhadap keluarga serta makam leluhurnya.

Kondisi ini juga dialami kalangan santri. “Makam guru menjadi penanda identitas asal keilmuan dan awal pembentukan karakter,” tandasnya. 

Sehingga, jika ada santri lalu hilang identitas kesantriannya, biasanya salah satu faktornya tidak pernah menziarahi pusara guru-gurunya. “Ibarat pasir, dia menjauh dari magnet lalu kehilangan daya tarik. Semakin menjauh, semakin melayang kena hempasan angin,” katanya member tamsil.

Oleh sebab itu kalau tetap ingin berada di poros yang telah digariskan oleh para guru, Rijal menyarankan jangan pernah lupa mengirim mereka, dan pilih waktu terbaik menziarahi pusaranya. “Mendekat dengan magnet kita, mendekat dengan cahaya, biar tidak kepaten obor,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG